ANMELDENSetelah memeriksa setiap bagian AC dengan cermat, tukang yang sudah berpengalaman bernama Pak Joko mengangkat kepalanya sambil mengusap keringat yang menetes di dahinya menggunakan ujung bajunya. “Mas Rio, alhamdulillah masalahnya tidak sesulit yang saya kira tadi,” ujarnya dengan nada yang tenang. “Ada klep kecil di bagian pipa saluran pendingin yang sedikit terlepas akibat getaran mesin dalam waktu lama, itulah yang menyebabkan air menetes terus-menerus. Selain itu, filter udara dan bagian
Kerinduan Arin terhadap Rio semakin memuncak seiring berjalannya hari. Meskipun ia sering mencoba bekerja ekstra atau mengikuti kegiatan bersama teman-teman kantor, rasa rindu itu selalu muncul setiap kali ia melihat tempat tidur kosong di kamarnya. Namun, Arin yang memiliki rasa harga diri yang tinggi tidak mau menjadi orang yang mengganggu atau memulai kontak duluan. Ia merasa bahwa jika Rio memang ingin bertemu, dia akan yang pertama kali menghubungi. Hari itu sore, tepat setelah Arin selesai bekerja dan baru saja mandi, suara notifikasi ponselnya terdengar. Ia dengan cepat mengambil ponsel dan melihat layarnya pesan dari Rio muncul di aplikasi ojol: "Hai Cantik! Kamu ada di kost sore ini nggak? Aku mau mampir sebentar kalau kamu tidak ada acara." Arin langsung merasa sumringah, wajahnya langsung bersinar dengan senyum lebar. Tanpa berlama-lama, ia segera mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Ia mengoleskan body lotion dengan aroma bunga mawar ke
Pernikahan Rio dan Dewi dilaksanakan secara sederhana namun penuh khidmat di Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan Cempaka. Hanya keluarga inti yang menghadiri acara akad nikah, dengan doa panjang dari petugas KUA yang memimpin upacara. Dewi menangis bahagia saat Rio menyematkan cincin emas yang indah di jari kirinya, sementara Rio tersenyum lebar sambil mengucapkan janji untuk selalu merawat dan mencintainya. Setelah itu, acara berlanjut ke halaman rumah Dewi yang terletak di komplek perumahan yang asri di Cempaka Putih. Halaman yang biasanya cukup lapang kini dihiasi penuh dengan bunga merah muda dan putih, lengkap dengan tenda besar yang menutupi area makan. Teman-teman kantor Rio dari Supermarket Jaya Makmur datang dengan membawa hadiah beragam, mulai dari peralatan rumah tangga hingga amplop uang. Tetangga dari Rusun Simpang Tiga juga ramai menghadiri, membawa hidangan khas daerah mereka untuk berbagi kebahagiaan. Tapi tidak tampak wanita-wanita yang dulu dekat sama Rio
Sekitar seminggu setelah percakapan dengan Arin, Rio mendapatkan kabar yang menggembirakannya dari teman sekantornya, Bima. Sore itu, saat ia sedang bekerja di kantor, Bima mendekat dengan wajah ceria. “Rio, Perusahaan elektronik ternama PT. Global Teknologi sedang cari orang buat posisi Administrasi Penjualan Retail. Mereka butuh orang yang paham HSE atau K3. Coba kamu kasih tahu temanmu untuk melamar pekerjaan disini?” ucap Bima sambil menyerahkan brosur lowongan. Rio langsung mengambil brosur dan membacanya dengan cermat. “Wah bagus banget nih! Persyaratannya juga pas sama orang yang aku kenal. Pasti bisa nih dia lolos.” Tanpa menunda lama, saat pulang kerja dan melihat Dewi sedang sibuk memasak di dapur, Rio segera masuk kamar dan menghubungi Arin melalui aplikasi ojol. Rio: “Hai cantik! Ada kabar baik nih buat kamu. Ada lowongan kerja di PT. Global Teknologi, perusahaan ternama lho. Posisi Administrasi Penjualan Retail yang butuh orang pa
Setelah beberapa hari berlalu sejak janji pernikahan itu, Rio tidak bisa menghilangkan keinginannya pada Arin. Sore harinya, saat Dewi sedang keluar membeli kebutuhan rumah tangga, ia segera mengambil ponsel dan mencari nomor kontak Arin. Dengan jari yang sedikit gemetar, ia menekan tombol panggilan. “Hello… Mas Rio? Kok tiba-tiba nelpon?” suara Arin terdengar ceria di ujung telepon. “Ha… hai Arin. Aku kangen sama kamu,” ucap Rio dengan suara rendah. “Aku pengen banget main lagi sama kamu. Cuma masalahnya, rumah pacar aku di Cempaka Putih jauh banget dari kost kamu di Ciracas. Entah kapan lagi aku bisa datang kesana dan menciummu seperti dulu.” Arin terdengar sedikit sedih tapi langsung memberikan ide. “Iya Mas Rio, aku juga merindukanmu banget. Kalau bisa, aku aja yang pindah kerja deket kamu pasti lebih enak. Bisa sering-sering ketemu dan tidak perlu capek jalan jauh.” Rio merasa ide itu bagus dan segera merespons. “Betul
Sementara itu di kamar kost Ciracas, Arin duduk sendirian di kasurnya dengan mata masih memandang ke arah pintu yang baru saja Rio tinggalkan. Tangannya secara tidak sengaja menyentuh bagian tubuhnya yang masih terasa hangat dari sentuhan Rio. Pikirannya terus terbayang pada sosok Rio yang gagah, terutama pada ukuran kejantanan yang membuatnya merasa penuh dan terpuaskan seperti tidak pernah sebelumnya. “Tuhan… kenapa rasanya begitu berbeda ya,” bisik Arin sambil menutup matanya. Ia mulai membayangkan bagaimana rasanya jika mereka bisa melakukan itu lagi tanpa terganggu, dengan lebih lama dan lebih leluasa. Pikiran itu membuat tubuhnya menjadi panas kembali, dan ia tidak bisa menyembunyikan senyum kecil di wajahnya. “Semoga cepat aja bisa ketemu lagi Mas Rio… aku sudah merindukan sensasinya.” Di sisi lain, di rumah Rio di Cempaka Putih, malam hari mulai tiba. Setelah makan malam bersama Dewi yang penuh dengan canda tawa dan obrolan hangat, kedua mereka memasuki k
Suara pemanggilan Pak Joko dari luar kamar membuat kedua mereka terkejut dan segera bergerak untuk memperbaiki penampilan masing-masing. Rio dengan cepat menarik diri dan membantu Arin mengenakan kembali pakaiannya, sementara Arin menata rambutnya yang sudah berantakan dan membersihkan wajahnya yang masih memerah karena panas dan emosi. “Mas Rio… Pak Joko sudah memanggil,” ucap Arin dengan suara yang sedikit gemetar, tangannya masih sedikit menggigil. “Ya, aku dengar. Kamu tenang saja ya, aku akan keluar dulu untuk melihatnya,” jawab Rio sambil memperbaiki kaosnya yang sudah kusut. Ia mengambil kain lap yang ada di meja dan membersihkan bagian tubuhnya yang berkeringat, kemudian membuka pintu kamar perlahan. “Maaf Pak Joko, baru saya dengar panggilan Baak,” ucap Rio dengan nada yang berusaha tetap tenang saat bertemu Pak Joko yang sedang berdiri di koridor. “Ada masalah lagi dengan AC di kamar sebelah?” “Tidak Mas, bukan masalahnya. Cuma saya







