Share

Chapter 4

Author: Scorpio_Girl
last update publish date: 2026-06-23 22:13:30

​Pagi ini, semuanya kembali seperti rutinitas biasa yang memuakkan. Dengan kacamata berbingkai tebal dan penampilanku yang mungkin saja terlihat terlalu kampungan dan sederhana di depan mereka, aku harus siap kembali menjadi target empuk sindiran orang-orang di koridor. Tapi anehnya, kata-kata pedas mereka yang biasanya membuatku ingin bersembunyi, kali ini tidak mempan.

​Pikiranku sedang melayang jauh ke kejadian semalam.

​Aku berjalan menyusuri koridor dengan langkah lambat, membayangkan kembali foto dada atletis dan garis otot yang dikirimkan oleh Gabriel. Pipiku mendadak terasa panas.

'Haruskah aku memberitahu Gabriel kalau cewek di balik akun anonim yang sexting dengannya semalam itu aku?' batinku bimbang, menggigit bibir bawahku pelan.

​PLAK!

​"Aw!" seruku kaget.

​Sebuah tangan menyambar kasar dari samping, menarik kacamata yang bertengger di hidungku hingga pandanganku sedikit buram. Saat aku menoleh dengan geram, wajah menyebalkan Nicholas sudah menyambutku.

​"Ngelamun jorok, ya, lo?" tuduh Nicholas asal, menatapku dengan seringai usilnya yang khas.

​"Apaan sih lo?! Siniin enggak!" bentakku, tatapan berbinarku langsung lenyap, berganti dengan kilatan tajam. Kehadiran Nicholas selalu sukses merusak mood-ku dalam hitungan detik.

​"Ehem... Sya, lo bisa bantu gue sebentar nggak?"

​Sebuah suara memotong perdebatan kami. Itu Darren, teman sekelas kami yang terkenal pendiam dan jarang berulah. Dia menatapku dengan raut wajah agak cemas.

​"Oh, iya, Darren. Ada apa?" sahutku langsung. Nada suaraku melunak, sangat kontras dengan caraku membentak Nicholas barusan.

​Nicholas yang merasa diabaikan mendadak merenggangkan rahangnya. Dia melangkah maju, lalu merangkul pundak Darren dengan sok akrab, membuat Darren sedikit tersentak. Aku bisa melihat mata Nicholas menyipit tajam, meneliti Darren dari atas sampai bawah.

'Apa cowok kurus ini yang disukainya? Tapi dia kan bukan anak basket,' batin Nicholas dengan tatapan menyelidiknya. Meski begitu, ia berusaha tetap berlagak cool di depan Asya dan semua orang yang ada di sana.

​"Wah... rupanya lo udah beralih ke target baru, Sya?" sindir Nicholas, lagi-lagi memancing sisa kesabaran gadis yang berdiri di depannya.

​"Nggak semua orang hobi menggoda sana-sini kayak lo, Nicholas!" ketusku, menatap nyalang kearah Nicholas.

​"Gue menggoda? Berkaca, Sya. Lo sengaja bikin keributan kemarin biar jadi pusat perhatian, terus sekarang lo mau menggoda cowok lain lagi?" balas Nicholas tidak mau kalah, menundukkan kepalanya sedikit agar sejajar dengan Asya.

​"Nggak!"

​"Oh, ya?"

​"Kalau gue mau menggoda seseorang, gue bakal menggoda cowok yang beneran gue suka! Jelas bukan orang kayak lo!" ucapku penuh penekanan, menatap lurus ke dalam sepasang mata hitamnya yang mendadak menggelap.

​"Goda siapa emangnya?" pancing Nicholas cepat, kilat penasaran terpancar jelas di matanya. Dia benar-benar mati penasaran ingin tahu siapa saingannya.

​Aku menghela napas kasar, enggan meladeni pertanyaannya yang menjebak. Aku memutar tubuh dan tersenyum kaku pada Darren yang tampak tidak nyaman di sebelah Nicholas. "Oh, iya Darren... kamu tadi butuh bantuan apa? Ayo, kita ke sana aja. Menjauh dari manusia nggak jelas ini."

