LOGIN"Kapan kita bisa menikah, Mas?" lirih Evelyn, menatap sendu wajah Farel yang tengah berbaring santai di sampingnya. Farel terdiam sejenak. Jemarinya bergerak perlahan, merapikan beberapa helai rambut di kening Evelyn dengan gerakan selembut mungkin. "Aku tidak bisa menceraikan Aurel begitu saja sekarang, Sayang. Dia juga sedang hamil." "Aku tidak masalah kalau kalian belum bisa bercerai saat ini," potong Evelyn cepat, menatap Farel dengan sorot mata menuntut. "Yang penting, segera nikahi aku secara sah sebelum perutku membesar!" Farel menghela napas berat, tampak frustrasi. "Tapi Aurel tidak akan pernah mengizinkanku untuk menikah lagi. Dia baru akan mengijinkan perkawinan kita kalau aku sudah resmi menceraikannya." Evelyn mendengus kesal. Merasa tidak puas dengan jawaban klasik itu, ia langsung memutar tubuhnya membelakangi Farel, menyembunyikan raut kesal di wajahnya. "Jangan marah lagi, Sayang. Kondisimu masih lemas dan demam. Lagipula, aku kan ada di sini untuk mene
Kenan dengan santai namun tetap waspada, turun dari mobilnya saat berhenti tepat di halaman rumah Hani. Pagi ini, dia sudah menyusun rencana untuk menemui ibu dan adik tirinya itu. Bukti kejahatan yang sudah ia serahkan pada pihak berwajib hanya tinggal menunggu waktu untuk menangkap mereka detik ini juga. Kenan merapikan kerah kemejanya, lalu melangkah dengan tegap membelah halaman rumah mewah yang berdiri di atas penderitaan papa dan adiknya. Setiap ketukan sepatu pantofelnya di atas lantai teras seolah menghitung mundur sisa kebebasan dua wanita di dalam sana. Tanpa mengetuk pintu, Kenan mendorong pintu utama yang kebetulan tidak terkunci. Di ruang tengah, tampak Hani dan Deline sedang duduk tegang di depan meja kopi. Wajah mereka yang semula dipenuhi kecemasan langsung berubah mengeras begitu melihat sosok Kenan melangkah masuk dengan santai. "Kenan!" Deline langsung berdiri dari sofa, matanya melebar dengan napas memburu. "Berani sekali kamu menampakkan diri di sini!" H
Malam ini, Vanya baru saja menyelesaikan tugasnya yang melelahkan di IGD. Tapi, ia tidak langsung pulang, langkah kakinya menuntunnya masuk ke dalam kamar perawatan Devan untuk menemaninya. Saat tiba di depan kamar perawatan Devan, Vanya mendorong daun pintu kamar VVIP itu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Di dalam kamar, lampu utama telah dipadamkan, membuat seluruh ruangan diselimuti kegelapan. Hanya ada sedikit cahaya dari sinar bulan yang masuk lewat celah gorden kaca jendela kamar. Namun dalam kegelapan, sayup-sayup Vanya bisa melihat tubuh Devan yang bergerak gelisah di atas ranjang dalam tidurnya. Khawatir terjadi sesuatu, Vanya melangkah mendekat lalu menyalakan lampu tidur bercahaya temaram di samping ranjang Devan. Begitu semburat cahaya redup itu menyala, Devan seketika tersentak bangun. Napasnya memburu terengah-engah, dengan dada yang naik-turun tak beraturan. "Mas, ini aku, Vanya," bisik Vanya lembut. Dengan sigap, Vanya meraih segelas a
Kenan meletakkan liontin itu di atas telapak tangan dengan hati-hati. Menggunakan ujung pinset kecil yang ia ambil dari saku kemejanya, Kenan menekan bagian sela engsel liontin yang tersembunyi dengan penuh kehati-hatian.Klik.Liontin itu terbuka. Disisi sebelah kanan berisi foto dua orang anak kecil yang sedang duduk di atas ayunan kayu. Anak kecil itu adalah Kenan dan Rossa saat ia masih berusia lima tahun. Kenan terpaku sejenak, menatap wajah ceria Rossa kecil yang membuat mata tajamnya berkaca-kaca.Ia memejamkan mata sejenak, mengusap titik air di sudut matanya. Lalu, ia kembali menekan pinset pada sisi sebelah kiri yang luput dari pantauan Devan dan Vanya ketika pertama kali membuka liontin itu. Keberadaan foto masa kecil Rossa dan Kenan, telah mengalihkan perhatian mereka saat itu.Tanpa diduga, sisi kiri liontin itu kembali terbuka dengan bunyi 'Klik' pelan. Di dalam rongga kecil berbentuk lingkaran itu terselip sebuah kartu MicroSD yang dibalut pelindung plastik tipis agar
