Home / Male Adult / Aduh! Kangmas Tak Tahan / Bab.7 Mikirin Aku, Ya?

Share

Bab.7 Mikirin Aku, Ya?

Author: Author_Lee
last update publish date: 2026-07-30 19:58:32

"Jantungku tadi rasanya mau copot lo, Kang. Tiba-tiba Ndoro Ayu datang marah-marah," ucap Marni seraya menyodorkan segelas air minum pada Banyu.

Banyu yang duduk dengan mengangkat kaki di amben dapur hanya tersenyum simpul untuk menanggapi ucapan Marni. Ia tengah menikmati sepiring nasi jagung, jatah sarapannya yang sudah kesiangan.

"Loh, memangnya kamu lagi ngapain, to Marni?" tanya Mbok Suti ikut bergabung.

"Ya ndak lagi ngapa-ngapain to, Mbok. Lawong kita lagi ambil jenggernya Ndoro Juragan yang kejempit kayu. Iya kan, Kang Banyu?" ucap Marni seraya meminta pembenaran dari Banyu.

Banyu hanya mengangguk seraya mengunyah makanannya. Ia harus cepat-cepat menghabiskan sarapannya karena masih ada pekerjaan yang belum ia selesaikan.

"Pelan-pelan, ndak ada yang minta makananmu loh," bisik Marni di sembari duduk di samping Banyu.

Banyu merasa ada yang berbeda dari gerak-gerik Marni. Entah kenapa pandangannya tiba-tiba terpaku pada gundukan yang sedikit menyembul di balik kemben yang di pakai Marni. Padahal sebelumnya ia merasa gundukan itu tidak terlalu menonjol.

Ekor matanya menangkap sosok Mbok Suti yang berjalan ke luar area dapur. Di tempat itu, hanya ada dirinya dan Marni saja. "Duh Gusti, buah pepaya milik Marni kenapa bisa lebih besar dari buah Ndoro Ayu? Pupuk apa yang dipakai sampai bisa buahnya sebesar itu?" batin Banyu.

Meski begitu, Banyu tidak tergoda. Ia tahu jika Marni sengaja melakukan itu untuk menggodanya. Padahal setahu Banyu, Marni masih berusia belasan tahun. Tapi tubuhnya sudah terlihat sangat matang dan menggoda.

Tubuh Marni yang semok dan montok dengan dada yang berukuran lebih besar dari gadis seusianya. Tiba-tiba membuat darah Banyu berdesir.

Alih-alih membayangkan keindahan tubuh Marni yang ada di depan mata, Banyu justru memayangkan Wening dengan setiap keanggunan yang ia miliki.

"Hayo, Kang Banyu memikirkan apa?"

Banyu tersentak kaget dengan pertanyaan Marni yang membuat kesadarannya kembali. Ia sedikit tergagap karena kepergok Marni sedang melamun. Namun sesegera mungkin ia menguasai perasaannya.

Belum juga sempat Banyu menjawab pertanyaan Marni, gadis itu sudah melontarkan sebuah pertanyaan lagi. "Kang, lagi bayangin Marni, ya?" bisik Marni dengan nada menggoda.

Banyu refleks menggeleng cepat. Tidak!" sangkal Banyu. Mana mungkin ia membayangkan sembarang wanita dalam pikirannya.

"Iya juga tidak apa-apa, kang. Marni malah senang kalau Kang Banyu memikirkan Marni,"ucap gadis itu dengan mata berbinar. "Marni juga sering loh, mikirin Kang Banyu yang berotot ini setiap malam. Marni juga penasaran apakah pusaka Kang Banyu perkasa seberti badanya," imbuh Marni tanpa rasa malu. Tatapannya tertuju pada pusaka Banyu yang tersembunyi dibalik kain lusuh itu.

Banyu menaikan satu alisnya. Tidak menyangka jika cara bicara Marni jauh lebih dewasa dari usianya.

"Ngomong apa kamu, Ni?" tanya Banyu mencoba mengalih kan pembicaraan. "Kalau Mbok Suti dengar kamu bisa dimarahi loh," ancam Banyu.

Marni mencebikkan bibirnya tidak suka dengan ancaman Banyu yang membawa nama Mbok Suti. "Yo jangan kasih tau Mbok Suti to, Kang. Ini rahasia kita berdua saja."

Marni menggigit bibirnya, ia masih berharap Banyu akan tergoda.

Namun, seolah tak menggubris ucapan Marni, Banyu justru beranjak dari tempat duduknya. Dia meletakkan piring kotornya lalu pergi meninggalkan dapur. Membiarkan gadis itu dengan perasaan kecewanya.

"Dasar, bocah bau kencur saja mau menggodaku. Mana mempan!" gerutu Banyu seraya berjalan menuju kandang kuda, tempatnya bekerja. Ia mengabaikan rasa gerah serta gatal akibat rumput yang dijadikan pakan hewan peliharaan Juragan Jayendra. Semua itu tak menyurutkan semangatnya demi sebuah tujuan yang harus ia capai.

