Home / Romansa / Adik Angkatku, Kekasih Gelapku / 4. Hidupku yang Luar Biasa

Share

4. Hidupku yang Luar Biasa

Author: Indy Shinta
last update Last Updated: 2025-11-19 21:20:48

Dering ponsel milik Nyonya Lydia menyela pembicaraan. Ia mengelap mulutnya sebentar dengan ujung tisu, sebelum mengangkat telepon.

“Halo, Jeng Ratna. Apa kabar?” sambutnya sambil tersenyum cerah, hampir tak pernah secerah itu saat kepada Amara. “Wah. Pasti mau bahas soal arisan kita dengan Bu Menteri, kan?” 

Nyonya Lydia sudah berdiri bahkan sebelum kalimatnya selesai, berlalu ke teras dengan langkah tergesa. 

Sementara itu, dering ponsel yang lain mengisi udara lagi. Kali ini panggilan telepon untuk Tuan Arman. 

“Halo. Ya, bagaimana?” 

Suara Presiden Direktur Sanjaya Construction & Estate itu merendah, dengan nada profesional. Sambil menerima telepon, Tuan Arman segera meninggalkan meja makan menuju ruang kerja pribadinya. “Bukankah saya sudah bilang kalau proyek itu….”

Tinggallah Amara dan Chandra di meja makan yang tiba-tiba terasa terlalu besar untuk mereka berdua. 

Amara menunduk. Perjodohannya dengan si David itu sepertinya sudah final hanya dalam hitungan menit. Ditimbang tanpa melibatkan perasaan pribadinya.

Amara menggigit bibir. 

Perjodohan dengan pria kaya... bentuk kasih sayang mereka, katanya?

Ia menghela napas panjang dan mengangkat pandangannya. Saat itulah ia baru menyadari jika Chandra sedang menatapnya, entah sejak kapan.

"Terima kasih sudah membelaku tadi," ucap Amara untuk memecah kecanggungan.

"Tolak saja perjodohan itu kalau kamu nggak mau."

Tiba-tiba saja ponsel milik Chandra berdering di atas meja, memecah keheningan seperti alarm kebakaran dalam perpustakaan.

Amara pikir, adiknya itu juga akan menerima telepon dan meninggalkannya sendirian. Tetapi, Chandra hanya melirik sekilas, lalu menekan tombol silent dan kembali meraih sendoknya.

“Makanlah,” katanya singkat. Tanpa menatap Amara.  

Aura dinginnya masih sama: elegan, mahal, tapi... menyebalkan.

Keheningan kembali turun. Sampai akhirnya mereka nekat saling menatap.

Tatapan yang seharusnya menjadi momen mengharukan antara kakak dan adik yang baru dipertemukan setelah delapan belas tahun.

Ya, seharusnya.

Masalahnya… tatapan itu sama sekali tidak terasa kekeluargaan. Dan mereka berdua tahu betul kenapa.

Pipi Amara langsung merona merah, rasa malu menusuknya dari ubun-ubun sampai ke jantung saat teringat sentuhan panas di kulitnya, desah parau Chandra, dan kalimat-kalimat cabul yang entah kenapa hari itu begitu membakar kewarasannya.

Ya, Lord. Kenapa si pria pemilik tombak besar itu harus adiknya sendiri, sih! 

Di seberang meja, Chandra juga mengalihkan pandangannya. Ada kilatan aneh di sepasang matanya.

Hingga akhirnya, Amara mencoba memulai, “Kamu… tumbuh dengan baik, Ndra.” Suaranya pelan, hampir seperti gumaman.

Tentu saja Chandra tumbuh dengan baik. Nyonya Lydia tak mungkin mengurusnya dengan asal-asalan.

Amara mencuri pandang pada sosok adiknya yang memakai jas rapi, wajah tenang, beraura eksekutif muda yang tampan tanpa cela. Mirip seperti tokoh CEO cerdas di drama-drama Korea.

Sedangkan dirinya? Hanya seorang terapis spa.

Terapis spa yang… ya, pernah memberi layanan ‘plus-plus’ kepada lelaki yang ternyata adik lelakinya sendiri. Betul-betul plot twist.

Kalau ada penghargaan untuk “Kehidupan Paling Tidak Masuk Akal Tahun Ini”, Amara pasti nominasi terkuat. 

Chandra menatapnya sedikit lebih lama. 

“Kamu juga hebat, Kak.”

Hebat?

Amara langsung menegang. 

Itu… pujian? Sindiran? Atau keduanya diblender jadi smoothie memalukan?

