Home / Romansa / ANESTESI RINDU / BAB 30 PILIHAN DEVAN

Share

BAB 30 PILIHAN DEVAN

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-03-10 13:25:57

Dengan cepat Frans melangkah mendekati putranya yang diam mematung di depan pintu ruang operasi satu.

PLAK!

Tanpa basa basi, sebuah tamparan keras di pipi Devan membuat semua perawat yang berada di nurse station ruang operasi menutup mulut mereka, terkejut melihat amarah seorang Frans Alaric.

Devan memejamkan mata, menahan perih di pipi kanannya yang memerah.

"Benar-benar bikin malu keluarga! Papa tidak pernah melarang pengabdianmu sebagai seorang dokter, tapi kali ini. Kamu sudah kete
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • ANESTESI RINDU   BAB 40 KEMUNING DAN KETAKUTANNYA

    "Dokter Devan, saya mau mengucapkan terima kasih untuk semuanya." Ucap ibu Kemuning lembut saat Aurel dan Devan membawanya ke kantin rumah sakit agar Kemuning bisa sedikit saja mengisi perutnya setelah beberapa jam menegangkan di ruang ICU. "Sama-sama bu Kemuning. Ini sudah menjadi kewajiban saya." Jawab Devan tertunduk sambil menikmati teh hangat di tangannya yang terasa beku. Hilangnya memori Vanya cukup membuat hatinya membeku seakan terkena obat Anestesi rindu yang membuatnya kehilangan gadis itu. Aurel menyadari kesedihan yang Devan alami. Dengan lembut ia mengusap pelan punggung adiknya dengan penuh kasih sayang. "Devan, makanlah sedikit. Kamu belum menyentuh makananmu sejak tiba di sini," ujar Aurel lembut, suaranya penuh rasa khawatir. Ia tahu persis bahwa di balik wajah dingin adiknya, ada badai yang sedang berkecamuk. ​Devan hanya mengangguk samar, namun matanya tetap tertuju pada uap teh yang membubung tipis. Pikirannya melayang kembali ke bangsal nomor dua. Bayangan

  • ANESTESI RINDU   BAB 39 AKU MERINDUKANMU

    Suasana hangat yang baru saja tercipta antara Devan dan Ibu Kemuning mendadak membeku. Kehadiran Evelyn di ambang pintu ICU bagaikan badai yang menghempas ketenangan ruangan yang steril itu. Dengan langkah yang angkuh dan sepatu hak tinggi yang berbunyi tajam di atas lantai, Evelyn mendekat, menatap ke arah ranjang Vanya. ​"Keluar, Evelyn. Ini ruang ICU," desis Devan, suaranya penuh penekanan. ​Evelyn tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar sumbang di tengah bunyi mesin pemantau jantung. "Aku datang hanya ingin mengingatkan fakta. Surat pemindahan tugasmu ke Wellness Hospital sudah ditandatangani Papa. Secara administratif, kamu tidak punya hak akses di sini, apalagi menangani pasien." ​Vanya, yang masih dalam kondisi bingung dan lemah, tampak semakin ketakutan. Ia mencengkeram pinggiran selimutnya, matanya bergerak gelisah menatap Evelyn yang tampak sangat membencinya meski ia sendiri tidak tahu mengapa. Bunyi beep pada monitor jantung Vanya mulai bereaksi, menandakan detak ja

  • ANESTESI RINDU   BAB 38 DINDING INGATAN

    Suara decit ban mobil yang beradu tajam dengan aspal parkiran rumah sakit memecah keheningan parkir rumah sakit siang itu. Devan keluar dari mobilnya bahkan sebelum mesin benar-benar mati sempurna. Ia mengabaikan setelan jas mahalnya yang kini tampak berantakan, satu-satunya fokus di kepalanya hanyalah bangsal nomor dua di ruang ICU. ​Langkah kakinya yang lebar dan terburu-buru menggema di koridor rumah sakit lama itu. Saat ia hampir mencapai pintu otomatis ICU, dua orang pria berbadan tegap dengan setelan safari, orang-orang suruhan Henry Harrington, mencoba menghadang jalannya. ​"Maaf, Dokter Devan. Tuan Henry meminta Anda untuk tetap berada di Wellness Hospital," ucap salah satu dari mereka dengan suara dingin yang tak bersahabat. ​"Minggir!" desis Devan. Sorot matanya begitu tajam dan penuh amarah, membuat kedua pria itu sempat tertegun. "Jangan pernah menghalangi seorang dokter yang akan menyelamatkan pasiennya jika kalian tidak ingin berurusan dengan hukum!" ​Tanpa menunggu

