LOGINNADIA
- 7 Sudah Terlambat Davin tidak menemukan yang dicarinya. Bahkan ia tidak melihat Wiwin yang memperhatikan dari kejauhan, dibalik pohon besar. Wanita itu memang sengaja bersembunyi. Kalau ketemu Davin, ia khawatir tidak akan bisa mengontrol mulutnya. Sudah berapa taman yang didatangi, ia tidak menemukan Nadia dan Adam. Apa harus kembali ke rumah mereka saja? Tapi malam ini ada janji ketemuan dengan keluarga Selina. Solusinya cuma satu. Mamanya. Davin melaju ke rumah orang tuanya. Saat itu Bu Septa sedang menyiram bunga. Davin duduk di teras samping rumah. "Kamu dari kantor?" Bu Septa menghampiri dan duduk di samping putranya. "Iya, Ma." "Ada apa?" Davin diam beberapa saat. "Aku ingin membatalkan perceraian." Bu Septa terkejut dan menegakkan duduknya. Dipandangi sang anak dengan dahi mengernyit tajam. "Apa maksudmu? Tinggal tiga hari saja sidang ikrar talak kalian. Kenapa baru sekarang kamu punya pikiran demikian?" "Bantu aku, Ma." "Bantu apa?" Bu Septa menegakkan duduknya. "Bantu aku bicara ke Nadia. Rayu dia. Biar dia setuju." Bu Septa mengembuskan napas panjang, wajahnya tampak letih. Ia membenahi letak kacamatanya. "Nggak, Davin." Nada sang ibu tegas. Membuat Davin terkejut. Bukankah selama ini mamanya yang berusaha keras supaya dirinya dan Nadia tidak bercerai? "Kamu mau Mama bilang apa? Bahwa kamu sudah berubah? Kamu menyesal dan ingin kembali. Kamu pikir Nadia akan percaya begitu saja?" Davin tidak berani menjawab. "Kamu yang ingin menceraikannya dan membiarkan dia pergi. Dulu kamu nggak mendengarkan Mama. Waktu Mama bilang, lepaskan Selina, pertahankan Nadia. Kamu malah mengutamakan Selin." Davin menunduk makin dalam. "Keluarga Selina sekarang sudah menyiapkan pesta megah untuk kalian," ujar Bu Septa. "Kamu mau menghancurkan semuanya demi mengejar Nadia yang sudah patah hati begitu parahnya?" "Ma, sekarang aku nggak peduli rencana pesta mereka!" "Tapi kamu harus peduli hidup Nadia dan anakmu," suara Bu Septa merendah. "Kalau kamu tarik gugatan sekarang, kamu hanya menyiksanya. Dan urusanmu dengan keluarga Selina bisa panjang. Nadia juga yang bakalan kena imbasnya. Kasihan dia, Dav. Sejak dulu kamu siksa perasaannya. Biar saja dia sekarang bebas mencari kebahagiaannya. "Mama sudah bertemu Bu Isti. Sesabar apapun, beliau nggak ingin anaknya disakiti lagi." Kali ini Davin benar-benar tak berkutik. Kata-kata itu menghunjam tepat ke dada Davin. Bayangan keluarga Selina yang keras dan ambisius langsung terlintas di kepalanya. Selina sendiri bisa histeris kalau sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya. Bu Septa memejamkan mata beberapa detik. "Davin, Mama sudah membahas ini berkali-kali. Jangan cerai. Tapi kamu keras kepala. Sekarang Mama ikhlas. Biar Nadia bahagia dengan pria lain." Mendengar itu dada Davin terasa perih. Ada tak rela dipendam diam-diam. Selesai bicara, Bu Septa bangkit dari duduknya. Meninggalkan Davin yang membeku di kursi teras. Sementara senja benar-benar tenggelam. Tak lama azan Maghrib berkumandang dan Davin tetap tidak beranjak. Ia terlalu terlena. Terlambat menyadari kesalahan paling fatal dalam hidupnya. Ia memejamkan mata dan kenangan itu menyeretnya kembali pada awal pernikahan mereka. Davin mengingat setiap detiknya dengan jelas. Betapa gemetar tangan Nadia. Dan ia melihat kekhawatiran di mata istrinya saat ia menyentuhnya untuk pertama kali. Dua hari