Share

Bab 2

Author: Toyusa
last update publish date: 2026-06-13 16:07:08

Ratna menjerit, suaranya pecah di antara isak tangis dan napas yang memburu. Dia berdiri di ambang pintu, menatap nanar ke arah sofa. Mira segera tersentak, menarik kakinya dari pangkuan Brata dengan gerakan kasar yang disengaja. 

Ia langsung bersimpuh di lantai, menundukkan kepala dalam-dalam sampai dahi hampir menyentuh karpet.

“M—maaf, Nyonya.”

"Jangan berlebihan, Ratna," suara Brata rendah, datar, dan tajam. Ia mengangkat Mira agar tidak menyentuh kaca yang sudah pecah.

Ratna melangkah maju, tangannya gemetar hebat saat menunjuk ke arah Mira. "Berlebihan? Atau kamu memang sengaja mencari perhatian, hah?!"

Brata menghela napas panjang, bangkit berdiri untuk memutus jarak di antara mereka.

“Sudahlah, Ratna. Jangan berlebihan. "Mira, kamu ke sini... hati-hati. Tolong bantu Nyonya untuk mandi. Biar saya beresin ini."

Mira tampak ragu, bahunya sedikit gemetar saat ia berusaha berdiri dengan kaki yang masih sakit. 

Ia menatap Ratna sekilas dengan tatapan sendu, lalu menunduk lagi seolah merasa bersalah. "Gak usah takut," ucap Brata, suaranya merendah, berusaha menenangkan.

Gadis itu akhirnya melangkah mendekat dengan langkah kecil yang hati-hati. Brata membalikkan badan, menatap istrinya yang masih berapi-api. 

"Ratna... dia tidak punya baju layak, aku hanya memberikan baju bekasmu yang sudah tidak dipakai. Sekarang, biarkan dia membantumu mandi," ucap Brata, menekan sisa-sisa kesabarannya.

"Aku gak mau, Mas! Aku gak mau sama dia! Dia wanita penggoda!" amuk Ratna.

Mira berdiri mematung, menjaga jarak setengah meter dari ranjang. 

Ia menunduk dalam-dalam—bukan karena takut, melainkan untuk menyembunyikan senyum samar yang nyaris terbit di sudut bibirnya.

"Aku harus bagaimana lagi? Kita sudah mengganti lebih dari enam kali pengasuhmu. Kalau tua, kamu bilang ketuaan. Aku tidak tahu ke mana lagi mencari yang cocok dan sabar menghadapi temperamen ini, Rat..." 

Brata menghela napas panjang, lalu dengan lembut mengarahkan bahu Mira agar lebih dekat ke arah ranjang. 

"Terima kasih, ya, Mir."

"Iya, Ndoro...." sahut Mira pelan, hampir tak terdengar.

Saat Brata membungkuk untuk memunguti pecahan vas di lantai, tiba-tiba–

 CUH!

Ratna meludahi wajah Mira. Gadis itu terlonjak kaget. 

Secara refleks, Mira mundur berbalik dan langsung menabrak dada bidang Brata yang baru saja bangkit. 

Karena terkejut dan kehilangan keseimbangan, Brata secara spontan menangkap pinggang Mira agar gadis itu tidak jatuh menimpa pecahan kaca.

"Ratna!" tegur Brata keras, napasnya memburu karena terkejut.

"Apa?! Lihat sekarang, kamu malah memeluknya! Bayi kita saja kuburannya belum kering, kamu sudah meluk-meluk pembantu!"

Mira langsung menarik diri dengan panik. ​Wajahnya dibuat pucat pasi, namun sepasang matanya yang sayu justru mengirimkan sinyal kepasrahan.

Brata terdiam kaku. Rahangnya perlahan mengeras, sementara tatapan matanya mendadak berubah tajam mengamati wajah Mira, sebuah perubahan raut yang tak luput dari ekor mata gadis itu.

Brata menatap Ratna dengan sorot mata yang amat sangat lelah. “Ratna. Kamu– sudahlah!”

“Mira, kamu beresin pecahan itu, biar saya yang mandiin istri saya," bisik Brata pada Mira, suaranya sarat akan rasa frustrasi.