Amara tersenyum pahit. “Hebat di ranjang, maksudmu?” bisiknya, lebih kepada diri sendiri, tapi sialnya cukup jelas terdengar oleh Chandra.

Rahang pria itu mengeras.

Oh, bagus. Sekarang dia terlihat seperti model iklan jam tangan premium yang sedang menahan amarah.

“Aku sudah bilang waktu itu, kan?” Chandra sedikit condong ke depan, hingga dadanya menyentuh tepian meja. Intensitasnya membuat Amara ingin berubah menjadi vas bunga saja agar tak perlu menghadapi ini. 

“Selanjutnya, anggap saja… kita tak pernah bertemu,” bisiknya, mengulang lagi ucapannya di vila kala itu. 

Chandra bersandar kembali. Tenang lagi. Dingin lagi. Seperti seseorang yang baru saja mengklik tombol reset emosi.

“Selamat datang lagi di rumah ini, kakakku…,” ada jeda sejenak, “… sayang.” 

Amara membeku.

Cara Chandra mengucapkan kata ‘sayang’ itu, ya Tuhan, persis sekali dengan caranya berbisik mesra di telinga Amara, saat mereka berada di puncak orgasme.

Amara pura-pura tenang, padahal harga dirinya baru saja ditampar realitas memalukan lima menit yang lalu.

Baiklah.

Kalau Chandra bilang anggap saja mereka tak pernah bertemu, ya sudah. Bagus.

Mulai sekarang, mereka cuma kakak dan adik yang sedang reuni manis setelah delapan belas tahun terpisah. Bukan dua manusia dewasa yang pernah habis-habisan bercinta di ranjang villa.

Jadi, mari berpura-pura ini pertemuan pertama mereka setelah delapan belas tahun.

Amara menarik napas, mengangkat dagu, lalu memasang wajah alfa versi kakak sulung yang lebih berkuasa dan anti kritik.

“Mama bilang kamu super sibuk. Hidupmu pasti luar biasa ya, Ndra?”

Amara berbicara sambil sibuk memotong rendang di piringnya yang sejak tadi tidak habis-habis, seolah potongan itu punya sembilan nyawa.

Amara cuma butuh alasan agar terlihat sibuk. Atau setidaknya, terlihat stabil. Gerakan tangannya terlihat natural, tapi cuma dia yang tahu kalau itu usaha mati-matian supaya tangan tidak gemetar.

“Begitulah. Aku membantu Papa ngurusin proyek. Kak Mara sendiri, gimana? Sibuk apa?” Chandra berbicara dengan tenang dan datar. 

“Aku sendiri?” Amara tersenyum tipis. Senyum yang jika dilihat sedikit lebih dekat, jelas itu bukan senyum. Itu frustrasi yang ia bungkus cantik-cantik.

Amara menyuapkan satu potong kecil daging ke mulutnya, berusaha tetap terlihat tenang meski jantungnya dibuat gila oleh pertanyaan itu. Karena… sial, kesibukannya apa lagi coba kalau bukan memijat tubuh klien yang kebanyakan lelaki?

Huh. Mau gimana lagi? Waktu itu kan Amara butuh sekali pekerjaan. Kebetulan, lowongan yang ada dan menjanjikan cuan besar ketika itu adalah menjadi terapis spa… khusus lelaki.

Tapi, sumpah! Sepanjang kariernya sebagai terapis, ia hanya melayani jasa pijat secara profesional. Tentu saja kecuali… pada hari sialan itu, di villa Aster-Bali.

Amara mengunyah dengan gaya santai, seolah tidak ada apa pun yang sedang dipikirkan. 

Kalau Chandra mau tahu kehidupannya yang berantakan itu, silakan. Toh, aibnya sebagai terapis sudah dikantongi oleh adik lelakinya itu. Jadi, buat apa Amara repot-repot menutupinya?

“Aku sibuk sebagai terapis spa,” sahutnya akhirnya.

Chandra memandangnya dengan sorot meneliti. Mirip Manajer HRD yang sedang melakukan seleksi wawancara kerja.

“Sejak kapan?” tanyanya dengan nada turun satu oktaf, seolah siap mencoret sang kandidat.

“Sejak lulus SMA, sekitar… sepuluh tahunlah kira-kira,” sahut Amara enteng, seperti menjawab pertanyaan tentang cuaca.

Ketegangan seketika tersorot di mata adik lelakinya itu. 

“Selama itu?” 

Ada ekspresi “yang benar saja!” dalam nada suara Chandra.

Namun Amara menanggapinya santai.  

“Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan? Melanjutkan kuliah dengan uang yang cuma ada di khayalan? Ck. Konyol banget.”

