LOGIN
"Skalpel."
Hanya satu kata yang meluncur dari bibir Devan, namun mampu membekukan seluruh isi ruang operasi nomor tiga. Suara monitor vital sign menjadi satu-satunya tanda kehidupan di ruangan yang suhunya disetel sangat rendah itu. Vanya menahan napas di balik masker bedahnya. Matanya terpaku pada tangan suster bedah di seberang meja yang sedikit gemetar saat menyerahkan pisau tajam itu ke telapak tangan Devan yang terbungkus sarung tangan lateks. Devan memang tidak membentak, tapi aura dingin dan tatapan tajam yang dia tunjukkan justru jauh lebih menakutkan daripada amukan kepala departemen mana pun di Rumah Sakit ini. Di bawah sorot lampu operasi yang menyilaukan, pria itu bekerja dengan gerakan yang mengerikan. Cepat, bersih, dan tanpa keraguan sedikit pun. Jemarinya menari lincah di antara jaringan dan darah, seolah-olah dia sedang memperbaiki mesin jam tangan mewah, bukan sedang menangani pendarahan arteri manusia yang sekarat. "Terjadi pendarahan cukup banyak di arteri mesenterika," suara Devan terdengar seperti vonis mati jika bukan dia yang memegang kendali. "Cepat, suction lebih banyak. Aku tidak bisa melihat apa-apa di dalam sana." Suara mesin suction yang menyedot darah itu terdengar kencang, beradu dengan bunyi alarm monitor jantung yang mulai melengking tidak stabil. Tekanan darah pasien menurun drastis. "Vanya, pegang retractor ini," perintah Devan tanpa menoleh. "Jangan biarkan tanganku terhalang. Kalau kamu bergeser satu milimeter saja dan aku salah menjahit, pasien ini tidak akan pernah bangun lagi. Paham?" Vanya menelan ludah. Ia memegang alat penarik jaringan itu dengan kedua tangan. Otot lengannya mulai terasa kaku karena harus menahan posisi yang sama selama hampir dua puluh menit, tapi dia tidak berani mengeluh. Dia bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari Devan, padahal keringat mulai menetes di pepilis pria itu. "Saturasi turun ke delapan puluh!" seru dokter anestesi dengan nada cemas. "Tenang," potong Devan tajam. Suaranya rendah, namun membuat semuanya terbungkam. "Vanya, tarik sedikit lagi ke samping kiri. Sekarang." Vanya bergerak mengikuti instruksi Devan. Dia melihat jemari Devan bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Menggunakan benang bedah halus, Devan mulai menambal pembuluh darah yang robek dengan gerakan yang membuat Vanya terpana. Setiap tusukan jarum ke jaringan organ manusia begitu berisiko. Vanya menahan napas, matanya tak berkedip melihat bagaimana Devan mengikat simpul hanya satu tangan dengan cepat.Vanya bergerak maju selangkah, ingin melihat lebih jelas teknik jahitan yang sedang dilakukan Devan. Itu teknik rumit yang hanya pernah dia baca di jurnal medis internasional. Namun, gerakan Devan terhenti mendadak melihat reaksi Vanya.
"Residen!" Suara bariton itu memecah konsentrasi ruang operasi. Kali ini, sepasang mata tajam di balik kacamata pelindung itu melirik lurus ke arah Vanya. Tatapan itu dingin, tajam, dan menusuk bola mata Vanya. "Kalau kamu hanya berdiri di sana untuk mengagumi hasil kerjaku, lebih baik kamu keluar sekarang," ucap Devan, nadanya setenang air namun menyakitkan. "Pasien ini butuh dokter yang siaga, bukan penonton. Pegang yang benar Retractornya!" Darah Vanya berdesir naik ke wajah. Beberapa perawat menunduk, takut terkena imbas kemarahan Devan. Vanya mengeratkan genggamannya pada alat bedah yang tengah menahan jaringan tubuh pasien di hadapannya sesuai intruksi Devan. Ah, jadi ini rasanya berada satu ruangan dengan dokter tampan yang dingin dan galak itu? batinnya. Jantungnya berdetak, bukan karena takut, tapi mengagumi salah satu ciptaan tuhan yang sangat indah dipandang mata walau wajah sang dokter tersembunyi di balik masker dan kacamata pelindung. "Maaf, Dok," jawab Vanya, suaranya terdengar pelan di tengah keheningan. Matanya membalas tatapan Devan tanpa gentar. "Saya hanya