  • ANESTESI RINDU   BAB 37 HILANG INGATAN

    Suasana di dalam ruang ICU bangsal nomor dua, Vanya masih belum sadarkan diri. Bram dengan setia mematuhi perintah Devan untuk terus memantau kondisi gadis itu. Ia melangkah pelan mendekati ranjang Vanya, suara langkahnya menggema di atas lantai ICU rumah sakit yang dingin. Di ruangan itu, hanya terdengar suara dari mesin monitor jantung yang menampilkan grafik hijau yang stabil namun lemah. ​Bram menghela napas panjang, menatap wajah residen juniornya yang kini tampak begitu pucat di bawah sinar lampu neon yang temaram. Ia mengeluarkan senter medis dari saku jas putihnya, lalu dengan gerakan perlahan dan hati-hati, ia membuka kelopak mata Vanya satu per satu. ​"Vanya, bisa dengar suara saya? Ini Dokter Bram," bisiknya lirih, meski ia tahu kesadaran gadis itu masih tertidur lelap dalam pengaruh trauma pasca operasi. ​Ia mengarahkan cahaya senter ke pupil mata Vanya untuk mengecek refleks cahaya. Pupil itu mengecil, sebuah tanda yang memberikan sedikit rasa lega di dada Bram. Jemari

  • ANESTESI RINDU   BAB 36 KETULUSAN YANG TIDAK BISA DIBELI

    "Maaf, kamu siapa, Nak?" suara lemah namun ramah itu keluar dari mulut Kemuning saat ia membuka pintu jati di depan rumahnya yang asri. ​"Saya Aurelia, Bu. Temannya Vanya," jawab Aurel dengan nada yang dijaga setenang mungkin. ​Kemuning sedikit terperanjat, matanya yang mulai sayu tampak berbinar. "Nak Aurel temannya Vanya?" tanyanya sekali lagi, seolah ingin memastikan bahwa wanita cantik dengan pembawaan anggun di depannya ini benar-benar mengenal putri kesayangannya. ​Aurelia tersenyum lembut dan mengangguk pasti. "Iya, Bu. Kedatangan saya ke Bandung khusus untuk menemui Ibu." ​Kemuning segera melebarkan pintu rumahnya, mempersilakan Aurel masuk dengan tangan gemetar karena haru. "Mari, Nak. Silakan masuk. Maaf, rumahnya agak berantakan karena Ibu memang sedang kurang sehat akhir-akhir ini." ​Aurel melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang sederhana namun terasa hangat. Aroma minyak kayu putih menyeruak, mempertegas kondisi kesehatan Kemuning yang memang sedang menurun, persis

  • ANESTESI RINDU   BAB 35 JANGAN GANGGU VANYA!

    "Aku tidak menyangka, ternyata tunanganku masih menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya," sindir Devan sembari melangkah lebar menghampiri mereka. ​Evelyn dan Adam tersentak hebat. "Mas—" ​Belum sempat Evelyn menyelesaikan kalimatnya, Devan sudah mencengkeram kerah kemeja Adam dan menghempaskan tubuh laki-laki itu hingga membentur tembok dengan keras. ​"Apa yang sebenarnya kamu rencanakan, hah?! Kamu sengaja ingin mencelakakan Vanya?! Jawab!" teriak Devan murka. Suaranya menggelegar tepat di depan wajah Adam yang mulai pucat dan gemetar. ​"Mas Devan, lepaskan!" Evelyn berusaha sekuat tenaga menarik tangan kekar Devan yang masih mencengkeram erat leher Adam, membuat laki-laki itu mulai kesulitan bernapas. ​Dengan satu hentakan kasar, Devan melepaskan cengkeramannya. Adam ambruk ke lantai sambil terbatuk-batuk. Devan menatap penuh kebencian pada sisa-sisa luka di wajah Adam, luka akibat kecelakaan mobil yang melibatkan Vanya. ​Evelyn segera pasang badan, menahan tubuh Devan yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status