Share

5. Adikku Sudah Dewasa

Penulis: Indy Shinta
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-19 21:24:34

Amara meletakkan garpu dan sendoknya. Ia tidak bisa melanjutkan lagi. Tidak bisa pura-pura makan padahal perutnya sudah kembung menerima tatapan Chandra yang dingin dan asing.

“Aku duluan,” katanya, sambil melipat serbet dari pangkuannya. 

“Habiskan dulu makananmu.” Chandra menyahut cepat dengan nada yang sedatar suaranya.

Amara membalas tatapan Chandra.

“Hanya mulutku yang berhak mengatur apa yang ingin kumakan atau tidak.”

Bersama ucapannya itu, ia berdiri. Tatapannya masih bertaut pada sepasang mata Chandra yang mengunci setiap gerakannya.

Tatapan yang terlalu dingin, tapi tajam. Tidak seperti tatapan adik yang dulu sering menatapnya dengan polos. 

Tidak. Tatapan Chandra yang sekarang adalah tatapan seorang pria dewasa yang sadar betul apa yang sudah terjadi di antara mereka.

Dan itu membuat Amara merinding, membuat lututnya hampir goyah.

Ia takut, bukan pada Chandra, tapi pada dirinya sendiri. Pada fakta bahwa ia bisa merasakan setiap tatapan itu seolah menyalakan kembali memori yang seharusnya sudah ia kubur dalam-dalam.

“Habiskan makananmu, Ndra. Ingat-ingat pesan Mama tadi, ‘Jangan sampai sakit, Nak.’

Amara sedikit menyindir dengan kalimat yang sejak dulu suka diucapkan oleh ibu mereka kepada Chandra, dengan kelembutan dan kasih sayang. Hal yang tidak pernah ia terima sejak kecil. Perhatian selembut itu hanya untuk Chandra, Chandra, dan Chandra.

Amara pergi meninggalkan ruang makan, membiarkan Chandra sendirian. 

Rencana untuk beramah tamah dengan adik lelaki yang ia rindukan selama delapan belas tahun ini hancur total. Bukan hanya karena Chandra ternyata adalah lelaki yang pernah bercinta dengannya, tetapi juga karena mereka kini tak lagi satu frekuensi seperti dulu.

‘Suka pijat plus-plus, ya? Suka bungkus LC juga, mungkin?’ duganya, sedikit geram. 

Ah. Ternyata adiknya itu benar-benar telah menjelma menjadi pria dewasa. Chandra-nya tak lagi selugu yang ia pikir selama delapan belas tahun belakangan ini.

Apalagi ditunjang dengan penampilannya yang sangat good looking

Paras Chandra yang tampan mengingatkan Amara pada tipe aktor Hollywood berbahu lebar, rahang tegas, hidung mancung seperti perosotan TK, dan tatapan mata intens yang biasanya cuma muncul di film-film romantis.

Auranya seperti aktor pria yang selalu memerankan karakter miliarder muda yang dingin, tapi dengan tubuh ala bintang film laga yang bisa menggendong lawan mainnya dengan satu tangan.

Body yang hot, bisa bikin cewek klepek-klepek hanya dalam sekali lirik. 

Ditambah status Chandra sebagai pewaris bisnis keluarga Sanjaya yang sukses di bidang properti dan ritel.

Wah. Modal yang sudah lebih dari cukup buat jadi buaya darat profesional, bukan?

‘Orang ganteng mah bebas’, gumam Amara dalam hati, sarkas dan sedikit muak.

Amara menaiki anak tangga menuju kamarnya dengan langkah sedikit cepat, tapi ia menjaga irama kakinya agar terdengar santai. Tidak boleh terlihat panik. Tidak boleh terlihat seperti kabur dari tatapan seorang Chandra Sanjaya.

Padahal, ya… memang itu yang ia lakukan. Melarikan diri. Mengamankan diri. Menjauh dari adik lelakinya yang tatapannya terlalu… meneliti.

Karena setiap kali tatapan Chandra yang dingin namun tajam itu mendarat padanya, Amara merasa seperti sedang ditelanjangi tanpa sentuhan. 

Bukan jenis tatapan yang sekadar mengamati, tapi membedah. Mengupas. Seolah Chandra sedang mencoba membaca sisa-sisa malam itu, yang masih menempel di wajah dan tubuhnya.

Dan Amara hanya bisa misuh-misuh dalam hati, merasa frustrasi dengan situasi yang canggung ini.

Ya. Amara ingin melarikan diri. Dari tatapan Chandra yang tahu terlalu banyak. Dari tatapan yang bisa membuatnya mengingat hal-hal yang seharusnya tidak pernah mereka lakukan.

