Accueil / Romansa / Adinda / Giyo Ramadhan

Partager

Giyo Ramadhan

Auteur: Adiarizki
last update Date de publication: 2021-04-01 12:54:12

Adinda masih betah berdiri memperhatikan pria yang tengah asyik bercerita bersama sang ayah. Kedua orang itu tampak cocok dalam beberapa hal. Entah bagaimana, keduanya tampak memiliki karakteristik yang sama. Serta keduanya tampak sama-sama memiliki pendirian yang teguh. Tak dapat digoyahkan dengan mudah.

Yang sang ayah tidak duga adalah, pemuda yang sedang menjadi lawan bicaranya ini sebenarnya tengah mengincar anak semata wayangnya. Beliau hanya tahu, bahwa pemuda itu memang anak dari teman dekat istrinya. Dan pemuda ini memiliki latar belakang yang kurang lebih sama dengan dirinya. Karena sejatinya Bapak Anjas Bradi ini, adalah mantan mafia besar di Provinsi Beluk. Tanah kelahiran Beliau dan anak istrinya.

“Kakak, ngapain, sih pakai ke sini segala? ‘Kan aku jadi deg-degan,” gumam Adinda seraya memeluk bagian tembok putih kamarnya.

Gadis kota yang selama ini dikenal lugu. Kini sudah memasuki fase dewasa. Dan mulai merasakan yang namanya jatuh cinta. Ia juga mulai tahu, bagaimana seorang wanita akan salah tingkah. Bila sedang bersama dengan pria yang disukainya. Terlebih bila rasa cinta itu bagai bersambut.

Tidak lama setelah itu, Andara datang bersama motor gedenya. Dengan gagah ia turun dengan sebuah kantong plastik di tangannya. Setiap ia bertandang ke kediaman gadis cantik ini. Ia tak pernah datang dengan tangan kosong. Dan yang lebih membuat ia seakan lebih dekat dengan keluarga Adinda. Sang adik gadisnya yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) berteman dekat dengan Adinda.

“Assalamualaikum,” tutur pemuda dengan wajah yang tak kalah tampan, dibandingkan dengan Giyo yang telah lebih dulu berada di sana. Nada yang ia gunakan terdengar sopan dan lembut.

“Waalaikumsallam. Eh, Nak Andara. Ayo, sini duduk,” ujar Pak Anjas menyambut pemuda tampan itu.

“Terima kasih, Pak,” sahut Andara setelah mencium tangan Pak Anjas.

Pria paruh baya itu tampak sangat menyukai Andara. Selama ini memang Beliau selalu mengeluh-eluhkan sosok pemuda baik ini. Bahkan Beliau sangat mendukung kedekatan anak gadisnya dengan pemuda ini. Beliau juga selalu mengatakan bahwa pria seperti, Andaralah yang cocok mendampingi putrinya yang berharga. Dan hal itu tentu membuat sang putri bimbang.

Dulu ia memang sangat menyukai Andara. Bahkan kedua sudah sempat saling ingin berkomitmen. Namun, semenjak kedekatannya dengan Giyo perlahan ia mulai menunjukkan sikap menjauh dari Andara. Padahal yang harusnya ia sadari. Dari sekian banyak pemuda yang bertandang ke rumah mereka. Hanya Andara seorang yang bisa menarik hati sang ayah.

Sebenarnya sejak dulu banyak yang ingin mendekati Adinda. Namun, dikarenakan sifat keras kepala dan keteguhan pendirian sang ayah. Yang memiliki cita-cita mendapatkan menantu yang baik dan memiliki masa depan cerah. Tentu bukan perkara uang saja, akan tetapi lebih—memiliki rasa tanggung jawab yang kuat. Dan memiliki keteguhan iman untuk tetap memimpin anaknya tetap berada dalam jalan yang lurus.

 “Din, Dinda. Ke sini sebentar, Nak,” panggil Pak Anjas pada anak gadisnya, “ini ada, Nak Andara datang mau bertemu kamu.”

“Iya Ayah,” jawab Adinda dari dalam kamar.

Adinda yang sejak tadi sudah memperhatikan kondisi di luar. Terlihat beberapa kali membuang nafas panjang sebelum keluar dari kamarnya. Dia menemui, Andara dan juga Giyo yang duduk bersebelahan. Dua pasang mata pemuda yang tadinya terlihat kaku. Kini memiliki objek pandang yang sama. Ketika Adinda duduk di samping sang ayah. Tentu saja mereka sangat mengagumi sosok gadis cantik itu.

