LOGINHari Selasa pagi, Rio kembali ke Jakarta dengan membawa oleh-oleh khas Klaten untuk Dewi. Meski masih merasa bersalah karena apa yang terjadi dengan Salma, dia berusaha menyembunyikannya dengan wajah yang ceria saat bertemu Dewi di depan rumah Dewi di Cempaka Putih.
“Selamat datang pulang Mas! Sudah selesai semua urusannya ya?” tanya Dewi sambil mengambil tas dari tangan Rio.“Sudah Sayang, semua beres. Ini oleh-oleh kripik Klaten buat kamu,” jawab Rio sambil memberikan kaCincin bermata merah yang berasal dari Mbah Buyut tetap terpampang jelas di jari tangan Rio. Cincin itu dipercaya sebagai warisan yang membawa keberuntungan bagi pemakainya, namun juga menyimpan sisi gelap yang tak bisa dipungkiri. Sejak ia mengenakannya, Rio selalu menjadi incaran para wanita mulai dari gadis muda hingga janda yang cantik. Banyak di antara mereka yang rela melakukan apa saja, bahkan bersedia ditiduri hanya untuk bisa bersama Rio. Cincin itu memang membuatnya selalu beruntung dalam berbagai hal, namun yang menjadi masalah adalah ia juga membuat Rio mudah nafsuan dan suka bermain dengan perempuan hanya untuk bersenang-senang. Hari pertama bulan madu mereka benar-benar penuh kebahagiaan mulai dari pagi hari yang mereka lalui dengan sarapan di teras villa sambil menikmati pemandangan matahari terbit, hingga sore hari yang mereka habiskan bermain air di pantai pasir putih yang lembut. Dewi yang selalu terlihat cantik dan seksi dengan pakaian renangnya membuat
Hari setelahnya, Rio datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Dia langsung menuju ruangan kantor Pak Budi, pimpinan yang sudah bekerja bersama dirinya selama lima tahun. Dengan hati yang penuh harap, Rio mengetuk pintu dan masuk setelah suara izin terdengar. “Pak Budi, bolehkah saya bicara sebentar?” ucap Rio dengan sopan sambil menghampiri meja kerja sang bos. Pak Budi mengangkat kepala dan memberikan senyum ramah. “Tentu saja Mas Rio. Ada apa nih? Kamu jarang datang ke ruangan saya seperti ini.” Rio duduk dan mengambil napas dalam-dalam sebelum mulai berbicara. “Pak, saya ingin mengajukan cuti selama tujuh hari ya. Rencananya saya akan pergi bersama istri untuk berlibur ke Lombok.” Pak Budi mengangguk perlahan dan membuka berkas cuti di mejanya. “Oh begitu, bulan madu ya? Padahal kamu menikah sebulan yang lalu ya?” tanya Pak Budi dengan nada yang penuh rasa ingin tahu namun tetap ramah. “Ya Pak, sebenarnya ini bisa dibilang bulan
Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Arin, Rio mengemudi mobilnya dengan hati yang lebih ringan. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia tidak merasa beban atau ragu di dalam dada hanya rasa tekad untuk memperbaiki apa yang sudah perlu ia perbaiki dengan Dewi. Jalan pulang yang biasanya terasa panjang kini terasa singkat, dan hatinya penuh dengan harapan. Ketika mobil memasuki halaman rumah, lampu depan sudah menyala hangat. Rio melihat sosok Dewi yang sedang menyapu halaman sambil sering melihat ke arah gerbang. Saat melihat mobilnya datang, wanita itu langsung menaruh sapu dan mengangkat tangan untuk menyapa dengan senyum lebar. “Kamu pulang lebih cepat hari ini, Sayang,” ucap Dewi dengan suara lembut saat Rio turun dari mobil. Tanpa berlama-lama, Rio mengeluarkan tangan dan menarik istri tercintanya ke dalam pelukan hangat, kemudian mencium dahinya dan bibirnya dengan penuh kasih sayang. “Sudah lama aku tidak pulang tepat waktu. Mau aku bantu
Beberapa minggu setelah pertemuan mereka, kehidupan Arin kembali sedikit terkendali. Namun rasa rindu terhadap Rio masih terkadang muncul, meskipun ia sudah mulai fokus pada hubungan baru yang membuat hatinya merasa lebih tenang dan dicintai. Sore hari itu, tepat setelah Arin selesai bekerja dan baru saja membersihkan kamar kostnya, suara ketukan lembut terdengar di pintu kamarnya. Ia langsung mengenalinya itu adalah Rio yang datang tanpa pemberitahuan, seperti biasa. “Mas Rio, kamu datang lagi?” ucap Arin dengan suara yang ramah tapi sedikit tertekan saat membuka pintu. “Masuk yuk!" Rio masuk dan melihat sekeliling kamar yang kini lebih rapi dengan dekorasi baru. Ia bisa merasakan energi yang berbeda di dalam ruangan lebih hangat dan penuh dengan kedamaian. “Kamu terlihat lebih bahagia, Cantik,” ucap Rio dengan senyum lembut, namun ada rasa cemburu yang tersembunyi di dalam matanya. “Kelihatannya kamu sudah menemukan yang cocok untuk dirimu.”
Kerinduan Arin terhadap Rio semakin memuncak seiring berjalannya hari. Meskipun ia sering mencoba bekerja ekstra atau mengikuti kegiatan bersama teman-teman kantor, rasa rindu itu selalu muncul setiap kali ia melihat tempat tidur kosong di kamarnya. Namun, Arin yang memiliki rasa harga diri yang tinggi tidak mau menjadi orang yang mengganggu atau memulai kontak duluan. Ia merasa bahwa jika Rio memang ingin bertemu, dia akan yang pertama kali menghubungi. Hari itu sore, tepat setelah Arin selesai bekerja dan baru saja mandi, suara notifikasi ponselnya terdengar. Ia dengan cepat mengambil ponsel dan melihat layarnya pesan dari Rio muncul di aplikasi ojol: "Hai Cantik! Kamu ada di kost sore ini nggak? Aku mau mampir sebentar kalau kamu tidak ada acara." Arin langsung merasa sumringah, wajahnya langsung bersinar dengan senyum lebar. Tanpa berlama-lama, ia segera mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Ia mengoleskan body lotion dengan aroma bunga mawar ke
Pernikahan Rio dan Dewi dilaksanakan secara sederhana namun penuh khidmat di Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan Cempaka. Hanya keluarga inti yang menghadiri acara akad nikah, dengan doa panjang dari petugas KUA yang memimpin upacara. Dewi menangis bahagia saat Rio menyematkan cincin emas yang indah di jari kirinya, sementara Rio tersenyum lebar sambil mengucapkan janji untuk selalu merawat dan mencintainya. Setelah itu, acara berlanjut ke halaman rumah Dewi yang terletak di komplek perumahan yang asri di Cempaka Putih. Halaman yang biasanya cukup lapang kini dihiasi penuh dengan bunga merah muda dan putih, lengkap dengan tenda besar yang menutupi area makan. Teman-teman kantor Rio dari Supermarket Jaya Makmur datang dengan membawa hadiah beragam, mulai dari peralatan rumah tangga hingga amplop uang. Tetangga dari Rusun Simpang Tiga juga ramai menghadiri, membawa hidangan khas daerah mereka untuk berbagi kebahagiaan. Tapi tidak tampak wanita-wanita yang dulu dekat sama Rio