​Aku langsung menarik lengan seragam Darren, menyeretnya pergi dari sana. Di belakangku, samar-samar aku mendengar suara tawa Nicholas yang terdengar meremehkan.

​'Mana mungkin lo bisa suka sama orang lain, Sya,' batin Nicholas di seberang koridor, meremas tangannya di dalam saku celana. 'Kalau lo beneran punya cowok lain, gue sendiri yang bakal seret si misterius itu keluar!'

​**

​KLAK.

​Suara pintu yang terbuka membuatku tersadar dari lamunan. Darren menahan daun pintu kayu yang tampak berdebu, lalu menoleh padaku. "Kamu masuk duluan, Sya."

​Aku sempat mengernyitkan dahi. Gudang olahraga? Untuk apa Darren meminta bantuan di tempat sepi begini? Tapi karena selama ini Darren dikenal sebagai murid yang baik dan tidak pernah macam-macam, aku membuang rasa curigaku. Aku melangkah masuk ke dalam ruangan yang agak temaram dan pengap itu.

​"Kamu mau minta tolong buat—"

​Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, sebuah dorongan kuat menghantam punggungku dari belakang, membuatku terjerembap ke lantai yang berdebu.

​BRAK!

​Pintu gudang dibanting menutup dengan nyaring, disusul suara kunci yang diputar dua kali dari luar.

​"Darren! Kamu ngapain?!" pekikku panik. Aku langsung bangkit berdiri, berlari ke arah pintu dan menggedor permukaannya dengan kasar. "Darren, buka!"

​"Aku minta maaf, Sya! Aku bener-bener terpaksa... mereka yang ngancem aku buat ngelakuin ini!" teriak Darren dari balik pintu. Suaranya bergetar, ada rasa bersalah di setiap katanya. Aku tahu ini pasti ulah Olivia dan komplotannya. "Aku berharap ada orang yang cepet nemuin kamu di sini. Semoga beruntung, Sya!"

​Langkah kaki Darren terdengar menjauh dan menghilang, meninggalkan aku yang mulai dihinggapi rasa panik. "Sialan! Darren, kembali!" teriakku frustrasi.

​Aku merogoh saku rok, mengambil ponselku untuk mencari bantuan. Sial! Layarnya berkedip merah sebelum akhirnya mati total. Baterainya habis. Aku menghela napas kasar, memukul pintu sekali lagi sebelum berbalik memandangi seisi gudang. Jam pertama adalah kelas ujian, dan kalau aku melewatkannya, nilai semesterku pasti akan hancur.

​"Pasti ada cara lain," gumamku seiring langkahku yang mondar-mandir.

​Mataku seketika berbinar saat melihat sebuah jendela kaca berukuran besar di bagian atas dinding gudang yang ternyata tidak terkunci. Tanpa membuang waktu, aku menyeret sebuah kursi kayu tua, menaikinya, lalu mendorong jendela itu hingga terbuka lebar.

​"Shit!" umpatku spontan begitu melongokkan kepala ke bawah. Aku baru ingat kalau gudang olahraga ini berada di lantai dua gedung sekolah. Tinggi sekali.

​Saat aku sedang menimbang-nimbang risiko untuk berteriak meminta bantuan dari jendela, sesuatu yang kecil dan hitam mendadak bergerak cepat di dekat bingkai kayu. Seekor kecoak terbang tepat ke arah wajahku!

​"Aaaa!"

​Rasa geli dan terkejut membuatku panik luar biasa. Aku melompat mundur untuk menghindari serangga itu, namun kakiku salah menginjak tepian kursi tua yang rapuh. Kursi itu patah, dan tubuhku kehilangan tumpuan, membuatku harus terlempar keluar jendela.

​Aku memejamkan mata erat-erat, bersiap merasakan hantaman keras pada tanah di bawah sana yang mungkin akan mematahkan tulangku.

​BUGHH!