sedang memastikan saya merekam teknik Dokter di otak saya, supaya saya tidak perlu jadi penonton lagi." Mata Devan menyipit sepersekian detik, terkejut dengan sikap Vanya yang berani menjawab tegurannya. Akhirnya ia kembali memalingkan wajah ke bagian tubuh pasien. "Lepas Klem," Devan memberi instruksi setelah beberapa menit berlalu. Semua orang dalam ruangan terdiam. Ini adalah momen penentuan. Jika jahitan Devan gagal, darah akan menyembur dan semuanya berakhir. Namun, saat klem dibuka, darah mengalir dengan lancar di jalurnya. Tidak ada kebocoran. Bunyi monitor jantung yang tadinya melengking panik, perlahan kembali ke ritme yang teratur. Devan menghela napas panjang, merasa lega karena dia baru saja berhasil melewati lubang jarum. Dia melirik Vanya yang masih memegang retractor dengan buku jari yang memutih dibalik sarung tangan lateks, karena terlalu kencang memegang alat. "Lepaskan alatnya, Residen." Ucap Devan. "Operasi selesai. dr. Bram, lakukan penutupan." Tambahnya pada residen senior dan melepas sarung tangan lateksnya yang berlumuran darah dengan sekali sentakan, membuangnya ke tempat sampah medis tanpa ekspresi. Vanya meregangkan otot bahunya yang terasa mau copot. "Teknik yang luar biasa, Dok. Saya belum pernah melihat anastomosis secepat itu." Devan berhenti di depan pintu otomatis ruang operasi. Dia menoleh sedikit, memberikan tatapan yang masih sedingin es. "Jangan memujiku. Fokus saja pada laporan operasimu. Kalau ada satu salah ketik di laporan itu, lebih baik pindah ke bidang lain." Pintu geser terbuka, dan Devan melangkah keluar dengan angkuh, meninggalkan Vanya yang masih terpaku di samping meja operasi yang berantakan. Vanya masih bisa mencium aroma sisa antiseptik dan hawa dingin yang ditinggalkan Devan, bahkan setelah pintu otomatis itu tertutup rapat. Ia menarik napas panjang, membiarkan paru-parunya kembali terisi oksigen setelah nyaris mati lemas menahan napas selama operasi tadi. "Gila," bisik Siska, sesama residen sekaligus sahabatnya yang baru saja selesai membereskan peralatan sisa operasi. "Lo tadi menjawab dr. Devan? Di depan seluruh tim? Van, Lo punya nyawa cadangan berapa?" Vanya tidak langsung menjawab. Ia melepas masker bedahnya, menyingkap wajah yang kini memerah, bukan karena malu, tapi karena rasa berbeda yang ia rasakan mengingat hasil kerja Devan yang mengagumkan. "Dia memang kaku , tapi teknik jahitannya... itu seni, Sis." "Seni yang bisa membunuh karier Lo kalau Lo berani macam-macam," Siska memperingatkan sambil berjalan keluar. "Jangan lupa pesan 'Pangeran Es' tadi. Satu salah ketik di laporan, dan Lo tamat." Vanya hanya tersenyum tipis. Lima belas menit berlalu setelah selesai membersihkan diri, Vanya tidak menuju ruang istirahat residen. Ia membawa kakinya melangkah menuju koridor lantai lima, area sunyi yang menuju kantor pribadi para spesialis bedah. Lampu koridor mulai meredup, menandakan pergantian shift malam yang sepi. Vanya berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu ek berwarna gelap dengan papan nama perak bertuliskan : dr. Devan Alaric, Sp.B. Ia tidak mengetuk. Ia hanya berdiri di sana, menatap bayangan cahaya dari celah bawah pintu. Devan belum pulang. Tiba-tiba, pintu itu terbuka secara mendadak. Vanya tersentak, dengan cepat melangkah mundur. Di sana, Devan berdiri tanpa jas putihnya, hanya mengenakan kemeja biru navy yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat menonjol di lengan berkulit putih, yang tadi bekerja begitu perkasa di meja operasi. Tanpa masker dan kacamata, ketampanannya terasa jauh lebih "berbahaya". Mata Devan memicing saat melihat siapa yang berdiri di depan pintunya. "Laporanmu sudah selesai?" "Belum memulai Dok,," jawab Vanya jujur, mencoba tetap tenang di bawah tatapan tajam pria itu. "Lalu kenapa kamu berdiri di depan kantorku seperti maling?" Vanya memiringkan kepalanya sedikit, memberanikan diri menatap tepat ke manik mata Devan yang berwarna coklat madu. "Saya hanya ingin meminta maaf atas kejadian tadi dan,,," Vanya terdiam sesaat memandang wajah sempurna di depannya. ",,,Sejak kedatangan saya di Rumah Sakit ini, kita belum berkenalan lebih dekat. Saya merasa perlu mengenal lebih jauh mentor saya di Rumah Sakit ini." Ujar Vanya, terdengar jelas ia mengarang sebuah alasan bodoh. