Share

Terpaksa Setuju

Author: SweetWater
last update publish date: 2026-10-03 13:00:00

Seketika mata Aluna melebar. Ia sampai terdiam sesaat, seolah memastikan bahwa telinganya memang tidak salah dengar.

Menikah? Bulan depan?

Astaga.

Kini Aluna meremas kedua tangannya yang berada di bawah meja. Yang benar saja Ibu Sebastian ini? Baru juga membahas soal rencana pernikahan, sekarang sudah asal menentukan waktunya saja.

Aluna lalu menatap Sebastian yang kebetulan sekali juga tengah menatapnya.

Bagaimana ini?

Kira-kira seperti itulah arti tatapan Aluna kepada Sebastian.

“Nggak bisa. Menurutku kalau bulan depan itu terlalu cepat,” ujar Sebastian kemudian.

Aluna hampir mengembuskan napas lega. Setidaknya, Sebastian masih berpikir masuk akal. Namun, belum sempat ia benar-benar tenang, Sarah kembali berkata.

“Menurut Mama bulan depan waktu yang pas, kok. Tidak terlalu cepat.”

Aluna mulai gelisah. Ia bahkan belum sempat membayangkan bagaimana menjalani kontrak bersama Sebastian, tapi sekarang malah sudah di suruh menikah.

Ah, Sungguh sial.

Aluna harus memikirkan sesuatu.

“A-apa … nggak sebaiknya tahun depan aja?”

Semua mata kini tertuju pada Aluna. Ia pun hanya bisa meringis canggung.

“M-maksud saya …” Aluna berusaha berpikir cepat. “Bukanya semuanya akan lebih baik kalau di siapkan secara matang.”

Aluna lalu menatap Sebastian, berharap pria itu ikut membantunya.

“Hm. Aku setuju sama Aluna.”

Aluna tersenyum dalam hati. Merasa percaya diri kalau ia dan Sebastian keberatan, pasti orang tua pria itu juga tidak akan melanjutkan rencana pernikahan ini.

Tapi …

“Ah, bagi Mama satu bulan itu sudah lebih dari cukup untuk mempersiapkan semuanya.” Kata Sarah sambil tersenyum. Wajahnya bahkan terlihat jauh lebih bersemangat daripada sebelumnya.

Lagi-lagi Sarah menatap Aluna dan Sebastian bergantian.

“Lagipula, kalau harus menunggu tahun depan, takutnya kalian keburu putus.”

Aluna langsung melirik Sebastian. Berharap pria itu akan kembali menolak lagi. Tapi melihat sikap Sebastian yang datar seperti itu membuat harapan Aluna seketika sirna.

Begitu acara makan malam itu berakhir, Aluna segera menarik Sebastian ke halaman samping. Ia sengaja mencari tempat agak jauh agar pembicaraan mereka tidak terdengar oleh orang tuanya.

“Kamu bilang aku cuma perlu jadi tunangan pura-puramu? Kenapa sekarang kita jadi harus nikah, sih? Nikah, Sebastian. Bulan depan!” Pekik Aluna tertahan. Matanya bahkan sempat melirik ke sekitar, memastikan tidak ada yang mendengar.

“Ya aku juga nggak mau. Tapi tadi kamu lihat sendiri, kan, gimana sikap Mamaku,” jawab Sebastian santai.

“Ya kamu tolak dong. Jangan cuma diam aja,” bawel Aluna.

Kedua tangan gadis itu terlipat di depan dada, dengan bibir mengerucut.

“Nggak bisa.”

“Nggak bisa apanya?” Aluna bertanya bingung.

Sebastian kini menatap Aluna. “Kita turuti aja kemauan mereka.”

“Hah? Maksudmu kita benar-benar harus nikah gitu?” Mata Aluna membelalak tak percaya.

Sebastian mengangguk dan hal itu kembali berhasil membuat Aluna merasa syok di tempatnya. Semudah itukah Sebastian menerima tawaran pernikahan dari orang tuanya?