​Suara benturan itu terdengar redam. Anehnya... rasa sakit yang kubayangkan tidak kunjung datang. Tubuhku terasa mendarat di atas sesuatu yang empuk, hangat, dan... bernapas?

​Aku membuka mataku perlahan, dan hal pertama yang kutangkap adalah wajah Nicholas yang meringis menahan sakit tepat beberapa inci di depan wajahku. Detik itu juga, aku menyadari sesuatu yang membuat darahku berhenti mengalir. Bibir kami saling bersentuhan. Nicholas menangkapku, dan karena hantaman jatuhku, kami tidak sengaja berciuman.

​"Lo... mau di atas sampai kapan?" bisik Nicholas dengan suara serak yang tertahan, menahan berat badanku yang masih menimpa tubuhnya di atas rumput halaman belakang.

​"Oh...!" Aku tersentak, wajahku seketika terasa seperti terbakar.

​Aku berniat segera berguling menjauh dan bangkit, namun belum sempat aku bergerak, telapak tangan Nicholas yang besar mendadak mencengkeram pinggangku dengan erat, menahan tubuhku agar tetap mengunci posisinya di atas tubuhnya. Sentuhan tangannya di pinggangku membuat bulu kudukku meremang. Sensasinya anehnya mirip dengan getaran yang kurasakan semalam.

​"Wajah lo merah banget, Sya. Lo kira... gue bakal manfaatin momen ini buat cium lo beneran?" goda Nicholas, menatap rona merah yang kini merembet hingga ke leherku.

​"Nggak! Lepasin nggak?!" ketusku, menyentak tangannya lalu buru-buru bangkit berdiri. Aku mengibas-ngibaskan rok dan seragamku dari sisa rumput kering dengan panik. "Jangan kepedean ya! Nggak semua orang di sekolah ini terobsesi sama lo!"

​"Oh... so cute," gumam Nicholas yang kini ikut bangkit dengan santai, matanya menatapku dengan tawa menggoda yang tertahan.

​"Hah? Apaan sih?" aku mengernyit bingung melihat arah pandangannya yang sedikit janggal.

​"Oh, nggak! Jadi... sebenarnya lo suka sama siapa, Sya?" tanya Nicholas, mengalihkan topik dengan cepat namun matanya masih menatap ke satu titik di tubuhku.

​Aku menatapnya dengan pandangan nyalang. 'Cowok ini benar-benar tidak punya batas privasi.'

"Ayolah... gue cuma mau tahu, cowok mana yang katanya lebih baik dari gue?" lanjutnya lagi seraya melipat kedua tangan di depan dada, lalu sedikit membungkuk untuk menatap ekspresi kesal Asya dari dekat.

​"Yang jelas bukan lo!" ketusku tajam.

​Nicholas mengerucutkan bibirnya sekilas, berlagak acuh tak acuh. "Lagi pula, lo juga bukan selera gue. Lihat tuh, dada lo aja bahkan lebih rata dari otot dada gue," ucap Nicholas santai, melirik sekilas ke arah dadaku sebelum kembali menegakkan tubuhnya.

​"Lo—" Kalimatku terputus saat pandanganku turun ke bawah.

​Jantungku rasanya berhenti berdetak. Insiden jatuh dari jendela tadi rupanya membuat tiga kancing atas kemeja seragamku lepas total. Kemejaku terbuka lebar, mengeksos bagian dadaku yang saat itu hanya terbungkus oleh bra renda berwarna merah muda.

​"Brengsek!" pekikku panik, refleks menyilangkan kedua tangan di depan dada untuk menutupi tubuhku yang terekspos. Kedua pipiku pasti juga sudah memerah karena malu dan kesal.

​"Santai," sahut Nicholas.

​Tangan Nicholas bergerak cepat melepas kemeja seragam putihnya sendiri, menyisakan tubuhnya yang bertelanjang dada di bawah terik matahari. Dengan satu sentakan pelan, cowok itu melemparkan kemejanya hingga mendarat tepat ke atas kepalaku, menutupi seluruh pandanganku.

​"Pakai itu!" perintah Nicholas.

