تسجيل الدخولBelum sempat Papa Sebastian melanjutkan pertanyaannya, Sarah tiba-tiba muncul dari arah ruang makan dengan senyum lebar.
“Aluna! Akhirnya datang juga.” Wanita itu langsung menghampirinya dan menggenggam tangannya. “Saya pikir, kamu tidak jadi datang malam ini.” Aluna hanya bisa tersenyum kaku. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana mungkin ia mengatakan terus terang bahwa dirinya datang hanya karena tergiur dengan uang yang ditawarkan Sebastian? “Kamu pasti lapar. Ayo, kita makan malam dulu.” Sarah kembali bersuara. Aluna hanya mengangguk, lalu mengikuti Sarah yang membawanya menuju ruang makan. Awalnya suasana berlangsung cukup tenang. Makan di selingi obrolan ringan dari kedua orang tua Sebastian. Namun, baru beberapa suapan masuk ke mulut Aluna, Papa Sebastian yang bernama Julian itu sudah mulai bertanya. “Jadi, kamu ini benar-benar kekasihnya Sebastian kan, Aluna?” Aluna hampir tersedak mendengar pertanyaan itu. “Tentu saja.” Sebastian yang menjawab. Julian lalu menatap putranya tajam. “Papa hanya ingin memastikan Aluna tidak dipaksa.” Sebastian berdecak pelan. “Jadi Papa nggak percaya?” Julian mengendikkan bahu. “"Kamu tahu, Papa sangat sulit percaya padamu setelah apa yang terjadi di masa lalu, Sebastian. Jadi, apa salahnya kalau Papa ingin memastikan Aluna ini kekasihmu atau bukan?! Papa takut kamu memaksanya untuk menjadi kekasihmu. Mamamu bilang, kamu menariknya secara asal di tengah lobi hotel. Jangan lupa itu!" Sebastian tampak memutar bola mata. Sedangkan Aluna yang sejak tadi diam kini mulai berani angkat bicara. Sebastian bilang, semakin cepat Aluna bisa membuat orang tuanya percaya, maka semakin cepat juga kontrak mereka berakhir. “Sebastian nggak bohong kok, Om. Kami beneran sepasang kekasih. Tadi cuma …” Aluna melirik Sebastian sekilas. “Kami lagi marahan aja. Makanya saya berniat buat pergi.” Senyum Sarah langsung mengembang. “Jadi kalian tidak berbohong? Syukurlah, Mama sangat lega mendengarnya,” ujarnya sambil menatap Sebastian. “Kalau begitu tidak masalah kan kalau kalian menikah minggu depan?” Kali ini mata Aluna langsung membelalak. Menikah? Minggu depan? Tunggu … sepertinya ini tidak benar. Terlebih bagian itu juga tidak ada dalam kontrak perjanjian. Aluna yang tadinya merasa percaya diri kini mulai menjadi panik. Ia menatap Sebastian yang sialnya hanya memasang wajah datar. “A-apa … nggak terlalu cepat kalau nikahnya Minggu depan?” Semua mata kini tertuju pada Aluna. Ia pun hanya bisa meringis canggung. “M-maksud saya …” Aluna berusaha berpikir cepat. “Kenapa nggak tahun depan aja? Iya kan, Sebastian.” Aluna lalu menatap Sebastian, berharap pria itu peka dan mau membantunya dalam hal ini. “Hm. Aku setuju sama Aluna,” jawaban Sebastian berhasil membuat Aluna bernapas dengan lega. Tapi … “Ah, katanya kalian tinggal nentuin waktunya saja. Mama rasa ini waktu yang tepat.” Sarah tersenyum lebar, sementara kedua tangannya terlipat ke atas meja. “Lagipula, kalau harus nunggu tahun depan takutnya kalian keburu putus.” Aluna langsung melirik Sebastian. Sejujurnya, ia sedikit berharap pria itu akan menolak. Masalahnya, apakah ia bisa berharap pada Sebastian? Jawabannya … tentu saja tidak. Ketika pria itu hanya mengangguk santai, harapan Aluna seketika sirna. Sial! Rasanya Aluna seperti di jebak. Dan kata-kata menikah itu rasanya seperti menusuk kepalanya. Membuatnya merasa pusing seketika. Begitu acara makan malam itu berakhir, Aluna segera menarik Sebastian ke halaman samping. “Kamu bilang aku cuma perlu jadi tunangan pura-puramu? Kenapa sekarang kita jadi harus nikah? Nikah, Sebastian. Minggu depan!” Pekik Aluna tertahan. Takut suaranya akan di dengar oleh orang tua Sebastian. “Itu kan bukan