Sedangkan Adinda tampak menundukkan pandangannya. Namun, sesekali ia mencuri pandang dengan melirik pria pujaan yang diam-diam dikaguminya. Andara menyerahkan bingkisan yang tadi dibawanya. Adinda mengambil dan membawanya masuk. Kemudian ia menyiapkan minuman dan makanan ringan untuk tamunya.

Ketika ia mengantarkan minuman kepada, Andara, Giyo, serta sang ayah. Bola matanya malah memperhatikan Giyo yang juga meliriknya. Setelah semuanya selesai ia kembali masuk ke kamar. Ia kembali memperhatikan kedua pemuda tersebut dari jendela kamar. Di sana Adinda tersenyum malu-malu memperhatikan wajah pria mengenakan kaos berwara hitam dengan celana jeans yang terdapat robekan pada bagian lututnya.

Bapak Anjas tampak sangat antusias dengan pembicaraannya bersama pemuda idaman. Di saat keduanya asyik membicarakan pesta yang akan diadakan nanti malam. Adinda yang masih berada di sisi jendela. Tersadar ketika mendengar nada pesan singkat dari telepon selulernya. Ia bergegas untuk melihat siapa pengirimnya. Dan ternyata, pengirimnya adalah Giyo. Pria yang sejak tadi diperhatikan olehnya dari balik gorden jendela yang tertutup.

“Dek.” Isi pesan singkat yang dikirimkan, Giyo padanya.

“Iya, Kakak. Ada apa?” Adinda dengan wajah yang berseri-seri membalas pesan itu.

“Nanti malam kamu akan pergi sama anak ini?”

“Iya, soalnya mereka sudah rencanakan semuanya dari jauh hari. Jadi, Adinda enggak enak kalau harus menolak.”

“Oke! Nanti malam aku juga ada acara di rumahku. Tapi, kalau sempat aku akan mampir ke acara kalian. Untuk memastikan kamu baik-baik saja di sana.”

Membaca balasan yang diberikan oleh, Giyo. Seketika Adinda terlihat sangat senang. Bahkan, ia hampir saja berteriak. Dengan riang gadis itu meloncat bagaikan, seorang bocah yang mendapatkan mainan baru. Diiringi dengan senyuman pertanda ia sangat bahagia mendapatkan segalanya.

Adinda bahkan, terlihat enggan mengakhiri obrolan melalui pesan singkat itu. Adinda benar-benar tengah merasakan dahsyatnya jatuh cinta. Entahlah, apa karena ini kali pertama baginya. Jatuh hati pada pemuda yang memiliki latar belakang yang sama dengan sang ayah. Atau bisa jadi karena ia merasa memiliki tantangan tersendiri. Ketika ia harus menjalani kedekatan secara sembunyi-sembunyi. Entahlah hanya ia dan Tuhan yang paham isi hatinya.

“Oke. Tapi janji, ya, kalau Kakak datang ke sana. Jangan buat onar. Aku enggak mau liat, Kakak mabuk juga,” pinta Adinda dalam pesan yang dikirimkannya kali ini.

Kemudian ia kembali mengintip reaksi, Giyo dari balik gorden kamarnya. Dan ternyata pria itu tersenyum melihat balasan darinya. Hal itu tentu membuatnya ikut tertawa tanpa suara. Adinda ia gadis polos yang tengah berusaha mengikuti kata hatinya. Giyo sebenarnya bukanlah pemuda buruk yang patut ditakuti. Hanya saja, pemuda ini sudah terlanjur terjerumus ke dalam jalan yang salah. Dan itulah yang membuatnya akan kesulitan untuk kembali pada jalur yang benar.

Tentu tak ada yang bisa disalahkan. Jika sudah berkata tentang kata hati dan cinta. Namun terkadang, cinta itu dapat mengganggu fungsi sebenarnya dari anggota tubuh manusia. Itulah kenapa banyak orang yang melakukan hal nekat hanya karena alasan cinta. Terkadang cinta dijadikan alasan untuk memaksakan kesalahan, untuk menjadi benar. Dan itulah mengapa setiap orang tua menginginkan pasangan terbaik bagi anak-anak mereka di masa depannya kelak.