setelah malam itu, Davin menemukan Nadia menggigil di kamar mandi, bersandar pada wastafel. "Kamu kenapa?" tanyanya dingin. Wajah Nadia pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya. Tangan memegang perut bagian bawah. "Aku ingin pergi ke dokter." "Kamu sakit?" Masih dengan nada kaku. Nadia beranjak dari sana, mengenakan jilbab dengan cekatan, mengambil dompet lalu beranjak keluar kamar. "Ku antar," ucapnya benar-benar tidak bersahabat. Hanya khawatir pada diri sendiri, jika disalahkan bila terjadi apa-apa pada Nadia. Saat dokter menjelaskan setelah pemeriksaan, Davin mendengarkan sendiri hasil diagnosa dokter. Bahwa istrinya mengalami honeymoon cystitis. Hal yang sering terjadi pada perempuan yang baru menjalani hubungan intim pertama kali. "Jangan khawatir, ini iritasi dan infeksi. Tapi bisa diobati. Kalian terlalu bersemangat. Maklum pengantin baru, kan?" Dokter wanita itu tersenyum sambil menuliskan resep obat. Nadia bergeming. Namun wajahnya memerah karena malu. Sedangkan Davin hanya meliriknya sekilas. Nadia begitu polos, ia merasa dirinya seperti monster malam itu. Sampai segitunya dia memperlakukan Nadia. Egois, arogan, bertahun-tahun lamanya. Tak menghargai keberadaan perempuan yang berusaha mengabdi menjadi istri yang baik padanya. Ia sudah membuat wanita yang begitu lembut dan setia itu sakit berkali-kali. Secara fisik dan mental. Sekarang setelah semua nyaris tamat, baru ia merasakan pukulan penyesalan yang hebat. Dibalik sikap lemahnya Nadia, wanita itu berani menolak ajakannya untuk membatalkan perceraian. Nadia bisa apa tanpa dirinya. Semua perusahaan menginginkan karyawan baru yang berpengalaman. Sedangkan Nadia? Ponsel di saku celananya berdering. Selina kembali menelepon. Dibiarkannya untuk beberapa saat. "Kenapa nggak dijawab?" Tiba-tiba sang mama sudah berdiri di sebelahnya. "Ini yang pernah kamu mau, Davin. Terima konsekuensi dengan apa yang kamu pilih. "Jangan memperumit permasalahan. Mempermalukan keluarga yang akan membuat kakakmu mengamuk. Selesaikan apa yang sudah kamu mulai. Mama sudah ikhlas melepas Nadia. Karena Mama sadar, kamu sudah membuatnya banyak menderita. Dulu kamu diam karena takut dengan papamu, sekarang Papa nggak ada, kamu nggak pernah mau mendengarkan Mama." Panggilan di ponsel berhenti. Davin tersudut oleh ucapan mamanya. Namun ponsel kembali berdering untuk yang kedua kali. Davin menarik napas panjang. "Halo." "Mas, sudah diperjalanan?" "Belum." "Aku tunggu. Jangan terlambat. Keluargaku sudah kumpul di rumah. Ajak Tante Septa juga, ya." Klik telepon dimatikan. Selina mengirimkan gambar suasana di rumah mewahnya. Keluarga inti gadis itu sudah duduk santai di ruang keluarganya yang luas. Bu Septa turut memperhatikan foto itu. Kemudian menghela napas panjang. Mereka ini semaunya sendiri. "Pergilah, Mama nggak bisa ikut." Bu Septa kembali masuk ke rumah. Davin tidak punya pilihan. Dia bangkit dari duduknya lalu masuk ke dalam untuk mandi. Kalau pulang ke rumahnya sendiri, akan menyita waktu dan Selina semakin menerornya. 