Partager

Bab.5 Pelan-pelan

Auteur: Author_Lee
last update Date de publication: 2026-07-30 17:31:33

"Ndoro Ayu?" Suara yang tampak familier itu memaksa Wening membuka matanya. Ia tersentak bangun, kemudian mengedarkan pandangannya dengan napas yang memburu. "Ndoro Ayu?"

Wening menoleh ke asal suara. Orang yang memanggilnya berdiri di samping ranjangnya, menatap dengan kening berkerut.

"Mbok Suti?" desis Wening. "Kok Mbok ada di kamarku?"

Bola mata Wening bergerak liar, kemudian ia meraba-raba tubuhnya seolah mencari sesuatu. "Badanku tidak bau minyak. Apa aku mimpi? Tapi mimpi itu terasa sangat nyata." Wening bergumam yang semakin membuat kening Mbok Suti semakin menukik tajam.

Melihat gelagat aneh dari Ndoro Ayunya, Mbok Suti merasa khawatir. Ia berinisiatif bertanya apa yang terjadi. "Ndoro Ayu mimpi buruk?"

Alih-alih menjawab pertanyaan Mbok Suti, Wening justru balik bertanya tentang kemungkinan orang lain masuk ke kamarnya sebelum dirinya.

Mbok Suti yang segera menaikan satu alisnya. Merasa aneh dengan pertanyaan Wening. "Mana ada yang berani, Ndoro? Kalau ada yang berani, artinya sudah bosan hidup. Mau Ndoro Juragan murka?"

"Benar juga." Wening membenarkan.

Wening sedikit bernapas lega karena yang ia rasakan hanyalah bunga tidur. Bukan hasrat nyata yang akan membawanya ke dalam jurang yang dalam.

"Siapkan air, aku mau mandi!" titah Wening pada Mbok Suti yang segera dijawab dengan anggukan patuh.

***

Setiap pagi, Wening memiliki rutinitas yang tidak pernah ia tinggalkan. Jika sudah membersihkan diri dan melayani sang suami, Wening akan duduk di pondok samping untuk melihat hunga-bunga yang ia tanam. Atau sekedar menikmati secangkir teh manis buatan Mbok Suti.

Kali ini bukan hanya rutinitas, namun ia juga ingin menenangkan pikiran dari mimpinya semalam yang membuatnya sakit kepala. Saat ia sedang menikmati secangkir teh, ia hampir saja tersedak karena melihat Banyu sedang membelah kayu bakar di dekat dapur.

"Siapa yang suruh?" tanya Wening pada Mbok Suti yang duduk bersimpuh di lantai semen.

Mbok Suti mendongak menatap Banyu dari kejauhan sesaat, lalu kembali menundukkan pandangannya. "Nuwun sewu, Ndoro Ayu. Tidak ada yang menyuruh, tapi tadi pagi Marni kesulitan menyalakan api karena kayunya besar dan tidak muat kalau masuk pawon. Jadi... Banyu tanpa disuruh membelah kayu-kayu itu."

Wening tak membalas. Pandangannya terpaku pada sosok pria bertubuh kekar yang tidak jauh darinya duduk. Jika kemarin ia hanya merasakan dari sentuhan tangan, hari ini ia melihat bagaimana tubuh kokoh itu bercucuran keringat meski hari masih pagi.

Banyu hanya memakai kaos singlet longgar berwarna putih. Tapi, justru dari situlah Wening dapat melihat dengan jelas otot tubuh dan lengan kusir itu.

Keringat yang mengalir perlahan dari dahi membuat pria itu terlihat lebih menggoda. Kulitnya yang kecoklatan mengkilap diterpa cahaya matahari pagi.

"Duh, Gusti! Bagaimana bisa aku memikirkan pria lain disaat aku sudah bersuami?"

Pipi Wening memanas. Ia segera membuang pandangannya ke arah lain. Rasanya tidak pantas jika seorang Ndoro Ayu menatap tubuh seorang abdi dengan penuh damba. Untuk menutupi kegugupannya, ia mengalihkan perhatiannya dengan menyeruput teh yang sempat ia letakan di atas meja.

Namun, tak butuh waktu lama, tatapan itu kembali jatuh pada Banyu. Saat Marni datang dan memberikan segelas air untuk pria itu. Dengan senyum yang ramah, Banyu menerima gelas tersebut. Pembicaraan sederhana kemudian mengalir diantara keduanya. Sesekali diselingi tawa kecil dari Marni.

Melihat pemandangan itu, ada rasa tidak nyaman di hati Wening. Seperti perasaan tidak suka karena gadis yang masih berusia belasan tahun itu terlihat sedang menggoda pria di depannya.

"Mereka sedang membicarakan apa sih?" gerutu Wening dengan tatapan sinis ke arah keduanya.

