로그인Pagi itu, gedung A-Legacy berdiri lebih angkuh dari biasanya. Tidak ada lagi gosip miring di kantin karyawan, tidak ada lagi bisikan tentang pengkhianatan di ruang direksi. Nama Raka dan Dania telah terhapus dari sejarah perusahaan, terkubur di balik jeruji besi yang dingin. Alessia telah berhasil melakukan apa yang dianggap mustahil oleh banyak orang: ia membersihkan kerajaannya dari akar hingga ke pucuk.Di ruang kerjanya yang luas, Alessia berdiri di depan jendela kaca besar. Ia tidak lagi menatap ke bawah, ke arah jalanan yang sibuk, melainkan menatap jauh ke cakrawala. Di tangannya, ia memegang sebuah foto kecil yang sudah menguning—foto ayah angkatnya yang sedang tersenyum."Sudah selesai, Pa," bisiknya. "Semuanya sudah kembali ke tempatnya."---# Warisan yang DibersihkanLangkah kaki Rico yang mantap terdengar mendekat. "Nona, semua dokumen pelimpahan dana untuk yayasan panti asuhan sudah selesai ditandatangani. Sesuai permintaan Anda, sebagian besar laba dari penyitaan aset k
Pagi itu, langit Jakarta tampak kelabu, seolah-olah awan sedang menahan napas menyaksikan babak terakhir dari sebuah drama panjang. Ruang rapat utama di lantai 70 gedung A-Legacy telah diatur sedemikian rupa. Meja oval panjang dari kayu mahoni yang mengkilap menjadi saksi bisu berkumpulnya para pemegang saham dan jajaran direksi.Raka duduk di ujung meja dengan posisi yang sangat santai, hampir terkesan meremehkan. Ia mengenakan setelan jas abu-abu mahal, tangannya sibuk membolak-balikkan map proposal merger Singapura yang sempat ditolak Alessia. Di sampingnya, dua direktur senior tampak berbisik-bisik dengan wajah tegang. Mereka telah dijanjikan posisi yang lebih tinggi jika mosi tidak percaya terhadap Alessia berhasil hari ini."Mana Nona Alessia? Kita tidak punya waktu seharian untuk menunggu seorang pemimpin yang tidak disiplin," ujar Raka dengan suara keras, sengaja agar didengar oleh seluruh ruangan.Tepat saat kalimat itu selesai, pintu ganda ruang rapat terbuka lebar. Alessia
Keheningan malam di kantor pusat A-Legacy biasanya terasa menenangkan bagi Alessia, namun malam ini, keheningan itu terasa seperti predator yang sedang mengintai. Setelah perjamuan yang melelahkan, ia tidak segera pulang. Ia duduk di kursi kerjanya, memutar-mutar sebuah pulpen perak, sementara pikirannya melayang pada laporan rahasia yang baru saja diberikan oleh Rico sebelum ia pergi.Laporan itu bukan tentang Adrian, melainkan tentang Raka.Selama beberapa bulan terakhir, Raka telah menjadi tangan kanan yang sangat efisien. Namun, ambisi pria itu mulai menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Rico menemukan beberapa aliran dana kecil yang dialihkan ke perusahaan cangkang di luar negeri—metode yang sangat mirip dengan apa yang dulu dilakukan oleh keluarga Adrian. Sepertinya, kursi kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan Dania mulai menggoda Raka untuk mengisi posisi "penguasa di balik layar"."Kau terlalu cepat merasa menang, Raka," gumam Alessia pada kegelapan ruangan.---# Per
Pagi hari di Jakarta tidak pernah peduli pada tragedi semalam. Matahari terbit dengan angkuh, menyinari gedung-gedung pencakar langit yang tetap berdiri tegak, termasuk menara A-Legacy yang kini menjadi simbol kekuasaan tunggal Alessia. Namun, di dalam dinding kaca yang dingin itu, suasana tidak sesegar udara pagi. Alessia duduk di meja kerjanya, bukan untuk merayakan kemenangan, melainkan untuk menandatangani tumpukan dokumen penyitaan yang dikirimkan oleh tim hukumnya.Setiap lembar kertas yang ia tanda tangani adalah paku terakhir di peti mati finansial keluarga Adrian. Rumah utama di Menteng: disita. Koleksi mobil mewah: disita. Apartemen rahasia di Dharmawangsa yang sempat disebut-sebut Mami Widya: juga masuk dalam daftar sita berkat informasi dari mata-mata Rico. Alessia tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi mereka untuk bernapas dalam kemewahan."Nona, tim kurator akan bergerak jam sepuluh pagi ini," lapor Raka yang masuk dengan wajah cerah. Ia tampak sangat menikmati kehancu
