Masuk"Apa yang kamu lakukan di sini?!" Bentakan itu meledak dari mulut Aurel. Tubuhnya bergetar hebat menahan amarah. Melihat Evelyn berdiri di depan matanya, Aurel seolah dipaksa menyaksikan bagaimana tubuh ramping itu melayani suaminya di ranjang yang hangat. Rasa mual seketika menguap ke tenggorokannya. Aurel merasa kotor karena telah menyerahkan kesuciannya pada laki-laki brengsek seperti Farel, semua pengorbanan yang ia lakukan demi memenuhi tuntutan keluarga kini terasa sia-sia dan menjijikkan. "Kak, tidak apa-apa?" tanya Devan khawatir. Aurel menatap tajam Evelyn dengan nafas memburu. "Aku tidak tahan lagi berlama-lama di sini!" geramnya melangkah pergi. Evelyn sama sekali tidak menghiraukan kemurkaan Aurelia yang berlalu melewatinya begitu saja. Ia melangkah maju dengan angkuh, tatapannya terkunci rapat pada Devan. "Mas Devan, apa kita bisa bicara berdua?" tanyanya tanpa nada berdosa. "Tidak ada bicara berdua dengan calon menantuku!" Potong Henry yang berdiri di belak
Vanya terus mengikuti pria bertopi itu hingga masuk kedalam tangga darurat. Ia menutup pintu darurat sepelan mungkin. Suasana di dalam tangga darurat itu mendadak hening, hanya terdengar suara deru napas Vanya yang memburu dan detak jantungnya yang berpacu liar. Cahaya lampu neon yang temaram memberikan kesan mencekam pada dinding-dinding beton yang dingin. Vanya melangkah berjinjit, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun di atas lantai semen. Langkah kaki pria bertopi itu berhenti di antara lantai tiga dan lantai dua. Vanya mengintip dari celah pegangan tangga, matanya menyipit mencoba memastikan apakah itu benar Adam. Namun, ada sesuatu yang aneh. Pria itu tidak tampak seperti seseorang yang sedang merencanakan kejahatan, tubuhnya justru limbung, tangannya bertumpu kuat pada pegangan besi, dan bahunya naik turun dengan tidak beraturan. "Uhukk!" Suara batuk tertahan yang disertai erangan rasa sakit itu membuat Vanya tersentak. Pria itu perlahan meluruh, duduk
Henry Harrington berdiri di ambang pintu, tangannya masih memegang gagang pintu yang berlapis krom mengkilap. Setelan jas mahalnya tampak sangat elegan dan berwibawa. Matanya yang tajam melirik ke arah kancing kemeja Devan yang masih terbuka, memperlihatkan perban putih yang melingkar di bahunya. Vanya segera merapikan rambut dan pakaiannya, kepalanya tertunduk dalam sementara pipinya terasa terbakar menahan malu. "Apa aku mengganggu?" Tanya Henry dengan suara beratnya, melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Devan berdeham, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawanya sebagai Kepala Departemen Bedah. Ia mengancingkan kembali kemejanya dengan gerakan cepat namun tenang. "Tidak mengganggu, tapi Anda datang lebih awal dari jadwal pertemuan kita, Pak Henry." "Hal mendesak tentang administrasi pemindahan tugas memang harus dibicarakan secepatnya, Devan. Jadi aku memutuskan untuk mempercepat jadwal pertemuan kita." Henry duduk dengan punggung tegak, matanya kini terfo
Pagi itu, di dalam ruang kerja Devan di Rumah Sakit Medika yang biasanya tenang mendadak terasa mencekam, setidaknya bagi Devan. Karena saat ini, Vanya tengah berdiri di hadapan Devan dengan tatapan tajam yang sanggup mengiris nyali laki-laki dingin itu. Ia sengaja datang lebih awal menggunakan taksi online, menghindari jemputan Devan hanya untuk memberikan kejutan menginterogasi laki-laki yang telah resmi menjadi kekasihnya itu. "Kenapa jadi kamu yang marah, Sayang? Harusnya aku yang bertanya kenapa kamu nekat berangkat sendiri pagi-pagi begini," ucap Devan lembut, mencoba meredam suasana. Tanpa aba-aba, Vanya melangkah maju dan menarik kerah jas putih Devan dengan kuat, memaksa pria itu membungkuk sedikit ke arahnya. Devan terperanjat, matanya melirik cemas ke arah pintu ruangan yang sedikit terbuka. "Sayang! Ini di rumah sakit. Tolong, jaga sikapmu," bisik Devan sambil memegang pergelangan tangan Vanya, mencoba melepaskan cengkeraman gadis itu dari jas dokternya. "Lepas
