LOGINPagi ini, semuanya kembali seperti rutinitas biasa yang memuakkan. Dengan kacamata berbingkai tebal dan penampilanku yang mungkin saja terlihat terlalu kampungan dan sederhana di depan mereka, aku harus siap kembali menjadi target empuk sindiran orang-orang di koridor. Tapi anehnya, kata-kata pedas mereka yang biasanya membuatku ingin bersembunyi, kali ini tidak mempan.
Pikiranku sedang melayang jauh ke kejadian semalam. Aku berjalan menyusuri koridor dengan langkah lambat, membayangkan kembali foto dada atletis dan garis otot yang dikirimkan oleh Gabriel. Pipiku mendadak terasa panas. 'Haruskah aku memberitahu Gabriel kalau cewek di balik akun anonim yang sexting dengannya semalam itu aku?' batinku bimbang, menggigit bibir bawahku pelan. PLAK! "Aw!" seruku kaget. Sebuah tangan menyambar kasar dari samping, menarik kacamata yang bertengger di hidungku hingga pandanganku sedikit buram. Saat aku menoleh dengan geram, wajah menyebalkan Nicholas sudah menyambutku. "Ngelamun jorok, ya, lo?" tuduh Nicholas asal, menatapku dengan seringai usilnya yang khas. "Apaan sih lo?! Siniin enggak!" bentakku, tatapan berbinarku langsung lenyap, berganti dengan kilatan tajam. Kehadiran Nicholas selalu sukses merusak mood-ku dalam hitungan detik. "Ehem... Sya, lo bisa bantu gue sebentar nggak?" Sebuah suara memotong perdebatan kami. Itu Darren, teman sekelas kami yang terkenal pendiam dan jarang berulah. Dia menatapku dengan raut wajah agak cemas. "Oh, iya, Darren. Ada apa?" sahutku langsung. Nada suaraku melunak, sangat kontras dengan caraku membentak Nicholas barusan. Nicholas yang merasa diabaikan mendadak merenggangkan rahangnya. Dia melangkah maju, lalu merangkul pundak Darren dengan sok akrab, membuat Darren sedikit tersentak. Aku bisa melihat mata Nicholas menyipit tajam, meneliti Darren dari atas sampai bawah. 'Apa cowok kurus ini yang disukainya? Tapi dia kan bukan anak basket,' batin Nicholas dengan tatapan menyelidiknya. Meski begitu, ia berusaha tetap berlagak cool di depan Asya dan semua orang yang ada di sana. "Wah... rupanya lo udah beralih ke target baru, Sya?" sindir Nicholas, lagi-lagi memancing sisa kesabaran gadis yang berdiri di depannya. "Nggak semua orang hobi menggoda sana-sini kayak lo, Nicholas!" ketusku, menatap nyalang kearah Nicholas. "Gue menggoda? Berkaca, Sya. Lo sengaja bikin keributan kemarin biar jadi pusat perhatian, terus sekarang lo mau menggoda cowok lain lagi?" balas Nicholas tidak mau kalah, menundukkan kepalanya sedikit agar sejajar dengan Asya. "Nggak!" "Oh, ya?" "Kalau gue mau menggoda seseorang, gue bakal menggoda cowok yang beneran gue suka! Jelas bukan orang kayak lo!" ucapku penuh penekanan, menatap lurus ke dalam sepasang mata hitamnya yang mendadak menggelap. "Goda siapa emangnya?" pancing Nicholas cepat, kilat penasaran terpancar jelas di matanya. Dia benar-benar mati penasaran ingin tahu siapa saingannya. Aku menghela napas kasar, enggan meladeni pertanyaannya yang menjebak. Aku memutar tubuh dan tersenyum kaku pada Darren yang tampak tidak nyaman di sebelah Nicholas. "Oh, iya Darren... kamu tadi butuh bantuan apa? Ayo, kita ke sana aja. Menjauh dari manusia nggak jelas ini." Aku langsung menarik lengan seragam Darren, menyeretnya pergi dari sana. Di belakangku, samar-samar aku mendengar suara tawa Nicholas yang terdengar meremehkan. 'Mana mungkin lo bisa suka sama orang lain, Sya,' batin Nicholas di seberang koridor, meremas tangannya di dalam saku celana. 