kemauanku, Aluna.” Sebastian menjawab santai. “Ya kamu tolak dong. Jangan cuma—“ ucapan Aluna terputus saat tiba-tiba Sarah muncul dan langsung mendekatinya. “Kalian di sini rupanya?” Sarah menatap Aluna sambil tersenyum. “Berhubung kamu masih di sini, kita lihat-lihat gaun pernikahan sekalian yuk, Aluna.” “G-gaun pernikahan?” Aluna terbata. Sarah hanya mengangguk, lalu menarik Aluna masuk, menuju ruang keluarga. Aluna sempat menoleh ke arah Sebastian. Tatapannya mengatakan kalau pembicaraan mereka belum selesai. Meski tadi sempat merasa kesal karena tuntutan nikah mendadak, kini Aluna justru terlihat antusias saat melihat deretan gaun pernikahan yang begitu cantik di layar tablet. Matanya langsung tertuju pada sebuah gaun berwarna biru. “Yang ini cantik.” “Yang biru?” Aluna mengangguk. “Iya. Saya suka warna biru.” “Jangan yang biru!” Suara Sebastian tiba-tiba terdengar dari belakang mereka. Aluna terkejut dan menoleh. Pria itu berdiri dengan wajah yang berubah dingin. Aluna bahkan sampai heran melihatnya. Sarah justru mengernyit. “Kenapa? Aluna menyukainya. Jadi tidak ada salahnya kalau dia pilih warna itu.” “Aku nggak suka.” “Sebastian.” Sarah menatap putranya tajam. “Kamu bilang sudah melupakan Monica.” Aluna yang mendengar nama itu langsung terdiam. Monica? Siapa? Apa jangan-jangan itu nama mantan istri Sebastian? Sebastian tampak mengembuskan napas pelan. “Aku memang sudah melupakannya.” “Lalu kenapa warna biru masih menjadi masalah?” Tatapan Sebastian beralih pada gaun di layar. “Aku cuma nggak mau sesuatu dari masa lalu ikut masuk ke dalam pernikahanku.” Aluna tidak mengatakan apa-apa. Sebenarnya, Aluna masih sangat penasaran. Namun, melihat perubahan sikap Sebastian, ia memilih untuk diam saja. Lagipula, saat ini kepala Aluna sudah cukup penuh. Ia tidak ingin menambah masalah baru dan mencari gara-gara dengan pria itu. Sarah lalu menatap Aluna yang sejak tadi hanya diam. “Bagaimana, Aluna? Kamu tidak masalah kalau Sebastian menolak menggunakan warna biru untuk pernikahan kalian?” Aluna berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Nggak apa-apa, Tante. Terserah mau pakai warna apapun. Kalau biru, saya jelas merasa senang karena itu warna kesukaan saya. Tapi kalau Sebastian nggak mau … ya udah, nggak usah dipaksa. Warna apapun saya nggak masalah, selama saya nggak nikah sama kambing.” Sebastian yang mendengarnya langsung melotot. “Kamu nyamain calon suamimu sama kambing, Aluna?!” “Apa? Nggak, kok,” elak Aluna santai. “Lagian itu cuma perumpamaan aja. Kamu ini Ge-eR banget!” Sebastian hanya mendengus. Sarah terkikik geli, lalu kembali menatap Aluna. “Kalau begitu, kita pilih warna maroon saja, ya?” Sebastian mengangguk setuju. Sementara Aluna? Jelas saja ia mengikuti keputusan mereka. Toh, sudah terbukti bahwa pendapatnya tidak terlalu banyak berpengaruh. Jadi, terserah pria menyebalkan itu saja. *** Hari ini Aluna dan Sebastian dalam perjalanan menuju ke rumah Ibunya. Karena tuntutan nikah mendadak itu, jadinya Aluna harus segera memberitahu Ibunya. Sekalian Sebastian ingin meminta restu. Kini Mobil Sebastian berhenti tepat di depan rumah Aluna. Sebuah rumah sederhana. Tidak mewah, tetapi tampak rapi dan terawat. Begitu masuk, Aluna langsung disambut pelukan hangat dari adiknya, Dion. Meski sudah duduk di bangku SMA, Dion masih saja bersikap seperti anak kecil setiap kali bersama kakaknya. “Di mana Ibu?” Tanya Aluna setelah melepaskan pelukannya. Namun, Dion justru memperhatikan pria yang berdiri di samping kakaknya dari atas hingga bawah. “Kamu siapa?” Tanya Dion curiga. Aluna langsung melirik Sebastian. Ia sempat khawatir pria itu akan tersinggung. Namun, Sebastian hanya tersenyum tipis. “Aku calon suami kakakmu.” Dion