Mira mengangguk patuh, lalu bergegas mengambil sisa pecahan dan kembali ke dapur membuangnya. Sementara majikannya memandikan istrinya.

Namun saat di dapur, saat Mira sibuk membuang sisa air ke saluran pembuangan. Tiba-tiba, langkah kaki berat terdengar di belakangnya. 

Tanpa menoleh pun, Mira tahu itu Brata. Udara dapur mendadak terasa lebih padat, tercium aroma maskulin pria itu yang bercampur samar dengan sisa bau sabun bayi yang mengiris hati.

"Mira,"

Mira terkejut dan langsung berbalik, namun kakinya justru tersandung lantai yang licin akibat percikan air. Tubuhnya limbung ke belakang, hampir menghantam sudut meja dapur kayu yang kokoh.

Melihat bahaya itu, Brata bergerak cepat. Ia segera menangkap tubuh Mira dan menariknya menjauh dari sudut meja. Namun, gerakan mendadak itu justru membuat tubuh mereka merapat tanpa jarak.

Brata terpaku. Wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari leher Mira. Napas pria itu memburu dan terasa panas saat menyapu kulit Mira.

Tubuh mereka nyaris kehilangan keseimbangan. Brata refleks mencengkeram punggung Mira, menahannya agar mereka berdua tidak jatuh menimpa meja.

"Ndoro....." bisik Mira gemetar. Jemarinya mencengkram lengan kemeja Brata dengan ragu–sebuah penolakan yang begitu lemah, yang justru terbaca seperti undangan terselubung.

Brata tersentak, seolah baru saja tersengat listrik. Ia segera melonggarkan dekapannya, meskipun kedua tangannya masih bertumpu di sisi meja, mengurung tubuh Mira.

Brata memejamkan mata sesaat. Rahangnya mengatup rapat hingga urat di lehernya menonjol samar. Ia menahan napas berat yang kemudian dihembuskan nya dengan kasar.

Dengan tatapan paling tulus dan polos yang bisa ia pasang, Mira berbisik lembut, "Ndoro… mau saya buatkan kopi?"

Tiba-tiba, suara teriakan melengking Ratna memecah keheningan, menggema dari arah kamar utama yang jauh dari dapur.

"MAS BRATA! MAS! Tolong aku! Aku haus!" Suara itu penuh amarah, egois, sekaligus menuntut.

Brata memejamkan mata rapat-rapat. Rasa pusing dan frustasi seketika tergambar jelas di wajahnya yang lelah mendengar teriakan istrinya dari kamar. 

​Ia menjauhkan tubuhnya dari Mira, meraup wajahnya dengan kasar. Saat pandangannya jatuh pada raut wajah Mira yang tampak polos, jakun Brata bergerak naik-turun menelan ludah. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh seolah menahan gejolak di dadanya, lalu ia mundur satu langkah dengan napas memburu.

“Kamu hati-hati kalau bekerja.” tegurnya dengan nada datar, kembali memasang dinding tegas layaknya seorang majikan.

"Kopinya... kamu bawa ke ruang kerjaku saja nanti," ucap Brata cepat, lalu berbalik pergi dengan langkah terburu-buru, ingin segera menyudahi keributan istrinya.

“Baik, Ndoro,” ucap Mira, mengulum senyum patuh yang penuh kemenangan.

Sepeninggal Brata, Mira yang tertinggal di dapur perlahan mengukir senyum tipis. Dari jarak sedekat tadi, tak peduli sekeras apa pun Brata memasang wajah dingin, Mira menyadari dengan jelas bahwa ritme napas pria itu sempat memburu sesaat sebelum melepaskannya.

Namun, saat Mira hendak mengambil kain pel untuk membersihkan ceceran air di lantai, gerakannya mendadak membeku.

​Di ambang pintu dapur yang remang-remang, berdiri Bi Sumi. Asisten rumah tangga senior itu sudah bekerja di rumah ini bahkan sebelum Brata dan Ratna menikah. Wanita tua itu menatap Mira dengan mata menyipit tajam, penuh selidik. Tangannya meremas gagang sapu dengan begitu erat hingga urat-urat tangannya menonjol.