"Aku merasa bersalah pada Evelyn." Ucap Vanya tiba-tiba memecah keheningan saat mereka sudah berada dalam perjalanan menuju Jakarta. Devan menoleh kearah Vanya yang duduk tepat di sampingnya dengan wajah berkerut, "Kenapa merasa bersalah pada Evelyn?" Sahut Devan tidak memahami maksud dari ucapan Vanya. "Karena aku sudah bermesraan dengan tunangannya di ranjang tempat tidur tadi." Ucap Vanya polos, seakan tidak menyadari keberadaan Bram dan sopir yang duduk di bangku depan. "Ehem!" Bram menciptakan suara sebagai bentuk protes, karena mendengar cerita romantis yang terjadi antara mereka dari mulut Vanya. Devan membelalakan kedua matanya, dan menutupi kegugupan dengan menegakkan punggungnya. "Bisakah kita membahasnya nanti?" bisik Devan memberi peringatan pada Vanya. "Kamu juga, Mas. Kenapa menciumku terus sejak ingatanku kembali?" Bukannya berhenti, Vanya malah terus melanjutkan, membocorkan apa yang sudah mereka lakukan berdua di dalam kamar perawatan. "Aku jadi nggak enak dengan
"Mah!" Evelyn yang baru saja tiba di kantor polisi untuk menjenguk Shinta, menatap sendu wanita yang sangat ia cintai kini berada di balik jeruji besi.Shinta tidak bisa lagi membendung air matanya."Evelyn, maafkan Mamq, Nak." Lirih Shinta di sela isak tangisnya."Apa yang sebenarnya terjadi, Ma. Apa yang dikatakan Mas Devan itu benar?kalau aku bukan anak kandung Papa? Kalau benar begitu, lalu siapa ayah kandungku, Ma?" Suasana di ruang kunjungan kantor polisi yang sempit itu terasa begitu menyesakkan. Di balik sekat kaca yang memisahkan kebebasan diantara mereka berdua, Shinta Harrington, wanita yang biasanya tampil elegan dengan perhiasan mahal, kini tampak layu. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini kusut, dan baju tahanan berwarna oranye itu seolah melucuti seluruh harga diri yang selama ini ia agungkan.Evelyn mencengkeram gagang telepon penghubung dengan tangan gemetar. Pertanyaannya menggantung di udara, menuntut jawaban yang selama dua puluh lima tahun ini terkunci rapa
Wajah Evelyn yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi pias saat Vanya keluar dari ruangan Devan membawa map penugasan yang sama. Sejak mendengar Devan memanggil Vanya ke ruangannya, Evelyn langsung membuntuti dan mencoba mendengarkan percakapan keduanya. Walaupun pintu ek besar itu telah meredam
"Ayah memintamu datang ke rumah sebelum kita berangkat ke Singapura." Evelyn muncul di ambang pintu ruang kerja Devan pagi itu. Langkahnya ringan, namun suaranya membawa perintah yang tidak bisa diabaikan. Devan yang tengah bersiap untuk pulang hanya terdiam. Ia tampak sibuk melipat lengan kemej
Malam ini, rumah sakit mulai meredup. Suasana sunyi hanya dipecah oleh suara langkah sepatu yang sesekali lewat di koridor. Di perpustakaan medis yang terletak di lantai paling atas, Vanya masih berkutat dengan tumpukan jurnal dan data statistik di laptopnya. "Data mortalitas kasus emboli di Asia
Kamar kos berukuran empat kali empat meter itu terasa jauh lebih sempit dan menyesakkan daripada biasanya. Pagi ini, Vanya hanya duduk bersandar di kepala tempat tidur, menatap nanar pada tas punggungnya yang masih tergeletak di lantai sejak kemarin, tanda kepulangannya yang tidak disambut oleh siap