***

Setelah memberi makan semua kuda dan kambing, Banyu duduk di kursi yang terbuat dari bambu yang ada di gubug samping kandang kuda. Ia duduk bersandar menatap cahaya bulan yang malam ini bersinar terang.

Malam ini ia tak bisa tidur. Hatinya terasa gelisah, pikirannya juga tak tenang. Itulah yang membuat Bsnyu akhirnya memutuskan untuk keluar pondok meski sudah tengah malam.

"Malam ini Ndoro Ayu pasti sedang dimanja oleh Juragan. Ia sudah menantikannya sejak kemarin," gumam Banyu dengan pandangan menerawang. Membayangkan bagaimana Wening mendesah di pelukan Jayendra.

Membayangkan hal liar tersebut, membuat Banyu memikirkan sebuah ide gila.

"Aku jadi penasaran bagaimana permainan mereka. Apa aku coba lihat saja?" tanya Banyu pada dirinya sendiri.

Banyu beranjak, berjalan dengan mengendap-endap menuju pendopo utama.

Ia memperhitungkan setiap langkahnya. meskioun ia tahu jika saat ini semua penghuni kediaman sudah terlelap dalam mimpi mereka, tapi tidak ada salahnya untuk tetap berhati-hati.

Belum sempat ia keluar dari area pondok pelayan, ia sudah dikagetkan dengan suara pintu kayu yang terbuka. Membuat Banyu segera bersembunyi di balik pohon mangga yang cukup besar.

"Aduh! Sialan siapa yang bangun tengah malam begini?" desis Banyu dengan dada berdebar.

Banyu menyipitkan matanya, menajamkan indera penglihatannya untuk mengetahui siapa yang keluar.

"Loh, ini kan pondok tidak dipakai?" pikir Banyu. Disinari cahaya lampu teplok yang remang, Banyu melihat kepala Jayendra menyembul dari balik pintu itu. Ia seolah tengah mengamati keadaan. Kemudian keluar dengan langkah tegap, meninggalkan pondok yang Banyu pikir kosong.

"Sedang apa Juragan di tempat ini? Bukannya seharusnya bersama Ndoro Ayu?"

Belum juga terjawab rasa penasarannya, Banyu kembali dibuat kaget dengan seseorang yang keluar dari pondok setelah Jayendra.

"Jangan-jangan...."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sweety
banyu tergodanya sama wening... si juragan keknya seling ya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Punya Rahasia Lain

    Kebimbangan melanda hati Wening. Ia ingin pergi dari tempat jang membuatnya sesak ini, namun disisi lain ia juga ingin tahu apa sebenarnya yang disembunyikan oleh suaminya."Tapi Banyu, darimana kamu tahu ada gadis-gadis yang disembunyikan di gudang? Aku tidak pernah mendengar sesuatu dari tempat itu.""Kalau bajyak orang yang tahu, namanya bukan rahasia, Ndoro Ayu."Jawaban Banyu membuat Wenjng terdiam. Lidahnya terasa kelu tak dapat membantah kaimat pria itu."Kalau begitu, bawa saya ke gudang. Saya mau buktikan kalau apa yang kamu katakan memang benar," tegas Wening pada Banyu. "Ndoro Ayu, kegaduhan kemarin itu karena gadis-gadis itu kabur. Tentu saja mereka sudah tidak ada di sana."Wening mengikis jarak diantara mereka. "Lalu bagaiamana mau buktikan semua yang kamu katakan itu adalah benar, Banyu."Banyu menatap Wening tanpa mengedipkan mata, membiarkan keheningan menggantung di antara jarak mereka yang kian mengikis. Tatapan Ndoro Ayunya begitu tajam, menuntut jawaban."Ndoro A

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Kesepakatan

    "Kalau Ndoro Ayu sudah setuju dengan kesepakatan kita, Marni mau permintaan pertama." Wening tak menaggapi, ia bisa menebak apa yang akan diminta oleh pelayannya. Untuk saat ini, Wening terpaksa tunduk di bawah kaki pelayan kurang ajar itu. "Marni mau Ndoro segera angkat kaki dari rumah ini. Meskipun juragan tidak mau Ndoro Ayu pergi, Marni mau, Ndoro Ayu tetap meninggalkan kediaman dan membiarkan Marni memimpin kediaman ini dengan tenang. Marni bersiap untuk menjadi istri juragan. Marni tidak mau ada masalah karena Ndoro Ayu tidak setuju dengan pernikahan Marni dan juragan." Wening menarik sudut bibirnya samar. Yang ia pikirkan, ternyata benar. Marni memintanya untuk pergi dari tempat ini dan juga menyerahkan jabatan Nyonya rumah padanya. Tidak ia suruh, Wening memang berencana untuk pergi dari rumah ini. "Baik," jawab Wening singkat. Melihat Wening yang menurut tanpa membantah sedikitpun, membuat Marni mengerutkan keningnya. Merasa ada yang aneh dari istri majikannya tersebut.

