Share

I'll Hug You

Author: zuyyinald
last update publish date: 2026-10-28 21:38:23

Aroma kaldu ayam bercampur irisan daun bawang segar menguar, menciptakan atmosfer yang kontras dengan kemegahan ruang makan berlampu kristal itu—suasana yang selalu diupayakan oleh Rhea setiap kali putranya pulang ke rumah.

Bagaimanapun juga.. momen seperti ini sudah jarang sekali mereka lakukan. Tristan banyak diam pasca perceraian itu terjadi. Jadi jika sekarang Tristan mulai mau melembutkan hatinya untuk kembali berkumpul, berbicara sebagai ibu dan anak, Rhea tidak menyia-nyiakam kesempatan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Kehancuran di Bar

    Mesin mobil itu mati total di pinggir jalanan sepi kawasan Jakarta Selatan.Tristan tidak tahu sudah berapa lama ia memarkir kendaraannya di sini. Di dalam kabin yang gelap, AC masih menyala pelan, namun udara di sekitarnya terasa begitu tipis, seolah oksigen di dalam mobil tersedot habis oleh beban pikiran yang menghimpit dadanya.Di dalam kepalanya, suara Danendra terus berputar tanpa henti.“Kamu anak lelaki satu-satunya dari Adhiyaksa Kusuma! Ada anak perempuan lain... adik kandungmu.."Sialan.Tristan memukul setir mobil dengan kepalan tangannya sekali, dua kali, hingga memerah. Suara hantaman itu terdengar tumpul di dalam kabin. Air matanya tidak keluar. Tapi rasa sesak yang membakar tenggorokan membuat setiap tarikan napas terasa seperti menelan serpihan kaca.Selama ini ia membenci papanya. Orang yang telah menghancurkan keluarganya, pria yang membuat mamanya menderita bertahun-tahun dalam perceraian yang melelahkan. Ia pikir ia sudah cukup menderita sebagai anak korban broke

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Kebenaran Pahit

    "Dia nggak ada di sini, Anaia."Anaia melangkah masuk, dadanya mendadak terasa dihantam beban berat. "Nggak ada? Maksudnya... dari kemarin Tristan bener-bener nggak pulang, Tante?"Rhea menggeleng pelan, lalu menutup kembali pintu kayu tersebut. Ia berjalan tertatih ke arah sofa ruang tamu, mempersilakan Anaia duduk dengan gerakan tangan yang lelah."Tante sendiri juga lagi berusaha cari dia sejak kemarin sore, An," ucap Rhea sambil menjatuhkan diri ke sofa, menatap kosong ke arah meja marmer di depannya. "Begitu urusan di kantor selesai dan anak itu tahu semuanya... dia langsung pergi begitu saja. Tanpa pamit, tanpa bawa apa-apa selain mobilnya."Anaia duduk di sebelah Rhea, tangannya meremas ujung tas ransel yang masih ia pangku. "Kantor... maksudnya soal kejadian di ruang Om Danendra kemarin, Tante? Saya tahu kalau..suasana di kampus sempat ramai karena kabar duka itu, tapi saya nggak nyangka dampaknya bakal seberat ini buat Tristan."Rhea mendengus pelan, senyum pahit terukir di

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Di Titik Terendah

    Suasana kelas studio perancangan di kampus mendadak terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.Deby duduk di meja seberang, sibuk membolak-balik lembar laporan hidrologi tanpa ada niat sedikit pun untuk bersuara keras seperti biasa. Sesekali, gadis itu melirik ke arah kursi kosong di sudut ruangan—tempat Tristan biasa duduk bersama rentang meteran dan laptopnya.Berita duka tentang meninggalnya Adhiyaksa Kusuma menyebar dengan cepat di kalangan mahasiswa satu angkatan, terutama setelah insiden mendadak di rumah sakit beberapa hari lalu. Tidak ada yang berani membahasnya secara langsung di depan Anaia.Anaia sendiri duduk diam di sudut meja mereka. Pandangannya kosong menatap layar laptop yang menampilkan bab penutup laporan akhir, namun jemarinya tidak bergerak menyentuh tetikus sama sekali. Pikirannya melayang pada pesan teks terakhir yang ia kirimkan kemarin malam ke nomor Tristan—pesan sederhana yang hanya berisi: “Tris, kamu di mana?”Hingga detik ini, pesan itu hanya bercentang dua a