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kenan sambil melangkah mendekat ke ranjang Devan. "Sudah lebih baik." Kenan menarik kursi di samping tempat tidur. Ia melipat kedua tangan di dada, menatap Devan dengan wajah tenang. "Ternyata kamu sudah benar-benar bisa melupakan perasaanmu pada adikku." Devan menghirup udara perlahan untuk meredakan rasa nyeri pada lukanya. "Hidup harus tetap berjalan, bukan?" jawabnya ringan sambil merapikan bantal, mencari posisi bersandar yang nyaman. Kenan tertawa kecil. "Pengorbanan ini sungguh luar biasa. Gadis itu dicintai dengan sepenuh hati, bahkan nyawa pun rela kau berikan." Devan terdiam. Bayangan kejadian di gudang tua itu kembali mengusik alam sadarnya. Bagaimana Adam melucuti pakaian yang melekat pada tubuh Vanya dan hampir merenggut kesuciannya, juga rasa panas dari dua peluru yang bersarang di punggungnya. Baginya, hukuman seumur hidup di penjara saja rasanya belum cukup untuk menebus dosa pria itu. "Dari mana kau tahu aku terluka kare
"Yang ini bagus kan?" Vanya menyodorkan majalah pernikahan dari vendor yang ditunjuk untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Gambar baju pengantin yang Vanya inginkan terpampang jelas di hadapan Devan. Laki-laki itu melirik sambil menikmati buah potong di tangannya. "Bagus, sayang. Tapi yang benar aja, masa aku pakai baju warna ungu terang gitu." Gerutu Devan karena setelah gambar kesepuluh, Vanya masih saja meminta agar baju resepsi mereka harus berwarna Ungu atau Pink. "Warna gold sudah banyak yang pakai, sayang. Aku maunya kita beda." Protes gadis itu sambil membalik majalah di tangannya. Devan menghela nafas panjang sambil bersandar santai di atas tumpukan bantal. Di hari kesepuluh ia di rawat, luka pada punggungnya sudah sedikit membaik. "Beda sih beda, tapi kalau aku pakai hot pink, yang ada para perawat dan residen bukannya hormat malah menertawakanku di koridor rumah sakit, Vanya," sahut Devan pasrah, meletakkan tusuk buahnya ke piring kecil. Vanya mengerucutkan bib
Wajah Evelyn yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi pias saat Vanya keluar dari ruangan Devan membawa map penugasan yang sama. Sejak mendengar Devan memanggil Vanya ke ruangannya, Evelyn langsung membuntuti dan mencoba mendengarkan percakapan keduanya. Walaupun pintu ek besar itu telah meredam
Devan melajukan sedan hitamnya di tengah gerimis hujan. Ia menghembuskan nafas panjang mengingat kejadian di rumah Evelyn. Devan memahami situasinya, undangan makan malam ini, juga perintah penugasan ke Singapura adalah cara Dr. Gunawan untuk menjodohkan keponakannya, Evelyn, dengan dirinya.Begitu
Kediaman keluarga Harrington malam itu tampak benderang. Gerbang besi tinggi menjulang terbuka otomatis, menyambut sedan hitam Devan memasuki pelataran luas dengan air mancur bergaya Eropa di tengahnya. Devan menghentikan mobilnya, menatap sejenak bangunan megah di depannya dengan napas berat. Jika
"Apa yang kamu lakukan pada Vanya?" tanya Adam dengan suara meninggi, melangkah lebar mendekati tempat tidur. "Dokter Siska bilang dia pingsan di ruanganmu. Kamu menyiksanya dengan banyak tugas karena dia seorang residen kan?"Devan berdiri perlahan. Tubuhnya yang lebih tinggi dan tegap menciptaka







