MasukMbok Suti berjalan tergopoh-gopoh kembali ke dapur. Baru saja ia selangkah masuk, matanya disajikan oleh pemandangan yang mengejutkan. Tin sudah tersungkur di atas tanah, sementara pecahan piring tanah liat berserakan tajam di sekitar tubuhnya. Di depannya, Marni berdiri tegak dengan tangan berkacak pinggang, memaksakan keangkuhannya di tengah kepulan asap dapur. "Ada apa ini? Tin, Marni?!" Mbok Suti memandang kedua gadis muda itu secara bergantian, menuntut penjelasan. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang membuka mulut. Tin hanya terisak pelan sambil memegangi tangannya, sedangkan Marni justru melipat kedua tangan di dada dengan dagu terangkat tingi. "Marni!" seru Mbok Suti dengan nada menekan, hilang kesabaran. Alih-alih menjawab dengan sopan, Marni justru membuang wajahnya seraya memutar bola matanya malas. Sikapnya seolah menegaskan bahwa orang-orang di dapur ini patut diremehkan. Suara keributan itu menarik perhatian Banyu yang baru saja selesai berganti pakaian kering.
"Juragan sudah menarik upeti bulan kemarin?" ulang Banyu dengan suara serak dan wajah memucat bagai kehilangan darah. Kakek tua itu mengangguk pelan, tatapannya menerawang menatap tanah yang kering. "Benar. Tahun ini saja sudah terhitung tiga kali Juragan menarik upeti dari kami. Belum lagi... kami harus membayar sewa lahan." "Tapi, bukannya Ndoro Ayu Wening tidak pernah meminta uang sewa lahan?" selak Banyu cepat. Keningnya berkerut dalam, mencoba mencerna kejanggalan demi kejanggalan yang mulai terkuak. "Tidak pernah minta?" Kakek tua itu tertawa getir. Sebuah tawa tanpa nada bahagia yang terdengar menyayat hati. Bibirnya bergetar hebat, dan matanya mengembun, menahan cairan bening yang sudah menganak di pelupuk matanya. "Setahun dua kali kami harus membayar sewa lahan, Den. Kalau tidak bayar, tanah garapan kami diancam akan disita." "Apa? Setahun dua kali?" ulang Banyu dengan mata terbelalak, tubuhnya kaku seketika. Jayendra benar-benar jahanam! maki Banyu dalam hati. Pria it
Wening menrik napasnya dalam. "Saya masih memikirkan lumbung, Banyu," jawabnya dengan pandangan tertunduk. "Saya merasa bersalah pada para petani. Mereka sudah bersusah payah selama satu musim panen, tapi hasil kerja keras mereka terbakar sia-sia." Raut wajah Banyu seketika ikut berubah. Di hatinya yang paling dalam, tumbuh rasa penyesalan karena sudah membakar lumbung, meskipun ia sudah menyuruh orang untuk memindahkan semua isinya. Tapi ia tidak menyangka jika kejadian itu membuat Wening merasa terpukul. Ditambah rencana Jayendra yang menyuruhnya untuk menarik upeti pada warga desa. Rahang Banyu mendadak mengeras mengingat perintah itu. Banyu menarik napas panjang, berusaha meredam emosi yang bertunas di dalam dadanya. Ia menarik tubuh Wening ke dalam pelukannya. Menjadikan dirinya tempat ternyaman untuk istri dari majikannya tersebut. "Apalagi Kangmas Jayendra mengatakan akan meminta upeti pada warga, Banyu. Aku yakin Kangmas Jayendra akan tetap melakukannya meskipun saya meno
Dalam diam, Banyu menundukkan wajahnya. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. Kalimat Jayendra berhasil memantik amarah yang sejak tadi ia tahan. “Kenapa kamu diam saja?” tanya Jayendra, menanti jawaban dari sang kusir. Banyu menarik napas perlahan sebelum menjawab. “Baik, Juragan. Saya akan melaksanakan perintah Juragan besok.” “Pastikan kamu mendapatkannya dari semua orang. Tanpa terkecuali,” pesan Jayendra. Pria itu kemudian bersandar santai. “Kalau ada yang tidak mau memberi, kamu bisa melakukan apa saja. Memukul mereka, atau merampas apa pun yang menjadi milik mereka.” Rahang Banyu mengeras. Pria yang berdiri di hadapannya benar-benar tidak punya hati. Dengan mudahnya ia menyuruh orang lain mengambil sesuatu yang menjadi hasil kerja keras para petani. “Apa tidak akan menjadi masalah, Juragan?” tanya Banyu, berusaha menjaga suaranya tetap tenang. Jayendra tidak langsung menjawab. Ia justru mengamati Banyu dari kepala hingga ujung kaki. “Masalah?” ulangnya. Jayendra
"A-apa?" tanya Wening terbata. "Memakai harta bawaanku?" ulangnya kemudian dengan kening yang berkerut. Jayendra berdiri di depan Wening, bertindak seolah ia adalah perisai untuk istrinya. "Bu, tapi itu harta bawaan wening. Kita tidak boleh—" "Jayendra!" Kanjeng Ibu memotong kalimat putranya. "Bukannya kamu sedang bingung darimana kita membyar upeti? Memangnya apa salahnya kalau kita pakai harta bawaan Wening. Toh Wening juga bagian dari kluarga ini." Wening berdecih di dalam hati. Jika menyangkut masalah, ia diakui sebagai keluarga. Tapi jika tidak ada hal untuk dimanfaatkan, ia akan diangap sepetti sampah. "Atau..." Kanjeng Ibu menjeda kaliamtnya cukup lama. Ia menatap wening penuh arti. "Bukankah kamu juga memiliki harta yang Jayendra berikan padamu? Jayendra sering memberikanmu perhiasan emas. Kita bisa pakai itu dulu." Kanjeng Ibu memberikan usul lain untuk masalah upeti. Wening tetap bersikap tenang. Ia seolah tidak sama sekali terpancing emosi. "Bu, tanpa mengurangi rasa
"Banyu, semalam saya cari kamu tidak ada. Kamu pergi kemana?" tanya Wening pagit itu. Wajahnya terlihat serius, menanti jawaban yang akan keluar dari mulut Banyu. Ia berdiri di belakang Banyu dengan kedua tangan bertenger di pinggangnya.Banyu yang sedang memandikan kudanya terpaksa berhenti dan menoleh ke arah Ndoro ayunya. "Saya sudah pamitan, mau keluar bertemu seorang teman," jawab Banyu.Tangan yang semula berada di pinggang, kini beralih turun, lalu melipatnya di depan dada. Dengan mata memicing, ia bertanya, "Kapan?"Banyu berdiri hendak memberi jawaban. Namun belum sempat kalimat itu keluar dari bibirnya, sosok Marni berjalan mendekat ke arah mereka. Membuat Banyu terpaksa mengurungkan niatnya untuk menggoda Wening."Kang Banyu, pagi-pagi sudah ditemani Ndoro Ayu. Bagaiaman tidak bersemangat bekerja," sarkas Marni yang diakhiri dengan tawa renyah penuh nada mencibir.Wening menoleh perlahan pada pelayan yang berada di belakangnya. Tatapannya yang sedingin es itu terarah lurus






