Home / Romansa / ANESTESI RINDU / BAB 1 PROYEK BEDAH HATI

Share

ANESTESI RINDU
ANESTESI RINDU
Author: Yoongina

BAB 1 PROYEK BEDAH HATI

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-01-18 11:21:40

​"Cita-citaku menjadi dokter, karena aku sangat senang melihat orang-orang bisa sehat kembali seperti sedia kala karena pertolonganku. Tapi, bertemu dengan mentor seorang dokter spesialis bedah yang sangat tampan, itu bonus."

- Vanya Naomi -

***

"Gimana rasanya berada di ruang operasi dengan dr. Devan?" Tanya Vanya tak sabar saat melihat Siska keluar dari ruang operasi karena telah diberikan kesempatan pertama menjadi asisten bedah dokter tampan itu. Mereka adalah residen yang baru bergabung selama tiga bulan di Rumah Sakit Medika dan antusias saat sesi perkenalan, bisa mendapatkan mentor setampan Devan.

"Gila, sih. Nggak cuma tampan, tapi cerdas dan cepat. Tangannya itu loh, bertindak tanpa ragu-ragu." Sanjung Siska sambil membuka laptopnya bersiap untuk membuat laporan hasil operasi yang diminta Devan.

"Ih, gue jadi nggak sabar mau cepat-cepat besok." Ujar Vanya yang mendapat kesempatan menjadi asisten bedah bersama Devan untuk jadwal operasi besok.

"Jangan sampai naksir ya,"

"Kenapa?"

"kejauhan levelnya hahaha..."

"Sialan!" Sahut Vanya ikut tertawa. Ia menopang tangannya di dagu, membayangkan berada dalam satu ruangan dengan Devan yang menjadi idola semua dokter wanita dan perawat di Rumah Sakit ini.

Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang saat melihat Devan yang baru saja melangkah keluar dari ruang operasi.

"Ya tuhan, Sis. Ganteng banget!" bisik Vanya menatap sosok Devan yang terus berjalan lurus kearah mereka.

"Sore, dok." Sapa Vanya berdiri secepat mungkin sebelum Devan berlalu. Laki-laki itu hanya menoleh sekilas dan mengangguk singkat lalu melanjutkan langkahnya.

***

"Skalpel."

​Hanya satu kata yang meluncur dari bibir Devan, namun mampu membekukan seluruh isi ruang operasi nomor tiga. Paling tidak, itu yang Vanya rasakan. Sifat dingin dan galak Devan memang sudah terkenal seantero Rumah Sakit. Tapi justru itu yang menambah daya tarik Devan.

Suara monitor vital sign terdengar menjadi satu-satunya tanda kehidupan di ruangan dingin itu.

​Vanya menahan napas di balik masker bedahnya. Matanya terpaku pada tangan suster bedah di seberang meja yang sedikit gemetar saat menyerahkan pisau tajam itu ke telapak tangan Devan yang terbungkus sarung tangan lateks.

​Devan tidak membentak, tapi aura dingin dan tatapan tajam yang dia tunjukkan terlihat menakutkan daripada amukan kepala departemen mana pun di Rumah Sakit ini.

Di bawah sorot lampu operasi yang menyilaukan, pria itu bekerja dengan gerakan yang mengerikan. Cepat, bersih, dan tanpa keraguan sedikit pun. Benar apa yang diceritakan Siska. Jemari Devan menari lincah di antara jaringan dan darah, seolah-olah dia sedang memperbaiki mesin jam tangan mewah, bukan sedang menangani pendarahan arteri manusia yang sekarat.

"Terjadi pendarahan cukup banyak di arteri mesenterika," suara Devan terdengar tegas tanpa menghentikan gerakan tangannya di organ tubuh pasien. "Cepat, suction lebih banyak. Aku tidak bisa melihat apa-apa di dalam sana."

​Perawat dengan sigap melaksanakan perintah Devan sebelum ia berkata lebih dingin dari suhu di ruangan ini. Suara mesin suction yang menyedot darah itu terdengar kencang, beradu dengan bunyi alarm monitor jantung yang mulai melengking tidak stabil. Tekanan darah pasien menurun drastis!

​"Vanya, pegang retractor ini," perintah Devan tanpa menoleh. "Jangan biarkan tanganku terhalang. Kalau kamu bergeser satu milimeter saja dan aku salah menjahit, pasien ini tidak akan pernah bangun lagi. Paham?"

​Vanya menelan ludah. Ia memegang alat penarik jaringan itu dengan kedua tangan. Otot lengannya mulai terasa kaku karena harus menahan posisi yang sama selama hampir dua puluh menit, tapi dia tidak berani mengeluh. Dia bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari Devan, padahal keringat mulai menetes di pepilis pria itu.

