MasukMy husband, Matthew Glover, fabricates a scandal to help his childhood sweetheart, reporter Melanie Reed, boost her numbers. "Mrs. Glover Sleeps Around—Multiple Affairs Lead to Repeated Miscarriages." He uses it as a gimmick to grab attention. Next thing I know, my name's in the mud and the internet's tearing me to pieces. When I bring up divorce, Matthew says I'm blowing things out of proportion. "Melanie just started at the TV station. If she doesn't deliver, her coworkers will laugh at her. You're just doing her a favor. It's not like you're actually losing anything." I don't even bother arguing with him. I simply push the divorce agreement toward him. "If you want to help her, go ahead. But we're getting divorced!"
Lihat lebih banyakAlunan musik nan lembut dari pemain piano menggema seantero ruangan. Seorang pria berwajah tampan dengan tubuh yang proporsional berdiri di ujung, bersandar pada pilar. Ia sendirian, selalu sendiri.
Dialah Nicholas atau Nicko, seorang pria tanpa nama belakang, suami dari Josephine Windsor. Putri bungsu pasangan Edmund dan Daisy Windsor, salah satu keluarga kaya di Westcoast Town. ***Hari ini adalah ulang tahun Howard Windsor, kakak dari Edmund. Sudah menjadi tradisi di keluarga besar ini untuk selalu merayakan hari jadi atau ulang tahun pernikahan mereka. Tentu saja siapapun yang hadir membawakan hadiah. Sebenarnya tujuannya adalah untuk ajang pamer kekayaan saja, siapa yang memberi hadiah termahal. "Ayah, ini kuberikan lukisan karya Fransesca dari abad ke 19, maaf harganya tak seberapa hanya satu juta dollar," kata Bryan Holf, menantu Paman Howard merendah, tapi bermaksud meninggi. "Kau memang menantu yang dapat diandalkan," kata Howard menepuk-nepuk pundak menantunya. Kemudian datang Armando dan istrinya Chaterine yang merupakan kakak dari Josephine datang mendekat. Menyerahkan kotak berisi jam tangan bermerk Baurielle yang berhiaskan permata. Kisaran harganya sekitar satu juta dollar. Howard pun tersenyum melihat pasangan ini. Armando Blanc memang berasal dari keluarga kelas atas. Hadiah sejuta dollar rasanya hal kecil untuknya. Beruntung sekali Chaterine bersuami Armando. "Hei Nicko, apa yang kau bawa untuk Ayahku?" teriak Damian tiba-tiba dan membuat pria berwajah tampan itu akhirnya mendekat ke arah keluarga istrinya yang tengah berkumpul.Sesuatu yang sesungguhnya dia benci, tapi tak ada pilihan lain.
Nicko cuma bisa mengangguk lalu menunduk. Kemudian mencoba memberanikan diri dan mengatakan kalau tak membawa apa-apa. "Maaf, aku tak sempat membawa kado," jawabnya malu-malu. "Jadi, kau kesini tidak membawa apa-apa? Memalukan sekali hidupmu," ejek Armando kaka iparnya. "Armando, apa kau lupa kalau selama ini ia menumpang hidup pada Josephine dan mertuanya? Dia kan pengangguran," tambah Damian, sepupu Josephine. Sekaligus putra bungsu dari Howard Windsor. "Ah ya benar, kau bahkan yang mencuci pakaian dalam istrimu kan?" cibir Armando kemudian tertawa bersama Damian. "Kau benar-benar tak tahu malu Nicko, beraninya membuat malu di hari ulang tahunku!" Howard terlihat tak terima dengan keponakan mantunya. Merasa laki-laki itu tak menghargai dirinya sebagai Paman. "Kau ini benar-benar laki-laki yang tak punya harga diri. Bisanya cuma menyusahkan kehidupan keluargaku saja," Kini giliran Elizabeth Windsor, si Nyonya Besar alias Nenek dadi Josephine yang bicara. Tiba-tiba seorang wanita muda berambut pirang dan bergaun mini hitam muncul. Wanita yang anggun dan diidam-idamkan banyak kaum Adam, dialah Josephine. "Sayang, sudahlah," katanya kemudian melingkarkan tangan pada lengan suaminya, mengajaknya pergi. Tak ingin ada keributan, Nicko pun mengiyakan ajakan sang istri. "Josephine, Nenek dan Pamanmu belum selesai bicara pada suamimu yang tak berguna ini!" seru Elizabeth menghentikan Josephine. Sambil memegangi tangan sang Istri, Nicko pun berbalik dan menghadapi keluarga istrinya. "Aku heran denganmu Josephine, apa kehebatan dia hingga kau mau mempertahankan laki-laki pecundang ini sebagi seorang suami," tambah Howard. "Aku mencintai suamiku," jawab Josephine kemudian melirik suaminya dan saling melempar senyum.Sementara Armando dan Damian hanya tertawa mengejek.