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Devan melangkah maju, satu langkah yang memaksa Vanya menyandar ke tembok koridor yang dingin. Pria itu menunduk, jarak mereka kini hanya terpaut belasan sentimeter. Aroma kopi pahit dan sabun maskulin yang tajam menyerbu indra penciuman Vanya. "Dengarkan aku baik-baik, Residen," suara Devan kini lebih rendah, hampir seperti bisikan yang menggetarkan tulang. "Rumah sakit ini bukan tempat untuk berbasa basi!Selesaikan laporanmu, atau besok pagi namamu tidak akan ada di jadwal operasi mana pun." Devan melangkah pergi tanpa menoleh lagi, langkah kakinya bergema di sepanjang koridor sepi. Vanya tetap berdiri di sana, menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ia tahu, Devan baru saja mengeluarkan ancaman karena merasa terganggu dengan keberadaan Vanya di depan ruang kerjanya. Namun, aura dingin itu justru membuatnya merasakan jatuh cinta lagi setelah gagal menjalin hubungan dengan mantan kekasih di masa lalu. Vanya mengambil ponsel dari sakunya, membuka sebuah catatan baru berjudul, "Proyek Bedah Hati: Target dr. Devan Alaric". Ia mengetik satu baris di sana, "dr. Devan benci jika ada yang mencoba mengenalnya lebih dekat. Sangat dingin dan galak." Senyum Vanya melebar. Tujuannya untuk bisa meruntuhkan gunung es yang baru saja menghilang dibalik koridor, akan dimulai.Vanya mematung sejenak di depan pintu otomatis ruang bedah. Kalimat dingin Devan barusan seperti peringatan agar ia tidak tenggelam dalam kenangan masa lalu. Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, dan membayangkan sosok Adam perlahan memudar, digantikan oleh gambaran anatomi kantung empedu yang pernah ia pelajari dari tugas yang Devan berikan saat awal kedatangannya di Rumah Sakit ini. "Fokus, Vanya. Fokus," bisiknya pada diri sendiri. Ia segera melangkah masuk ke area scrub station. Menanggalkan jas putihnya dan mengenakan seragam bedah yang berwarna biru langit dan mengikat rambut panjangnya untuk mengenakan penutup kepala. Dengan gerakan yang sudah terlatih, ia melakukan prosedur cuci tangan bedah. Air mengalir dingin membasahi lengannya, seolah membasuh sisa-sisa sentuhan Adam di pergelangan tangannya tadi. Setelah mengenakan gaun operasi steril dan sarung tangan dengan bantuan perawat, Vanya melangkah masuk ke dalam ruang operasi yang dingin dan terang benderang.
Pintu ruangan Devan diketuk dua kali sebelum akhirnya terbuka perlahan. Sosok Evelyn muncul dengan senyum menawan yang menjadi ciri khasnya. Ia membawa dua cup kopi dari kafe di lobi rumah sakit. "Dokter Devan? Masih sibuk?" tanya Evelyn dengan nada suara yang lembut namun terdengar percaya diri. Ia melangkah masuk tanpa menunggu jawaban, lalu meletakkan salah satu cup kopi di atas meja kerja Devan, tepat di samping map biru milik Vanya. Devan menutup laci mejanya, menyembunyikan tumpukan notes Vanya dari pandangan Evelyn. "Terima kasih, Evelyn. Ada perlu apa?" "Hanya ingin mengantarkan ini. Dan... aku ingin meminta maaf soal di ruang operasi tadi. Aku perlu menyesuaikan diri karena perubahan bidang bedah yang aku ambil," ujar Evelyn menyandarkan pinggulnya di tepi meja Devan, merasa percaya diri bisa sedekat ini dengan sang dokter spesialis. Mata Devan beralih dari kopi ke wajah Evelyn. "Di ruang operasi, gangguan sekecil apa pun bisa berakibat fatal. Aku harap itu tidak
