تسجيل الدخول"Brengsek! Bukannya itu anaknya. Darah dagingnya sendiri. Bagaimana bisa dia marah karena hal semacam ini.""Lagian masalah anak ini sulit. Tidak semua orang diberi kepercayaan untuk memilikinya. Dia sudah dikasih, malah terkesan menolak.""Panutan macam apa itu! Dia ini lebih buruk dari si rektor koruptor. Menelantarkan anak dan istri. Kejam!"Senyum di bibir Rina tak jua menghilang. Dia sejak tadi terus memantau perkembangan grup internal kampus.Di mana saat ini sebagian isinya menghujat seorang Alfa."Kamu akan memohon padaku. Kamu tidak mungkin mau kehilangan reputasimu. Benar tidak, Alfa."Lengkung bibir Rina kian kentara. Dia merasa telah mengambil kendali. Keyakinannya pulih kembal. Alfa akan jadi miliknya.Di tengah kegembiraan kecil yang perlahan tumbuh bak sulur tanaman. Satu pesan terkirim ke nomor Rina.Kesenangan Rina terganggu dengan adanya pesan tadi. Tapi Rina pilih mengabaikannya. "Tidak penting. Siska, Siska, akulah pemenangnya," kata Rina seraya minum jus alpukat.
Kevin menyemburkan tawa sepanjang jalan. Pemuda itu mengiringi Luna ketika wanita itu memilih pergi dari pada diinterogasi."Kesal, Nya. Kok jadi Rina yang naik," ejek Kevin penuh kepuasan.Dia suka melihat wajah cemberut Luna. Juga Luna yang berjalan sambil menghentakkan kaki."Mana aku tahu!""Apa suamimu setuju menikahinya?!" Goda Kevin."Apa dia sudah gila?!" Luna balas berteriak. Dadanya kembang kempis menahan emosi yang serasa membakarnya."Siapa tahu, aku kan nanya."Luna mendadak berhenti ketika dia teringat sesuatu. "Apa Rina sengaja merencanakan ini?"Kevin mengedikkan bahu. "Tidak tahu. Tapi bisa saja dia memanfaatkan situasi. Temanmu tidak bisa diremehkan ternyata."Luna kembali bergerak. Ketika mereka melewati koridor yang sepi. Langkah Kevin dan Luna terhenti kala mendapati dua orang sedang bicara.Dilihat dari gelagatnya, mereka sepertinya sedang ...."Na, itu bukannya Alfa."Luna lekas memicing. "Dia sama siapa?"Kevin lekas menarik Luna ke sudut. Tempat yang cukup dek
Kehebohan kembali melanda kampus tempat Luna mengenyam pendidikan.Dia tidak tahu menahu kalau Alfa telah membuka sedikit tabir pernikahan mereka. Sebab dia tak mengetahui jika Alfa punya akun medsos.Jadi ketika dia melangkahkan kaki di kelas keesokan paginya. Dia langsung dicecar Finda."Ahh, Luna. Ini hari patah hati sekampus."Gadis itu heboh mengejar Luna yang duduk di tempat biasa."Apa lagi sekarang, Nda?" Respon Luna malas-malasan."Lihat nih, lihat."Finda menunjukkan ponselnya. Di mana screen shot postingan akun Alfa jadi trending topik di grup internal kampus."Pak dekan udah sold out!" Kata Finda nyaris menjerit saking antusiasnya.Luna sendiri langsung menarik turun tangannya. Sementara jantungnya berdebar kencang waktu membaca postingan Alfa."To my beloved wife. The one and the only. Till death do us apart. I love you."Caption tadi disertai satu foto berupa dua tangan yang saling menggenggam. Dalam foto itu juga terlihat sepasang cincin pernikahan.Benda yang meski te
Hari pertama Luna kembali ke kampus. Rasanya dia ingin menghajar seseorang. Permintaan Rina sungguh membuatnya marah.Namun di depan perempuan yang sedang mengandung, Luna tak berdaya. Dia tidak tega marah. Apalagi Luna masih mode pura-pura tidak tahu kelakuan Rina di belakangnya.Rina sendiri berpikir, Luna akan bersimpati padanya. Hingga sudi melakukan apapun untuk menolongnya. Padahal aslinya Luna muak setengah mati. Di hadapan Rina, Luna diam saja. Entah mereka masih bisa disebut teman atau tidak. Ketika salah satu menyimpan kebohongan, walau tidak merugikan Luna secara langsung.Begitu Rina berlalu, Luna seketika mengayunkan tinju. Dia lampiaskan kemarahannya pada udara kosong."Brengsek!" Makinya seraya berbalik sambil menghentakkan kaki ketika melangkah.Tujuannya adalah kantor sang suami. Luna memang sudah dikenal kerap dipanggil ke ruangan Alfa. Mereka selalunya menduga jika Alfa sedang menghukum anak didiknya.Tidak ada yang mengira jika hal itu hanyalah kedok untuk menutup
