Masuk"Dia siapa?" Luna bertanya ketika seorang pria ikut duduk di samping Alfa. Sedang Alfa, pria itu parasnya berubah masam. Begitu tahu siapa yang mengganggu acara kencannya."Kamu ngapain di sini? Sana, balik rumah sakit aja," usir Alfa tanpa basa basi."Duh, kebangetan tenan. Mosok yo aku gak dikenalke karo mbakku ipar. Jahat."Ha? Kakak ipar? Ini adik Alfa dari ibu yang mana lagi. Masak bapaknya Alfa doyan kawin. Istri banyak."Adik ipar?""Kenalkan, namaku Kaisar Radeva, adik sepupu Gusti Pangeran."Dapat keplaklah seorang Kaisar karena memanggil Gusti Pangeran pada Alfa."Ati-ati kalau ngomong. Jangan percaya, Na. Dialah calon rajanya." Alfa balik menjelaskan."Itu kalau kamu mundur.""Kan aku sudah mundur.""Istana belum ngasih titah resmi. Jadi kamu masih berstatus putra mahkota."Alis Kaisar naik turun. Dia paling tahu cara membuat Alfa jengkel."Ishh, orang tua itu," gerutu Alfa."Kak Luna sudah makan apa saja. Ayo kita jajan lagi, mumpung pak ATM berjalan ada sama kita."Begit
Yang terjadi setelahnya membuat Luna nyengir. Dia tidak menduga jika Alfa sungguh mengajaknya kencan. Ala rakyat jelata.Alfa yang dulu anti jajan di pedagang kaki lima dan sejenisnya. Kini dengan santai menghampiri beberapa penjual yang mangkal di sekitar alun-alun."Ini enak," katanya sambil menunjukkan seporsi dimsum yang masih mengepul asapnya."Enak asal jangan sampai dingin." "Kenapa?" Alfa berhenti mengunyah."Atos, Al. Bikin seret pas ditelen.""Berarti kamu sudah hafal dong. Jajan mana yang enak.""Jelaslah, saya dua tahun tukang jajan di sini. Kamu?""Aku mana boleh jajan sembarangan. Lagi pula aku sudah lama tidak pulang. Apalagi sejak ibu gak ada. Baru kali ini, itu pun dipaksa Kakek. Gak tahunya dia punya rencana buat nikahin kita."Balas Alfa dengan pikiran menerawang. Mungkinkah sang kakek tahu jika Luna ada di sini. Sedang dia, yang nota bene salah satu orang yang punya kuasa di kota ini. Tidak bisa menemukan Luna jika bukan takdir yang mempertemukan mereka. Pria it
"Kok Bapak sudah pulang?"Senyum di wajah Alfa lenyap seketika. "Bapak lagi! Ganteng begini dipanggil Bapak. Sebel!"Luna nyengir merasa bersalah. Tapi itu tak lama. Pasalnya setelah itu dia reflek mencium pipi sang suami. Entah kenapa dia merasa bahagia melihat Alfa.Alfa sendiri seketika membatu kala sadar Luna baru saja mencium pipinya. Wajahnya memerah dengan debar jantung seperti genderang mau perang. Dia menoleh ke arah Luna yang memandangnya dengan mata berbinar. "Kamu kerasukan setan mana. Mendadak romantis begini?""Eh, gak sengaja." Luna menarik diri. Malu dengan kelakuannya barusan."Sengaja juga gak apa-apa. Mau lanjut gak? Kalau mau lanjut kita pindah tempat," ucap Alfa dengan alis terangkat."Idih, gampang banget dipancing."Luna pilih lanjut melahap bubur ayamnya. Enggan menanggapi ucapan Alfa yang sudah pasti ke mana muaranya. Apalagi jika bukan part 21 plus."Tapi kan, Na. Scene itu memang menyenangkan."Heh! Luna mengeplak kepalanya. Bisa-bisanya dia malah membayan
"Aku beneran gak sengaja. Mana mau aku kasih lihat dada aku ke dia. Hii, gak sudi. Dia pasti mikir aku sedang godain dia."Luna menggerutu sepanjang jalan menuju kantor tempat dia magang. Dia tidak sadar ketika semalam dia membuka kancing kemeja untuk mengoleskan lotion pencerah ketiak.Belum sempat dia memperbaiki penampilannya. Alfa sudah lebih dulu menghubungi. Jadilah pria itu dapat pemandangan menggoda."Siapa juga yang ngode dia. Kepedeaan."Luna sampai di kantor. Begitu dia menginjakkan kaki di kawasan parkir. Seseorang menarik lengannya dengan kasar. Pelakunya Erwan.Pria itu tampak marah. Bola matanya semerah darah. Siap menjadikan Luna sasaran amarahnya."Ini dia biang keroknya. Sejak ada kamu, nasibku sial terus!" Maki Erwan penuh emosi."Maksud Pak Erwan apa? Saya tidak mengerti.""Alah, jangan sok suci kamu. Dasar murahan, lakik di mana-mana aja belagu. Kamu dibayar berapa sama mereka. Aku juga bisa bayar. Layani aku sekarang!"Luna melotot. Ini apa masalahnya. Kenapa dia
