Beranda / Romansa Pria / Aduh! Kangmasku! / Bab.6 Masa Dianggurin

Share

Bab.6 Masa Dianggurin

Penulis: Author_Lee
last update Tanggal publikasi: 2026-07-30 17:48:56

Dada Wening bergemuruh hebat saat mendengar suara samar itu. Tanpa pikir panjang Wening mendorong pintu kayu yang sudah reot itu sekuat tenaga.

"Sedang apa kalian?" teriak Wening saat pintu itu sudah terbuka. Pupil matanya melebar, menatap Banyu dan Marni secara bergantian.

Marni tersentak, dia jatuh terduduk di atas lantai tanah dengan tumpukan jerami di atasnya. Kemben yang ia pakai untuk menutupi asetnya terlihat sedikit turun. Menampilkan separuh dari dua apel yang tergantung di dada Marni. Sedangkan Banyu segera bangkit dan menghampiri Wening.

"Ndoro Ayu," panggil Banyu tergagap. "Ndoro Ayu membutuhkan sesuatu?" tanya Banyu seraya merapikan pakaiannya. Satu kancingnya terbuka menampakan separuh dada pria itu. Bau keringat yang bercampur aroma maskulin tercium di indera penciuman Wening.

Namun, hal itu tidak lantas membuat Wening menurunkan amarahnya.

"Kalian berbuat tidak senonoh di tempat ini? Kalian pikir—"

"Nuwun sewu, Ndoro Ayu," potong Banyu dengan nada tenang. Membuat kalimat Wening seketika berhenti. "Tidak senonoh seperti apa yang Ndoro Ayu maksud? Kami tidak melakukan apapun."

Wening berkacak pinggang. Dadanya bergemuruh hebat saat mendengar Banyu berkilah untuk menutupi kesalahannya. Matanya berkaca-kaca, bukan karena tindakan pria itu yang melanggar batas norma, melainkan rasa kecewanya karena percaya jika Banyu adalah pria baik-baik.

"Kalian kira aku tidak dengar desahan-desahan kalian? Hah?!"

Melihat Ndoro Ayu yang diliputi amarah, Marni tertunduk ketakutan. Bayangan akan dipecat dan diusir dari kediaman sang juragan sudah terbayang di kepalanya.

"Ndoro ayu, dengarkan saya dulu. Kami berdua sedang membantu ayam milik Juragan yang kejempit kayu ini," tunjuk Banyu pada sisi gudang.

Amarah Wening yang awalnya meluap-luap kini seketika padam. Dia menundukkan kepalanya, melongok bagian bawah tumpukan kayu. Seekor jengger tergeletak di tanah karena satu kakinya terjepit tumpukan kayu.

"Kok bisa?" Nada bicara Wening merendah.

"Nuwun sewu, Ndoro. Saya ndak tahu bagaiamana ceritanya ayam ini sampai terjepit. Saya cuma berniat menyelamatkan saja," jawab Banyu dengan mengatakan yang sebenarnya.

"Aku kira kalian sedang melakukan hal yang tidak-tidak. Yowes, bawa ayamnya ke kandang, Marni!" Wening terlihat gugup, menyembunyikan rasa malunya karena telah berprasangka buruk pada kedua pelayannya.

"Njih, Ndoro Ayu!" jawab Marni tergagap. Dengan kesadaran penuh, ia bangkit dan segera mengambil ayam itu dari tangan Banyu. Lalu pergi meninggalkan gudang dengan hati yang masih berdebar tak karuan.

Banyu tersenyum. "Ndoro Ayu ini kok bisa berpikir kalau saya dan Marni berbuat sesuatu?"

"Ya bisa saja, Nyu. Namanya juga salah paham," jawab Wening salah tingkah.

Ia keluar dari gudang untuk menyembunyikan kegugupannya. Malu, jika sampai Banyu memergoki wajahnya yang merona.

Namun terlambat, Banyu sudah lebih dulu melihat bagaiaman pipi Ndoro ayu-nya bersemu merah. Ia mengulum sebuah senyum seraya menatap punggung wanita yang berjalan meninggalkannya itu. Lalu memutuskan untuk menyusulnya.

"Jangan-jangan Ndoro Ayu sedang memikirkan hal itu, ya? Atau Ndoro Ayu sedang kepengin?"

Wening seketika menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Banyu. Wajahnya menegang, lalu menoleh pelan pada pria yang berdiri dengan pandangan tertunduk tepat di belakangnya.

"Kenapa dia selalu tahu apa yang aku pikirkan?" tanya Wening pada dirinya sendiri.

Banyu sedikit mendongak. "Ndoro? Kok diam?"