"Apa yang bisa diharapkan dari pecundang macam dia. Hanya pengangguran berwajah rupawan, lama-lama tua dan keriput juga," tambah si Nyonya Besar. "Wajah tampan tapi kalau tak ada uang buat apa?" tambah Catherine diikuti tawa yang lainnya. "Lagipula bukankah kewajibannya sudah selesai. Dia itu kan cuma suami pengganti, untuk apa kau mempertahankannya selama dua tahun ini?" tambah Catherine. Nicko menikahi Josephine atas permintaan mendiang Tuan Gilbert Windsor sebagai balas jasa karena telah menyekolahkannya sampai jenjang universitas. Saat itu adalah dua hari menjelang pernikahan Josephine, tapi tunangannya, Gerald Jones pergi entah kemana. Untuk menyelamatkan diri dari rasa malu, akhirnya Nicko diminta menjadi pengganti Gerald. Hubungan yang awalnya terasa kaku dan hambar karena tanpa cinta akhirnya pun berubah. Kesabaran dan ketelatenan Nicko mampu menghapus rasa sakit hati pada diri Josephine. Lambat laun rasa cinta itu pun tumbuh diantara mereka. Sayang, selain almarhum Gilbert Windsor, hanya Josephine yang mampu menerima Nicko dengan baik. Kesombongan dan harga diri keluarga Windsor terlalu tinggi untuk meganggap Nicko adalah bagian dari mereka. "Gugat cerai saja suamimu yang tak berguna itu, menikahlah dengan Adrian Law, dia yang pantas untukmu," tambah Nenek Elizabeth. "Dengar apa kata Nenek, kau akan hidup lebih baik, lihat bagaimana hidup kakakmu Catherine. Ia bisa membeli pakaian yang bagus dan mahal, liburan dan bersenang-senang. Sedangkan kau? Kehidupanmu sungguh kasihan, jangankan untuk menyenangkanmu dengan pakaian bagus, untuknya sendiri saja tidak bisa," kata Damian membuat Armando besar kepala. "Benar, Adrian yang paling pantas untukmu, ia dari keluarga terpandang. Bukan seseorang tanpa asal usul yang jelas sepertinya," kata Catherine sambil melirik Nicko meremehkan. Seakan sudah lupa akan kesopanan, Josephine menarik suaminya menjauh. Terdengar oleh mereka berdua bagaimana keluarga Windsor menyuruhnya berpisah dari Nicko. ***"Sayang, kuharap kau tak tersinggung dengan ucapan mereka. Percayalah aku tak akan meninggalkanmu," kata Josephine berusaha menenangkan suaminya. "Bagiku, pendapat mereka tentangku tidaklah penting. Yang terpenting buatku adalah dirimu," kara Nicko tenang. Saat mereka berdua, ponsel Nicko pun bergetar. Ia mendapat kabar bahwa, Nyonya Watts yang mengasuhnya sejak kecil masuk rumah sakit, dan ia harus ke sana menemani. "Ada apa?" tanya Josephine."Nyonya Emily masuk Rumah Sakit dan aku diminta menemaninya," jawab Nicko malas. Sejak kecil ia memang diasuh oleh keluarga Watts. Namun sayang perlakuan mereka tidaklah pantas untuk disebut sebagai orang tua asuh. Nicko lebih diperlakukan sebagai pelayan, mendapatkan kekerasan sebagai bentuk kedisiplinan. Bahkan melanjutkan pun atas belas kasih Tuan Gilbert Windsor."Kau ingin pergi?" tanya Josephine lagi. Sesungguhnya ia malas untuk datang, tapi lagi-lagi ia seperti tak ada pilihan lain. Di manapun ia berada tentu akan mendapat hinaan. "Bolehkah?" tanya Nicko. "Pergilah, aku akan menemanimu.""Tak usah Josephine, aku tak ingin keluargamu semakin kesal padamu. Biar aku saja ya," pamit Nicko kemudian mengecup kening istrinya mesra. ***Sementara itu, Phillip Lloyd didatangi asisten pribadinya Kyle Brenan di mansionnya yang mewah. Kyle Brenan datang dengan membawa map dengan logo Rumah Sakit kenamaan di Westcoast town. "Tuan Lloyd, ini hasil pemeriksaan yang Anda minta," katanya menyodorkan map itu. "Terima kasih Kyle," kata Phillip Lloyd kemudian memeriksa hasil pemeriksaan dari Rumah Sakit dengan seksama. Memperhatikan setiap detail yang disajikan, kemudian meletakkannya ke atas meja dengan kasar. "Hmm, aku sudah menduga semuanya. Pantas saja kelakuannya seperti itu," gumam Phillip. "Kyle, kita berangkat sekarang dan siapkan orang-orang kita!" perintah Tuan Besar.Note : Hai, terima kasih sudah mengunjungi ceritaku. Jangan lupa baca juga novelku yang judulnya Sang Pengawal, CEO Cassanova & Pelakor, Lust Vegas. Makasih
Three days after Matthew was taken into custody by the tax authorities, the case against him for tax evasion was all but airtight.With extensive documentation in hand, Glover Group now faced more than just a suspension of business and steep financial penalties. Matthew himself was likely headed for prison.Tax fraud was only the tip of the iceberg. Investigators had also uncovered evidence that he paid off officials to secure Melanie's position and faked her academic credentials.The scandal had since erupted online.I unlocked my phone and scrolled through the latest news, amused by what I saw.I had to hand it to the internet. These people really know how to dig. It only took a few days for them to dig up everything on Melanie.Back in high school, she'd dated some thug, ended up pregnant, and stole class funds to pay for an abortion. The school caught wind of it and expelled her immediately.Melanie had even drugged the director of the TV station just to sleep with him and s