Adiarizki

Cemburu dalam diam itu menyiksa kawan. _Giyo||Adinda_

| 1
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (5)
goodnovel comment avatar
Herawati Yusuf
gak konsisten ..adinda teman sekolah adik andara tp kenapa andara lbh muda dari adinda ?
goodnovel comment avatar
Adiarizki
Terima kasih Zoya,
goodnovel comment avatar
Adiarizki
aaaa Kakak Autoa ikut sedih
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Adinda   Musuh Dalam Selimut

    Sebuah map berwarna cokelat didorong ke hadapan Giyo. Di dalamnya terdapat salinan laporan keuangan, daftar mitra perusahaan, catatan pengiriman, serta sejumlah dokumen yang sebagian halamannya diberi penanda merah. Giyo membukanya tanpa banyak bicara. Pada awalnya, semua tampak seperti laporan perusahaan distribusi biasa. Ada angka pemasukan, biaya operasional, nama pemasok, dan jadwal pengiriman. Namun, semakin jauh ia membaca, semakin banyak hal yang terasa janggal.Beberapa pengiriman tercatat memiliki berat yang berbeda antara dokumen gudang dan laporan penerimaan. Ada pembayaran kepada perusahaan yang tidak tercantum dalam daftar mitra resmi. Beberapa transaksi juga menggunakan nama perusahaan yang sama, tetapi dengan alamat berbeda. Giyo mengangkat salah satu lembar."Ini apa?"Bram meliriknya. "Transaksi lama.""Transaksi lama yang mana? Nomor pengirimannya berbeda, tetapi nama penerimanya sama.""Kamu teliti juga.""Saya sedang berusaha memahami kenapa Anda mau membayar lima

  • Adinda   Jebakan Halus

    Adinda menyadari ada sesuatu yang berbeda pada Giyo sejak laki-laki itu datang sore itu.Giyo duduk di teras rumah seperti biasanya, dengan segelas teh yang mulai kehilangan kehangatannya di atas meja. Sesekali ia menjawab pertanyaan Adinda, bahkan sempat tersenyum ketika perempuan itu menceritakan tingkah salah seorang temannya. Namun, pikirannya seolah berada di tempat lain. Pandangannya beberapa kali jatuh pada layar ponsel, lalu kembali ke halaman tanpa benar-benar memperhatikan apa pun.Adinda mengenali kebiasaan itu.Dulu, ketika Giyo sedang menghadapi masalah dengan orang-orangnya, ia sering menunjukkan wajah serupa. Bedanya, dahulu Giyo akan bercerita dengan caranya sendiri, meskipun hanya sedikit. Belakangan ini, laki-laki itu semakin sering menyimpan sesuatu di balik jawaban-jawaban singkatnya.“Kamu ada masalah?” tanya Adinda akhirnya.Giyo mengangkat kepala. “Kenapa?”“Dari tadi kelihatan melamun.”“Cuma banyak pikiran.”“Pikiran tentang apa?”Giyo mengusap wajahnya, kemud

  • Adinda   Rp. 5.000.000.000

    Beberapa minggu terakhir, Adinda mulai terbiasa dengan ruang yang dulu ia minta sendiri. Pada awalnya ia menikmati perubahan itu. Tidak ada lagi Giyo yang tiba-tiba muncul di depan rumah hanya untuk mengajaknya pergi. Tidak ada pesan bertubi-tubi ketika Adinda belum sempat membalas. Bahkan, ketika Giyo tidak datang selama dua atau tiga hari, Adinda bisa menghabiskan waktu dengan ibunya tanpa terus memikirkan bagaimana perasaan lelaki itu.Namun ternyata kebebasan memiliki sisi lain yang tidak pernah ia pikirkan. Ada hari-hari ketika Adinda membuka ponselnya dan tidak menemukan pesan dari Giyo. Awalnya ia tidak peduli. Hari kedua, ia masih biasa saja. Hari ketiga, ia mulai bertanya-tanya. Apakah Giyo benar-benar sedang memberinya ruang? Atau mungkin ia sudah mulai terbiasa tanpa dirinya? Pertanyaan itu semakin sering muncul ketika Giyo tidak lagi datang ke rumah selama beberapa hari.Sore itu Adinda duduk di teras sambil menyelesaikan lukisannya. Matahari mulai turun di balik pepohonan

  • Adinda   Giyo Is Back!

    Pagi datang tanpa pesan dari Giyo. Adinda sempat memeriksa ponselnya ketika baru bangun. Kebiasaan itu sudah dilakukan hampir setiap hari. Bahkan, sebelum ia benar-benar membuka mata dengan sempurna. Biasanya akan ada pesan dari Giyo yang menanyakan apakah ia sudah bangun, sudah sarapan, atau sekadar mengingatkannya agar tidak pergi terlalu jauh.Pagi ini tidak ada apa-apa. Adinda menatap layar beberapa detik, kemudian meletakkan ponsel di atas meja. Adinda merasa ada sedikit rasa lega yang muncul tanpa ia sadari. Ia tidak perlu memikirkan harus menjawab apa. Tidak perlu merasa bersalah karena membalas terlambat. Tidak perlu menjelaskan ke mana ia akan pergi. Setelah mandi, Adinda turun ke dapur dan menemukan ibunya sedang menyiapkan adonan kue."Sudah bangun?" tanya Pujimaharani."Sudah, Ma.""Mau bantu?"Adinda langsung mengambil celemek yang tergantung di dekat kulkas. "Boleh."Pagi itu mereka menghabiskan waktu hampir dua jam di dapur. Tidak ada percakapan berat. Mereka hanya memb