“Konyol?” ulang Chandra dengan suara yang terlalu rendah tapi sarat tekanan. Tangannya  menggenggam garpunya lebih erat, seperti sedang menahan geram.

“Kamu seharusnya berusaha cari beasiswa, Kak. Kamu kan—”

“Aku nggak sepintar kamu, ingat?” potong Amara, tersenyum sinis. “Beasiswa apanya? Sudah bagus aku bisa lulus UN, itupun pakai nyontek,” lanjutnya seraya memutar bola mata. 

Chandra menghela napas panjang, wajahnya keras, matanya tak lepas sedikit pun dari Amara.

“Kamu nggak berubah, ya? Selalu puas dengan apa yang sudah kamu capai tanpa ingin berusaha naik lebih tinggi lagi.”

Amara tertawa kecil mendengarnya. 

“Memangnya kamu pikir… terapis spa sepertiku punya jenjang karier, ya?”

Chandra terdiam. Gerakan garpunya seketika terhenti, lalu ia mengetuk piring sekali. Seperti refleks orang sedang kesal, terusik, tapi berusaha menahan diri. 

Melihatnya, Amara hanya tersenyum bodo amat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Adik Angkatku, Kekasih Gelapku   51. Resah dengan Jarak Ini

    Amara diam seribu bahasa sepanjang sisa perjalanan. Bukan diam yang pasrah, tapi diam yang menahan diri agar tidak runtuh di tempat yang salah.Chandra beberapa kali mengajaknya bicara—pertanyaan kecil, komentar sepele tentang jalanan, tentang besok—namun Amara hanya menjawab seperlunya. Senyumnya ada, tapi terlalu rapi. Terlalu dikendalikan. Seolah senyum itu bukan reaksi, melainkan tameng.Selebihnya, ia menutup mata. Pura-pura tidur. Bukan karena lelah, melainkan karena ia tidak ingin ditanya lagi bagaimana keadaannya. Tidak ingin menjelaskan perasaan yang bahkan ia sendiri belum bisa merangkainya dengan kata-kata.Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah.Amara langsung turun tanpa menunggu, membawa tas-tas belanjaannya. Gerakannya cekatan, seolah tubuhnya sudah hafal apa yang harus dilakukan ketika ia memutuskan untuk tidak bergantung pada siapa pun.Dua pelayan yang sudah menunggu di pintu rumah terlihat terdiam sejenak. Tatapan mereka memindai Amara dari ujung rambut hingga uju

  • Adik Angkatku, Kekasih Gelapku   50. Sama Seperti Ibu

    Begitu pintu mobil tertutup, suara klik sabuk pengaman bahkan belum selesai berbunyi—“Sial. Sial. Sial,” Amara langsung menyambar.Chandra baru sempat memutar kunci, mesin belum benar-benar hidup.“Asli, sumpah! Kamu keterlaluan, Ndra!” Amara menoleh tajam. “Apaan sih?” Chandra melirik sekilas, santai. “David?”“Siapa lagi?!” Amara hampir menepuk dashboard. Hampir. Ia menahan diri di detik terakhir. “Kenapa kamu nggak cepat-cepat kasih kode ke aku, apa kek gitu… kalau itu tadi David!”Ia mengusap wajahnya cepat, lalu menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Tarikan napasnya pendek, frustrasi.“Padahal kan dia targetku,” lanjutnya, kali ini lebih rendah tapi penuh tekanan. “Alasan kenapa aku mau glow up. Kenapa aku mau nurut sama semua aturan kamu. Duduk tegak. Tatap mata. Jangan gelisah. Jangan kelihatan butuh.”Amara menoleh lagi ke Chandra. “Semua itu karena dia!”Chandra tidak langsung menjawab. Mobil mulai melaju pelan meninggalkan parkiran.“Aku pantang ngeluh,” kata Amara cepat,

  • Adik Angkatku, Kekasih Gelapku   49. Salah Sendiri

    Chandra baru menyadarinya setelah kafe kembali ke ritme normalnya.Tidak ada lagi pria itu. Tidak ada lagi interupsi. Tinggal mereka berdua, meja kayu gelap, dua cangkir kopi, dan jarak yang seharusnya terasa biasa.Tapi tidak.Amara duduk tegak di seberangnya. Punggung lurus. Bahu sejajar. Tidak gelisah. Tidak menunduk. Tatapannya menetap padanya setiap kali ia bicara—bukan tatapan menantang, bukan pula tatapan mencari validasi. Tatapan yang tenang. Mantap. Seolah wanita itu tahu persis posisinya di ruangan itu.Chandra mengamati tanpa disadari.Dulu, Amara selalu memalingkan mata lebih dulu. Mengisi jeda dengan gerakan kecil yang tidak perlu, bahkan menggigit kuku. Sekarang, ia tidak melakukan apa-apa selain ada dan melakukan setiap hal dengan pantas. Caranya menyesap kopi, caranya memejam sesaat sambil berkata, “Hmm ini baru kopi.” Berkelas.Dan itu perubahan besar.Chandra menyesap kopinya. Rasanya pahit, seperti biasa. Ia sudah sering duduk di kafe semacam ini, berbicara denga

