LOGINTiffany tersenyum sambil mencubit manja tangan Kirana. "Ah, Mama. Populer apaan, sih?" Katanya pura - pura bersungut. Ia memang populer tapi dalam kasus berhutang pada teman. Dan semua itu gara - gara Viona. 'Viona!'Tiffany tersentak dan membuat dadanya sakit. "Kenapa, Sayang? Sakit lagi?" Tanya Kirana cemas. Ia langsung memencet bel sebelum Tiffany sempat menahannya. "Ma! Aku nggak papa!" Katanya sambil meringis. Perawat datang dan segera memeriksa keadaan Kirana. "Sementara Saya beri pereda nyeri, ya? Jangan banyak bergerak dulu." Katanya seraya keluar untuk mengambil obat yang ia maksud. Perawat itu kembali lagi untuk menyuntikkan obat pereda nyeri itu di selang infusnya."Berapa lama harus seperti ini, Sus?" Tanya Sandro cemas. "Tiffany harus bedrest setidaknya dua bulan." Sahut perawat itu. Kirana dan Sandro menghela nafas dan menatap Tiffany dengan iba. "Kuliahku gimana?" Protes Tiffany. Ia ingin segera pulih untuk mengejar Viona lagi. Tentu saja ia harus kuliah ag
Safira terhenyak. 'Evara benar.' gumam hatinya.Jaman digital sekarang ini tentu akan mudah bagi keluarga korban untuk mencari putri dari kerabanya itu. Tapi itu tidak mereka lakukan dan Evara sepertinya tidak ingin mengetahui semua itu. "Eva, maafkan Ibu, ya? Ibu sudah sangat jahat..""Ibu, Kita tutup buku, ya?" Potong Evara tak terduga. "Apa maksudmu dengan tutup buku?" Tanya Safira bingung. "Kita tutup semua yang sudah lewat. Kita mulai lagi dengan lembaran baru. Aku tahu Ibu mulai menyayangiku." Kata Evara sungguh - sungguh. Safira merentangkan tangannya dan kembali memeluk Evara. Evara selalu bersikap baik padanya dalam keadaan susah dulu sampai sekarang saat ia sudah dapat melimpahinya dengan kekayaan yang dimiliki suaminya. Evara selalu menunjukkan bakti dan cintanya pada Safira. Ia juga tidak pernah menyimpan dendam atas kelakuan Safira di masa lalu. "Maafkan Ibu." Bisik Safira. Dalam beberapa saat mereka tetap berpelukan. Evara yang melepas pelukannya lebih dulu. "Ayo
Deden mulai mengkhawatirkan Poksi. Ia pernah mendengar Adamis yang kaku dan dingin tapi ia tidak menyangka Adamis akan sekejam itu. Poksi tertawa melihat gurat cemas di wajah Deden. "Bercanda, Bro." Katanya santai sambil menepuk bahu temannya itu. "Aku malah senang. Aku akhirnya berhadapan langsung dengan CEO Kita tadi." Kata Poksi lagi. Deden menghela nafas lega. Ternyata Adamis memang tidak sekejam itu. "Tuan Adamis itu masih sangat muda. Tapi ia kelihatan angker dengan kharismanya." Puji Poksi."Tentu saja angker. Namanya juga bigboss. Lain sama Kita." Sahut Deden. "Aku ingin mengenalnya lebih dekat. Bagaimana, ya?" Tanya Poksi berharap. Deden melongo mendengar harapan Poksi. Ia sendiri tidak pernah berharap seperti itu. Melihatnya saja juga tidak ingin. Yang penting untuknya adalah bekerja dengan baik. Itu saja. Poksi tidak tahu kalau Adamis adalah kakak ipar Athena, orang yang menganggapnya laki - laki yang tidak bertanggung jawab. Safira dan Evara sudah berada di rumah
Brian dulu mengarahkan adiknya untuk melepas perusahan - perusahaan yang sekiranya sudah sanggup berdiri sendiri. Salah satunya adalah bintang abadi. "Bukannya sayang ya, Kak. Kita padahal masih bisa mengambil keuntungan dari mereka." Sanggah Adamis waktu itu."Jangan serakah, Dami. Rizki itu pasti mencari jalannya sendiri. Tidak dapat dari mereka, Kita pasti dapat dari jalan yang lain. Biarkan mereka berdiri di kakinya sendiri dan mendapatkan labanya untuk mereka sendiri kalau mereka sudah merasa mampu." Kata Brian yang terkenal bijak dan welas asih itu. "Rizki itu juga amanah. Mudah - mudahan Kita sudah menyampaikan amanah itu dengan tepat." Kata Brian lagi. Adamis selalu mengagumi pemikiran sang kakak. Juga dalam menemukan cintanya pada gadis miskin seperti Evara. "Pemikiranmu selalu akurat, Kak bahkan dalam memilih calon istri. Sayang Kami nggak menyadarinya saat itu." Keluh Adamis menyesal. Satu hal yang tidak ia sesali dari kepergian Brian adalah peninggalannya yang berharg