​"Saturasi turun ke delapan puluh!" seru dokter anestesi dengan nada cemas.

​"Tenang," potong Devan tajam. Suaranya rendah, namun membuat semuanya terbungkam, tidak ada yang berani mengeluarkan suara.

"Vanya, tarik sedikit lagi ke samping kiri. Sekarang."

​Vanya bergerak mengikuti instruksi Devan. Dia melihat jemari Devan bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Menggunakan benang bedah halus, Devan mulai menambal pembuluh darah yang robek dengan gerakan yang membuat Vanya terpana.

​Setiap tusukan jarum ke jaringan organ manusia begitu berisiko, tapi tidak untuk Devan. Vanya sampai menahan napas, matanya tak berkedip melihat bagaimana Devan mengikat simpul hanya satu tangan dengan cepat.

​Vanya bergerak maju selangkah, ingin melihat lebih jelas teknik jahitan yang sedang dilakukan Devan. Itu teknik rumit yang hanya pernah dia baca di jurnal medis internasional. Namun, gerakan Devan terhenti mendadak melihat reaksi Vanya.

​"Residen!"

​Suara bariton itu memecah konsentrasi ruang operasi. Kali ini, sepasang mata tajam di balik kacamata pelindung itu melirik lurus ke arah Vanya.

​"Kalau kamu hanya berdiri di sana untuk mengagumi hasil kerjaku, lebih baik kamu keluar sekarang," ucap Devan, nadanya setenang air namun menyakitkan. "Pasien ini butuh dokter yang siaga, bukan penonton. Pegang yang benar Retractornya!"

​Darah Vanya berdesir naik ke wajah. Beberapa perawat menunduk, takut terkena imbas kemarahan Devan. Vanya mengeratkan genggamannya pada alat bedah yang tengah menahan jaringan tubuh pasien di hadapannya sesuai intruksi Devan.

​Ah, jadi ini rasanya berada satu ruangan dengan dokter tampan yang dingin dan galak itu? batinnya. Jantungnya berdetak, bukan karena takut, tapi mengagumi salah satu ciptaan tuhan yang sangat indah dipandang mata walau wajah sang dokter tersembunyi di balik masker dan kacamata pelindung.

​"Maaf, Dok," jawab Vanya, suaranya terdengar pelan di tengah keheningan. Matanya membalas tatapan Devan tanpa gentar. "Saya hanya sedang merekam teknik Dokter di otak saya, supaya tidak perlu jadi penonton lagi."

​Mata Devan menyipit sepersekian detik, terkejut dengan sikap Vanya yang berani menjawab tegurannya. Akhirnya ia kembali memalingkan wajah ke bagian tubuh pasien.

​"Lepas Klem," Devan memberi instruksi setelah beberapa menit berlalu.

​Semua orang dalam ruangan terdiam. Ini adalah momen penentuan. Jika jahitan Devan gagal, darah akan menyembur dan semuanya berakhir. Namun, saat klem dibuka, darah mengalir dengan lancar di jalurnya. Tidak ada kebocoran.

​Bunyi monitor jantung yang tadinya melengking panik, perlahan kembali ke ritme yang teratur.

​Devan menghela napas panjang, merasa lega karena dia baru saja berhasil melewati lubang jarum. Dia melirik Vanya yang masih memegang retractor dengan kencang. "Lepaskan alatnya, Residen." Ucap Devan. "Operasi selesai. dr. Bram, lakukan penutupan." Tambahnya pada residen senior dan melepas sarung tangan lateksnya yang berlumuran darah dengan sekali sentakan, membuangnya ke tempat sampah medis tanpa ekspresi.

​Vanya meregangkan otot bahunya yang terasa mau copot. "Teknik yang luar biasa, Dok. Saya belum pernah melihat anastomosis secepat itu."

​Devan menoleh, memberikan tatapan yang masih sedingin es. "Jangan memujiku. Fokus saja pada laporan operasimu. Kalau ada satu salah ketik di laporan itu, lebih baik pindah ke bidang lain."

​Pintu geser terbuka, dan Devan melangkah keluar dengan angkuh, meninggalkan Vanya yang masih terpaku di samping meja operasi yang berantakan.

​"Gila," bisik Siska, sesama residen sekaligus sahabatnya yang baru saja selesai membereskan peralatan sisa operasi. "Lo tadi menjawab dr. Devan? Di depan seluruh tim? Van, Lo punya nyawa cadangan berapa?"