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Marni Lagi

    Dengan amarah yang masih bergemuruh di dada, Wening pergi meninggalkan suaminya. Ia sudah tidak tahan untuk tetap tinggal di neraka seperti ini barang sehari pun. Ia berniat untuk mengemas semua pakaiannya dan pergi dari tempat ini. Untuk masalah perhiasan, ia tak memikirkannya lagi. Biarlah perhiasan itu hilang. "Kasihan sekali." Suara Marni memaksa langkah Wening untuk berhenti. Gadis itu berdiri di belakang Wening dengan melipat kedua tangan di depan dada. Senyumannya sarat akan rasa sinis yang mendominasi. Gadis itu perlahan mendekat, tak ada sedikitpun rasa hormat di dalam dirinya pada wanita yang masih berstatus istri dari juragannya itu. "Bagaimana rasanya dibentak Ndoro juragan?" Pertanyaan Marni membuat satu alis Wening terangkat. Rupanya gadis itu mendengar pembicaraannya dengan Jayendra barusan. Langkah Marni menapak dengan angkuh di atas lantai kayu. "Daripada Ndoro Ayu semakin sakit hati karena juragan, lebih baik Ndoro Ayu mundur dan bercerai. Kemudian kembali ke

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Semua Milik Saya!

    "Siapa lagi kalau bukan Juragan." Wening menoleh cepat ke arah sumber suara. Begitu juga dengan Mbok Suti yang berdiri tidak jauh di ambang pintu. Banyu berduri di ambang pintu dengan melipat kedua tangan di depan dada. "Jangan mengada kamu, Banyu!" bantah Wening. Lalu membuang pandangannya ke arah lain. Berusaha menghindari kontak mata dengan oria itu. Banyu melangkah masuk perlahan. Dengan senyum sinus tersungging di bibirnya. "Lalu siapa lagi? Pelayan di sini mana berani mencuri. Kalaupun berani, mereka tidak akan bisa menjual atau menukarnya menjadi uang," balas Banyu. Mbok Suti menahan lengan pria itu. "Bagaimana bisa kamu menuduh juragan, Nyu? Kamu jangan asal bicara." "Simbok ini seperti tidak tahu saja," jawabnya. "Yang pegang kunci hanya Ndoro Ayu dan juragan. Kalau barang di tempat ini hilang, bukankah artinya salah satu dari yang menegang kunci itu yang mengambilnya?" Wening menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin! Untuk apa Kangmas Jayendra mengambil kain?" Banyu

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Hartaku Hilang!

    Wening tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Matanya membelalak, ia refleks menutupi mulutnya dengan tangannya. "A-apa?" tanyanya dengan suara terbata. Jantungnya berdebar kencang, tangannya mendadak bergetar tanpa alasan. "Ka-kamu bilang apa Banyu? Kangmas Jayendra membunuh seseorang?" desisnya pelan. Banyu mengangguk, tatapannya datar seolah ia sudah kebal melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Wening. "Siapa, Banyu? Saya bahkan tidak pernah mendengarnya. Sepertinya tidak mungkin," sangkal Wening tidak percaya. Jika Jayendra adalah pria yang egois, ia masih mempercayainya. Namun jika Jayendra adalah seorang pembunuh, ia benar-benar tidak pernah menyangka akan mendengar kalimat seperti itu. "Kenapa tidak mungkin? Apa juragan adalah orang sebaik dan sesuci itu?" Wening menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia tidak bermaksud untuk membela suaminya. Namun kalimat yang dikatakan oleh Banyu adalah kalimat terkejam yang pernah ia dengar tentang suaminya. "Kangmas Jayendra ti

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Membujuk Wening

    "Bukan begitu, Wening —" "Cukup!" sela Wening seraya mengangkat tangannya. Memotong kalimat Jayendra. "Sekarang saya sudah tahu seperti apa posisi saya di mata Kangmas. Sekarang silahkan saja, lakukan apa yang Kangmas inginkan! Saya tidak akan melarang ataupun berkomentar." Tanpa menunggu jawaban Jayendra, Wening meninggalkan kamar suaminya. Langkahnya mantap, tidak menerima larangan dan penolakan. Ia bahkan tidak peduli dengan teriakan suaminya yang memintanya untuk kembali. Wening melangkah menembus kegelapan lorong dengan punggung tegap. Setiap pijakan kakinya terasa dingin di atas lantai kayu, namun tak sedikit pun raut gentar tampak di wajahnya. Ia mendorong pintu kamarnya, melangkah masuk, lalu menutupnya rapat kamar tamu yang sekarang sudah menjadi tempat ternyamannya di kediaman. Di dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi temaram lampu minyak, Wening duduk di tepi peraduan. Ia menarik napas panjang, mengembuskannya pelan. Dada yang semula bergemuruh hebat perlahan ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status