"Mama ingin melihat Caesar." Kata mama Pakai seperti mengigau. Matanya kosong melihat lurus entah kemana. Poksi melihat Sintia yang sudah siap berangkat ke sekolah. Sintia juga seperti kebingungan. Ia tidak tega meninggalkan sang mama sendirian. Poksi juga sudah siap berangkat sekarang. "Kamu nggak usah sekolah. Temani mama saja." Bisik Poksi. "Nggak bisa, Kak. Aku udah sering izin bulan ini." Bantah Sintia resah. "Kakak aja yang di rumah." Kata Sintia lagi. "Nggak bisa!" Sentak Poksi. Ia benar - benar galau. Bagaimana ini? "Mama, besok hari sabtu. Kita akan ke rumah Viona untuk melihat Caesar." Kata Poksi akhirnya. Mata sang mama yang tadi terlihat kosong mulai terlihat cahaya yang berbinar. "Beneran? Kamu nggak lagi membohongi Mama, kan?" Tanya sang mama dengan suara bergetar. Tatapannya begitu berharap dalam binarnya. Poksi menghela nafas sebelum menganggukkan kepalanya. "Tapi.. Tapi.. Bagaimana kalau Mama Viona menolak Kita?" Tanyanya cemas. Ia teringat tatapan Adelia
"Aku bawakan anakmu bersama pengasuhnya sekaligus!" Kata Sandro seraya tersenyum simpul. Ia merasa sangat berjasa pada Poksi sekarang, terbukti dari sikap Poksi dan mamanya. "Boleh Kami membawanya pulang?" Tanya mama Poksi berharap. Caesar sudah berada dalam gendongannya. Tidak merepotkan untuknya jika langsung membawanya pulang. Mina menelan salivanya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. "Nggak bisa! Itu cucuku!"Teriakan Adelia membuat semua orang menengok ke arah suara. Adelia dengan cepat menghampiri dan merebut Caesar dari gendongan mama Poksi sebelum mama Poksi menyadarinya. Hentakan dari Adelia membuat Caesar terbangun. Ia langsung menangis, "Maa...!!" "Tenang, Sayang. Ini Oma." Bujuk Adelia. Tangisan Caesar berhenti mendengar suara Sang oma. Ia menempelkan kepalanya di dada Adelia untuk mencari rasa aman. Mama Poksi merasa bersalah. Ia tahu mereka tidak mempunyai hak untuk merampas Caesar begitu saja. "Maafkan Aku." Katanya dengan suara lemah. "Aku hanya merasa baha
Athena menggeleng. Ia ingin cepat - cepat pulang dan berbicara serius dengan Safira. Ia berencana tidak akan lama berpacaran dengan Siska karena ia ingin segera menjadikannya sebagai istrinya. "Aku harus pulang." Katanya sambil mengusap rambut Siska yang turun ke dahinya. Siska mengangguk. Ia men
"Baik, Nyonya." Jawab Robby. Robby menatap sosok Athena yang berdiri kaku karena tidak tahu harus melakukan apa. Robby sendiri sudah mendapat pemberitahuan langsung dari Adamis. "Bimbing Dia ke arah yang benar." Canda Adamis tadi melalui ponselnya"Maksud Tuan Muda?" Tanya Robby tidak mengerti.
Anthony membelalakkan matanya. Tebakan Adamis benar. Secara naluriah ia takut akan kepintaran Adamis. Ia tidak bisa memecatnya kalau sudah begini. Dan itu akan membuat posisinya terancam. Secara Adamis adalah kerabat Vicky. Bagaimana kalau ia mengalihkan jabatannya pada Adamis kalau ia menganggapny
Athena tersenyum sinis saat akhirnya perceraiannya dengan Viona diputuskan untuk ditunda hingga Viona melahirkan.Athena berdiri dengan kedua tangan terkepal. Ia berjalan mendekati hakim yang memproses perceraiannya dengan Viona. "Pak Hakim, apa Anda tau kalau anak dalam kandungannya itu benar - b