  

​Mira menelan ludah, mendadak merasa sudut dapur menjadi sangat dingin di bawah tatapan penuh kecurigaan itu.

  

​Bi Sumi melangkah satu kali ke depan, memotong jarak di antara mereka. Suaranya rendah, namun sarat akan ancaman yang menusuk.

  

​"Aku sudah lama bekerja di sini, Nduk. Bahkan, aku yang mengasuh Nyonya Ratna sejak beliau masih merangkak di kediaman Tuan Haryo. Beliau sudah kuanggap seperti anakku sendiri," bisik Bi Sumi, matanya berkilat tajam. "Jangan pikir aku tidak tahu muslihat apa yang sedang kamu mainkan."

  

​"Niat kerja, ya kerja yang benar. Sekali saja kamu berani memancing-mancing Ndoro Brata... aku sendiri yang akan mendepakmu dari rumah ini, dan aku tidak akan segan melaporkanmu langsung pada Tuan Haryo. Paham?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 118

    Di ruang kerjanya, Brata mengamuk membabi buta, menghancurkan segala benda yang ada di atas meja kerjanya hingga hingga berjatuhan dan berserakan di atas karpet. Tumpukan dokumen beterbangan, lampu baca terjungkal, bahkan laptop mahalnya ikut terhempas ketika tangannya menghantam meja dengan kasar. Napas Brata memburu, dadanya naik turun dengan keras, sampai akhirnya tubuhnya terasa kehilangan tenaga dan ia menjatuhkan diri ke kursi, lalu menenggelamkan wajah di kedua telapak tangannya. Namun, di tengah keputusasaan yang menggelapkan akal sehatnya, memori Brata kembali berputar pada detik-detik saat ia berdiri di depan brankas besi yang setengah terbuka itu. Ada sesuatu yang janggal. Di atas lantai safe house yang seharusnya berdebu dan lama tak tersentuh, ia melihat jejak basah sepatu bot dengan sol bergerigi, serta secercah abu cerutu langka yang baunya masih menguar tipis di udara. Haryo

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 117

    Satu jam kemudian, rumah itu kembali riuh oleh jeritan panik Ratna yang mengaku liontin berlian peninggalan ibunya hilang. Para pelayan segera berhamburan mencari ke berbagai sudut rumah, membuka laci, memeriksa kamar, bahkan menggeledah ruangan-ruangan yang jarang digunakan. Suasana rumah mendadak kacau, masing-masing orang sibuk mencari tanpa tahu di mana sebenarnya benda berharga itu terakhir kali terlihat. Tepat di tengah kekacauan tersebut, pintu utama mendadak didorong terbuka dengan kasar. Brata pulang dengan wajah merah padam dan napas memburu. Kemejanya kusut, rambutnya sedikit berantakan, sementara urat di pelipisnya menonjol jelas. Wajah pria itu menunjukkan bahwa sesuatu yang buruk baru saja terjadi. "Ada apa ini?!" bentak Brata begitu melihat para pelayan mondar-mandir tanpa arah. Ratna segera memutar kursi rodanya dan menghampiri sang suami. Wajahnya tampak panik, matanya berkaca-kaca, seolah benar-benar berada dalam keadaan terdesak. "Mass... liontin berlian penin

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 116

    Begitu Brata pergi, Ratna masih terpaku di kursi rodanya, pikirannya dipenuhi tuduhan yang baru saja dilontarkan suaminya sebelum berangkat mengecek langsung ke lokasi tersebut.Menjebaknya ke safe house yang diawasi polisi?Ratna sama sekali tidak mengerti dari mana tuduhan itu berasal. Ia memang menyimpan alamat tempat tersebut sebagai alat tawar, tetapi tidak pernah sedikit pun berniat mengirim Brata ke sana dengan tujuan mencelakakannya. Jika Brata sampai tertangkap polisi, rencananya untuk mendapatkan kembali saham perusahaan justru akan berantakan. Ia masih membutuhkan suaminya untuk menandatangani pengalihan saham itu.Untuk apa ia menghancurkan rencananya sendiri?Rahang Ratna mengeras. Satu kemungkinan mulai memenuhi pikirannya.Seseorang sudah membisikkan hal itu kepada Brata. Dan di rumah ini, hanya ada satu orang yang cukup dekat dengan suaminya sekaligus cukup pandai mempengaruhi pikirannya.Mira.Amarah dan rasa terhina bercampur jadi satu di dadanya. Ia difitnah atas se