'Kalau lo beneran punya cowok lain, gue sendiri yang bakal seret si misterius itu keluar!' ** KLAK. Suara pintu yang terbuka membuatku tersadar dari lamunan. Darren menahan daun pintu kayu yang tampak berdebu, lalu menoleh padaku. "Kamu masuk duluan, Sya." Aku sempat mengernyitkan dahi. Gudang olahraga? Untuk apa Darren meminta bantuan di tempat sepi begini? Tapi karena selama ini Darren dikenal sebagai murid yang baik dan tidak pernah macam-macam, aku membuang rasa curigaku. Aku melangkah masuk ke dalam ruangan yang agak temaram dan pengap itu. "Kamu mau minta tolong buat—" Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, sebuah dorongan kuat menghantam punggungku dari belakang, membuatku terjerembap ke lantai yang berdebu. BRAK! Pintu gudang dibanting menutup dengan nyaring, disusul suara kunci yang diputar dua kali dari luar. "Darren! Kamu ngapain?!" pekikku panik. Aku langsung bangkit berdiri, berlari ke arah pintu dan menggedor permukaannya dengan kasar. "Darren, buka!" "Aku minta maaf, Sya! Aku bener-bener terpaksa... mereka yang ngancem aku buat ngelakuin ini!" teriak Darren dari balik pintu. Suaranya bergetar, ada rasa bersalah di setiap katanya. Aku tahu ini pasti ulah Olivia dan komplotannya. "Aku berharap ada orang yang cepet nemuin kamu di sini. Semoga beruntung, Sya!" Langkah kaki Darren terdengar menjauh dan menghilang, meninggalkan aku yang mulai dihinggapi rasa panik. "Sialan! Darren, kembali!" teriakku frustrasi. Aku merogoh saku rok, mengambil ponselku untuk mencari bantuan. Sial! Layarnya berkedip merah sebelum akhirnya mati total. Baterainya habis. Aku menghela napas kasar, memukul pintu sekali lagi sebelum berbalik memandangi seisi gudang. Jam pertama adalah kelas ujian, dan kalau aku melewatkannya, nilai semesterku pasti akan hancur. "Pasti ada cara lain," gumamku seiring langkahku yang mondar-mandir. Mataku seketika berbinar saat melihat sebuah jendela kaca berukuran besar di bagian atas dinding gudang yang ternyata tidak terkunci. Tanpa membuang waktu, aku menyeret sebuah kursi kayu tua, menaikinya, lalu mendorong jendela itu hingga terbuka lebar. "Shit!" umpatku spontan begitu melongokkan kepala ke bawah. Aku baru ingat kalau gudang olahraga ini berada di lantai dua gedung sekolah. Tinggi sekali. Saat aku sedang menimbang-nimbang risiko untuk berteriak meminta bantuan dari jendela, sesuatu yang kecil dan hitam mendadak bergerak cepat di dekat bingkai kayu. Seekor kecoak terbang tepat ke arah wajahku! "Aaaa!" Rasa geli dan terkejut membuatku panik luar biasa. Aku melompat mundur untuk menghindari serangga itu, namun kakiku salah menginjak tepian kursi tua yang rapuh. Kursi itu patah, dan tubuhku kehilangan tumpuan, membuatku harus terlempar keluar jendela. Aku memejamkan mata erat-erat, bersiap merasakan hantaman keras pada tanah di bawah sana yang mungkin akan mematahkan tulangku. BUGHH! Suara benturan itu terdengar redam. Anehnya... rasa sakit yang kubayangkan tidak kunjung datang. Tubuhku terasa mendarat di atas sesuatu yang empuk, hangat, dan... bernapas? Aku membuka mataku perlahan, dan hal pertama yang kutangkap adalah wajah Nicholas yang meringis menahan sakit tepat beberapa inci di depan wajahku. Detik itu juga, aku menyadari sesuatu yang membuat darahku berhenti mengalir. Bibir kami saling bersentuhan. Nicholas menangkapku, dan karena hantaman jatuhku, kami tidak sengaja berciuman. "Lo... mau di atas sampai kapan?" bisik Nicholas dengan suara serak yang tertahan, menahan berat badanku yang masih menimpa tubuhnya di atas rumput halaman belakang. "Oh...!" Aku tersentak, wajahku seketika terasa seperti terbakar. Aku berniat segera berguling menjauh dan bangkit, namun belum sempat aku bergerak, telapak tangan Nicholas yang besar mendadak mencengkeram pinggangku dengan erat, menahan tubuhku agar tetap mengunci posisinya di atas tubuhnya. Sentuhan tangannya di pinggangku membuat bulu kudukku meremang. Sensasinya anehnya mirip dengan getaran yang kurasakan semalam. "Wajah lo merah banget, Sya. Lo kira... gue bakal manfaatin momen ini buat cium lo beneran?" goda Nicholas, menatap rona merah yang kini merembet hingga ke leherku. "Nggak! Lepasin nggak?!" ketusku, menyentak tangannya lalu buru-buru bangkit berdiri. Aku mengibas-ngibaskan rok dan seragamku dari sisa rumput kering dengan panik. "Jangan kepedean ya! Nggak semua orang di sekolah ini terobsesi sama lo!" "Oh... so cute," gumam Nicholas yang kini ikut bangkit dengan santai, matanya menatapku dengan tawa menggoda yang tertahan. "Hah? Apaan sih?" aku mengernyit bingung melihat arah pandangannya yang sedikit janggal. "Oh, nggak! Jadi... sebenarnya lo suka sama siapa, Sya?" tanya Nicholas, mengalihkan topik dengan cepat namun matanya masih menatap ke satu titik di tubuhku. Aku menatapnya dengan pandangan nyalang. 