MasukBanyu seketika menegakkan posisinya, sementara Wening menoleh cepat ke arah datangnya suara. Seorang wanita berdiri tak jauh dari mereka dengan kedua tangan bersedekap di dada. Senyum miring penuh cemooh itu terlihat kentara. "Ternyata tidak hanya Juragan dan pelayan yang bisa saling jatuh cinta. Ndoro Ayu dan kusir juga bisa," cetus suara itu dengan intonasi tajam yang menyengat udara sore. Darah Wening serasa desir dingin seketika. Rona bahagia di wajahnya menguap tanpa sisa, digantikan oleh paras pucat pasi saat mendapati sosok yang berdiri menatap mereka berdua dengan mata berkilat penuh kejutan yang mematikan. "Apa maksudmu!" teriak Wening tertahan. Suaranya bergetar menahan amarah yang membakar, sementara kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Alih-alih menjawab pertanyaan Wening, gadis itu malah tertawa sinis penuh cibiran. Kekehannya mengalun sumbang di antara desir angin. Marni melangkah perlahan, makin berjalan mendekat ke dekat gubug dengan gaya congkak yang tak
"Ndoro ayu." Gadis bernama Tin itu buru-buru bangkit. Berdiri dengan pandangan tertunduk. Nuwun sewu, Ndoro Ayu, Marni bicara kasar pada Mbok Suti." Tatapan gadis itu tajam pada Marni yang berdiri di dekannya. Tersirat bagaiamana perasaan gadis itu pada Marni. "Kenapa jadi menyalahkan Marni? Marni hanya mengatakan kalau Marni tidak boleh lelah dan harus banyak istirahat. Tapi Mbok suti menyuhku untuk bekerja!" ucap Marni membela diri. Wening mendengkus kesal. Dalam hati ingin menghindari perdebatan dengan Marni. Tapi sepertinya semesta berkata lain. Hari masih pagi tapi ia sudah harus menghadapi pelayan penggoda itu. Wening menarik napasnya dalam, sebelum ia berucap, "Marni. Kamu disini itu pelayan. Abdi yang bekerja dan digaji. Dengan kamu hamil bukan berarti kamu bebas dari pekerjaan. Lalu siapa yang akan menggantikan pekerjaanmu? Yang lain juga sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing." Banyu yang melihat keributan itu menghentikan aktifitasnya. Ia menatap kerumunan par
"Ma-maksudmu?" Suaranya dibuat setenang mungkin meskipun jantungnya berdebar tak karuan. "Kamu menuduhku memiliki hubungan dengan Ndoro Ayu?" Marni tersenyum sinis. "Saya tidak menuduh, Kang. Hanya saja—" "Banyu!" Suara nyaring itu membuat Banyu refleks menoleh ke sumber suara. Wening dengan langkah yang anggun datang di saat yang tepat. Meskipun wajahnya ikut menegang karena melihat kehadiran sang kusir di kamar yang sudah berganti pemilik. "Sedang apa kamu disini?" Ekor matanya menatap Marni dengan sini, sarat akan kebencian. Terlebih dengan sikapnya yang berubah menyebalkan. Bola mata Banyu bergerak liar, memberikan kode pada istri juragannya. "Mengantarkan wedhang yang Ndoro Ayu minta," jawab Banyu. Ia masih bermain mata dengan Wening sebagai kode rahasia mereka. Wening tidak memahami situasi ataupun menyadari kode yang diberikan Banyu. Ia menaikan satu alisnya. Ia tidak pernah meminta wedhang apapun untuk diantarkan oleh sang kusir. Banyu mendongak perlahan. "Ndoro yang mint
Wening membeku sesaat, bahkan Jayendra sendiri tidak menduga jika ibunya akan bersikap seperti itu. "Bu, tapi ini—" "Ini hanya sebuah kamar, Wening," sela Kanjeng Ibu. "Lagipula ini adalah permintaan jabang bayinya. Ibu tidak mau terjadi sesuatu pada cucu Ibu nanti." Jayendra melangkah maju, namun sebelum pria itu sampai di hadapan ibunya, Kanjeng Ibu sudah mengangkat tangannya. Menahan langkah Jayendra agar berhenti. Ia sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh putranya. Yaitu membela Wening. "Tidak ada perdebatan hanya karena kamar, Jayendra." Pandangan Kanjeng Ibu beralih pada Wening yang masih tidak terima dengan keputusan yang sudah ia buat. "Sudah malam, tidak perlu membuat keributan untuk masalah sepele." Wening menarik napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan kasar. Dadanya naik-turun menahan emosi yang meluap. Tanpa mengacuhkan pandangan orang-orang di sekitarnya, ia menyentak langkahnya dengan kasar seraya meninggalkan kamar utama tersebut. Jayendra berniat mengej
Jayendra mengabaikan ocehan ibunya. Ia berjalan mendekat, namun tatapannya tidak seperti biasanya. Tidak melunak, tapi juga tidak setajam pagi tadi. "Kamu darimana, Nduk?" tanya Jayendra dengan nada datar. Tak ada gurat kekhawatiran di dalamnya. Yang ada hanya amarah yang dipaksa redam. Wening mundur selangkah, menolak uluran tangan Jayendra yang akan menyentuh bahunya. "Saya berkunjung ke rumah orang tua saya." Jayendra memicing tajam mendengar jawaban istrinya. Seolah ada sedikit keraguan yang tersembunyi dari sikap diamnya. Sesuatu yang tidak menjadi kebiasaan Wening, berkunjung ke rumah orang tuanya tanpa dirinya. Dan entah kenapa ia merasa jika Wening tengah berbohong. Karena matanya menangkap kegelisahan di wajah istrinya. Kanjeng Ibu tersentak berdiri mendengar jawaban menantunya. Matanya melebar dan diiringi dengan dada yang naik turun. "Apa kamu bilang? Ke rumah orang tuamu!" teriak Kanjeng Ibu. "Wening, bagaiamana bisa kamu malah pulang—" "Apa ada yang salah?" pot
"kamu harus jaga kandungan Marni, Jayendra. Biarpun anak itu berasal dari seorang pelayan, anak itu tetap darah dagingmu, terap cucu ibu." Jayendra hanya mendengkus mendengar permintaan ibunya. Hubungannya dengan Marni, sejak awal hanya untuk meluapkan hasratnya saja. Tidak lebih, bahkan tidak pernah terbesit di pikirannya untuk menikahi ataupun menjadikannya selir. "Dan juga, mengenai lamaranmu pada Kanti, Ibu dan Kanti sepakat untuk menunda lamaran itu beberapa bulan lagi," imbuhnya kemudian. Banyu menarik napasnya panjang. "Kenapa Kanjeng Ibu harus repot-repot memikirkannya. Bukankah akan lebih mudah kalau Marni kita kirim ke desa lain dan berikan uang. Hubunganku dengan Wening yang dipertaruhkan, Bu. Kalau untuk masalah Kanti, saya belum bisa memutuskan, Bu." Kanjeng Ibu berdecak. "Dengar, Le. Kamu tidak tahu bagaimana perasaan ibumu ini yang sudah sangat menginginkan cucu? Untuk sementara, tidak masalah kalaupun anakmu berasal dari wanita rendahan. Setidaknya Ibu punya cu