Alfa dan Fandi saling pandang. "Kau tahu siapa aku. Tapi tetap tidak mau patuh!"Sosok di depan Alfa langsung bersujud. Wajahnya ketakutan. Tapi ada binar lain di matanya, kelicikan.Alfa bisa merasakannya. Orang di depannya jelas bermuka dua. Atau ... dia sedang mengadu domba."Siapa yang ingin mencelakai Kakekku?""Ampun, Gusti. Saya tidak berani melanggar sumpah. Atau, akibatnya saya tidak berani menanggungnya."Alfa dan Fandi kembali bertukar tatap."Baik kalau begitu, berikan kami clue saja. Jawab iya dan tidak." Fandi yang bicara kali ini.Orang tadi mengangguk antusias. Meski sorot matanya masih sama. Orang itu pikir bisa menyembunyikannya dari Alfa. Dia salah, Alfa bukan orang yang mudah ditipu."Apa dia berhubungan dengan istana?"Pertanyaan itu langsung membuat orang tadi mengubah gesture tubuhnya. Ada keraguan kala ingin menjawab."Setyo-mu salah tempat," cibir Alfa.Eskpresi orang tadi mendadak berubah. Ada seberkas ketakutan juga kecemasan di sana."Benar bukan? Kau tahu
"Alfa."Panggilan itu terdengar penuh hiba. Permohonan, sarat kerinduan juga sedih yang mendalam.Alfa hanya diam menatap sosok yang sejatinya masih terhitung muda. Hanya saja raut wajahnya yang sendu membuat figur tersebut tampak sepuluh tahun lebih tua."Minggir.""Alfa. Tolong, dengarkan Papa."Adiguna Attarazka begitu rapuh tiap kali berhadapan dengan putranya sendiri. Alfa memandangnya bak mimpi buruk, teror, ancaman yang harus dihindari sejauh mungkin."Tidak ada yang perlu aku dengar. Penyelidikanku akan terus berlangsung. Dan aku sudah dapat titik terang. Jangan menemuiku.""Alfa, Alfa. Maafkan Papa. Tolong beri Papa kesempatan. Papa mohon.""Kau tidak seharusnya bukan minta maaf padaku. Tapi pada ibuku! Kau dan jalang sialan itu! Akan terima akibatnya!"Adiguna membeku demi mendengar perkataan sang putra. Dia tak mampu mencegah ketika Alfa berlalu dari hadapannya. Diikuti oleh Fandi yang sempat memberi hormat padanya.Sudut bibir Adiguna bergetar disusul mata berkaca-kaca. Al
"Kita mulai materinya. Dengarkan dan simak baik-baik. Karena akan ada tugas setelah ini."Gumam keberatan, kecewa membahana di seluruh kelas. Bisa Luna lihat, Alfa sempat mengedipkan sebelah mata padanya. Gadis itu berdecak kesal. Dia ingat bagaimana semalam Alfa memasukkannya paksa ke mobil. Me
Di tempat lain, seorang pria berperawakan tinggi besar, baru keluar dari air port. Seorang pria mengiringi langkahnya. Kaca mata hitam, sukses menyembunyikan tatapan elang sang pria. "Di mana dia?" "Jadi dosen di kota Yogyakarta." Tawa kecil menyambut jawaban sang asisten. "Main dosen-dosenan rup
"Dijodohkan? Yang benar saja!" Gerutu Luna sambil mengelap piring yang baru saja dicuci. "Tidak! Itu tidak mungkin. Mana mungkin kami dijodohkan. Kak Rio sama si buaya itu pasti bohong." Luna pilih denial untuk membuat hatinya lebih tenang. Ingatannya kembali ke kejadian dua tahun lalu. Saat Al
"Copet!" Teriakan itu sontak membuat semua kepala menoleh ke arah yang sama. Tak berapa lama sejumlah orang mulai mengejar sesosok pria yang mengenakan kaos hitam dan celana jeans. Laki-laki yang diduga sebagai tersangka pencopet. "Kejar dia! Jangan sampai lolos! Enak saja mencopet di wilayah ki