  • Adinda   Ruang

    Dia memilih merebahkan tubuh pada batu besar di pinngir aliran air. Adinda memejamkan mata sebentar. Kemudian membuka kembali. Langit di atas sana terbentang nyata. Biru bersih. Adinda mengedarkan pandangannya. Air yang jatuh dari ketinggian tampak berkilau dan memantulkan cahaya matahari seperti tirai perak. Dikelilingi oleh pepohonan lebat, lumut hijau di bebatuan, serta tanaman paku liar yang tumbuh subur. Di sela-sela suara air, terdengar samar-samar suara burung liar berkicau dan serangga hutan yang menyatu dengan alam. Semuanya membaur menjadi satu.“Tempat yang sama dengan dia yang berbeda,” suara itu menyadarkan Adinda.“Mi.”“Kamu masih ingat dia, ‘kan?” desak Hilmi yakin dengan pernyataannya.“Enggak. Aku hanya menikmati suasa.”“Halah. Kamu tuh enggak bersyukur jadi wanita. Sudah dapat Giyo. Masih saja mikirin laki-laki lain.”“Kamu tau apa soal perasaanku!&rd

  • Adinda   Dua Kenangan Satu Tempat

    Suara motor berhenti di depan rumah. Adinda tidak perlu melihat untuk tahu siapa yang datang. Dia sudah hapal dengan deruan tersebut. Bunyi yang dulunya selalu ditunggu olehnya. Entah sejak kapan ia mulai ingin mengabaikan semuanya. Malah ada rasa ingin mendengar bahana dari motor yang lain. Entahlah sejakk kapan. Suara dentuman rendah yang berat dan dalam (deep rumble), seperti suara guntur yang tertahan di kejauhan. Lebih dirindukannya, dibandingkan suaranya terdengar padat, berat, dan berirama rapat. Yang berasal dari motor milik Giyo.Beberapa detik kemudian, suara Giyo terdengar dari balik pagar. “Dinda!”Adinda menoleh. Giyo berdiri sambil melepas helmnya.“Ada apa?”Giyo tersenyum. “Siap-siap.”Adinda mengernyit. “Buat apa?”“Kita pergi.”“Ke mana?”“Air terjun.”Gerakan tangan Adinda terhenti. Air terjun. Entah mengapa, dua kata sederhana itu membuat pikirannya langsung terlempar pada sebuah kenangan lama. Bukan dengan Giyo. Tapi Andara. Saat itu mereka belum memiliki hubunga

  • Adinda   Segitiga Dalam Cinta

    Tanpa sadar ia malah tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan Giyo. Jelas sekali senyum itu ditujukannya untuk sang pemuda. Ia seakan memahami makna dari kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh sang pujaan. Adinda tahu, bahkan sangat sadar pada siapa ia sedang jatuh hati. Namun, apa daya seor

  • Adinda   Sang Juara Voli

    Andara tampak sudah mampu menguasai dirinya. Ia sudah kembali tenang. Dengan tersenyum bahagia, Andara meyakinkan dirinya sendiri. Bahwa apa yang dikatakan ayah dari wanitanya akan menjadi nyata. Yah, tentu itu juga salah satu pintanya pada sang pencipta.“Pak, kalau begitu say

  • Adinda   Andara Mahardika

    Setelah cukup lama berbincang bersama Bapak Anjas. Akhirnya, Andara menyampaikan maksud kedatangannya yang sebenarnya ke sana. Sepertinya ia sengaja mengajak Pak Anjas membahas masalah pesta yang digelar muda-mudi pada penyambutan tahun baru. Agar ia dapat mengetahui apa pandangan.

  • Adinda   Adinda Maharani,

    Malam itu adalah malam yang paling ditunggu kalangan muda-mudi di Desa Tanjung Agung. Segala persiapan menyambut pesta tahun baru sudah diatur—sebaik mungkin. Agar segalanya berjalan dengan lancar. Adinda, masih duduk di kamarnya sambil membaca sebuah buku yang baru saja dibelikan oleh sang ibu.

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status