LOGIN“Astaga, jantungku mau copot!”
Aluna berseru begitu mobil Sebastian berhenti. Ini sudah kedua kalinya pria itu mengajaknya berkendara dengan kecepatan yang membuat nyawanya terasa di ujung tanduk.Berbeda dengan Sebastian yang tampak santai, Aluna masih sibuk menenangkan jantungnya yang berdebar kencang.“Bentar, bentar … jantungku lagi disko, Bas. Biarin aku nenangin diri dulu sebelum ngadepin cobaan yang lebih berat lagi.”Aluna menekan dadanya, berusahaSeharian ini Aluna hanya bersantai di kamar resort. Tubuhnya masih pegal dan bagian intimnya pun belum sepenuhnya pulih dari kejadian semalam. Jadi, ia memilih rebahan daripada memaksakan diri berjalan-jalan.Sebenarnya, sekarang ia sudah lapar. Sebastian tadi berjanji akan memesankan makanan, tetapi hampir empat puluh lima menit berlalu dan pria itu belum juga keluar dari kamar mandi.Aluna memang bosan menunggu, tetapi sudah cukup terbiasa dengan kebiasaan suaminya itu. Untuk mengusir bosan sekaligus mengalihkan perhatian dari perutnya yang mulai keroncongan, ia pun memilih melakukan kegiatan lain.Bergosip bersama teman-temannya.“Aaaa! Gimana-gimana semalam?! Ya ampun, aku nggak sabar pengen dengar ceritamu!” Kevin langsung berteriak begitu wajah Aluna muncul di layar.Aluna buru-buru menjauhkan ponsel dari telinganya. “Astaga! Pelan-pelan, dong!” protesnya sambil mengecilkan volume suara.Aluna sedang melakukan panggilan video bersama dua sahabatnya. Kevin, si bencong yang selalu
“Aaaaaa! Sebastian!”Seperti biasa, Aluna terbangun dengan teriakan heboh. Entah sudah berapa kali ia mengalami hal serupa. Dan seperti biasa pula, hal pertama yang keluar dari mulutnya tidak pernah jauh dari tuduhan yang sama.“Kamu perkosa aku, ’kan, Bas?! Kali ini nggak bisa ngeles lagi. Buktinya, selangkanganku sakit banget!” protes Aluna dengan wajah kesal.Sebastian hanya menggeliat malas. Alih-alih melepaskan pelukannya, pria itu justru semakin merapatkan tubuh Aluna ke dalam dekapannya.“Hm. Emang. Aku perkosa kamu. Kenapa?” jawab Sebastian enteng. Suaranya terdengar rendah dan serak, khas orang yang baru saja terbangun dari tidur.Aluna memberontak. Ia melepaskan diri dari pelukan Sebastian, susah payah duduk di atas ranjang dan memukuli Sebastian menggunakan bantal.“Ih, dasar cowok mesum! Beraninya main perkosa aja! Berengsek!”Aluna terus mengumpat sambil melempari Sebastian dengan bantal. Rasanya, semua
"Ya Tuhan! Apa hari ini aku benar-benar bakal kehilangan keperawanan? Eh, tapi aku masih bisa nunda, sih." Selama Sebastian mandi, yang entah kenapa terasa lama sekali, Aluna terus mondar-mandir di dalam kamar. Pikirannya masih dipenuhi ucapan pria itu semalam. Aluna benar-benar bingung harus bagaimana. Di satu sisi, Aluna belum merasa siap untuk melayani suaminya. Namun, di sisi lain, ia juga ingin segera menyelesaikan kontrak pernikahan ini agar bisa bebas dari Sebastian dan keluarganya. Kepalanya rasanya mau pecah. Entah karena terlalu banyak berpikir atau memang sudah kehilangan akal sehat, Aluna malah menenggak wine yang tersedia di kamar. Bahkan, tanpa sadar, hampir satu botol sudah tandas. "Aargh! Bodoh! Kenapa malah mabuk?! Berpikir, Aluna, berpikir!" Suara Aluna mulai terdengar serak. Pandangannya pun perlahan kabur. Kepalanya terasa ringan, sementara kesadarannya mulai mengambang. Di tengah kondisi setengah sadar itu, Aluna berjalan menuju lemari di dekat kamar mandi
