LOGINPukul sembilan lewat seperempat pagi.Udara di lantai dasar gedung perkantora di kawasan Sudirman terasa begitu kontras dengan suasana tenang di kampus. Di sini, segala sesuatunya bergerak cepat dalam balutan jas rapi, sepatu pantofel yang mengkilap, dan aroma kopi mahal bercampur kepanikan yang tak kasat mata.Tristan melangkah keluar dari dalam lift dengan kemeja hitam lengan panjang yang digulung sampai siku. Langkahnya mantap, meski semalam ia praktis tidak tidur barang sekejap pun. Di tangannya, sebuah map manila cokelat tipis berisi dokumen portofolio studinya tergenggam erat."Tris! Kamu baru datang?" suara berat memecah kebisingan lobi privat lantai sepuluh.Danendra muncul dari balik pintu kaca ruang rapat utama. Pria paruh baya berjas charcoal itu tampak mondar-mandir dengan ponsel di telinga sebelum akhirnya melihat keponakannya. Wajahnya menyiratkan kelegaan yang dipaksakan, disusul oleh raut tidak sabar begitu melihat penampilan Tristan yang sama sekali tidak mencerminka
Anaia duduk bersandar di tumpukan bantal di atas tempat tidur milik Tristan.Di pangkuannya, sebuah iPad tersaji menampilkan draf laporan studio perancangan, tetapi perhatiannya sama sekali tidak tertuju pada garis-garis digital di layar. Matanya terus mengikuti pergerakan Tristan yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi, menyeka rambutnya yang setengah basah dengan handuk kecil.Tristan tidak mengenakan atasan—hanya celana sweatpants abu-abu tipis yang menggantung santai di pinggulnya. "Kamu harus istirahat, Tris," suara Anaia memecah keheningan kamar yang begitu privat itu. Suaranya lembut, merayap tenang di antara keheningan malam. "Badan kamu masih hangat dari semalam."Tristan menghentikan usapan handuknya. Ia melemparkan kain lembut itu ke atas kursi sofa di ujung ranjang, lalu berjalan mendekat. Kasur empuk itu sedikit bergeser saat Tristan naik dan merebahkan tubuh tinggi jangkungnya di samping Anaia, bersandar pada headboard yang sama hingga bahu mereka bersentuhan
Pukul dua lewat dua belas menit pagi. Koridor apartemen tenggelam dalam sunyi. Cahaya kuning temaram dari lampu dinding koridor yang memantul di atas lantai keramik bersih. Anaia duduk di depan pintu unitnya. Di sampingnya, sebuah cangkir keramik berisi teh chamomile yang sudah mengepulkan sisa-sisa kehangatan terakhirnya tergeletak di lantai. Matanya sayu, dikelilingi lingkaran hitam tipis akibat semalaman tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali ia mencoba merebahkan diri di atas tempat tidur, bayangan tepisan tangan Tristan di studio siang tadi dan berita tentang ayah pria itu yang masuk ICU terus berputar-putar di kepalanya. Sebuah bunyi klik mekanis dari arah lift menghentikan lamunan. Anaia mendongak cepat. Dari ujung koridor yang remang-remang, sesosok tubuh tinggi melangkah mendekat dengan langkah gontai, membawa beban yang tak kasat mata di atas pundaknya. Tristan. Pria itu tampak jauh lebih hancur dari semalam. Kemeja kotaknya kusut, kancing atasnya terbuka lebar, dan
Tepisan tangan itu melayang begitu saja di udara studio yang mendadak hampa.Anaia tertegun di tempatnya. Jari-jarinya yang tadi menyentuh pundak pria itu menggantung kosong. Kejadian barusan tentu saja memicu bik-bisik mahasiswa di sana. Arash sempat mengambil satu langkah maju, berniat menengahi atau sekadar menawarkan jarak bagi kekacauan itu, namun Anaia menggeleng pelan tanpa menoleh. Pikirannya sudah tidak lagi di sini; ia bisa melihat punggung jangkung Tristan yang bergegas membelah kerumunan meja gambar, terseret oleh isak tangis tantenya yang menarik ujung jaket pria itu tanpa ampun.Langkah kaki mereka menggema tergesa menuruni tangga. Deby sempat memegang lengan Anaia, menawarkan segelas air putih atau sekadar tempat duduk, tetapi Anaia hanya menggeleng lemah. Ia tahu, apa yang sedang dihadapi Tristan di luar sana jauh lebih besar daripada sekadar urusan nilai tugas besar mereka.. atau bahkan sidang studio yang menanti di depan mata.---Aroma karbol dan cairan disinfekta
Matahari menyusup melalui celah tirai jendela ruang studio, memantulkan siluet tumpukan kertas dan botol-botol tinta yang belum dibereskan dari semalam. Anaia duduk di sudut mejanya dengan cangkir kertas berisi kopi yang sudah mendingin. Semalaman ia hampir tidak memejamkan mata. Setiap kali ia mencoba tidur, suara pintu unit Tristan yang tertutup rapat di seberang kamarnya terus berputar di kepalanya.Pukul delapan lewat sepuluh menit, bayangan tinggi itu muncul di ambang pintu studio.Tristan melangkah masuk mengenakan kaos polos hitam berlapis kemeja kotak-kotak yang tidak dikancingkan. Lingkaran hitam di bawah mata pria itu terlihat semakin pekat, dan garis rahangnya tampak lebih tajam dari biasanya.Tanpa sengaja, mata mereka beradu pandang di seberang ruangan. Tristan sempat tertegun sejenak, melemparkan tatapan yang tersirat agar Anaia tidak membahas kejadian semalam di depan umum, sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangan dan berjalan menuju meja kelompoknya di sudut barat.
Tidak ada percakapan di sepanjang perjalanan. Suara angin seolah menjadi dinding kedap suara yang memisahkan dunia mereka dari hiruk-pikuk jalan.Bagi Anaia, sekarang pelukan itu bukan sekadar gestur manja yang biasa ia lakukan, tapi lebih ke jangkar. Ia ingin menyalurkan kehangatan sekecil apa pun untuk meredakan ketegangan yang sejak basement tadi masih mencengkeram Tristan.Begitu motor masuk ke area parkir basement apartemen dan mesin dimatikan, keheningan langsung terasa menekan. Suara dengung lampu neon di langit-langit basement terdengar begitu nyaring.Tristan melepaskan helm dari kepalanya, menyisir rambut berantakannya dengan jemari tangan kiri, sementara tangan kanannya menggenggam kunci motor. Gerakannya kaku. Ada sisa-sisa ketakutan di wajahnya, yang mati-matian ia telan mentah-mentah ke dalam tenggorokan."Udah sampai," suara Tristan serak, nyaris berbisik. Ia menoleh sekilas, memastikan Anaia turun dengan selamat dari jok tinggi motornya.Mereka berjalan berdampingan me







