Se connecter“Bagaimana makanannya, Nak Sebastian?”
Aluna sedang makan malam bersama Sebastian, ibunya, dan Dion. Namun, Maya terus terlihat khawatir Sebastian tidak menyukai masakannya. Padahal, sejak menyiapkan makan malam tadi, Aluna sudah meyakinkan ibunya bahwa Sebastian suka makan apa saja, meski sebenarnya ia sendiri juga tidak tahu.“Enak, Tante,” jawab Sebastian.Aluna memperhatikan wajah pria itu. Sepertinya Sebastian memang tidak sedang berbohong.“Syukurlah.Tubuh Aluna tergeletak lemas di sofa ruang keluarga penthouse Sebastian. Siang tadi, setelah membahas rencana ulang tahun Reihan bersama Kevin dan Reihan, ia langsung mengajak keduanya memindahkan barang-barangnya dari kos ke penthouse. Ia bahkan sudah melunasi tunggakan sewa kos menggunakan uang pemberian Sebastian. Sekarang, resmilah Aluna tinggal satu atap dengan pria itu. Aluna melirik jam dinding. Pukul enam sore, tetapi Sebastian belum juga menunjukkan batang hidungnya. “Ah, pegel banget badanku!” keluhnya sambil meregangkan tubuh. Dengan malas, Aluna bangkit dari sofa. Masih ada beberapa barang yang belum dibereskan. Kalau terus bermalas-malasan, bisa-bisa Sebastian pulang saat kamarnya masih berantakan. “Nanti cowok nyebelin itu ngomel lagi,” gerutu Aluna sambil menyeret koper ke kamar. Sebastian tidak memberitahu Aluna di mana harus menyimpan barang-barangnya. Karena itu, Aluna berinis
“Kamu mau berangkat kerja?” tanya Aluna saat Sebastian memasuki ruang makan.Pagi ini, Sebastian sudah berpakaian rapi dengan setelan jas kerjanya. Padahal, Aluna mengira pria itu masih akan libur setelah mereka menikah kemarin.“Hm. Ada banyak kerjaan yang harus aku selesaikan sebelum cuti buat bulan madu minggu depan.”Mata Aluna langsung membulat. Bulan madu? Kata-kata itu membuatnya berpikir beberapa saat.“Maksudmu … kita bakal bulan madu kayak pengantin sungguhan?” tanya Aluna, masih tak percaya. Sebastian hanya mengangguk singkat sebelum menarik kursi dan duduk.Aluna terdiam. Kenapa ia dan Sebastian perlu melakukan bulan madu? Jangan bilang alasan Sebastian mengajaknya bulan madu supaya bisa fokus mengajaknya untuk membuat anak. Ah, sial! Membayangkannya saja sudah membuat Aluna merinding.“Kamu yang masak ini?”Pertanyaan Sebastian sontak membuyarkan lamunannya. Aluna buru-buru mengangguk.
Hari semakin larut, tetapi Aluna masih terjaga di sofa kamar Sebastian. Pria itu sedang membersihkan diri di kamar mandi, sementara pikiran Aluna sibuk membayangkan apa yang akan terjadi setelah mereka berdua tidur nanti. Jangan-jangan, mereka benar-benar akan langsung membuat anak? “Nggak!” Aluna menunduk sambil menjambak rambutnya. “Aku belum siap, Tuhan ….” Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Aluna spontan menoleh dan langsung membeku saat melihat Sebastian keluar hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya. Rambut pria itu masih basah, begitu pula tubuhnya. Aluna bahkan bisa melihat bulir-bulir air menetes di tubuh atletis itu. Aluna menelan ludah. Entah kenapa, kamar yang tadi terasa dingin mendadak membuatnya gerah. Sebastian berjalan menuju lemari. Mata Aluna tanpa sadar terus mengikutinya, sampai pria itu meraih ujung handuk di pinggangnya. “Tunggu!” Aluna buru-buru berdiri.
Kontrak baru?!Aluna langsung melotot. “Apa? Nggak! Aku nggak mau!” tolaknya panik. Mengingat kontrak sebelumnya saja sudah membuat Aluna pusing. Sekarang, Sebastian malah ingin membuat kontrak baru?“Terus, kamu punya usul lain?” Sebastian menatap Aluna santai.Aluna terdiam sejenak. Ia menatap Sebastian dengan raut gelisah sebelum akhirnya menjawab, “Nggak punya. Kepalaku buntu. Lagian, gimana caranya kita bisa punya anak? Emangnya bisa aku sama kamu—”Kalimatnya terhenti.Bayangan tentang apa yang harus mereka lakukan untuk memiliki anak mendadak melintas di kepala Aluna. Ia buru-buru menggeleng, berusaha mengusir pikiran itu.Sebastian justru tersenyum miring. “Bisa.”Aluna menatapnya tak percaya. “Yang benar aja?! Bisa?”Sebastian mengangguk. “Kita cuma perlu—““Sebastian!” Aluna langsung berteriak geli.Pria itu terkekeh pelan, membuat Aluna semakin kesal.“Aku nggak ma
Acara pernikahan Aluna dan Sebastian ternyata belum selesai. Jika pemberkatan tadi hanya dihadiri beberapa anggota keluarga, resepsi malam ini dihadiri oleh semua keluarga besar Narendra, tanpa tamu dari luar keluarga.Dekorasi maroon yang senada dengan gaun Aluna membuat pesta sederhana itu tetap terlihat mewah dan elegan.Sejak tadi, Aluna sibuk tersenyum, menyapa kerabat Sebastian dan berfoto. Untungnya, ia tidak harus menghafal semua nama mereka. Kalau iya, bisa-bisa kepalanya pusing sebelum pesta berakhir.“Keluargamu kayaknya baik-baik banget, ya,” ujar Aluna sambil memperhatikan beberapa kerabat Sebastian yang sedang berbincang.“Nggak semuanya.”Aluna langsung menoleh. “Serius?” Ia tampak ragu. “Tapi dari tadi nggak ada kok yang ngehina aku. Makanya aku pikir semuanya baik.”Sebastian mengalihkan pandangan ke seorang pria yang berdiri tidak jauh dari ayahnya. “Itu Paman Frans. Sebisa mungkin, jangan cari masalah sama dia,
"Aluna Kirana, saya mengambil engkau menjadi istri saya untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Tuhan, dan inilah janji setiaku yang tulus."Hari ini, Aluna berdiri di altar bersama Sebastian, mengucapkan janji suci pernikahan mereka di hadapan seorang pendeta."Sebastian Narendra, saya menerima engkau menjadi suami saya untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Tuhan, dan inilah janji setiaku yang tulus.""Mempelai pria, silakan mencium mempelai wanita,” ucap pendeta.Sebastian mendekat, menangkup wajah Aluna yang terlihat kesal. "Kening aja, ke