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Berita Kelam

    "Maaf..."Suara dokter itu terdengar pelan, memotong udara koridor yang mencekam.Di luar sana, sisa-sisa hujan gerimis masih menempel di kaca jendela besar Namun di dalam koridor ruang ICU ini, waktu seolah berhenti berdetak.Danendra tertegun sejenak, seakan otaknya menolak menerjemahkan suku kata yang baru saja diucapkan sang dokter. Pria paruh baya itu mengerjap, dasinya sudah lama melonggar di leher."Dok, maksudnya apa?" Danendra melangkah maju setengah langkah, nada suaranya naik satu oktaf—bukan lagi nada memerintah atau menekan seperti saat ia menelepon Tristan di kampus tadi, melainkan kepanikan mentah seorang adik yang menolak kehilangan. "Tadi dibilang masih bisa ditangani! Kenapa tiba-tiba...""Kami sudah melakukan prosedur resusitasi maksimal selama lebih dari empat puluh menit, Pak Danendra," jawab dokter utama dengan napas berat, menundukkan kepalanya sejenak sebagai tanda duka. "Kondisi organ vital pasien sudah terlalu lemah, dan riwayat komplikasi jantungnya membua

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Code Blue

    Taksinya melaju membelah kemerahan lampu rem kendaraan di Jalan TB Simatupang. Di dalam kabin mobil yang ber-AC dingin, udara terasa begitu padat hingga menyulitkan dada untuk mengembang sempurna.Tristan duduk di sisi jendela, menatap kosong pada titik-titik air hujan yang mulai menempel di kaca luar, lalu pecah tersapu angin. Sepanjang perjalanan, ia sama sekali tidak membuka suara. Pikirannya melayang bebas kembali ke masa-masa lampau—ke sebuah sore bertahun-tahun lalu ketika papa masih meluangkan waktu duduk di teras rumah, atau saat mereka bermain piano bersama sebelum kesibukan korporasi dan ambisi keluarga merenggut figur itu perlahan-lahan dari sisinya.Juga sebelum perselingkuhan dan kekerasan yang menimpa mamanya terjadi.Ia selalu membayangkan kebenciannya pada sang ayah akan bertahan selamanya. Ia mengira dirinya punya cukup alasan untuk terus memelihara jarak dan kecewa. Namun, kenyataan bahwa nyawa seseorang bisa surut dalam hitungan detik membuat pertahanan itu terasa

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Apa-apa yang masih milikku

    Tristan berdiri di depan pintu putar lobi, menarik napas dalam-dalam lalu menghempasnya perlahan. Di dalam saku celananya, layar ponsel bergetar lagi. Nama Danendra menyala terang untuk kesekian kalinya dalam kurun waktu satu jam terakhir.Tristan mengabaikannya. Ia memilih mendongak sejenak, menatap puncak menara korporasi milik keluarganya sendiri—sebuah tempat yang seumur hidup ia hindari, dan hari ini, baru saja ia tolak mentah-mentah untuk dijadikan tempat bersembunyi.“Kamu baru saja menghancurkan masa depanmu sendiri, Tristan. Kamu nggak tahu apa yang sedang kamu hadapi,” bunyi penggalan pesan singkat dari sang paman yang baru saja masuk sesaat sebelum ia melangkah keluar lift.Tristan tidak membalas. Jari jemarinya justru mengeratkan genggaman pada tali ransel. Ia menjauhi zona perkantoran elit itu, untuk kembali ke kampus. Di sana, di meja panjang studio yang berantakan laptop dan beberapa teman satu kelompoknya, hidupnya masih masuk akal. Di sana, masalah diukur dari lemb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status