Matthew said, "Aurelia, I'll admit that when it comes to work, you know your stuff. That's exactly why you should be the one to handle the statement with the tax authorities."He pushed me forward.I sneered. "And why the hell would I? Do I own even a single share of Glover Group? And who exactly are you to me? I owe you nothing."He made it sound so reasonable, but I knew exactly what this was. Trouble was brewing, and he wanted me to take the fall for it.Seeing that his tough approach had failed, Matthew changed tactics and softened his tone. "I know I messed up before. I'm sorry, alright? After everything we've—"I didn't let him finish. Turning away, I slammed the door shut in Matthew and Melanie's faces.Matthew tried to turn to me for help, but the tax authorities cut him off and told him to cooperate with their investigation.Just then, Melanie glanced at her phone and instantly grabbed Matthew's arm like she'd lost it, panic written all over her face. "Matt, what do we
I blocked every way Matthew could reach me. There was no way for him to get to me now.Lately, the media had been all over him, churning out headlines like "Glover Group Busted for Tax Evasion", "Matthew's Affair Exposed", and "Fake Products Linked to Glover Group".Every time I checked my phone, his name was right at the top three on the trending list.I wasn't just sitting on my hands either. I'd been flooding inboxes with my resume, and bit by bit, the interviews started coming in.I was at home, going over my interview prep, when the door flew open with a kick. Matthew barged in, grabbed me by the collar, and yanked me up."Why'd you stab me in the back, Aurelia? What did I ever do to deserve this? We built Glover Group together, and now you're tearing it apart with your own hands. Doesn't that break your heart?""Break my heart?" I blinked at him. "What did I ever get out of that company? Why should I give a damn?"His grip slackened. The fire in his eyes wavered, then fade
When Matthew brought Melanie back from the sticks, the first thing he did was get her a place right by the city's TV station, like he just knew that was where she'd end up working.But as far as I remembered, Melanie's family had been so poor her parents couldn't afford to send her to school. She'd barely had any formal education.So, how did her resume list enough qualifications to get her a job at the TV station?There was only one possible explanation.I picked up a change of clothes from the hotel gift shop and headed to the restroom to get changed. I ignored Melanie's hateful glare and didn't even look in Matthew's direction.Once I was done, the hotel manager came over. Now that things had calmed down, he asked if we wanted to involve the police.I told him no and walked right out.Matthew snapped out of it and called after me, "What happened to you, Aurelia? You used to be sensible and understanding. And now you want a divorce? When did our love turn into something so wea
The whole divorce thing just kind of died off. I was about to file on my own when Matthew called out of nowhere. Then he texted me an address and said to come immediately.I figured he'd finally made up his mind and was ready to end things. So, I grabbed my bag, jumped in a cab, and rushed over, on
I stirred awake, still groggy and heavy with sleep. My pillow was soaked. I must've been crying in my sleep.At some point, Matthew had slipped back in without me noticing. The second he saw me packing my suitcase by the door, his face tightened with frustration."Aurelia, how much longer are you
Out of Matthew's line of sight, that so-called "young lady" shot me a smug look.We were only two months apart, but somehow, in his eyes, Melanie was the sweet, innocent lady, while I was just the washed-up woman whose reputation meant nothing to him.Keeping my distance from the two of them, I tu
To help Melanie boost her numbers, Matthew spread rumors that I'd slept with multiple men and had seven miscarriages.The endless online abuse that followed drove me into depression. When I couldn't take it anymore, I told Matthew I wanted a divorce.He chucked the divorce agreement on the floor,












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.