mengernyit. “Calon suami? Kak Aluna nggak pernah bilang punya pacar.” “Aluna jelaskan padanya.” Aluna hanya menghela napas sambil menatap adiknya. “Dion, dia Sebastian. Kakak akan nikah sama dia lusa.” Dion langsung menoleh pada Sebastian. “Kenapa kamu mau nikah sama kakakku?” Sebastian mengangkat sebelah alis. “Kenapa memangnya?” “Dia memang cerewet dan galak, tapi dia kakakku. Jadi aku harus memastikan kamu orang yang baik untuk kakakku atau bukan.” Aluna menahan tawa. Namun, Sebastian justru menjawab santai. “Aku punya hotel, penthouse, perusahaan, dan beberapa aset lainnya.” Dion terdiam. “Pekerjaanmu?” “General Manager Hotel.” Ekspresi Dion seketika berubah. “Oh…” Ia mengulurkan tangan kepada Sebastian. “Kalau begitu aku merestui kalian.” Sebastian menjabat tangannya. “Aku Dion, adiknya Kak Aluna.” Aluna hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Baru beberapa menit lalu adiknya memasang wajah galak yang siap menginterogasi calon suaminya. Sekarang, setelah tahu pekerjaan Sebastian, ia justru langsung memberikan restu. Ya, seperti itulah Dion. Sikapnya memang terkadang berlebihan, tetapi Aluna tahu, semua itu hanya karena adiknya terlalu menyayanginya. Bersamaan dengan itu, seorang wanita paruh baya muncul dari arah pintu belakang. Wajahnya tampak teduh, dengan beberapa kemiripan dengan Aluna. Maya, ibu Aluna, kini berdiri di hadapan Sebastian. Entah mengapa, Aluna bisa melihat sedikit kegugupan di wajah pria itu. Seolah-olah Sebastian benar-benar datang untuk meminangnya. Padahal mereka nanti hanya akan menikah kontrak. “Ibu …” Aluna langsung memeluk ibunya. Rasa rindunya seketika terlampiaskan setelah beberapa minggu tidak bertemu. “Kondisi Ibu sudah membaik, kan? Oh iya, obatnya jangan lupa diminum, ya. Dion …” Aluna lalu menoleh pada adiknya yang hendak berjalan ke arah dapur. “Beritahu Kakak kalau Ibu sampai lupa minum obat.” Dion hanya mengacungkan jempol. “Siap!” Ujarnya lalu berjalan menuju dapur. “Siapa dia?” Maya tiba-tiba bertanya sambil menunjuk Sebastian. Aluna seketika menoleh ke arah Sebastian. Pria itu berdehem pelan sebelum kemudian tersenyum hangat. "Selamat sore, Tante. Saya Sebastian Narendra, calon suami Aluna,” ujarnya sopan. Maya tampak terkejut. “Calon suami?” Ia memandang Aluna, kemudian kembali menatap Sebastian. "Iya, Tante. Kami akan menikah lusa. Dan kedatangan saya di sini untuk meminta restu pada Anda,” jelas Sebastian.Belum sempat Papa Sebastian melanjutkan pertanyaannya, Sarah tiba-tiba muncul dari arah ruang makan dengan senyum lebar. “Aluna! Akhirnya datang juga.” Wanita itu langsung menghampirinya dan menggenggam tangannya. “Saya pikir, kamu tidak jadi datang malam ini.” Aluna hanya bisa tersenyum kaku. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana mungkin ia mengatakan terus terang bahwa dirinya datang hanya karena tergiur dengan uang yang ditawarkan Sebastian? “Kamu pasti lapar. Ayo, kita makan malam dulu.” Sarah kembali bersuara. Aluna hanya mengangguk, lalu mengikuti Sarah yang membawanya menuju ruang makan. Awalnya suasana berlangsung cukup tenang. Makan di selingi obrolan ringan dari kedua orang tua Sebastian. Namun, baru beberapa suapan masuk ke mulut Aluna, Papa Sebastian yang bernama Julian itu sudah mulai bertanya. “Jadi, kamu ini benar-benar kekasihnya Sebastian kan, Aluna?” Aluna hampir tersedak mendengar pertanyaan itu. “Tentu saja.” Sebastian yang menjawab. Julian lalu mena