🖤LS🖤 Davin tidak berkutik. Segala perencanaan sudah dibuat mereka begitu matang. Dia hanya mendengarkan pembicaraan keluarganya Selina. Dan sekarang baru sadar, keputusan yang ia buat sendiri telah menjebaknya. Banyak yang ia pertaruhan dalam kebodohannya ini. Kenapa baru sadar, di saat semuanya diujung tanduk. "Kamu nggak mau dengerin Mama, Dav. Terserah, nggak apa-apa. Mama capek ngomongin kamu. Keterlaluan memang. Teganya kamu pada Nadia dan anakmu sendiri." Davin teringat omongan mamanya. Lelaki yang paling arogan dan harus selalu menang dan tidak peduli ucapan orang, termasuk perkataan mamanya sendiri, kini benar-benar terjebak di tengah labirin yang ia ciptakan. Pulang dari rumah Selina, ia mencoba menelepon Nadia. Berulangkali, baru dijawab. "Halo," suara Nadia tampak tidak bersemangat. "Aku tadi mencarimu di rumah. Kamu keluar bersama Adam." "Ya." "Nadia, kita bisa bertemu?" "Kita bertemu di pengadilan saja, Mas. Tiga hari lagi, kan?" "Please, untuk yang terakhir kali. Ajak Adam, ya." "Nggak usah. Kalau ingin bertemu Adam. Mas, bisa datang ke rumah." "Please. Besok kujemput jam delapan pagi." Next ....Foto wisudanya Nadia menjadi pusat perhatian, karena di sana ada almarhum Pak Lukman. Pria luar biasa yang akhirnya menjadi suami sahabatnya hingga tutup usia.Ketika senja hampir tiba, Bu Terry pamitan. Bu Isti mengantarkan sampai mereka masuk ke taksi online yang dipesan Selina."Hati-hati," ucap Bu Isti."Iya. Makasih banyak, Is. Kapan-kapan kita bisa bersilaturahmi lagi," jawab Bu Terry sembari melambaikan tangan. "Ya." Bu Isti memandang taksi itu hingga berbelok di ujung depan sana. Kemudian menghela napas panjang memandang semburat jingga di langit senja. Persahabatan yang dulu terputus, kini membaik lagi setelah tiga dekade lebih. Kalau dia tidak memaafkan, hanya akan menjadi beban dalam dada. Yang berlalu biarkan berlalu. Toh, dia pernah menjadi istri dan ibu yang sangat bahagia bersama lelaki bernama Lukmanto. Yang meratukannya, menyayangi Nadia layaknya putri sendiri."Tadi itu Terry ya, Mbak?" tanya Bulek Sari yang menghampiri sang kakak di depan teras."Iya. Sama Selina.
Selina pun diam. Serasa permasalahannya tak habis-habis. Dia juga belum menikah. Bahkan punya pacar pun tidak. Usianya semakin bertambah. Sudah 35 tahun sekarang. Setiap ada yang mendekati, hanya lelaki iseng yang tak ada keseriusan dalam perbincangan mereka. Takut juga kalau gagal lagi.Taksi sampai juga di depan pagar rumah Bu Isti. Matahari siang itu cukup terik. Makanya suasana sepi dan rumah itu tertutup rapat. Apa Bu Isti tidak libur mengajar? "Sel, kelihatannya sepi. Apa Isti belum pulang mengajar?" tanya Bu Terry saat mereka berdiri di depan pintu pagar."Aku juga nggak tahu, Ma. Bentar, aku tekan belnya." Selina mengulurkan tangan untuk menekan bel di balik tembok pagar.Beberapa saat setelah bel berbunyi, pintu rumah terbuka. Muncul wanita mengenakan gamis rumahan warna army dan jilbab hitam.Begitu melihat siapa yang berdiri di luar pagar, Bu Isti mematung. Kaget juga melihat siapa yang datang. Padahal dia sudah tidak kepikiran kalau Bu Terry akan menemuinya."Isti," suara
NADIA- 78 Sahabat "Pa, Mama minta di antar ke rumah Bu Isti." Selina memberitahu Pak Haris di bengkel. Saat pulang kerja ia mampir ke sana. Hari Sabtu, Selina kerja setengah hari."Antarkan saja kalau Mama sendiri yang mau, Sel.""Rencananya sepulang dari sini kuantarkan, Pa."Pak Haris manggut-manggut. "Bagaimana kerjaanmu?""Ya, butuh adaptasi lagi di tempat baru, Pa. Tapi Alhamdulillah, aku mendapatkan kerjaan yang lebih baik daripada sebelumnya.""Hati-hati kalau kerja.""Ya. Kalau gitu aku pamit dulu, Pa. Nanti mau langsung nganterin Mama."Selina pulang mengendarai motornya. Sudah sebulan ini dia bekerja sebagai staf di sebuah instansi swasta. Setelah menjadi kasir supermarket selama dua tahun, lalu berhenti karena mengurusi mamanya yang sering jatuh sakit. Sekarang baru mendapatkan pekerjaan lagi atas bantuan dari Dira.Setelah jatuh bangun dan tak ada lagi ada pegangan finansial yang cukup, baru hatinya sadar tentang kesalahan demi kesalahannya di masa lalu. Untung masih ada