"Alex punya pacar? Siapa?"Pertanyaan itu segera mengudara di benak Luna. Dia penasaran."Cemburu, Nya?" Bisik Kevin penuh makna. "Itu dilarang," balas Luna kesal."Tapi hatinya bilang enggak deh." Makin getol Kevin menggoda Luna."Sok tahu."Kevin terbahak melihat wajah cemberut Luna. "Serius, Na. Kamu sebenarnya ada rasa gak sih sama Alex.""Bukan urusanmu!" Jawab Luna tegas. Kevin angkat tangan. Luna sudah mencapai batasnya. Jika dilanjutkan dia akan kena murka nyonya Attarazka. Bahaya!Luna sendiri sesaat terdiam. Alex punya pacar, bukannya itu bagus. Pria itu tidak lagi menaruh hati padanya. Yang jelas sudah bersuami.Sedikit banyak dia merasa bersalah. Telah menyembunyikan statusnya selama ini. Tapi, bukannya Alex tidak pernah menyatakan perasaannya padanya.Jadi anggap saja Luna tidak tahu apa-apa. Biarkan mereka berteman seperti biasanya. Dan jika Alex punya kekasih, tambahan hati. Luna akan ikut bahagia mendengarnya.Bukankah teman seharusnya seperti itu.Seminggu kemudian.
"Dia siapa?" Luna bertanya ketika seorang pria ikut duduk di samping Alfa. Sedang Alfa, pria itu parasnya berubah masam. Begitu tahu siapa yang mengganggu acara kencannya."Kamu ngapain di sini? Sana, balik rumah sakit aja," usir Alfa tanpa basa basi."Duh, kebangetan tenan. Mosok yo aku gak dikenalke karo mbakku ipar. Jahat."Ha? Kakak ipar? Ini adik Alfa dari ibu yang mana lagi. Masak bapaknya Alfa doyan kawin. Istri banyak."Adik ipar?""Kenalkan, namaku Kaisar Radeva, adik sepupu Gusti Pangeran."Dapat keplaklah seorang Kaisar karena memanggil Gusti Pangeran pada Alfa."Ati-ati kalau ngomong. Jangan percaya, Na. Dialah calon rajanya." Alfa balik menjelaskan."Itu kalau kamu mundur.""Kan aku sudah mundur.""Istana belum ngasih titah resmi. Jadi kamu masih berstatus putra mahkota."Alis Kaisar naik turun. Dia paling tahu cara membuat Alfa jengkel."Ishh, orang tua itu," gerutu Alfa."Kak Luna sudah makan apa saja. Ayo kita jajan lagi, mumpung pak ATM berjalan ada sama kita."Begit
Luna mengepalkan tangan di bawah meja. Jantungnya berdegup kencang laksana genderang perang yang ditabuh bertalu-talu. Kemarahannya memuncak. Kenapa juga dia harus bertemu mantan menyebalkan itu di sini. "Ya Tuhan, jauh-jauh aku melarikan diri. Kenapa masih juga dipertemukan. Mana jadi dosenku lag
"Dijodohkan? Yang benar saja!" Gerutu Luna sambil mengelap piring yang baru saja dicuci. "Tidak! Itu tidak mungkin. Mana mungkin kami dijodohkan. Kak Rio sama si buaya itu pasti bohong." Luna pilih denial untuk membuat hatinya lebih tenang. Ingatannya kembali ke kejadian dua tahun lalu. Saat Al
"Copet!" Teriakan itu sontak membuat semua kepala menoleh ke arah yang sama. Tak berapa lama sejumlah orang mulai mengejar sesosok pria yang mengenakan kaos hitam dan celana jeans. Laki-laki yang diduga sebagai tersangka pencopet. "Kejar dia! Jangan sampai lolos! Enak saja mencopet di wilayah ki
Di tempat lain, seorang pria berperawakan tinggi besar, baru keluar dari air port. Seorang pria mengiringi langkahnya. Kaca mata hitam, sukses menyembunyikan tatapan elang sang pria. "Di mana dia?" "Jadi dosen di kota Yogyakarta." Tawa kecil menyambut jawaban sang asisten. "Main dosen-dosenan rup