'Cowok ini benar-benar tidak punya batas privasi.' "Ayolah... gue cuma mau tahu, cowok mana yang katanya lebih baik dari gue?" lanjutnya lagi seraya melipat kedua tangan di depan dada, lalu sedikit membungkuk untuk menatap ekspresi kesal Asya dari dekat. "Yang jelas bukan lo!" ketusku tajam. Nicholas mengerucutkan bibirnya sekilas, berlagak acuh tak acuh. "Lagi pula, lo juga bukan selera gue. Lihat tuh, dada lo aja bahkan lebih rata dari otot dada gue," ucap Nicholas santai, melirik sekilas ke arah dadaku sebelum kembali menegakkan tubuhnya. "Lo—" Kalimatku terputus saat pandanganku turun ke bawah. Jantungku rasanya berhenti berdetak. Insiden jatuh dari jendela tadi rupanya membuat tiga kancing atas kemeja seragamku lepas total. Kemejaku terbuka lebar, mengeksos bagian dadaku yang saat itu hanya terbungkus oleh bra renda berwarna merah muda. "Brengsek!" pekikku panik, refleks menyilangkan kedua tangan di depan dada untuk menutupi tubuhku yang terekspos. Kedua pipiku pasti juga sudah memerah karena malu dan kesal. "Santai," sahut Nicholas. Tangan Nicholas bergerak cepat melepas kemeja seragam putihnya sendiri, menyisakan tubuhnya yang bertelanjang dada di bawah terik matahari. Dengan satu sentakan pelan, cowok itu melemparkan kemejanya hingga mendarat tepat ke atas kepalaku, menutupi seluruh pandanganku. "Pakai itu!" perintah Nicholas. Dari balik kain seragamnya yang masih menyisakan aroma parfum maskulinnya yang kuat. Aku menarik turun kemeja itu dan melihatnya sedang berbalik memunggungiku. "Gue nggak mau ada mata lain yang lihat lo setengah telanjang di sini, selain gue." Sebelum dia benar-benar melangkah menjauh, Nicholas berbalik sekilas, "Sampai ketemu nanti ... kutu buku!" ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya dan mencolek daguku dengan genit, meninggalkan aku yang mematung dengan jantung yang berdegup tidak karuan di dalam balutan kemeja kebesarannya. * * * *"Jadilah pacar gue!" Hah? Ekspresi kesal yang tadi menguasai wajahku seketika berubah menjadi keterkejutan yang luar biasa. Aku yakin raut mukaku saat ini terlihat sangat bodoh di depannya. Apalagi siasat cowok berengsek ini? batinku berteriak frustrasi. "Jangan bercanda!" sahutku tajam. Aku sama sekali tidak menganggap serius ucapan gilanya itu. Aku menatap manik mata Nicholas dengan tatapan tidak percaya. Tanpa berpikir panjang, aku segera mendorong dada bidang cowok itu sekuat tenaga agar dia bergerak menjauh dariku. Namun, baru saja aku beranjak beberapa langkah untuk kabur, Nicholas dengan cepat kembali menarik tanganku. Dia memutar tubuhku dan menekan pinggangku rapat-rapat ke dinding yang dingin, mengunci seluruh pergerakanku hingga aku tidak bisa berkutik. "Minggir nggak, lo!" kesalku setengah berteriak, kembali berusaha mendorong dadanya agar menjauh. Jujur saja, aku juga cemas jika Olivia melihat kebersamaanku dengan Nicholas dan membuatnya salah paham. Ni
Begitu aku melangkah mendekati gerbang rumah, suara siulan yang sangat kukenal mengalihkan perhatianku. Aku menoleh dan menemukan Nicholas sedang berdiri diambang gerbang rumahku, dengan gaya bad boynya. "Dia lagi..." gumamku jengah, memutar bola mata saat melihat Nicholas yang berjalan santai menghampiriku. "Ngapain lo ke sini?" "Gue mau bicara sama lo!" ucap Nicholas. Namun, sebelum aku sempat membalas atau mengusirnya, pintu rumahku mendadak terbuka dari dalam. Mama keluar dengan raut wajah tegang. Tanpa basa-basi, Mama langsung menarik lenganku dengan kasar, memaksaku menjauh dari Nicholas, cowok yang di matanya tak lebih dari seorang berandal yang harus dihindari. Lagipula, gaya dan penampilan Nicholas memang jauh dari kesan murid baik-baik. "Putriku tidak perlu berbicara denganmu. Dan tidak ada hal apa pun yang perlu dibicarakan, Anak Muda!" tegas Mama dengan suara menekan sebelum membanting pintu rumah rapat-rapat. BRAK! Di luar sana, Nicholas hanya membalasn