Sebastian mengangkat sebelah alis. “Kamu bahkan belum mulai bekerja.” Aluna menggigit bagian dalam bibirnya. Sebenarnya Aluna juga merasa tidak enak meminta uang secepat itu. Ia bahkan baru saja menandatangani kontrak. Tapi mau bagaimana lagi? Ia memang sedang membutuhkan uang sekarang. Dan hanya Sebastian lah satu-satunya harapannya. “Kalau nggak bisa…” Aluna menarik napas. “Aku minta DP-nya dulu aja. Bisa dikirim ke rekeningku sekarang?” Tanpa menunggu jawaban, Aluna menyebutkan nomor rekeningnya. Sebastian tidak langsung menjawab. Tatapannya hanya berpindah dari Aluna ke layar ponselnya. Beberapa detik kemudian, terdengar suara notifikasi dari ponsel Aluna. Transfer masuk. Aluna buru-buru memeriksa layar ponselnya. Matanya langsung berbinar ketika melihat nominal yang baru saja masuk. “Terima kasih.” Tanpa banyak bicara, Aluna memasukkan ponselnya ke dalam tas dan berbalik hendak pergi. Namun, baru selangkah, ia sempat melirik Sebastian. Pria itu justru tengah menatapnya
Pria itu menghentikan langkah dan menoleh. Sebelah alisnya terangkat ketika melihat Aluna yang datang terengah-engah. Senyum tipis yang menyebalkan pun muncul di wajahnya. Aluna mendengus. Ia masih berusaha mengatur napas sebelum kemudian berdiri tegak di hadapan Sebastian. “Soal tawaranmu tadi …” Aluna diam sejenak, tampak ragu untuk melanjutkan. “Apa masih berlaku?” Sebastian mengangkat sebelah alisnya, lalu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Lima menit lagi nggak berlaku” Aluna nyaris berdecak kesal, tapi akhirnya ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengepalkan kedua tangannya untuk menguatkan diri. “Aku mau jadi tunangan pura-puramu.” Aluna menatap Sebastian mantap. “Jadi, aku harus lakuin apa sekarang?” Sebastian tidak langsung menjawab. Ia terdiam beberapa saat, membuat jantung Aluna perlahan berdetak lebih cepat. Tiba-tiba Sebastian tersenyum miring. “Baguslah.” Aluna mengerjapkan mata. Hanya begitu? Itu tidak menjawab pertanyaannya! Alun
Mata Aluna langsung membelalak. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendapat tawaran seperti itu dari pria yang sejak dulu selalu berhasil membuat darahnya naik setiap kali mereka bertemu dalam kegiatan kuliah.Plak!Sebuah tamparan langsung mendarat di pipi Sebastian.“Dasar pria gila!” “Kamu berani menamparku?!” Sebastian memegangi pipinya yang baru saja di tampar oleh Aluna. Matanya menatap sekeliling yang untungnya lobi dalam keadaan sepi.Aluna langsung berkacak pinggang. “Iya, kenapa? Lagipula kamu emang kayaknya perlu disadarin. Kamu pikir aku bakal segampang itu mau jadi tunangan pura-puramu?! Jangan harap!” Sebastian menggertakkan giginya, lalu menarik napas kasar. “Ikut aku.” “Ah— lepasin aku!” protes Aluna sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sebastian.Namun, pria itu sama sekali tidak peduli dan terus menarik Aluna menjauhi lobi hotel. begitu sampai di halaman samping hotel, Sebatian baru melepasnya.Aluna langsung mendengus kesal sambil mengusap-usap p
BRAK!“Jaga mata Anda, dasar HRD mesum!” Pekik Aluna kesal sambil menggebrak meja.Gadis itu berdiri dari kursinya dengan wajah merah. Niatnya datang ke Hotel ini untuk wawancara pekerjaan, tapi lagi-lagi ia malah berurusan dengan orang mesum.Bukannya fokus dengan wawancara, pria yang menjadi pewawancara itu malah fokus pada dada Aluna sejak tadi. Aluna jelas mengetahui hal itu, awalnya ia pikir hanya kebetulan melihat ke arah sana, tapi setelah berkali kali dengan senyum aneh yang muncul di wajah pria itu, Aluna semakin yakin dengan pikirannya.Bukannya membela diri, pria itu malah terkekeh kecil. “Kalau tidak mau dilihat, ya jangan pakai baju seperti itu. Sok suci sekali. Pantas saja kerjaanmu sering pindah-pindah, sedikit-sedikit protes.” Aluna semakin geram. Bagaimana bisa pria itu menyalahkan pakaiannya? Ia bahkan mengenakan kemeja yang sopan dan longgar, sama sekali tidak ketat apalagi memperlihatkan lekuk tubuhnya. “Tidak ada yang salah dengan baju saya! Mata Anda saja yang