Begitu sampai di lantai atas, Amara langsung berlari menuju kamar. Membuka pintu, masuk, menutupnya lagi dengan cepat. 

Amara langsung ambruk di atas kasur. Ia memeluk guling dan termenung lama, mulai stres memikirkan bagaimana pandangan Chandra pada dirinya saat ini. 

“Dia pasti kecewa, karena kakak yang ia hormati saat kecil, ternyata sehina ini di matanya saat dewasa.”

Amara menggigit bibir. 

Sepertinya tidak ada jalan untuk memperbaiki nama baiknya di depan Chandra saat ini. 

“Gimana caranya ngadepin adikku tanpa harga diri lagi, coba?” desisnya, menahan histeris.

Aargh. Amara bisa gila!

Rasanya… lebih baik tinggal di gubuk derita bersama Bik Harni, daripada pulang ke istana yang megah tapi begini. Di bawah tatapan ibu yang tak terlihat merindukannya. Ditambah, kehilangan hormat dari sosok adik yang menjadi satu-satunya pilar harapannya untuk bisa betah. 

“Tapi sayangnya aku harus tetap tinggal di sini. Kalau aku nekat kabur, Bik Harni bisa... dipenjara."

Amara memandang langit-langit kamar dengan sorot gamang.

“Pliss, Tuhan. Bantu aku biar nggak stres selama di sini."

Itu sama sekali tak menyerupai sebuah doa, tapi request yang 'super duper mendesak pake banget'.

Ah. Sial. 

Hidupnya tentu tidak akan sama lagi dengan yang kemarin. Akan ada banyak aturan yang mengekang di bawah tatapan intimidasi ibunya. Belum lagi tatapan ayahnya yang datar khas seorang Presiden Direktur yang sibuk. Juga tatapan Chandra yang— 

“Aahhh. Bodo amatlah!” 

Amara menenggelamkan wajahnya di atas bantal. Ingin berhenti berpikir, tapi otaknya malah hiperaktif membuat beragam perhitungan “bagaimana kalau nanti dan bagaimana jika”.

Huh. Baiklah. 

Amara duduk. Bersila. Membuat sikap dasar meditasi.

Tarik napas. Keluarkan.

“Begini saja Amara, masa lalu bukanlah hal yang bisa kau kendalikan. Jadi mari kita fokus pada hal-hal yang bisa kau kendalikan.”

Entah, darimana datangnya sisi kebijaksanaan itu. Mungkin wangsit yang tiba-tiba datang setelah cakra mahkotanya terbuka.

Setidaknya, pikiran itu cukup membuatnya tenang.

Oke. Posisi Amara sebelumnya boleh saja rendah di mata Chandra. Tapi itu hanya terjadi di Vila Aster, jauh di Bali sana.

Sekarang, mereka bertemu lagi di rumah ini, sebagai kakak dan adik.

“Ingat, Mara. Posisimu sekarang adalah kakaknya. Sekali lagi, kakaknya. Jadi, mari bersikap layaknya seorang kakak. Ambil lagi kendalimu, oke?”

Amara bermonolog dalam pikirannya. Seolah ada dua Amara dalam dirinya yang sedang berdiskusi.

“Ya, oke. Tapi gimana kalau dia memandangku lagi seperti… tadi?”

“Pelototi saja, omeli… bila perlu jewer seperti kamu sering memarahai dia sewaktu kecil dulu, di belakang ibumu.”

Amara tersenyum sedikit saat membayangkan masa itu: ibunya yang tak pernah tahu bagaimana anak lelaki kesayangannya itu diam-diam ia ringsak di balik punggungnya. Dan Chandra kecil waktu itu cuma bisa pasrah.

Ah, baiklah. Mari fokus pada kehidupan sekarang. Biarlah malam itu menjadi skandal yang hanya diketahui oleh dirinya dan Chandra saja.

Amara mengatur ritme napasnya, masih dengan posisi meditasi.

Pikirannya sudah sedikit tenang sekarang. 

“Sekarang aku adalah Amara yang baru. Aku anak sulung dari keluarga Sanjaya yang terhormat,” batinnya, mencoba menciptakan ketenangan dari kekacauan yang terjadi di luar dirinya.

“Selamat tinggal masa lalu dan selamat datang masa depan.”

Amara bertekad menata diri, membangun kembali puing-puing harga dirinya yang sempat runtuh di mata adiknya sendiri.

Tiba-tiba, ia merasakan tekanan di kandung kemihnya.