  • Adik Angkatku, Kekasih Gelapku   48. Nilai Seratus

    Ingatan yang langsung menghinggapi kepala Amara adalah bagaimana pria itu pernah mencium pacarnya. Ciuman yang membuatnya keki, patah hati, sekaligus sadar di detik yang sama bahwa ia tak boleh kepincut lagi padanya.‘Ganteng sih, tapi sayangnya udah sold out. Cuma bisa dikagumi, nggak boleh diingini.’ Amara hanya diam sepanjang lelaki itu mengobrol ringan dengan Chandra, tapi ia sadar lelaki itu sedang mencuri-curi pandang ke arahnya. Entahlah, apa dia ingat pernah bertemu dengan Amara, atau cuma sekedar tatapan kepo ia pacarnya Chandra atau bukan.Sampai akhirnya. “Pacarmu? Nggak mau kenalin ke aku?” bisiknya, pelan tapi Amara masih bisa mendengarnya.Chandra hanya terkekeh pelan. Amara melirik adik lelakinya itu, agak jengkel karena Chandra sepertinya enggan memperkenalkan dirinya sebagai kakak pada orang lain.Kenapa? Apa penampilanku masih kurang terlihat meyakinkan sebagai Nona Sanjaya?Amara menyesap kopinya perlahan dengan gerakan elegan, tapi suhu kopi yang masih panas langs

  • Adik Angkatku, Kekasih Gelapku   47. Apa Kabar?

    Chandra menyetir dengan tenang, satu tangan bertumpu ringan di setir, tangan satunya bertengger santai di dekat tuas persneling. Mobil sedan mewah itu melaju stabil, seperti pemiliknya tahu persis ke mana arah hidup dan jalan yang sedang ia ambil.Di dalam kabin, lagu Perfect milik Ed Sheeran mengalir dari speaker mobil. Volumenya cukup jelas untuk didengar, cukup tenang untuk tidak menguasai percakapan. Nada-nadanya mengisi ruang sempit di antara mereka, menyatu dengan dengung mesin dan ritme jalanan sore.“I found a love… for me…”Suara Chandra terdengar lirih dan merdu, enak di telinga dengan cara yang bikin orang lupa sedang di mobil. Ia menyanyi sambil menyetir dengan satu tangan, santai, seperti ini hal paling normal di dunia.Amara melirik ke arahnya, pura-pura tidak terlalu memperhatikan. Padahal ia mendengarkan. Setiap baitnya. Cara Chandra menyanyikannya ringan, hampir malas-malasan, tapi justru itu yang membuatnya terasa… keren. Seperti suaranya itu tidak sedang dipamerkan

  • Adik Angkatku, Kekasih Gelapku   46. Naik Level

    Begitu kaki Amara menginjak lantai butik itu, insting hidupnya langsung bereaksi. Bukan reaksi kagum, tapi reaksi waspada—jenis rasa yang biasanya muncul saat seseorang sadar dirinya sedang berada di tempat yang terlalu berbahaya.Ini tempat mahal.Benar-benar mahal yang membuat orang refleks melangkah lebih pelan, takut-takut kalau sampai menyenggol sesuatu lalu harus menjual ginjal demi ganti rugi. Salah gerak sedikit saja, dompet bisa trauma seumur hidup.Amara mengedarkan pandangan. Lantainya mengilap, rak-raknya rapi berlebihan, jarak antar pakaian seperti sengaja dibuat agar tidak ada yang sembarangan menyentuh.Lampunya terang, putih, dan jujur. Terlalu jujur. Jenis cahaya yang tidak peduli apakah seseorang siap atau tidak untuk dilihat apa adanya: orang kaya silakan masuk, yang miskin tolong menyingkir. Tanpa basa-basi.Aroma yang tercium di udara pun bukan aroma mall biasa. Bukan wangi popcorn, bukan juga kopi yang mengundang orang untuk duduk santai. Udara di sini dipenuhi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status