​Vanya tidak menjawab. Ia melepas masker bedahnya, menyingkap wajah yang kini memerah, bukan karena malu, tapi karena rasa berbeda yang ia rasakan mengingat hasil kerja Devan yang mengagumkan. "Lo benar, teknik jahitannya benar-benar mengagumkan... itu bukan sekedar ahli, tapi seni, Sis."

​"Seni yang bisa membunuh karier Lo kalau Lo berani macam-macam," Siska memperingatkan sambil berjalan keluar. "Jangan lupa pesan 'Pangeran Es' tadi. Satu salah ketik di laporan, dan Lo tamat."

Vanya hanya tersenyum manis, semua gerakan Devan di meja operasi tadi telah melekat erat di benaknya.

'Gawat!Perasaanku sudah semakin dalam padanya,' Vanya menghela nafas panjang mencoba merutuki hatinya yang kini sudah mengunci sebuah nama : Devan.

***

Lima belas menit berlalu setelah selesai membersihkan diri, Vanya tidak menuju ruang istirahat residen. Ia membawa kakinya melangkah menuju koridor lantai lima, area sunyi yang menuju kantor pribadi para dokter spesialis bedah. Vanya berhenti tepat di depan sebuah pintu berwarna gelap dengan papan nama perak bertuliskan : dr. Devan Alaric, Sp.B.

​Ia tidak mengetuk. Ia hanya berdiri di sana, menatap bayangan cahaya dari celah bawah pintu. Devan belum pulang. Hingga ia terperanjat karena tiba-tiba, pintu itu terbuka secara mendadak.

​Dengan cepat gadis itu melangkah mundur. Di sana, Devan berdiri tanpa jas putihnya, hanya mengenakan kemeja biru navy yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat menonjol di lengan berkulit putih, yang tadi bekerja begitu perkasa di meja operasi. Tanpa masker dan kacamata, ketampanannya terasa jauh lebih "berbahaya".

​Mata Devan memicing saat melihat siapa yang berdiri di depan pintunya. "Laporanmu sudah selesai?"

​"Belum memulai Dok," jawab Vanya jujur, mencoba tetap tenang di bawah tatapan penuh selidik pria itu.

​"Lalu kenapa kamu berdiri di depan kantorku seperti maling?"

​Vanya memiringkan kepalanya sedikit, memberanikan diri menatap tepat ke manik mata Devan yang berwarna coklat madu. "Sejak kedatangan saya, kita belum berkenalan lebih dekat. Saya merasa perlu mengenal lebih jauh mentor saya di Rumah Sakit ini,,," Vanya membeku menyesali kata-kata jujur yang meluncur begitu saja saat memandang wajah sempurna di depannya.

​Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Devan melangkah maju dengan perlahan, satu langkah yang memaksa Vanya menyandar ke tembok koridor yang dingin. Pria itu menunduk, jarak mereka kini hanya terpaut belasan sentimeter. Aroma tubuh Devan yang maskulin menyerbu indra penciuman Vanya.

"Jadi kamu ingin mengenalku lebih dekat?" bisiknya di depan wajah Vanya yang memerah karena tidak mampu menjawab.

​"Dengarkan aku baik-baik, Residen," suara Devan semakin rendah. "Rumah sakit ini bukan tempat untuk berbasa basi! Selesaikan laporanmu, atau mulai besok namamu tidak akan ada di jadwal operasi mana pun."

​Devan menatap Vanya sejenak dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi, langkah kakinya bergema di sepanjang koridor sepi.

​Vanya tetap berdiri di sana, menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ia tahu, Devan baru saja mengeluarkan ancaman karena merasa terganggu dengan keberadaan Vanya di depan ruang kerjanya.

Vanya mengambil ponsel dari sakunya, membuka sebuah catatan baru berjudul, "Proyek Bedah Hati: Target dr. Devan Alaric".

​Ia mengetik satu baris kalimat di sana :

Warna Favorite dr. Devan adalah Biru karena selalu memakai kemeja warna Biru, Parfum maskulinnya tercium seperti kayu cendana yang segar, selalu pulang dari Rumah Sakit setiap pukul 17.00 sore kalau tidak ada operasi lanjutan atau tidak ada panggilan mendesak.

​Senyum Vanya melebar, menatap beberapa catatan kecil tentang Devan yang sudah ia kumpulkan untuk bisa mencari celah mendekati pria itu.