Pertanyaan Banyu memecah lamunan Wening. Ia menyilangkan tangan di depan dada. "Banyu, kamu ini dukun atau bagiamana?"

Banyu terkekeh pelan dengan pertanyaan Wening. "Dukun bagaimana, Ndoro? Apa yang saya katakan itu benar? Ndoro Ayu sedang kepengin?"

Pertanyaan Banyu kembali membuat pipi wening merona. Ia refleks menyembunyikan wajahnya. Entah kenapa Wening merasa pelayannya ini sangat peka dengan apa yang terjadi pada dirinya. Tidak seperti Jayendra yang terlihat lebih acuh bahkan pada istrinya sendiri.

"Malam ini kan Ndoro Juragan pulang, pasti Ndoro Ayu dimanjakan oleh Ndoro Juragan."

"Hus! Kamu itu. Tau dari mana kalau Kangmas Jayendra bakal manjakan aku?" Senyum itu bertahan cukup lama di bibir Wening.

Tentu saja apa yang dikatakan oleh Banyu adalah harapannya setiap malam. Tapi apalah daya, suaminya sering pergi keluar kota dengan alasan pekerjaan. Membuatnya sering menelan kekecewaan.

"Loh, saya ini laki-laki, Ndoro. Jelas tahu. Apalagi punya istri secantik Ndoro Ayu. Masa iya dianggurin?"

Wening berhenti, kemudian berbalik. "Mulutmu itu loh, Nyu. Kalau bicara manis seperti gula, pandai mengambil hati orang. Sudah sana, kembali bekerja."

"Nggih, Ndoro." Banyu kembali ke kandang kuda, tempat yang seharusnya ia berada.

Wening menatap punggung Banyu menjauh. Bahu lebar itu berhasil membuat dada Wening berdebar. Tanpa sadar, ia tersenyum.

"Kangmas, seandainya kamu seperti Banyu yang mengerti perasaanku," gumam Wening.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aduh! Kangmasku!   Rencana yang Sukses

    "Saya juga sudah mengirim utusan pada Tuan Manguntur untuk pertemuan pribadi," sambung Jayendra. Dari luar, ia mungkin terlihat sangat tenang. Namun di dalam hatinya, setiap kata yang ia ucapkan membuat jantungnya berdebar semakin tak karuan."Kamu mau berpaling dari kami?" tanya Kanjeng Gusti dengan rahang yang mengeras. "Apa kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan, Juragan? Tidak sembarang orang kami tawari kehormatan seperti ini. Dan yang kamu lakukan saat ini adalah menghina kesempatan yang kami berikan padamu!""Maaf, Kanjeng. Seperti yang kanjeng tahu, saya juga butuh waktu untuk mengumpulkan barang-barang yang Kanjeng butuhkan. Saya juga harus mengamankan rute perjalanan. Saya tidak mau kembali dirampok untuk kedua kalinya." Jayendra masih berusaha mempertahankan arogansinya di hadapan pejabat itu."Jayendra! Kamu sadar apa yang sedang kamu katakan?" Wajah Kanjeng Gusti merah padam dengan gigi yang saling bertaut."Nuwun sewu, Kanjeng. Saya ini pedagang yang selalu menghitung un

  • Aduh! Kangmasku!   Rencana Licik Banyu

    Banyu tersenyum lebar. Dimata Jayendra, ia menganggap senyuman itu karena bonus yang ia janjikan. Namun yang sebenarnya adalah, Banyu puas karena Jayendra berada dalam genggamannya. "Masalah ini pelik, Banyu. Kamu hanya tahu mengurusi kuda dan kambing. Jangan membuat Ndoro juragan berharap dengan kemampuanmu yang cetek itu," cibir Kang Darna. Ia tak senang melihat Jayendra tertarik dengan bocah ingusan yang baru bekerja beberapa bulan di kediaman. "Kang Darna belum dengar ideku, kok sudah bilang kalau saya tidak memiliki kemampuan," balas Banyu pada kusir senior di kediaman. Ia kemudian kembali pada Jayendra. "Begini, Ndoro..." Banyu mendekat, berbisik ke telinga Jayendra. Tak membiarkan telinga lain mendengar rencana yang ia usulkan oada sang juragan. Sikap itu tentunya membuat Kang Darna merasa terasing. Ia bahkan tidak diperbolehkan mendengar rencana Banyu. Jayendra terawa terbahak saat Banyu sudah selesai mengutarakan rencananya. Tawa itu menggelegar, tersirat ada rasa puas