Dari balik kain seragamnya yang masih menyisakan aroma parfum maskulinnya yang kuat. Aku menarik turun kemeja itu dan melihatnya sedang berbalik memunggungiku. "Gue nggak mau ada mata lain yang lihat lo setengah telanjang di sini, selain gue."

Sebelum dia benar-benar melangkah menjauh, Nicholas berbalik sekilas, "Sampai ketemu nanti ... kutu buku!" ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya dan mencolek daguku dengan genit, meninggalkan aku yang mematung dengan jantung yang berdegup tidak karuan di dalam balutan kemeja kebesarannya.

*

*

*

*

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 7

    "Asya! Gue tahu lo menyelinap masuk ke ruang ganti cowok karena mau mengintip! kebetulan Gue sekarang lagi siaran langsung di medsos buat bantu lo biar cepat viral, nih!" ​Suara cempreng Olivia menggelegar dari kejauhan, memantul di dinding-dinding keramik toilet. Jantungku seketika mencelos. 'Tidak... tidak, jangan sampai cewek gila itu nemuin gue di sini.' ​"Gimana tawaran gue, hmmm? Apa sudah lo pertimbangkan?!" bisik Nicholas dengan suara tertahan tepat di atas kepalaku. ​Sentuhan tangannya di pinggangku perlahan bergerak turun, mengusap pelan tapi pasti ke arah pahaku yang terekspos. 'Oh, shit...' Aku menelan ludah dengan susah payah. Kulitku meremang. Dalam kungkungan intim Nicholas, entah kenapa otakku malah konslet dan justru mengingat kejadian sexting semalam. Garis otot tubuh Gabriel yang... 'ah, sudahlah! Sadar, Asya! Ini bukan waktunya buat berpikiran mesum!' ​"Asya... gue tahu lo di dalam sini!" seru Olivia lagi dengan nada yang dibuat-buat. Suara debaman pintu bi

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 6

    ​Seperti hari-hari biasanya, Olivia dan para pengikutnya tidak pernah absen untuk membuat hidupku seperti neraka. ​Pagi ini, baru saja aku meletakkan tas dan duduk di kursiku, sebuah tangan tiba-tiba terulur dari samping dan menumpahkan minuman cokelat pekat tepat di atas baju seragamku. Cairan manis yang lengket itu langsung merembes, mengotori seragam putih yang kukenakan. ​"Astaga!" pekikku terkejut dan langsung bangkit berdiri, menoleh dengan geram ke arah Olivia yang menatapku dengan raut wajah tertekuk. "Apa-apaan sih lo? Apa maksudnya ini?!" ​"Lo nanya apa maksudnya?" Wajah Olivia memerahmenahan amarah. Tanpa peringatan, jemarinya bergerak cepat mencengkeram dan menarik rambutku dengan kasar, membuat kepalaku mendongak mendadak. Aku tidak sempat menghindar. ​"Sakit, bodoh! Lepasin!" tentu saja aku meringis kesakitan. Aku mati-matian menahan tangan Olivia agar dia tidak menarik rambutku lebih keras lagi, "Menggoda Nicholas apanya?!" ​"Cihhh ... Masih berani lo deketin

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 5

    ​"Ahhhh! Dasar cowok gila!" ​Aku memekik frustrasi begitu berhasil mengunci pintu kamarku rapat-rapat. Tas sekolah kulemparkan sembarangan ke atas lantai. Napasku masih memburu, setengah karena lelah berlari, setengah lagi karena amarah yang mendidih di dalam dada. ​"Bisa-bisanya dia bilang otot dada dia lebih besar dari milikku?! Buta ya?!" gerutuku kencang, melangkah lebar-lebar menuju cermin besar di sudut kamar. ​Aku menatap pantulan diriku yang masih tenggelam di dalam kemeja seragam putih milik Nicholas yang kebesaran. Aroma parfum maskulinnya yang tertinggal di kain ini mendadak membuatku makin kesal. Tanpa berpikir dua kali, aku melepas kemeja itu dan mencampakkannya ke lantai dengan kasar. ​Aku berjalan cepat menuju lemari, mengaduk-aduk isinya, lalu menarik keluar sebuah gaun tidur satin hitam pendek yang tidak kalah berani dari lingerie semalam. Begitu kain dingin itu melekat di tubuhku, aku mematut diri di depan cermin. Potongan gaun ini mengeksos belahan dadaku de