Usia Marni memang masih belia, namun bentuk tubuhnya sudah terbentuk. Dengan dada yang besar membusung, juga pinggul yang berisi. Marni memang menjadi pusat perhatian dari para abdi laki-laki di kediaman itu. Kemben kain tipis yang melilit tubuhnya memperjelas lekuk tubuhnya yang matang sebelum waktunya.

Namun saat ini, perhatian Wening sama sekali tidak tertuju pada lekuk tubuh gadis itu. Ia mengamati gerak-gerik kedua orang itu dengan cermat. Marni terlihat membisikkan sesuatu saat menerima gelas. Yang disusul dengan kerlingan matanya.

Banyu mengangguk amat tipis. Sebuah gestur yang begitu samar, tetapi cukup jelas untuk menjadi kode yang hanya dipahami oleh mereka berdua.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Banyu merapikan peralatan dan mengembalikannya ke tempat semula. Pria itu kemudian kembali menuju kandang kuda tempat tugas utamanya berada.

Tak lama setelah itu, Marni keluar dari arah dapur, berjalan perlahan menuju area kandang yang sama.

"Ah, mungkin Marni mau ambil sesuatu di belakang," pikir Wening mencoba menepis kecurigaan.

Ia kembali menikmati teh yang mulai dingin. Ditemani dengan getuk lindri buatan Marni. Untuk beberapa saat ia merasa tentram mendengar suara burung perkutut peliharaan suaminya—Jayendra.

Mendengar kicauan itu, ia jadi merindukan sang suami yang baru akan pulang malam ini.

"Pergi kemana si Marni?"

Suara Mbok Suti yang berada di dapur berhasil menarik perhatiannya. Mata Wening menyipit. Ia ingat jika Marni pergi ke belakang ke arah kandang kuda yang disusul oleh Banyu.

Rasa penasaran membuat Wening akhirnya beranjak dari tempat duduknya. Tanpa memberitahu siapa pun, ia melangkah pelan dan sebisa mungkin tanpa suara menuju arah kandang kuda.

Namun, sesampainya di sana, suasana begitu sepi. Tak ada satu orang pun yang terlihat.

Kecewa dan mengira prasangkanya salah, Wening pun memutuskan untuk berbalik pergi. Namun, baru saja ia memutar tubuhnya, suara gemerisik samar terdengar dari arah gudang di sebelahnya.

Langkahnya mendadak terhenti.

"Pelan-pelan..."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Aduh! Kangmasku!   161 Sandiwara Jayendra

    Matahari pagi baru saja mengintip di ufuk timur. Udara pagi masih terasa dingin, namun suasana di dalam kamar justru mendadak terasa jauh lebih janggal. Wening duduk di tepi ranjang, baru saja mencuci wajahnya dan Mbok Suti sudah keluar dari kamar tamu yang ia tempati. Ia menoleh ke arah pintu saat pintu kamar berderit pelan terbuka. Mengira Mbok Suti kembali untuk mengantarkan sesuatu. Namun, sosok yang berdiri di ambang pintu membuat kening Wening langsung berkerut dalam. Jayendra berdiri di sana dengan senyuman paling hangat yang pernah ia tunjukkan dalam beberapa bulan terakhir. Pria itu menenteng sebuah nampan kayu berisi secangkir teh hangat dan piring kecil kue tradisional, sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dilakukan oleh suaminya sendiri. "Selamat pagi, Wening," sapa Jayendra dengan suara yang dilembutkan, sengaja dibuat seramah mungkin. Ia melangkah mendekat dengan langkah pelan. Wening terpaku, tubuhnya menegang seketika. Ia menatap nampan yang disodorkan ke

  • Aduh! Kangmasku!   160. Kamu Jual, Aku Beli

    Setelah Kang Darna menghilang di balik pintu, Jayendra masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tertuju pada daun pintu yang kini tertutup rapat. Perkataan lelaki itu tadi kembali terngiang di telinganya. Jayendra menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi rongga dadanya yang terasa sesak oleh jutaan benang kusut yang ia rajut sendiri. Segala kecurigaan tentang hubungan gelap Wening dan Banyu ia coba kubur dalam-dalam, menepisnya dengan ego seorang lelaki yang merasa martabatnya terlalu tinggi untuk disaingi oleh seorang pesuruh rendahan. Namun, ingatannya kembali tertuju pada kejadian beberapa hari lalu. Ia masih ingat betul bagaimana Wening bersikap terhadap Banyu. Bahkan, perempuan itu sempat memohon kepadanya agar tidak menghukum kusir tersebut. Sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kening Jayendra berkerut. Selama ini, Wening memang dikenal cukup baik kepada para abdi dalem. Namun, perhatian yang diberikan kepada Banyu terasa berbeda. "Jangan-jangan ..." Jayendra men