Perjalanan panjang tadi membuat Aluna kelelahan. Kini ia hanya ingin bermalas-malasan di atas ranjang sambil bermain ponsel. Sementara itu, Sebastian duduk bersandar di belakangnya, sibuk mengobrol dengan rekan kerjanya melalui telepon. Entah membahas pekerjaan apa lagi.Lama-lama, Aluna bosan sendiri. Ia membalikkan tubuh, lalu merebahkan kepalanya di paha Sebastian.Dari posisi itu, Aluna mendongak menatap suaminya. Sialnya, wajah Sebastian tetap terlihat tampan meski dilihat dari bawah. Rahangnya yang tegas justru tampak semakin jelas.“Sebastian ….” Aluna sengaja melunakkan suaranya.Sebastian menjauhkan ponsel dari telinga. "Kenapa hm? Aku lagi sibuk. “Aluna mengerucutkan bibir.” Aku bosan! Tapi malas keluar."“Bentar, ya. Setelah ini kita keluar. Aku selesaiin urusan ini dulu.”Aluna mengangguk, lalu kembali berbaring. Matanya menatap langit malam yang terlihat jelas dari atap kaca kamar mereka. Namun, tak lama kemudian, sebuah ide jahil muncul di kepalanya. Aluna berdeham ke
17:50, Firlandia. Kakslauttanen Arctic Resort, menjadi pilihan Sebastian untuk menghabiskan seminggu bulan madu bersama Aluna. Resort berbentuk iglo kaca itu dikelilingi hamparan salju sejauh mata memandang. Indah sekali, bahkan jauh lebih indah dari yang pernah Aluna bayangkan. Apalagi, ini pertama kalinya Aluna melihat salju secara langsung. Begitu masuk ke dalam kamar, Aluna sudah tak sabar ingin mengabadikan pemandangan di sekelilingnya. “Ya ampun, cantik banget! Aku harus foto-foto!” Aluna segera mengambil ponsel, lalu menyerahkannya kepada Sebastian. “Bas, fotoin aku, dong. Tapi jangan sampai kelihatan gemuk, ya!” Sebastian menerima ponsel itu tanpa banyak komentar. Sementara Aluna sibuk mencari pose terbaik di depan kaca, pria itu mulai mengambil beberapa foto. “Coba lihat hasilnya.” Aluna langsung menghampiri suaminya untuk memeriksa hasil jepretan tadi. Namun, baru beberapa detik melihat layar ponsel, bibirnya langsung mengerucut. “Jelek, Bas! Kamu ini bisa motoin o
Hari yang paling tidak Aluna tunggu akhirnya tiba juga. Hari bulan madunya bersama Sebastian.Aluna yang seringkali terlambat tentu saja tidak akan bisa tepat waktu. Di saat Sebastian sudah siap dengan koper dan yang lainnya, Aluna justru masih sibuk mengemas barang-barangnya sendiri. Padahal ia ingat, kemarin Sebastian sudah berkali-kali mengingatkannya untuk menyiapkan barang bawaan.Namun, Aluna malah menunda-nundanya sampai akhirnya kerepotan sendiri."Dari kemarin aku kan udah bilang buat kemas-kemas. Sekarang jadi buru-buru, ‘kan?!” omel Sebastian. Aluna yang sedang sibuk melipat pakaian hanya menggerutu pelan. “Dasar laki-laki, tapi jiwanya kayak ibu-ibu,” cibirnya.Sialnya, Sebastian rupanya mendengar.Pria itu menghampirinya, lalu duduk di samping Aluna dengan wajah jengkel. “Aku ngomel juga gara-gara kamu.”Aluna pura-pura tidak mendengar. Ia tetap sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper, berharap Sebastian se