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 4

    ​Pagi ini, semuanya kembali seperti rutinitas biasa yang memuakkan. Dengan kacamata berbingkai tebal dan penampilanku yang mungkin saja terlihat terlalu kampungan dan sederhana di depan mereka, aku harus siap kembali menjadi target empuk sindiran orang-orang di koridor. Tapi anehnya, kata-kata pedas mereka yang biasanya membuatku ingin bersembunyi, kali ini tidak mempan. ​Pikiranku sedang melayang jauh ke kejadian semalam. ​Aku berjalan menyusuri koridor dengan langkah lambat, membayangkan kembali foto dada atletis dan garis otot yang dikirimkan oleh Gabriel. Pipiku mendadak terasa panas. 'Haruskah aku memberitahu Gabriel kalau cewek di balik akun anonim yang sexting dengannya semalam itu aku?' batinku bimbang, menggigit bibir bawahku pelan. ​PLAK! ​"Aw!" seruku kaget. ​Sebuah tangan menyambar kasar dari samping, menarik kacamata yang bertengger di hidungku hingga pandanganku sedikit buram. Saat aku menoleh dengan geram, wajah menyebalkan Nicholas sudah menyambutku. ​"Nge

  • ANNOYING NEIGHBOR    chapter 3

    Tetesan sisa air mandi beberapa menit lalu masih mengalir di lekuk tubuh Nicholas saat cowok itu melangkah keluar dari kamar mandi. Dengan selembar handuk kecil di tangan, ia mengusap rambut hitamnya yang basah secara acak. Nicholas berjalan bertelanjang dada melintasi kamarnya yang sejuk oleh AC, berniat meraih pakaian ganti, sampai sebuah bunyi notifikasi yang khas menghentikan langkahnya. Ting! Nicholas menoleh ke arah ponselnya yang tergeletak di atas meja belajar. Ia mengernyit heran saat melihat layar ponselnya menyala, menampilkan ikon aplikasi yang tidak biasa. "Ah... gue lupa akun WeChat Gabriel masih nyangkut di HP ini," gumam Nicholas pada diri sendiri. meskipun beda sekolah dan sering menjadi musuh saat pertandingan basket, mereka berdua tetap bersahabat. bahkan sudah bersahabat sejak lama. Minggu lalu, Gabriel memang meminjam ponselnya untuk masuk ke akun miliknya karena baterai ponsel cowok itu mati total, dan mereka lupa mengeluarkan akun tersebut. Nicholas awal

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 2

    ​"Sya... Asya?!" ​Suara bariton yang familier itu memecah kepanikanku. Aku menoleh ke belakang, dengan napas yang masih memburu karena berlari. Gabriel ... Dia mengejarku? meninggalkan lapangan dan anggota timnya yang lain? Langkahnya yang lebar dengan cepat menyusulku, dan sebelum aku sempat menghindar, telapak tangannya yang hangat menyentuh pergelangan tanganku dengan lembut. ​Aku tersentak pelan, setengah terkejut. ​"Eh... maaf, aku mengagetkanmu, ya?" Gabriel buru-buru melepaskan tangannya, menatapku dengan sorot mata penuh penyesalan sekaligus khawatir. ​"Ah, enggak... enggak apa-apa." Aku menggeleng cepat. ​Kehadiran Gabriel di depanku rasanya seperti oase di tengah gurun. Rasa malu, tapi aku juga sangat bahagia. Amarah yang dipicu oleh Nicholas, entah bagaimana perlahan mereda hanya dengan melihat senyumnya. Hariku yang semula berantakan mendadak terasa sedikit lebih baik. ​"Mereka itu cuma sekumpulan orang idiot yang sengaja mau mengacaukan pikiranmu," ucap Gabrie

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status