LOGINSuara tetesan cairan infus dan mesin pemantau tanda vital menjadi satu-satunya suara yang memecahkan kesunyian di ruang perawatan VIP nomor 103. Setelah melewati jam-jam kritis di ruang ICU pasca operasi tiga hari lalu, Tifani dan Jessi akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan. Meski kondisi mereka sudah stabil, sisa-sisa trauma kecelakaan masih terlihat jelas pada tubuh yang kini terbalut perban dan gips itu. Tifani, wanita berambut pendek sebahu, terbaring di bed sebelah kanan, dadanya masih dibalut kencang untuk menstabilkan flail chest yang dialaminya, sementara luka trauma abdomennya menuntutnya untuk tetap dalam posisi diam, tidak boleh banyak bergerak. Di ranjang kiri, Jessi tampak lebih terjaga meski wajahnya pucat pasi. Kaki kanannya yang mengalami fraktur femur terbuka kini terpasang sistem traksi skeletal. Sebuah pin logam tipis namun kuat telah menembus bagian bawah tulang paha Jessi melalui prosedur bedah, dan di ujung pin tersebut, terikat sebuah tali nilon yang te
"Bagaimana menurutmu? Putraku meminta agar Vanya sembuh total dan benar-benar bisa menerima statusnya sebagai putri kandungmu sebelum mereka melangsungkan pernikahan. Lagipula, masalah putri pertamaku dengan suaminya pun belum menemukan titik temu." Henry meletakkan cangkir porselen mewah itu di atas tatakannya dengan denting pelan yang terdengar elegan. "Aku setuju dengan Devan," ucap Henry sambil menyandarkan punggungnya pada sofa yang empuk. "Sampai saat ini pun, aku masih tidak tahu bagaimana caranya membuat putriku mau memelukku dan memanggilku Papa," lirihnya sedih, mengusap titik air mata yang merembes di sudut matanya. Frans bergeser mendekat. Tangannya terangkat, mengusap punggung Henry dengan gerakan perlahan guna menyalurkan kekuatan bagi calon besannya itu. "Aku pun merasakannya, Henry. Melihat Aurel menderita di tangan Farel saja sudah cukup membuatku merasa gagal sebagai ayah," sahut Frans dengan suara yang berat oleh rasa bersalah. "Kita terlalu sibuk memba
"Papa tidak habis pikir, Farel bisa berbuat seburuk itu." Frans Alaric melepaskan kacamata bacanya di atas meja kerja. Menatap kedepan, melihat wajah Aurel yang sudah memucat dibawah lampu temaram ruang kerjanya di kediaman Alaric. Vida yang juga ada di sana, menatap Aurel dengan wajah tegang. "Apa sebelumnya kalian memang selalu bertengkar?" tanya Vida pada putrinya. Aurel hanya menggeleng tanpa berkata apapun. Dia lelah. Sangat lelah dengan semua hal yang menimpa hidupnya. Sejak awal ia tidak menyetujui untuk dijodohkan dengan Farel karena laki-laki itu mengatakan dia sudah memiliki kekasih. Tapi kedua keluarga seakan tidak perduli dan tetap menikahkan mereka. Hingga dua tahun pernikahan, Farel sama sekali tidak mau menyentuhnya. Lagi-lagi karena desakan keluarga, mereka akhirnya melakukan hubungan suami istri yang sepertinya juga dilakukan oleh Farel bersama kekasihnya yang ternyata adalah Evelyn. "Sekarang, perempuan itu hamil," desis Frans, suaranya memberat karena menahan a
Suasana di dalam ruang operasi terasa sangat dingin, ketegangan yang menyelimuti membuat udara seakan membeku. Bunyi teratur dari mesin anestesi dan monitor jantung menjadi satu-satunya melodi yang menemani fokus Devan. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan baju bedah steril, tangannya yang terbungkus sarung tangan lateks kini tengah memegang skalpel. Di atas meja operasi, Deline, adik kandung mendiang Rossa, terbaring tak berdaya. Cedera kepala berat yang dialaminya menuntut Devan untuk melakukan kraniotomi darurat guna mengurangi tekanan intrakranial akibat perdarahan hebat di otaknya. "Bor," perintah Devan singkat. Suaranya rendah namun waspada. Vanya, yang bertindak sebagai asisten satu dalam operasi ini, menatap wajah Devan. Ia bisa melihat betapa kaku otot-otot bahu pria itu. Devan tidak sedang sekedar melakukan operasi pada pasien kecelakaan, ia sedang berperang melawan trauma masa lalunya sendiri. Setiap tetes darah Deline seolah menjadi pengingat kegagalannya menyelam