"Gue... gue nggak percaya!" seruku, masih saja berusaha menyangkal kenyataan pahit ini. Gumpalan air mata membuat pandanganku kabur. Aku hampir saja lupa seperti apa sosok Nicholas yang sebenarnya. Bisa saja ini semua hanyalah salah satu rencana liciknya untuk mempermainkan dan menghancurkan mentalku di sekolah! "Lo masih butuh bukti?" tanya Nicholas dingin. Sepertinya dia sadar kalau sekadar memperlihatkan ruang obrolan di layar ponsel tidak cukup untuk membongkar benteng pertahananku. Nicholas menarik bagian bawah kaos tim yang dikenakannya ke atas, memperlihatkan kulit perutnya yang kencang hingga ke bagian pinggang sebelah kiri. Di sana, terukir sebuah tato berukuran sedang yang sangat khas. Tato yang selalu muncul setiap kali akun itu mengirimkan photo/pap bagian tubuhnya padaku di malam hari. Deg. Mataku terbelalak lebar. Tanganku gemetar hebat. Aku teringat jelas pada foto sexting yang dikirimkan akun itu beberapa hari lalu. Gambar tato, bentuk, dan letak tato di ping
Beberapa minggu berlalu dengan cepat, hingga hari yang paling kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Aku duduk di bangku tribun penonton dengan perasaan luar biasa antusias, menyaksikan pertandingan basket yang berlangsung sangat sengit antara tim sekolah Gabriel melawan tim sekolah Nicholas. Atmosfer di dalam gedung olahraga terasa sedikit panas. Setiap kali tim lawan membawa bola, aku tidak bisa menahan diri. "Gabriel, semangat! Kamu pasti bisa!!" teriakku lantang, mengabaikan tatapan sinis dari orang-orang di sekitarku. Teriakanku yang terus bergema ternyata berdampak buruk di lapangan. Nicholas berkali-kali melirik tajam ke arah tribun penonton. Fokusnya pecah, wajahnya mengeras menahan amarah, dan dia bahkan hampir kalah karena sempat mengalami cedera ringan akibat permainannya yang mendadak kacau. Begitu peluit tanda sesi istirahat berbunyi, Nicholas langsung berjalan cepat meninggalkan lapangannya. Alih-alih menuju bangku timnya, cowok tampan dengan rambut sedikit berantak
Malam semakin larut, namun mataku sama sekali tidak mau terpejam. Rasa gugup tentang rencana pertemuanku dengan Gabriel minggu depan membuat pikiranku carut-marut. Untuk mencari udara segar dan menenangkan debaran jantungku, aku memutuskan untuk melangkah keluar menuju balkon kamar. Kriettt. Suara derit pintu kaca balkonku yang terbuka memecah keheningan malam. Begitu aku melangkah keluar, hembusan angin malam langsung menerpa kulitku. Namun, sedetik kemudian langkahku membeku.'malam-malam begini, dengan penampilan seperti itu ...' batin ku dengan kening berkerut. Tepat di balkon rumah sebelah yang hanya berjarak beberapa meter, Nicholas sedang berdiri bersandar. Cowok itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana santai selutut, membiarkan otot dada dan perutnya yang atletis terekspos bebas di bawah sinar rembulan. Jari-jarinya yang kokoh, terlihat tengah menjepit sebatang rokok yang menyala. Glek. 'Nicholas sialan,' Aku menelan ludah dengan susah payah. Mataku seolah ter
"Oh, shit..." Nicholas mendesis lirih di sudut tribun lapangan basket. Sepasang matanya masih terpaku lekat pada layar ponsel, memandangi foto sensual dari teman sexting online-nya yang baru saja ia kunci di folder pribadi. Nicholas memperbesar gambar di bagian dada, mengamati lekat-lekat tato berbentuk bintang berukuran kecil di sana. Tato khusus yang telah menyalakan gairahnya sejak pertama kali foto itu terkirim. "Gue nggak pernah ngebayangin kalau cewek liar semalam itu ternyata..." Nicholas bergumam pelan pada dirinya sendiri. Fokusnya terlalu tersedot ke dalam layar hingga ia sama sekali tidak menyadari bahwa Gabriel dan Chalvin sudah melangkah mendekat dan berdiri di sampingnya sejak tadi. "Woah... apa itu, Nic?" seru Gabriel tiba-tiba, langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Nicholas dan mencondongkan kepala, berusaha mengintip apa yang sedang dilihat sahabatnya hingga seserius itu. "Pantesan belakangan ini lo selalu pulang sore pas latihan. Ada mainan baru rupany

![Without You [Indonesia]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)





