MasukWening tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Matanya membelalak, ia refleks menutupi mulutnya dengan tangannya. "A-apa?" tanyanya dengan suara terbata. Jantungnya berdebar kencang, tangannya mendadak bergetar tanpa alasan. "Ka-kamu bilang apa Banyu? Kangmas Jayendra membunuh seseorang?" desisnya pelan. Banyu mengangguk, tatapannya datar seolah ia sudah kebal melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Wening. "Siapa, Banyu? Saya bahkan tidak pernah mendengarnya. Sepertinya tidak mungkin," sangkal Wening tidak percaya. Jika Jayendra adalah pria yang egois, ia masih mempercayainya. Namun jika Jayendra adalah seorang pembunuh, ia benar-benar tidak pernah menyangka akan mendengar kalimat seperti itu. "Kenapa tidak mungkin? Apa juragan adalah orang sebaik dan sesuci itu?" Wening menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia tidak bermaksud untuk membela suaminya. Namun kalimat yang dikatakan oleh Banyu adalah kalimat terkejam yang pernah ia dengar tentang suaminya. "Kangmas Jayendra ti
"Bukan begitu, Wening —" "Cukup!" sela Wening seraya mengangkat tangannya. Memotong kalimat Jayendra. "Sekarang saya sudah tahu seperti apa posisi saya di mata Kangmas. Sekarang silahkan saja, lakukan apa yang Kangmas inginkan! Saya tidak akan melarang ataupun berkomentar." Tanpa menunggu jawaban Jayendra, Wening meninggalkan kamar suaminya. Langkahnya mantap, tidak menerima larangan dan penolakan. Ia bahkan tidak peduli dengan teriakan suaminya yang memintanya untuk kembali. Wening melangkah menembus kegelapan lorong dengan punggung tegap. Setiap pijakan kakinya terasa dingin di atas lantai kayu, namun tak sedikit pun raut gentar tampak di wajahnya. Ia mendorong pintu kamarnya, melangkah masuk, lalu menutupnya rapat kamar tamu yang sekarang sudah menjadi tempat ternyamannya di kediaman. Di dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi temaram lampu minyak, Wening duduk di tepi peraduan. Ia menarik napas panjang, mengembuskannya pelan. Dada yang semula bergemuruh hebat perlahan ia
Wening memukul bahu Banyu kesal. Lalu turun dari pangkuan pria itu. Beranjak dan berdiri membelakangi pria itu. "Kamu selalu saja menyebutnya saat kita sedang bersama. Seperti tidak ada hal lain saja yang bisa dibicarakan." Banyu terkekeh. Sepertinya Wening sudah berada di tahap muak dengan suaminya sekarang. Ia menarik satu sudut bibirnya. Merasa menang karena sudah menaklukan hati istri dari musuhnya. Banyu beranjak, berjalan pelan, lalu memeluk Wening dari belakang. Menciumi leher Wening, membuat wanita itu memejamkan matanya, merasakan bibir Banyu menyentuh kulitnya. Bisikan hangatnya menyapa telinga Wening, penuh nada manipulatif yang dibalut kelembutan palsu. "Maafkan aku, Sayang," gumam Banyu rendah, jemarinya melingkar di pinggang Wening dengan cengkeraman posesif. "Saya hanya tidak tahan membayangkan Ndoro masih harus melayani pria itu, sementara hati Ndoro ada di sini." Wening menghela napas panjang, kepalanya terdesak ke belakang menempel di bahu Banyu. Rasanya rumit—a
"Apa kamu bilang?!" Gusti tersentak berdiri. Tubuhnya mendadak membeku, lidahnya terasa kaku, kalimat yang akan ia ucapkan terasa tersangkut di tenggorokan."Marni adalah simpanan Jayendra keparat itu!" ulang Jadipura dengan suara rendah. Wajahnya masih dipenuhi gurat kesal yang seolah sudah mengakar. Ia masih tidak terima jika keintiman yang terjadi kemarin sore yang ia rasakan berasal dari pelayan rendahan, bukan sang nyonya rumah."Tapi bagaimana bisa, Kakang?" Gusti mendekat perlahan, ia kembali duduk di kursi kayu. "Lalu bagaiaman dengan bantuan Jayendra untuk pasokan logistik pasukan kita?" Suaranya semakin merendah, memastikan hanya Jadipura saja yang mendengarnya."Entahlah! Itu juga yang sedang saya khawatirkan. Karena jika kita tidak memiliki pemasok logistik, pasukan kita akan kelaparan." Jadipura mengembuskan napas berat. Jalan kemenangan yang kemarin sudah tampak di depan mata, kini perlahan menghitam. "Apalagi, Jayendra terlihat sangat murka saat melihatku dengan..."Ja
"Apa?!" Jayendra tersentak kaget saat Marni menunjuk istrinya dan menuduh Wening yang menyuruhnya untuk melayani Jadipura. Tidak seperti Jayendra yang terkejut, Wening tampak tenang saja seolah-olah ia sudah tahu apa yang dikatakan oleh Marni. "Leres, juragan," balasnya seraya terisak. Seolah ia adalah korban dari ketidak adilan. "Ndoro Ayu yang memberikan Marni tugas itu. Katanya kalau saya tidak mau, Marni akan diusir." Wening masih belum bereaksi. Ia masih berdiri seraya melipat kedua tangan di depan dadanya. Mengamati setiap gerak-gerik Marni dan menebak apa yang akan dilakukan oleh gadis itu. "Jadi... Ini hanya masalah cemburu?" Jadipura menyela dengan disertai dengan seringai kecil. "Wening! Benar yang dikatakan oleh Marni? Jawab!" tuntut Jayendra seraya mengguncang bahu wanita itu. "Apa buktinya kalau saya yang menyuruhmu? Mungkin saksi." Wening akhirnya membuka mulutnya. Menantang Marni untuk melanjutkan kebohongannya. "Kalaupun ada yang mendengar dan melihat, mereka p
Jayendra menahan napas, dadanya berdebar kencang seraya merayap perlahan mendekati celah dinding papan kayu yang agak renggang. Matanya yang membelalak menyipit, mencoba menembus remang cahaya lampu minyak di dalam bilik tersebut. Di atas dipan kayu yang berderit itu, Marni berada di bawah kungkungan pria. Kegiatan panas mereka masih berlanjut uang disertai dengan lenguhan yang berasal dari mereka berdua. "Kurang ajar..." umpat Jayendra lirih dengan rahang mengetat hebat. Darahnya mendidih menyaksikan pelayan simpanannya ternyata bermain gila di belakang punggungnya, bahkan tepat di dalam bilik rahasia yang biasa mereka gunakan. Di belakang Jayendra, Wening berdiri dengan senyum kemenangan. Akhirnya ia memberikan pelajaran pada Marni tidak perlu menggunakan tangannya sendiri. Napas Jayendra memburu, tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa murka memuncak menguasai kepalanya, mengalahkan rasa pening sisa-sisa minuman pekat yang menyelimuti tubuhnya. Brak! T