Devan melangkah maju dengan kemarahan yang terpeta di wajah tampannya, mengikis jarak di antara mereka hingga Vanya terdesak ke dinding ruangan. Vanya bisa merasakan hawa panas yang keluar dari tubuh Devan, berbeda dengan dinginnya dinding beton di punggungnya. Mata Devan yang biasanya tenang dan menyejukkan, kini berkilat penuh amarah dan rasa sakit yang teramat dalam. "Mas, jangan seperti ini..." bisik Vanya, suaranya bergetar hebat saat tangan Devan terkunci di kedua sisi kepalanya, mengurungnya tanpa celah untuk melarikan diri. "Kenapa? Bukankah ini yang kamu pikirkan sejak tadi? Bahwa aku menikmati setiap detik bersamanya?" Devan menyeringai perih, wajahnya merunduk hingga napasnya yang memburu terasa di permukaan kulit Vanya. "Kamu tidak tahu rasanya harus menyentuh orang yang paling kamu benci hanya untuk memastikan orang yang paling kamu cintai tetap bernapas!" Tanpa peringatan, Devan mencengkeram dagu Vanya, memaksanya menatap langsung ke dalam badai di matanya. "Eve
"Apa yang kamu lakukan di sini?!" Bentakan itu meledak dari mulut Aurel. Tubuhnya bergetar hebat menahan amarah. Melihat Evelyn berdiri di depan matanya, Aurel seolah dipaksa menyaksikan bagaimana tubuh ramping itu melayani suaminya di ranjang yang hangat. Rasa mual seketika menguap ke tenggorokannya. Aurel merasa kotor karena telah menyerahkan kesuciannya pada laki-laki brengsek seperti Farel, semua pengorbanan yang ia lakukan demi memenuhi tuntutan keluarga kini terasa sia-sia dan menjijikkan. "Kak, tidak apa-apa?" tanya Devan khawatir. Aurel menatap tajam Evelyn dengan nafas memburu. "Aku tidak tahan lagi berlama-lama di sini!" geramnya melangkah pergi. Evelyn sama sekali tidak menghiraukan kemurkaan Aurelia yang berlalu melewatinya begitu saja. Ia melangkah maju dengan angkuh, tatapannya terkunci rapat pada Devan. "Mas Devan, apa kita bisa bicara berdua?" tanyanya tanpa nada berdosa. "Tidak ada bicara berdua dengan calon menantuku!" Potong Henry yang berdiri di belak
"Maaf, Pak Henry, tapi saya menolak pertunangan yang terburu-buru." Ucap Devan saat mereka sudah berada di dalam restoran mewah di tengah pusat kota. Restoran itu terletak di lantai 30 sebuah gedung ikonik di Orchard Road, menawarkan kemewahan yang sulit dicari tandingannya. Melalui dinding kaca s
Aula besar di Marina Bay Sands itu riuh dengan bisik-bisik dalam berbagai bahasa. Para pakar bedah dan peneliti medis dari berbagai negara telah berkumpul, menciptakan suasana yang sangat menegangkan. Devan berdiri di sisi panggung, merapikan dasinya dengan jemarinya yang panjang. Pandangannya luru
Devan melangkahkan kakinya keluar kamar hotel untuk sarapan pagi. Tapi baru saja ia menutup pintu kamar, sosok Evelyn sudah berdiri di luar kamarnya. "Kenapa berdiri di depan kamarku?" tanya Devan menatap tak suka ke arah Evelyn yang tersenyum manis. Gadis itu melingkarkan tangannya ke lengan Dev
Devan berdiri tepat di depan Vanya, memangkas jarak hingga aroma musk dari parfumnya bercampur dengan dinginnya angin malam. Ia menyadari Vanya mulai menggigil karena hanya mengenakan baju tidur tipis, maka tanpa sepatah kata pun, Devan melepas sweater yang ia kenakan dan menyampirkannya ke bahu mu