"Lihat saja, dok. Aku pasti bisa membuatmu lupa pada masa lalumu...!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ANESTESI RINDU   SPESIAL CHAPTER 2

    Suasana di koridor depan ruang bersalin VIP RS Medika Center siang itu benar-benar menguji ketahanan mental siapa pun yang lewat. Di dalam ruangan, singa betina yang telah lama tidur kini resmi terbangun kembali demi menyambut kelahiran anak keduanya. ​Sherin yang kini sudah berusia empat tahun duduk manis di kursi tunggu koridor, mengenakan gaun merah muda yang mengembang. Di sebelah kanan dan kirinya, Om Bram dan Om Nathan bertindak sebagai pengawal pribadi sekaligus sasaran empuk pertanyaan kritis sang bocah. ​"Om Nathan, kenapa Mommy teriak-teriak panggil Daddy di dalam? Mommy lagi berantem ya sama Daddy?" tanya Sherin polos, mendongak menatap Nathan dengan mata bulatnya yang jernih. ​Nathan meringis, meraba kepalanya sendiri seolah bisa merasakan trauma rambut dijambak saat Dila melahirkan anak pertama mereka. "Enggak, Sherin... Mommy lagi berjuang ngeluarin adik laki-laki buat Sherin. Nah, Daddy di dalam tugasnya jadi... sasaran Mommy." ​Bram yang duduk di sebelah mereka

  • ANESTESI RINDU   EPILOG : AKHIR CERITA

    Ruang kerja Kepala Departemen Bedah RS Medika Center yang biasanya rapi dan hanya dipenuhi dokumen medis, siang ini mendadak berubah fungsi menjadi zona bermain anak. ​Di atas karpet bulu tebal yang sengaja digelar di dekat meja kerja Devan, seorang balita perempuan berpipi gembul dengan kuncir dua berbentuk air mancur sedang duduk dengan tenang. Namanya Sherina Alaric, atau yang akrab dipanggil Sherin. Bocah berusia dua tahun itu kini sedang sibuk menyusun balok-balok mainan, sama sekali tidak mempedulikan dua dokter spesialis di hadapannya yang sudah tampak seperti rongsokan bernyawa. "Nath... tolonglah, Nath. Gantian," bisik Bram dengan suara serak, nyaris menyembah di depan Nathan. Jas dokter Bram sudah kusut tak berbentuk, kancing paling atasnya lepas, dan stetoskopnya kini justru terkalung pasrah di leher sebuah boneka beruang besar milik Sherin. ​"Nggak bisa, Bram! Perjanjiannya kan jelas. Jam satu sampai jam dua itu shift kamu yang jadi kuda-kudaan!" balas Nathan tak

  • ANESTESI RINDU   BAB 150 SPECIAL CHAPTER

    "Lihat, Mas. Lucu banget, kan? Mirip banget sama kamu," bisik Vanya lembut, menatap lekat bayi laki-laki yang tengah tertidur lelap dalam dekapannya.​Devan tersenyum manis. Sepasang mata cokelat madunya menatap penuh haru ke arah makhluk suci itu, lalu dengan sangat hati-hati, ibu jarinya bergerak mengusap lembut pipi sang bayi.​"Iya, Sayang. Mirip sekali denganku," sahut Devan, suaranya melembut bahagia menyambut kehadiran bayi yang baru saja lahir ke dunia.​"Malam ini aku akan menjaganya," ucap Devan setengah berbisik, berhati-hati agar tidak membangunkan makhluk menggemaskan yang sedang terlelap itu.​"Aku juga mau menjaganya," protes Vanya langsung, melirik tak suka ke arah suaminya sambil mengerucutkan bibir.​Devan terkekeh pelan, mengusap puncak kepala istrinya dengan gemas. "Kamu nanti kecapekan, Sayang."​"Nggak! Aku nggak capek sama sekali. Pokoknya malam ini aku mau ikut menjaganya," keukeuh Vanya tidak mau kalah."Tapi kalau kamu kecapekan nanti bisa sakit, Sayang."​"A

  • ANESTESI RINDU   BAB 149 FINAL CHAPTER

    Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian bedah dengan pakaian miliknya, Devan melangkah keluar dari area steril ruang operasi. Langkah kakinya yang panjang terdengar di sepanjang koridor lantai tiga yang sunyi. Begitu pintu geser otomatis menuju ruang tunggu terbuka, pandangan Devan langsung terkunci pada satu sosok mungil yang duduk di barisan kursi tunggu. ​Vanya ada di sana, sedang merapatkan kedua tangannya di depan dada, tampak menemani ketiga remaja Indonesia yang kini sudah jauh lebih tenang. ​Mendengar suara pintu terbuka, Vanya seketika mendongak. Begitu matanya menangkap sosok Devan yang berjalan menghampiri dengan raut wajah lelah sekaligus lega karena telah berhasil menyelamatkan Dimas di meja operasi, Vanya langsung berdiri dari duduknya. ​Ketiga remaja itu pun ikut berdiri dengan tatapan penuh harap dan cemas. ​"Mas Devan..." lirih Vanya, melangkah beberapa langkah mendekati suaminya. ​Devan tersenyum tipis, tatapannya melembut khusus untuk istrinya sebe