Vanya terduduk lemas di meja Nurse station IGD. Pikirannya melayang ke kamar operasi nomor tiga. Devan dan Evelyn sedang bersama saat ini, Devan pasti akan terkagum-kagum dengan kepintaran Evelyn di ruang operasi. Di masa koas setahun yang lalu, dokter spesialis jantung yang tampan, sempat mengisi ruang hati dan hidup Vanya. Hubungan mereka baik-baik saja, sampai kedatangan Evelyn setelah tiga bulan Vanya menjalani koas, membuat semua impian Vanya hancur berantakan. Kecerdasan dan kecantikan Evelyn mampu merebut hati Adam dari Vanya dan mereka menjalin hubungan di belakangnya. Vanya sempat stres dan merasa dikhianati teramat dalam, membuat gadis itu dirawat di Rumah Sakit karena dehidrasi berat dan asam lambung akut. Penyakit yang tiba-tiba singgah di tubuhnya karena Vanya memilih mengurung diri di kamar tanpa makan dan minum selama tiga hari lamanya demi melupakan bayangan Adam dalam hati dan pikirannya. Lalu kenapa sekarang Evelyn mendekati dr. devan? Pikir Vanya, Apa hubungan
Pagi itu, udara di lorong Departemen Bedah terasa lebih berat bagi Vanya. Ia hanya tidur tiga jam demi merombak total laporannya hingga detail terkecil. Semalam tepat satu jam kurang delapan menit, Vanya berlari menyusuri lorong menuju kantor Devan untuk menyerahkan laporannya sebelum waktu yang ditentukan. Tapi, laporan itu masih belum memuaskan Devan. Ia memberi satu kali lagi kesempatan pada Vanya agar memperbaikinya dan pagi ini laporan revisi itu sudah harus diterima setelah selesai acara perkenalan Evelyn, di ruangan Dr. Gunawan. "Kan gue udah bilang, perhatiin detailnya. Kita kan udah tiga bulan bareng dr. Devan." Siska yang terlihat lebih segar menopang lengan Vanya yang kurang tidur. "Ya gimana dong, Sis, ini operasi pertama gue, di ruang operasi gue ngga bisa fokus, dr. Devan ganteng banget." Ucap Vanya menyebalkan. Membuat Siska melepaskan pegangannya, dan Vanya terduduk lemas di lantai. "Siskaa!!" teriak Vanya kesal. Saat itulah, aroma parfum bunga yang sangat maha
"Lo Gila, Van! kalau suka sama cowok itu yang selevelan sama kita aja bisa ngga?" Siska mencoba membuka pikiran dan mata hati Vanya yang menurut dia sudah tertutup kehaluan untuk bisa memiliki dr. Devan yang ketampanan dan kejeniusannya di atas rata-rata. "dr. Devan kan dokter spesialis bedah. Gue calon dokter spesialis bedah, yang Lo bilang ngga level tu di mana?" Vanya mengunyah roti untuk mengganjal perutnya di shift malam ini. Siska melebarkan kedua bola matanya tak percaya. Ia menjitak kepala Vanya yang keras kepala. "Sakit!" protes Vanya mengusap kepalanya. "Apa perlu Gue siram air sekalian biar lo sadar dan nggak kebanyakan halu!" Ujar Siska menyipitkan matanya kearah Vanya. " Emang Lo nggak denger, kenapa dia sampai menjaga jarak sama semua wanita?" Vanya menganggukkan kepalanya. Desas desus itu memang sudah dia dengar sejak menginjakkan kaki di Rumah Sakit ini sebagai seorang Residen. Saat sesi perkenalan, Vanya sudah terpaku dengan ketampanan Devan selaku Dokter M
"Skalpel."Hanya satu kata yang meluncur dari bibir Devan, namun mampu membekukan seluruh isi ruang operasi nomor tiga. Suara monitor vital sign menjadi satu-satunya tanda kehidupan di ruangan yang suhunya disetel sangat rendah itu.Vanya menahan napas di balik masker bedahnya. Matanya terpaku pada tangan suster bedah di seberang meja yang sedikit gemetar saat menyerahkan pisau tajam itu ke telapak tangan Devan yang terbungkus sarung tangan lateks.Devan memang tidak membentak, tapi aura dingin dan tatapan tajam yang dia tunjukkan justru jauh lebih menakutkan daripada amukan kepala departemen mana pun di Rumah Sakit ini.Di bawah sorot lampu operasi yang menyilaukan, pria itu bekerja dengan gerakan yang mengerikan. Cepat, bersih, dan tanpa keraguan sedikit pun. Jemarinya menari lincah di antara jaringan dan darah, seolah-olah dia sedang memperbaiki mesin jam tangan mewah, bukan sedang menangani pendarahan arteri manusia yang sekarat."Terjadi pendarahan cukup banyak di arteri mese







