Share

Chapter 27.

Author: Razi Maulidi
last update publish date: 2026-04-15 00:28:39

Bab 27: Mendekati Musuh

Harum teh Earl Grey dan aroma patisserie Prancis mengisi udara ruang tamu Alessia yang luas. Warna abu-abu monokrom mendominasi interior modern rumah barunya, memancarkan kesan dingin sekaligus elegan. Sebuah lukisan abstrak berukuran besar tergantung megah di dinding di atas fireplace minimalis, menangkap kilauan mata dingin Alessia saat ia menatap cangkir teh porselen di hadapannya. Jari-jari lentiknya mengetuk perlahan tepian cangkir, menahan gejolak di dadanya. Bu Wi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 44. Penjaga dalam Kegelapan

    Bab 44: Penjaga dalam KegelapanGema suara Alessia di podium tadi masih terngiang-ngiang di koridor gedung yang mulai sepi. Pernyataan "Saya bukan siapa-siapa" adalah sebuah hantaman telak yang membalikkan meja permainan. Namun, di balik keberanian itu, ada harga mahal yang harus dibayar. Keamanan yang selama ini menjadi tameng A-Legacy kini retak; Alessia bukan lagi sosok misterius yang tak tersentuh, ia telah menjadi manusia yang memiliki sejarah, luka, dan yang paling berbahaya bagi seorang pemimpin—celah.Di lantai mezzanine yang remang-remang, tersembunyi di balik pilar beton yang dingin, **Adrian** berdiri mematung. Topi hitamnya ditarik rendah hingga menutupi sebagian matanya yang letih. Dari titik pandang itu, ia bisa melihat segalanya tanpa terlihat. Ia melihat Alessia yang sedang menyeka keringat tipis di pelipisnya saat ia melangkah menuju ruang privasi, dikawal ketat oleh Rico dan Raka.Adrian meremas pagar besi di depannya. Ada dorongan purba dalam dirinya untuk berlari t

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 43.

    Bab 43: Pilihan yang Memaksa Langkah mereka bergema di lorong panjang gedung itu. Dinding kaca di sisi kanan memantulkan bayangan keduanya—Alessia di depan, tegap dan dingin seperti biasa. Raka di belakang, langkahnya tenang namun penuh tekad. Namun bayangan itu… tidak lagi sama seperti sebelumnya.Ada sesuatu yang berubah.Sesuatu yang tidak bisa disembunyikan lagi. Pintu ruang utama terbuka otomatis. Rico sudah menunggu di dalam, bersama beberapa anggota tim inti. Begitu Alessia masuk, semua langsung berdiri.“Ibu, laporan terbaru sudah masuk,” ujar Rico cepat.Alessia langsung kembali ke ritmenya.“Bicara.”Rico langsung menyalakan layar. Beberapa data muncul di dalamnya. Pergerakan aset. Serta aliran dana. Dan—yang paling mencolok—media.“Beberapa portal berita sudah mulai menerima bocoran,” jelas Rico. “Belum dipublikasikan secara luas, tapi ini hanya soal waktu.”Alessia menatap layar itu tanpa ekspresi.“Isi bocorannya?”“Identitas lama Anda. Riwayat pekerjaan di kafe. Dan

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 42.

    Bab 42: Retak yang Tidak Bisa Disembunyikan Mobil melaju cepat menembus jalanan kota yang mulai padat. Sirine samar terdengar di kejauhan—entah dari polisi, ambulans, atau mungkin hanya ilusi dari ketegangan yang belum mereda. Di dalam mobil, suasana jauh lebih sunyi daripada luar. Raka duduk di kursi belakang. Tangannya masih mengepal. Napasnya belum sepenuhnya stabil. Namun matanya—tetap tajam dan fokus. Seolah masih berada di dalam kafe itu. Di hadapannya, salah satu anggota tim pengamanan sesekali melirik lewat kaca spion.“Pak, kita akan langsung menuju lokasi aman.”Raka tidak menjawab. Ia hanya menatap ke luar jendela. Gedung-gedung berlalu cepat. Orang-orang berjalan seperti biasa. Seolah tidak ada yang terjadi. Padahal— dunia mereka baru saja berubah. Di mobil lain, beberapa meter di belakang—Alessia duduk sendiri. Tidak ada suara. Tidak ada komunikasi. Hanya pikirannya yang terus berulang. Kejadian di kafe itu, dan juga gerakan lawan. Jumlah mereka yang

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 41.