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 115

    Keesokan harinya, Ratna duduk kaku di kursi rodanya dengan paspor bersampul hijau dan tumpukan dokumen usang peninggalan ayahnya di pangkuan. Matanya menatap tajam ke arah Brata yang baru saja keluar dari kamar tidurnya. Pria itu tampak sangat kacau– kantung matanya menghitam dan ia hanya mengenakan pakaian rumahan yang kusut"Aku sudah menelepon pengacara dan notaris kenalan Bapak," ucap Ratna tanpa basa-basi, suaranya terdengar mendesak. "Mereka bersedia datang ke rumah ini siang ini juga. Pengalihan saham bisa diproses menggunakan paspor ku sebagai pengganti KTP yang dicuri pelayan kesayanganmu itu. Siapkan dirimu, Mas. Waktu dari bank tinggal empat hari."Ratna mengira Brata akan menunjukkan kepanikan yang sama, tetapi pria itu justru terdiam. Matanya perlahan turun menatap paspor di pangkuan istrinya sebelum kembali terangkat dengan sorot yang jauh lebih dingin daripada yang Ratna duga. Brata kemudian berjalan mendekat dan berhenti tepat di hadapannya."Batalkan kedatangan merek

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 114

    ​"Aku tidak tahu, Mira," desah Brata dengan suara serak, menjatuhkan keningnya ke bahu gadis itu. Pria yang biasanya begitu tegas dan sulit digoyahkan itu kini terlihat lelah dan putus asa. "Bank hanya memberiku sisa waktu lima hari. Ratna tahu persis aku sedang dikejar dengan waktu. Dia terus mendesakku agar segera menandatangani akta pengalihan saham itu, atau dia tidak akan pernah memberikan kata sandinya. Kalau aku melewati batas lima hari ini... aku akan kehilangan rumah ini, sisa perusahaanku, semuanya."Di balik bahu Brata, tatapan Mira perlahan berubah. Otaknya segera bekerja menghitung kemungkinan yang ada. Lima hari bukan waktu yang panjang, tetapi cukup untuk menghancurkan rencana Ratna jika Brata bisa dibuat menunda keputusan. Kalau pria itu panik dan menyerahkan separuh sahamnya sekarang, Ratna akan kembali mendapatkan kendali atas perusahaan dan posisi Mira akan semakin sulit. Ia tidak boleh membiarkan hal itu terjadi. Sebelum Brata benar-benar mengambil keputusan, ia ha

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 113

    Dua hari berlalu seperti neraka bagi Brata. Batas waktu penyitaan dari pihak bank semakin dekat dan tekanan itu terus menghimpitnya dari segala arah.Di saat yang sama, Ratna dengan cerdik memanfaatkan keputusasaan itu dengan mengurung diri dikamar tamu, menolak memberikan kata sandi maupun lokasi harta rahasia Haryo sebelum Brata membaliknamakan separuh saham kepadanya.Namun, yang paling menguras kewarasan Brata selama empat puluh delapan jam terakhir bukanlah ancaman bank atau tuntutan Ratna. Melainkan diamnya Mira.Gadis itu masih berada di rumah, tetapi sikapnya berubah seolah-olah ia telah menjadi orang lain. Tidak ada lagi secangkir kopi hitam yang diam-diam tersaji di meja kerjanya setiap malam, tidak ada lagi sapaan lembut ketika ia berpapasan, bahkan pijatan ringan di pundak saat ia kelelahan di kursi pun tidak pernah diberikan lagi.Mira tetap menjalankan semua pekerjaannya seperti biasa, menyapu, mengepel, mencuci, dan menyiapkan kebutuhan rumah, tetapi semuanya dilakukan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status