Beberapa kerabat yang membawa barang hantaran, mulai dari tas mewah hingga perhiasan, nampak menghela napas lega saat mereka akhirnya bisa meletakkan barang bawaan di tempat yang disediakan.Kebahagiaan pecah di halaman rumah Nastiti. Rasa lelah, gamis yang sedikit berdebu, dan napas yang ngos-ngosan seketika terbayar oleh pemandangan lembah hijau di bawah sana. Panorama indah yang sepadan dengan segala peluh yang keluar.Desa di lereng Kelud ini memang sunyi, tapi pagi itu menjadi saksi sebuah penyatuan dua keluarga yang datang dengan penuh perjuangan.Para rombongan duduk di kursi-kursi yang sudah dipersiapkan. Menunggu calon pengantin laki-laki dirias untuk akad nikah.Bu Terry sesekali melirik pada Bu Isti yang ngobrol dengan kerabat Pak Haris. Mereka tampak akrab. Bahkan beberapa saudara Bu Terry sendiri juga menyapa wanita itu. "Setelah resepsinya Arda di Surabaya. Anterin Mama ke rumah Bu Isti, Sel," bisiknya pada Selina. "Mama, serius?""Ya." Bu Terry mengangguk.Sementara D
Jalanan terlalu curam dan sempit untuk dilalui kendaraan roda empat hingga ke titik tujuan."Kita jalan kaki dari sini, Mas?” Nadia melongok ke luar jendela, memandang tanjakan di depan yang seolah tak berujung. Arda sudah pernah cerita kalau rumah calon istrinya berada di lereng Gunung Kelud. Bukan di lereng lagi kalau begini, di tengah atau di puncak, batin Nadia. Sewaktu Arda lamaran, Nadia tidak ikut. Yang pergi waktu itu hanya Pak Haris dan beberapa orang kerabat. Karena Bu Terry juga sedang sakit.Dewa tersenyum sambil mematikan mesin. "Udara Kelud segar, Sayang. Ayo, kita turun."Yang semobil dengan Dewa, ada Nadia, tiga anak mereka beserta baby sitter dan Mbak Harti. Juga Bu Isti bersama Bulek Sari. Bu Hana memilih menghadiri acara di Surabaya saja seminggu lagi. Turun dari mobil, rombongan pengiring pengantin dari Surabaya itu segera disambut hawa sejuk yang menusuk pori-pori. Namun kesejukan itu tak mampu menutupi kecemasan para wanita yang sudah berdandan paripurna sejak
NADIA- 77 I Love YouTernyata Emir, Naima, dan keluarganya yang datang. Mereka sengaja memberikan kejutan tanpa mengabari lebih dulu. Dewa dan Emir sudah tiga tahun ini menjadi partner bisnis. Jadi mereka memang sering bertemu. Tapi tanpa mengajak keluarga, karena urusan pekerjaan. Terakhir mereka bertemu lengkap ketika Dewa mengajak Nadia ke Tulungagung sewaktu sang istri masih hamil Cantika.Suasana ruang keluarga begitu riuh dengan anak-anak. Zahra dan Aurel sekarang sudah remaja, usia 15 tahun. Cantika menempel terus pada dua remaja itu. Dia suka memiliki kakak perempuan yang sayang dan memperhatikan. Mengajaknya bermain dengan telaten. Kalau dengan dua kakak lelakinya, Cantika yang mengekori mereka. Ngalor ngidul. Di sofa utama ruang tamu, Dewa dan Emir duduk berhadapan dengan kopi yang mengepul. Tiga tahun menjadi mitra bisnis telah melunturkan sekat formalitas di antara mereka."Bulan depan kita bertemu di Blitar, Mas Emir," ujar Dewa."Share loc alamatnya nanti, Mas. Saya su