Kepergian Dania yang diseret oleh pihak berwenang tidak serta-merta membawa kedamaian ke koridor lantai ICU itu. Sebaliknya, yang tersisa hanyalah keheningan yang menyesakkan, jenis keheningan yang biasa mengikuti ledakan besar—telinga berdenging, napas berat, dan aroma antiseptik yang bercampur dengan bau hujan yang terbawa masuk dari pakaian mereka yang basah. Alessia masih berdiri di depan jendela besar, menatap pantulan dirinya yang samar di kaca. Di belakangnya, Adrian mematung. Pria itu tampak seperti reruntuhan dari sosok yang dulu pernah memikat hatinya; bahunya merosot, wajahnya penuh lebam, dan matanya mencerminkan kehancuran yang tidak bisa diperbaiki oleh kata maaf mana pun.Di dalam ruangan, suara monitor jantung Prabowo kembali ke ritme yang stabil namun lemah. Mami Widya terdengar menggumamkan doa-doa yang terdengar hampa, sesekali memanggil nama suaminya dengan nada putus asa. Wanita yang dulunya memuja kemewahan itu kini hanya bisa memeluk tas kulit buayanya ya
Suasana di dalam ruang ICU berubah menjadi medan pertempuran emosional yang menghancurkan. Sementara di koridor luar Alessia dan Rico menahan pergerakan Dania, Adrian berlutut di samping tempat tidur ayahnya. Pemandangan di depannya jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan. Wajah Prabowo tampak membiru, dan mesin ventilator mengeluarkan bunyi peringatan yang melengking, menandakan adanya gangguan pada suplai oksigen akibat sabotase kecil yang dilakukan Dania sebelumnya."Dokter! Suster! Kemari!" teriak Adrian dengan suara serak. Ia tidak memedulikan tangannya yang gemetar saat mencoba merapikan letak masker oksigen ayahnya. Di sudut ruangan, Mami Widya mulai tersadar dari pingsannya, namun ia hanya bisa merangkak mendekat dengan isak tangis yang memilukan. Keserakahannya selama ini telah menguap, digantikan oleh kengerian melihat suaminya sedang meregang nyawa di depan matanya sendiri.---# Konfrontasi Dua RatuDi luar, ketegangan antara Alessia dan Dania mencapai puncaknya. Dan
Bab 25: Konfrontasi di Balik Layar Ruangan ballroom masih bergemuruh dengan tepuk tangan saat Alessia turun dari podium. Aura dominannya seolah menempel di setiap inci udara yang ia lalui. Ia berjalan dengan anggun, mata dinginnya sesekali menyapu kerumunan yang kini menatapnya dengan kekaguma
Bab 24: Rencana SabotaseRuang VIP hotel tempat Gala Amal diselenggarakan mendadak gaduh setelah Alessia meninggalkan panggung. Para fotografer masih berebut mendapatkan gambar Adrian yang mematung, dan Dania yang histeris, diselingi sorotan kamera yang berkedip tanpa henti."Kamu gila! Apa yang ba
Bab 23: Sang Mawar Hitam MunculSebuah gelombang kejutan menyapu ballroom megah itu saat nama Alessia Surya menggaung dari pengeras suara. Bisik-bisik, yang awalnya pelan, kini meledak menjadi riuh rendah. Semua mata, tanpa terkecuali, terbelalak lebar menatap ke arah pintu masuk utama. Paparazzi b
Bab 22: Undangan Berdarah part 2 "Astaga, Adrian! Jadi Mami nggak boleh mendekati si 'The Black Rose' ini?" Bu Widya bertanya. Matanya tajam, seolah menguji putranya. Ia jelas sudah melihat kemungkinan lain di kepala Adrian, apalagi ia pernah mengamati gerak gerik Dania."Boleh saja, Mami," A