Bagi Aluna, pernikahan adalah sebuah momen sakral. Bukan sesuatu yang bisa di putuskan seenaknya begitu saja.

“Untuk saat ini nggak ada pilihan lain, Aluna. Lagipula kita masih punya waktu sampai bulan depan.” Sebastian tiba-tiba menjadi serius. “Kita jalani dulu, nanti di tengah jalan aku bisa bilang kalau kita putus karena kamu selingkuh.”

Aluna langsung mendelik. “Harus aku banget yang selingkuh? Kenapa nggak kamu aja?!” Protesnya.

Sebastian berdecak. “Kita putus karena ternyata nggak sejalan dalam urusan masa depan.”

“Nah, gitu lebih bagus.” Aluna langsung tersenyum.

Meski pada akhirnya Aluna nanti tidak akan bertemu dengan orang tua Sebastian lagi. Setidaknya Aluna tidak ingin meninggalkan kesan buruk. Dengan begitu, namanya pun juga akan tetap bersih tanpa membawa label sebagai seorang wanita tukang selingkuh.

“Jadi setuju?” Sebastian menaikkan sebelah alisnya.

Aluna diam sejenak. Ya, sebenarnya tidak juga, sih. Tapi mau bagaimana lagi? Ia juga sedang buntu sekarang.

“Ya. Setuju,” jawab Aluna setengah hati.

“Oh, kalian ada di sini rupanya.”

Aluna dan Sebastian kompak menoleh. Sarah tiba-tiba muncul di belakang mereka. Dan beruntung, pembicaraan mereka juga sudah selesai.

Sarah mengatakan bahwa Julian ingin berbicara dengan Sebastian. Aluna tidak tahu apa yang ingin dibicarakan Papa Sebastian. Namun, melihat situasinya, mungkin saja pembicaraan mereka masih berkaitan dengan pernikahan.

Sementara Sebastian pergi menemui Julian, Sarah lalu mengajak Aluna kembali masuk ke dalam rumah untuk mengobrol di ruang keluarga.

“Kamu tahu, Aluna. Selama ini Sebastian itu selalu menolak setiap kali saya jodohkan dengan wanita manapun.”

Aluna yang mendengarkan hanya mengangguk-angguk. Jiwa ingin tahunya seketika aktif. Apa benar seperti itu? Sok jual mahal sekali pria menyebalkan itu. Jangan-jangan dia lama menduda juga karena terlalu pemilih?

“Makanya, waktu saya dengar dia sudah punya pacar, rasanya saya senang sekali. Bahkan awalnya saya sempat mengira anak itu mulai tidak normal setelah menjadi duda. Lagian masa semua wanita dia tolak? Wajar kan kalau saya pikir Sebastian jadi pindah haluan.” Sarah terkekeh, begitu juga dengan Aluna.

“Kalau dilihat dari sikapnya, sih, emang sekilas dia kelihatannya kayak udah nggak normal, Tante,” kata Aluna. “Nggak ada manis-manisnya sama wanita. Nyebelin, wajahnya datar terus, ngomong juga seperlunya.”

Sarah masih terkekeh. “Jadi selama ini Sebastian selalu menyebalkan kalau sama kamu?”

“Ih, nyebelin banget malahan, Tante. Suka banget dia nyari gara-gara sama aku,” cerocos Aluna.

Sarah menatap Aluna sambil tersenyum, lalu menggenggam tangannya. “Tapi sebenarnya Sebastian tidak seperti itu kok, Aluna. Saya sangat tahu bagaimana putra saya,” ujarnya penuh arti.

Aluna terdiam sesaat. Entah kenapa, ucapan Sarah barusan justru membuat kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan. Apa maksudnya? Memangnya seperti apa Sebastian yang sebenarnya?

Namun, Aluna tidak tahu harus bertanya dari mana. Ia akhirnya hanya tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan rasa penasarannya.

Di tengah rasa penasarannya tentang Sebastian, Aluna juga menyadari satu hal. Orang tua Sebastian ternyata sangat baik. Sejak ia tiba di rumah ini tadi, keduanya sama sekali tidak menghakiminya. Bahkan sedikit pun mereka tidak menanyakan hal-hal pribadi tentang kehidupan Aluna.