“Ck. Lagi fokus meditasi malah kebelet pipis," gerutunya sambil beranjak menuruni ranjang. 

"Ah, sial. Kran kamar mandi di kamarku masih bermasalah.”

Ya. Tadi sore air dari krannya tiba-tiba saja mati. Untung saja Amara sudah sempat cebok. Ibunya bilang besok pagi akan segera diperbaiki. 

Amara bersungut-sungut dalam hatinya sambil bergegas cepat keluar kamar, ingin pakai kamar mandi luar yang berada di ujung lorong. Dan tiba-tiba saja... 

BRUK!

Ia menabrak seseorang yang baru akan melintas di depan kamarnya.

Tubuhnya oleng, hampir jatuh, namun dalam satu tarikan cepat, Amara sudah terkunci di dada orang itu.

Dada bidang yang ia kenal. 

Amara mendongak dan tercekat. 

“Chandra…?” 

"Amara..."

Desah napas mereka masih sama-sama kaget dan saling bertabrakan di antara ruang kecil antara wajah mereka.

Begitu dekat.

Hanya butuh satu gerakan kecil untuk mengulang "hal yang seharusnya tidak boleh terjadi" di antara kakak dan adik.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Adik Angkatku, Kekasih Gelapku   59. Masa Lalu Tetap Membayang

    Lift mall itu turun mulus. Mungkin karena lift ini sudah biasa mengangkut orang-orang yang hidupnya juga mulus—atau setidaknya kelihatan mulus dari luar. Soalnya di dunia orang kaya, perasaan itu seperti noda minyak: kalau ada, harus disembunyikan. Kalau tumpah, harus segera dilap.Amara berdiri di sisi kanan Nyonya Lydia. Posisi aman. Tak terlalu dekat sampai terlihat nempel kayak perangko, tapi juga tak jauh sampai terlihat seperti staf yang kebetulan ikutan.Di tangannya ada dua paper bag kecil. Imut. Mengkilap. Beratnya bukan karena barangnya berat—tapi karena simbolnya.Di dunia ini, bawa paper bag dari butik mewah itu bukan soal belanja. Itu soal pamer.Amara menghela napas. Ia menyadari statusnya sebagai Nona Sanjaya lama-lama bikin ketagihan, karena ternyata jadi orang kaya itu… ya memang enak.Beberapa hari terakhir, Amara mulai terbiasa dengan hal-hal yang dulu mustahil: staf yang langsung menyingkir memberi jalan, pramuniaga yang menunduk sambil bilang, “Selamat datang, Non

  • Adik Angkatku, Kekasih Gelapku   58. Kehadiran yang Mulai Diterima

    Mall mewah itu tetap sama: lantainya mengilap seperti cermin kejujuran yang terlalu mahal untuk diinjak sembarangan, lampu-lampunya berkilau seperti sedang pamer berapa banyak orang kaya yang sudah mereka saksi bisukan hari ini.Amara berjalan setengah langkah di belakang Nyonya Lydia.Langkahnya pendek, terukur. Bahu lurus. Dagunya sedikit terangkat. Wajahnya tenang—versi dirinya yang baru, versi yang tidak mengedip berlebihan, tidak memandang sekitar dengan rasa tidak pantas, dan tidak tampak seperti perempuan yang dulu lebih sering berdiri di balik tirai spa daripada etalase butik.Amara hafal betul ritmenya sekarang.Di luar: anggun.Di dalam: waspada seperti kucing yang dilempar ke akuarium ikan mahal.“Setelah ini kita ke butik di lantai satu,” kata Nyonya Lydia sambil berjalan, suaranya datar, fokus pada rencana belanja seperti sedang menyusun strategi perang. “Mama mau lihat koleksi terbaru mereka. David akan suka.”Amara nyaris memutar bola mata. Tentu saja. Semua selalu be

  • Adik Angkatku, Kekasih Gelapku   57. Sejauh Apa

    Ruang pelatihan etiket itu wangi. Seolah bunga-bunga diperas jadi parfum lalu disemprotkan ke udara sampai orang yang masuk ikut berubah jadi “berkelas” tanpa diminta pendapatnya.Amara duduk di kursi berlapis kain krem, punggung tegak, dagu sedikit terangkat, kedua tangan bertumpu ringan di atas paha. Posisi itu ia hafal. Bukan karena ia suka. Tapi karena setiap kali ia lupa, instruktur di depannya akan mengoreksi dengan suara yang sama rapi seperti garis-garis pada buku panduan.“Postur,” kata instruktur itu lagi. Perempuan berusia lima puluhan dengan rambut disanggul, lipstik nude, dan senyum yang selalu terlihat seperti hasil latihan. “Bayangkan ada tali yang menarik kepala Anda ke atas.”Amara membayangkan. Yang ia bayangkan bukan tali, melainkan tangan Nyonya Lydia yang mengangkat dagunya seperti memeriksa barang.Amara menghela napas, menegakkan punggung sedikit lagi.“Bagus, Nona Amara.” Instruktur mengangguk. “Sekarang, kita latihan cara menolak makanan tanpa terlihat menolak