    Bab 41: Saat Semua Terbuka Udara di dalam kafe terasa berubah. Apa yang tadinya hanya dipenuhi aroma kopi dan suara pelan percakapan kini berubah menjadi sesuatu yang lebih berat. Lebih menekan. Seolah seluruh ruang itu menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Alessia tidak bergerak. Tatapannya tetap mengunci satu titik—kamera kecil yang tersembunyi di sudut ruangan. Benda itu nyaris tak terlihat, namun cukup jelas bagi seseorang dengan insting seperti dirinya. Raka mengikuti arah pandangannya. Dan saat ia menyadari—rahangnya mengeras.“Sejak kapan?” tanyanya pelan.“Tidak tahu,” jawab Alessia singkat. “Tapi cukup lama untuk membuat kita masuk ke dalam permainan mereka.”Hening. Beberapa detik yang terasa panjang. Lalu Raka bersandar sedikit ke kursinya, mencoba tetap terlihat santai, meskipun matanya mulai berubah.“Tadi kamu bilang… kita tidak sendirian,” ujarnya pelan. “Berarti—”“Berarti kita sedang ditonton,” potong Alessia.Nada suaranya rendah. Terkontrol. Namun ada

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 40.

    Bab 40: Saat yang Tidak Bisa Dihindari Pagi terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena cuaca. Tapi karena tekanan yang menggantung di udara, tak terlihat namun terasa jelas bagi mereka yang terlibat di dalamnya. Di ruang kerja Alessia, tirai belum dibuka sepenuhnya. Cahaya matahari masuk setengah hati, menciptakan bayangan panjang yang membelah ruangan. Alessia berdiri diam di dekat meja. Matanya tertuju pada satu titik— laci.Tempat kotak roti itu disimpan. Simbol dari sesuatu yang ia coba kubur. Namun kini… tidak lagi bisa disembunyikan. Tangannya perlahan membuka laci itu. Kotak itu masih di sana. Masih utuh. Dia diam. Seolah menunggu. Alessia menatapnya beberapa detik. Lalu menutupnya kembali. Dengan keras.“Aku tidak punya waktu untuk ini,” gumamnya.Namun suara itu terdengar lebih seperti pengingkaran.Pintu terbuka. Rico masuk dengan langkah cepat.“Ibu, ada perkembangan.”Alessia langsung berbalik.“Bicara.”Rico menarik napas.“Pergerakan pihak Dania meningkat. Be

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 39.

    Bab 39: Tekanan yang Mematahkan Gedung kosong itu kembali sunyi. Namun keheningan kali ini berbeda. Lebih berat. Lebih terasa menekan. Seolah udara di dalamnya masih menyimpan sisa benturan yang belum terjadi.Alessia berdiri di tempatnya, tidak bergerak bahkan setelah Dania dan seluruh orangnya menghilang. Tatapannya tetap lurus ke depan, namun pikirannya berputar cepat. Ia tahu. Ini belum selesai. Justru… baru dimulai.“Ibu…” suara Rico terdengar pelan di belakangnya.Tidak ada jawaban.“Ibu Alessia,” ulangnya, sedikit lebih tegas.Baru kali ini Alessia mengedipkan mata, seolah kembali dari pikirannya yang dalam.“Kita harus pergi dari sini.”Alessia menarik napas pelan.“Ya.”Namun langkahnya tidak langsung bergerak. Ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang tidak bisa ia abaikan. Tatapan Dania tadi. Kalimat terakhirnya.*Jaga dia baik-baik.*Bukan ancaman biasa. Itu peringatan. Dan Alessia tahu—Dania bukan tipe yang berbicara tanpa rencana.“Rico,” ucapnya tiba-tiba.“

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 10. Titik Nol di kota Asing

    Bab 10: Titik Nol di Kota AsingTayangan berita di televisi usang terminal bus itu terus berputar, mengulang kebahagiaan Adrian dan Dania yang terasa seperti tamparan keras di wajah Alessia. Pertunangan mereka, perut Dania yang membuncit, senyum kemenangan mereka—semua itu adalah racun yang membaka

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 9. Sisa sisa harga diri

    Bab 9: Sisa-Sisa Harga DiriHujan masih mengguyur deras ketika Alessia berjalan menjauh dari gerbang rumahnya yang kini terasa seperti monumen pengkhianatan. Kopernya yang basah dan berat bergesekan dengan kakinya, setiap langkahnya terasa seperti menyeret beban ribuan kilo. Pakaiannya kuyup, rambu

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    bab 8. pengusiran dari surga

    Bab 8: Pengusiran dari SurgaUdara di luar gedung pengadilan terasa mencekik, lebih dingin dari hati Alessia yang kini hancur berkeping-keping. Setiap langkahnya di trotoar yang basah oleh sisa hujan pagi terasa berat, seolah ia membawa beban ribuan kilogram di pundaknya. Kata-kata Hakim yang mengh

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 7. Badai di Ruang Sidang

    Bab 7: Badai di Ruang SidangRuang sidang keluarga itu terasa dingin, bahkan di bawah sorotan lampu yang terang benderang. Alessia duduk di bangku terdakwa, mengenakan setelan blazer hitam sederhana yang dulunya adalah salah satu pakaian kerjanya. Kini, pakaian itu terasa seperti seragam narapidana

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status