  • Aduh! Kangmasku!   Idemu Menarik

    Jantung Jayendra berdegup kencang, seolah godam besi menghantam dadanya dengan ritme yang kian kalut. Tangannya yang gemetar mengacak-acak tumpukan kertas tua di dalam laci, membalik setiap map dan amplop cokelat dengan kasar. Kosong. Tak ada satu pun dokumen tanah di dalmnya. Jayendra tertegun sejenak, menyelami ingatannya yang terdalam. Setelah nama dokumen itu diubah menjadi namanya, ia tak pernah mengeluarkan lagi benda itu dari dalam laci. "Tidak ada, Darna! Surat tanah milik Wening yang sudah diubah menjadi namaku, tidak ada di laci!" Suara Jayendra tertahan. Bukan hanya Jayendra yang terkejut, Kang Darna yang awalnya hanya menatap Jayendra dari tempatnya berdiri, matanya ikut melotot mendengar penuturan tuannya. "Mungkin terselip di dokumen lain, Ndoro." "Tidak ada, Darna! Saya ingat betul kalau menyimpannya di sini." Tangan Jayendra kembali mengobrak-abrik laci itu. Berharap jika dokumen itu seperti yang dikatakan oleh Kang Darna. Namun, sekeras apapun Jayendra mencari, do

  • Aduh! Kangmasku!   Dimana Surat Itu?

    Jadipura memicingkan matanya. Dadanya berdesir aneh saat menatap sosok pria yang beradu pandang dengannya beberapa detik lalu. Ia tak sempat memperhatikan wajahnya lebih jelas, sosok itu bergerak sangat cepat dan halus. Jadipura menarik napas panjang, menggelengkan kepala pelan. Ia mengutuk kepekaan inderanya sendiri yang mungkin sedang kacau akibat kepanikan dan kemarahan yang membakar dadanya. "Anda kenapa, Tuan? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Jayendra penasaran. Ia ikut berdiri, menatap keluar ke arah pandang Jadipura. "Siapa pelayan itu?" tanya Jadipura pendek tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela. Jayendra menaikan satu alisnya. Memutar pandangannya menatap pelataran yang menampakan Banyu sedang membawa sekarung padi. "Hanya abdi biasa yang baru kupekerjakan beberapa bulan lalu. Kenapa? Anda mengenalnya?" "Tidak mungkin kan? Tapi, mataku tidak mungkin salah," batin Jadipura bertanya pada dirinya sendiri. "Mungkin bocornya rencana kita bersumber darimu, Jurag

  • Aduh! Kangmasku!   Dia?

    "Semalam, rombongan yang membawa pasokan logistik, dihadang dan di begal oleh orang tidak dikenal." "Apa!?" Jayendra kembali duduk, menarik napas dalam dan mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas meja. Menjaga ketenangan di wajahnya. "Itu hanya kendala kecil! Aku sedang mengerahkan seluruh pengawalku untuk menyisir hutan dan merebut kembali barang-barang itu!" "Kendala kecil?!" Jadipura tertawa sumbang, sebuah tawa dingin yang membuat suasana ruangan makin membeku. "Prajuritku sudah kelaparan, dan kamu masih akan menyisir hutan itu?" Kepanikan itu kembali menyergap Jayendra kali ini ia tidak bisa menyembunyikannya. Bola matanya bergerak liar seraya mencari alasan untuk menenangkan amarah pejabat itu. Sedangkan Jadipura mendesah kasar. Kedua tangannya berada di pinggang menahan amarah. "Bagaimana bisa orang-orangmu kalah dari bajingan-bajingan itu!" "Itulah yang sedang saya pikirkan, Tuan. Saya juga tidak menyangka kalau saya bisa kecolongan seperti ini. Berikan saya waktu, Tua

  • Aduh! Kangmasku!   Kedatangan Jadipura

    Pria itu masih duduk diam di depan api tungku. Tangan Banyu terus menggerakkan kayu bakar tanpa canggung, seolah keributan besar yang melanda seluruh kediaman ini tidak ada hubungannya sama sekali dengannya. Percikan api menyala pelan, menyinari separuh wajahnya yang dipenuhi ketenangan mematikan yang baru saja berhasil mengguncang pondasi kekuasaan Jayendra tanpa meninggalkan jejak. Merasa diperhatikan, Banyu perlahan menghentikan gerak tangannya. Ia mendongak pelan, membiarkan tatapan matanya bertemu langsung dengan pandangan Wening di udara. Tatapannya datar, seolah tak ada emosi di dalamnya. Wening menahan napasnya sejenak, menguasai diri agar riak kepanikan tak menjalar ke wajahnya. Ia segera memalingkan pandangan kembali ke arah para pelayan yang masih tertunduk cemas. "Sudah, jangan menerka-nerka hal yang belum kalian pahami," tegas Wening dengan suara tenang yang teratur. Mengalihkan dari kepanikan karena tatapan Banyu. "Kembalilah bekerja. Jangan sampai Juragan menden

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status