Entah kenapa, hal sederhana itu justru membuat Aluna merasa sangat dihargai.

Ah, sekarang tiba-tiba ia malah merasa bersalah karena sebelumnya sudah berpikiran buruk tentang Sarah dan Julian.

“Aluna …” Sarah kembali bersuara. Ia menatap Aluna lembut. “Meski saya baru kenal kamu, tapi saya yakin kamu gadis yang baik.”

Aluna tersenyum tipis. “Ah, Tante Sarah berlebihan,” ujarnya malu.

“Saya serius, Aluna.” Kata Sarah, tidak ada sedikit pun kebohongan dalam tatapannya. “Saya merasa Sebastian memang cocok sekali sama kamu. Maka dari itu …”

Tiba-tiba perasaan Aluna menjadi tidak enak. Seolah firasatnya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Saya sangat berharap, kamu dan Sebastian bisa secepatnya menikah.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Pesta Tanpa Izin

    Hari demi hari Aluna lewati berdua dengan Sebastian. Namun, hidupnya terasa membosankan. Terlebih, baik orang tuanya maupun orang tua Sebastian selalu saja melarang saat ia berniat untuk datang.Alasan mereka sama. Berpikir bahwa Aluna lebih baik di rumah melayani Sebastian."Mama Sarah, aku beneran bosan di rumah. Aku ke sana sekarang, ya?” pinta Aluna melalui telepon, berharap kali ini mertuanya mengizinkan.Sayangnya, harapannya kembali pupus. "Tidak usah, Aluna. Kamu dirumah saja. Tunggu sampai Sebastian pulang. Kalau Sebastian pulang, kamu harus sudah wangi dan siap menyambutnya. Siapa tahu Sebastian jadi tambah semangat buatin Mama cucu !" seru Sarah antusias.Aluna melongo. Alasan macam apalagi ini? "T-tapi... ya udah deh, Ma. Aku matiin dulu teleponnya. Aku mau makan,” ucap Aluna pasrah sebelum mengakhiri panggilan secara sepihak.Aluna meletakkan ponselnya sembarangan, lalu mengembuskan napas panjang.

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Mengingatkan Batas Aluna

    Aluna tertegun. Ia tidak menyangka Sebastian akan menanggapi ucapannya seserius itu. “Kenapa kamu malah marah?” protes Aluna. “Aku nggak peduli kamu mau nyimpen foto atau cincin itu. Aku cuma kasihan sama kamu.” “Kamu bilang apa?” Aluna sempat ragu, tetapi akhirnya melanjutkan, “Kamu terlalu cinta sama mantan istrimu sampai nggak sadar kalau kamu terus bikin Mama Sarah kecewa. Padahal, Mama Sarah cuma pengen kamu move on. Makanya, selama ini dia sering jodoh-jodohin kamu.” Aluna teringat obrolannya dengan Sarah beberapa waktu lalu. Awalnya, ia mengira Sebastian memang tidak tertarik menjalin hubungan atau punya standar tinggi dalam memilih pasangan. Namun, setelah menemukan foto dan cincin pernikahan itu, Aluna mulai berpikir bahwa Sebastian mungkin memang belum sepenuhnya melupakan masa lalunya. Sebastian melangkah mendekat. Ia menundukkan kepala hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. “Aku nggak butuh dikasihani, apalagi dinasihati,” ujar Sebastian dingin. Alu