  • ANESTESI RINDU   BAB 148 KERJASAMA TIM

    Vanya berjalan lunglai menuju ruang tunggu di depan koridor kamar operasi. Tubuhnya masih lemas setelah salah menangkap informasi tentang kecelakaan turis Indonesia berjaket biru yang ia pikir adalah suaminya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi besi yang dingin, mencoba menata detak jantungnya yang perlahan mulai kembali normal meski tangannya masih sedikit gemetar.​Di salah satu sudut bangku yang tidak jauh darinya, ketiga teman korban jatuh itu tampak duduk berkerumun dengan tubuh lemas dan wajah yang sembap karena tangis.​Baru saja Vanya hendak memejamkan mata untuk menenangkan pikiran, terdengar suara langkah kaki mendekat. Seorang perawat wanita Jepang dengan seragam bernuansa merah muda lembut melangkah menghampirinya. Di kedua tangannya, perawat itu membawa sebotol air mineral dingin dan sebuah handuk kecil yang bersih.​Perawat itu membungkuk sedikit dengan sopan, memberikan senyuman hangat yang menenangkan sebelum mengulurkan air mineral kepada Vanya.​"Excuse me, Madam,"

  • ANESTESI RINDU   BAB 147 LICENSE TO OPERATE

    Vanya bergerak secepat yang ia bisa. Mengabaikan penampilannya yang berantakan dan napasnya yang terasa mencekik akibat udara dingin, ia langsung berlari keluar menuju area depan resor ski. Beruntung, sebuah taksi baru saja menurunkan penumpang di lobi luar. Tanpa membuang waktu, Vanya langsung membuka pintu dan melompat masuk ke kursi belakang.​"Minamiuonuma Hospital! Please, hurry!" seru Vanya dengan suara bergetar kepada pengemudi taksi, seorang pria paruh baya Jepang.​Melihat kepanikan yang luar biasa dari penumpangnya, sang sopir hanya mengangguk cepat dan langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Sepanjang perjalanan menembus jalanan bersalju Niigata, Vanya tidak berhenti meremas kedua tangannya sendiri. Air matanya mengalir deras membasahi pipi.​Pikirannya terus berputar pada kata-kata petugas informasi tadi. Jaket biru. Turis Indonesia. Kritis. Semua ciri-ciri itu mengarah tepat pada Devan. Ketakutan terbesar dalam hidupnya kembali mendera, ketakutan akan kehilangan Devan u

  • ANESTESI RINDU   BAB 139 TEMAN MASA KECIL KENAN

    Aurelia memandangi selembar kertas akta cerai di tangannya yang baru saja diserahkan oleh sang pengacara. Dengan keberadaan surat itu, statusnya kini telah resmi berubah menjadi seorang janda di mata hukum. ​Sebelah tangan Aurelia bergerak perlahan, mengelus lembut perutnya yang kini sudah tampak

  • ANESTESI RINDU   BAB 138 BERGABUNG LAGI

    "Maaf, Dok. Tapi kalau soal itu, semuanya sudah di luar kuasa saya," sahut Devan dengan raut wajah yang tampak menegang. "Laporan yang kami ajukan hanya untuk menyeret Adam. Namun, Adam sendiri yang akhirnya menyeret nama Evelyn di hadapan penyidik." ​"Apa benar Evelyn dan Adam pernah mencoba mem

  • ANESTESI RINDU   BAB 136 PENANGKAPAN

    "Kapan kita bisa menikah, Mas?" lirih Evelyn, menatap sendu wajah Farel yang tengah berbaring santai di sampingnya. ​Farel terdiam sejenak. Jemarinya bergerak perlahan, merapikan beberapa helai rambut di kening Evelyn dengan gerakan selembut mungkin. "Aku tidak bisa menceraikan Aurel begitu saja

  • ANESTESI RINDU   BAB 132 KEBENARAN YANG TERKUNCI

    ​"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kenan sambil melangkah mendekat ke ranjang Devan. ​"Sudah lebih baik." ​Kenan menarik kursi di samping tempat tidur. Ia melipat kedua tangan di dada, menatap Devan dengan wajah tenang. "Ternyata kamu sudah benar-benar bisa melupakan perasaanmu pada adikku." ​Deva

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status