  • Aduh! Kangmasku!   Kamg Darna Masih Penasaran

    Darah Jayendra yang tadinya sempat mendingin akibat rasa frustrasi, mendadak berdesir panas. Ia mengangkat kepala dengan gerakan lambat namun kaku. Mata pria itu membelalak tajam, menatap lurus ke arah abdi setianya dengan sorot penuh ketidakpercayaan yang bercampur curiga. "Apa yang baru saja kamu katakan, Darna? Kamu masih belum puas dengan hukumanmu kemarin?" suara Jayendra berbisik rendah, namun sarat akan tekanan berat yang siap meledak. Kang Darna menelan ludah, merapikan letak iket kepalanya sejenak untuk mengumpulkan keberanian, lalu kembali mendekatkan wajahnya ke meja. "Jangan buta oleh rasa percaya, Ndoro," bisik Darna penuh racun. "Ndoro masih ingat dengan ucapan Marni yang melihat Ndoro Ayu dan Banyu berdua di gubuk pinggur sungai? Saya sangat yakin kalau Marni tidak berbohong. Pasti yang dikatakan olehnya adalah kebenaran." "Darna, Marni saja berani membohongiku masalah kehamilan, bisa saja itu juga hanya akal-akalannya untuk menjatuhkan Wening. Dia sangat ingin menj

  • Aduh! Kangmasku!   Bujukan Beracun Kang Darna

    "Ampun, Ndoro Juragan. Saya tidak bermaksud untuk lancang." Ia menjatuhkan dirinya ke lantai. Menangkupkan kedua tangannya di atas kepala meminta ampun. "Tapi, Ndoro, Tuan Jadipura memberikan pilihan dan juga kemudahan. Kenapa Ndoro harus mengambil cara yang sulit?" ucap Kang Darna. Jayendra mendengus kasar. Ucapan Kang Darna memang tidak salah, tapi harus menyerahkan Wening ke pangkuan pria brengsek itu, ia merasa tidak rela. "Dia itu istriku, Darna. Lancang sekali kamu. Menyuruh untuk memberikan istriku pada pria lain!" Teriakan Jayendra menggema di seluruh ruangan berdinding kayu itu. Bukan hanya menggema, suara Jayendra bocor melalui celah-celah kecil di dinding. Dan di balik dinding luar itu, seseorang berdiri mematung. Wening, yang baru saja berniat membawa secangkir teh hangat untuk suaminya, menghentikan langkahnya seketika. Nampan di tangannya bergetar hebat. Matanya membelalak lebar, sementara darah di tubuhnya terasa membeku. "Menyerahkanku?" ulangnya lirih. Ia merapatk

  • Aduh! Kangmasku!   Permintaan Jadipura

    Malam kembali merayap turun, menyelimuti kediaman Jayendra dengan bayang-bayang gelap. Di ruang kerja pribadinya yang temaram, Juragan Jayendra duduk seorang diri di balik meja kayu jati. Pelita kecil di atas meja memantulkan bayangan wajahnya yang kuyu, memperlihatkan garis-garis kelelahan dan kantung mata hitam akibat malam-malam panjang yang dilalui tanpa ketenangan. Pikiran Jayendra masih kacau balau akibat kekacauan pagi tadi soal Banyu dan raibnya surat tanah Wening. Namun, sebelum ia sempat menarik napas panjang, ia kembali teringat kejadian sore tadi. Seorang penjaga gerbang depan setengah berlari ke ruang kerjanya dengan napas yang memburu. "Ndoro Juragan... ada tamu memaksa masuk. Beliau... beliau tidak mau menunggu di luar," lapor pengawal itu dengan suara bergetar. Jayendra mengernyitkan dahi, hendak membentak, namun terlambat. Langkah kaki berat yang santai namun berwibawa telah memecah keheningan di luar, disusul suara tawa kering yang menggema di teras pendopo. "Wa

  • Aduh! Kangmasku!   Jayendra lah penyebabnya!

    Banyu berjalan kembali ke bilik bambu tempatnya biasa merawat kuda. Ia meraih kendi air kecil untuk membasuh darah yang masih mengering di sudut bibirnya, meringis pelan saat air dingin menyentuh luka robek akibat hantaman kepalan tangan Darna tadi."Banyu."Sebuah suara lembut namun tegas menghentikan gerakan tangan Banyu.Banyu menoleh perlahan. Di ambang pintu bilik yang remang, Wening berdiri dengan sehelai kain bersih dan mangkuk kecil berisi air hangat di tangannya. Sorot mata wanita itu menyiratkan kecemasan yang selama ini berusaha ia sembunyikan di balik wibawanya sebagai nyonya rumah."Ndoro Ayu..." Banyu berbisik, hendak menegakkan tubuhnya, namun Wening dengan cepat melangkah mendekat."Diam di situ, Banyu," desis Wening lembut.Wanita itu meletakkan mangkuk di atas meja kayu kecil, lalu merogoh lipatan kainnya untuk mengambil selembar kain katun bersih. Ia berdiri sangat dekat dengan Banyu. Begitu dekat hingga aroma wangi bunga kenanga yang melekat di tubuh Wening tercium

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status