  • Adik Angkatku, Kekasih Gelapku   56. Teman Tapi Menikung

    Chandra kembali masuk ke kantor seperti seseorang yang berusaha membuktikan pada dunia—dan pada dirinya sendiri—bahwa ia masih orang yang sama.Lift berhenti di lantai eksekutif. Pintu terbuka. Udara dingin dan wangi kayu mahal menyambutnya. Ia berjalan lurus, langkahnya stabil, jasnya rapi, ekspresinya terkunci di mode yang selalu berhasil: tenang, fokus, tak tersentuh.Di meja, Raka sudah menunggu dengan map tebal dan satu tablet yang menampilkan jadwal rapat hari itu.“Selamat pagi, Pak. Untuk proyek properti—tim planning sudah siap presentasi. Direksi minta Anda pimpin langsung.”Chandra mengangguk. Ia mengambil map itu tanpa melihat isinya dulu, seperti seseorang yang sudah tahu tiap halaman akan berbicara dengan bahasa yang ia kuasai.“Nama proyeknya?” tanyanya sambil berjalan.“Project Meridian,” jawab Raka. “Mixed-use. Premium. Strategis.”Meridian.Nama yang terdengar seperti sesuatu yang besar, sesuatu yang harus ditangani oleh pewaris yang tepat. Sesuatu yang harusnya membu

  • Adik Angkatku, Kekasih Gelapku   55. Sebuah Alasan

    Pagi di rumah keluarga Sanjaya selalu datang dengan dua hal: cahaya yang terlalu rapi, dan aura “silakan salah sedikit supaya bisa diadili.”Amara berdiri di depan lemari, menatap dirinya sendiri seperti sedang mengecek apakah ia sudah layak naik pangkat dari “makanan sisa” jadi “menu utama” di meja makan nanti.Pixie cut-nya masih sama—tegas, ringan, sedikit menyebalkan karena bikin wajahnya terlihat “siap debat” bahkan saat ia cuma mau sarapan. Hari ini ia pakai setelan rumah yang terlalu mahal untuk ukuran orang yang sebenarnya cuma mau makan telur.Fakta bahwa hari ini ia akan sarapan bersama anggota lengkap keluarga Sanjaya, cukup membuatnya gugup.Amara menghembuskan napas panjang.“Oke, Mara,” gumamnya pada cermin. “Kamu sekarang keluarga ningrat. No minder-minder club.”Ia turun ke ruang makan dengan langkah yang ia latih sendiri: tidak terburu-buru, tidak menunduk, tidak kelihatan seperti “maaf numpang hidup.”Di ruang makan, meja panjang sudah tersaji seperti sesi pemotreta

  • Adik Angkatku, Kekasih Gelapku   54. Janji yang Manis

    Mata Amara perlahan naik ke wajah Chandra.Dan untuk pertama kalinya malam itu, Amara tidak punya kata balasan.Chandra juga seperti baru tersadar ia barusan menjatuhkan dirinya sendiri. Bibirnya membuka, menutup. Sekali. Dua kali.“Aku—” suaranya serak. “Bukan maksud—”Ia mengusap wajahnya lagi, kasar, lalu tertawa sekali—tawa yang benar-benar kalah.“Sial,” katanya lirih, bukan umpatan untuk Amara. Untuk dirinya sendiri.Amara menelan ludah. Ia membuang tatapannya agar Chandra tak melihat bagaimana wajahnya saat ini sedang merona merah. ‘Kenapa dia harus ungkit-ungkit masalah tidur lagi, sih!’Chandra mengusap wajahnya sekali lagi. “Lupakan yang kukatakan tadi,” katanya cepat, seperti orang yang buru-buru menutup pintu sebelum ada yang masuk. “Aku sudah lupa,” Amara membalas, nada suaranya lebih dingin dari yang ia rasakan, “tapi kamu sendiri yang mengungkitnya. Aku sudah selesai dengan itu, tapi sepertinya kamu yang belum.”Kalimat itu jatuh tajam, tapi bukan karena Amara ingin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status