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Sebastian Dan Masa Lalunya

    Tubuh Aluna tergeletak lemas di sofa ruang keluarga penthouse Sebastian. Siang tadi, setelah membahas rencana ulang tahun Reihan bersama Kevin dan Reihan, ia langsung mengajak keduanya memindahkan barang-barangnya dari kos ke penthouse. Ia bahkan sudah melunasi tunggakan sewa kos menggunakan uang pemberian Sebastian. Sekarang, resmilah Aluna tinggal satu atap dengan pria itu. Aluna melirik jam dinding. Pukul enam sore, tetapi Sebastian belum juga menunjukkan batang hidungnya. “Ah, pegel banget badanku!” keluhnya sambil meregangkan tubuh. Dengan malas, Aluna bangkit dari sofa. Masih ada beberapa barang yang belum dibereskan. Kalau terus bermalas-malasan, bisa-bisa Sebastian pulang saat kamarnya masih berantakan. “Nanti cowok nyebelin itu ngomel lagi,” gerutu Aluna sambil menyeret koper ke kamar. Sebastian tidak memberitahu Aluna di mana harus menyimpan barang-barangnya. Karena itu, Aluna berinis

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Teman Setan

    “Kamu mau berangkat kerja?” tanya Aluna saat Sebastian memasuki ruang makan.Pagi ini, Sebastian sudah berpakaian rapi dengan setelan jas kerjanya. Padahal, Aluna mengira pria itu masih akan libur setelah mereka menikah kemarin.“Hm. Ada banyak kerjaan yang harus aku selesaikan sebelum cuti buat bulan madu minggu depan.”Mata Aluna langsung membulat. Bulan madu? Kata-kata itu membuatnya berpikir beberapa saat.“Maksudmu … kita bakal bulan madu kayak pengantin sungguhan?” tanya Aluna, masih tak percaya. Sebastian hanya mengangguk singkat sebelum menarik kursi dan duduk.Aluna terdiam. Kenapa ia dan Sebastian perlu melakukan bulan madu? Jangan bilang alasan Sebastian mengajaknya bulan madu supaya bisa fokus mengajaknya untuk membuat anak. Ah, sial! Membayangkannya saja sudah membuat Aluna merinding.“Kamu yang masak ini?”Pertanyaan Sebastian sontak membuyarkan lamunannya. Aluna buru-buru mengangguk.

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Rockie?

    Hari semakin larut, tetapi Aluna masih terjaga di sofa kamar Sebastian. Pria itu sedang membersihkan diri di kamar mandi, sementara pikiran Aluna sibuk membayangkan apa yang akan terjadi setelah mereka berdua tidur nanti. Jangan-jangan, mereka benar-benar akan langsung membuat anak? “Nggak!” Aluna menunduk sambil menjambak rambutnya. “Aku belum siap, Tuhan ….” Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Aluna spontan menoleh dan langsung membeku saat melihat Sebastian keluar hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya. Rambut pria itu masih basah, begitu pula tubuhnya. Aluna bahkan bisa melihat bulir-bulir air menetes di tubuh atletis itu. Aluna menelan ludah. Entah kenapa, kamar yang tadi terasa dingin mendadak membuatnya gerah. Sebastian berjalan menuju lemari. Mata Aluna tanpa sadar terus mengikutinya, sampai pria itu meraih ujung handuk di pinggangnya. “Tunggu!” Aluna buru-buru berdiri.

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Kontrak Baru

    Kontrak baru?!Aluna langsung melotot. “Apa? Nggak! Aku nggak mau!” tolaknya panik. Mengingat kontrak sebelumnya saja sudah membuat Aluna pusing. Sekarang, Sebastian malah ingin membuat kontrak baru?“Terus, kamu punya usul lain?” Sebastian menatap Aluna santai.Aluna terdiam sejenak. Ia menatap Sebastian dengan raut gelisah sebelum akhirnya menjawab, “Nggak punya. Kepalaku buntu. Lagian, gimana caranya kita bisa punya anak? Emangnya bisa aku sama kamu—”Kalimatnya terhenti.Bayangan tentang apa yang harus mereka lakukan untuk memiliki anak mendadak melintas di kepala Aluna. Ia buru-buru menggeleng, berusaha mengusir pikiran itu.Sebastian justru tersenyum miring. “Bisa.”Aluna menatapnya tak percaya. “Yang benar aja?! Bisa?”Sebastian mengangguk. “Kita cuma perlu—““Sebastian!” Aluna langsung berteriak geli.Pria itu terkekeh pelan, membuat Aluna semakin kesal.“Aku nggak ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status