Share

Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan
Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan
Author: Toyusa

Bab 1

Author: Toyusa
last update publish date: 2026-06-13 16:06:40

​"Aahh... pelan, Ndoro... pelan...." 

Mira meringis, jemarinya mencengkram erat pinggiran pintu. 

Tadi, kaki kirinya baru saja terkilir saat membawa baskom air panas. 

Percikan air panas sempat mengenai kebaya katun tipisnya, membuat kebayanya menjiplak siluet tubuhnya. Ia berusaha mencoba melangkah, namun kakinya benar-benar menyerah. Ia limbung, nyaris jatuh ke lantai.  

Namun, Brata Yuda, majikannya menuntunnya ke sofa. “Makanya, jalan itu pakai mata, jangan melamun," 

Begitu terduduk, Brata menarik kaki Mira yang terkilir ke atas pangkuannya. 

Ia menyingkap sedikit kain kebaya yang membalut kaki jenjang Mira. “Saya bantu pijat.”

Jemarinya yang kasar mulai mengurut titik-titik nyeri di pergelangan kaki gadis itu.

​"Ndoro... pelan..." rintih Mira. Refleks, ia menarik kakinya hingga kainnya tersingkap lebih tinggi.

Namun saat pakaian dalamnya terlihat, Brata menahan nafas. Brata tidak bicara. Dia justru menarik kaki itu kembali, menekan lebih dalam pada titik saraf yang tepat.

​"Ahh... Ndoro.. Ah…" Suara Mira berubah. Ada erangan halus antara rasa sakit yang luar biasa dan sensasi panas yang menjalar ke pangkal pahanya. 

Hangat minyak urut berpadu dengan sentuhan tangan Brata yang dominan membuat bulu kuduknya meremang. Atmosfer di ruangan itu mendadak menyesakkan.

​"Ah... Ndoro, sudah... sudah. Sepertinya sudah lebih baik," ujar Mira cepat, menarik kakinya dan menyingkirkan tangan Brata. 

Pipinya memerah, bukan karena malu, melainkan karena ia harus segera memutus kontak fisik dengan majikannya.

​"Mira, bisa tidak jangan mendesah?" desis Brata pada akhirnya.

Matanya menatap tubuh Mira yang basah. Bagai kucing disuguhkan ikan, siapa yang bisa tak goyah?

"Kalau nyonyamu dengar, dia akan menendangmu keluar malam ini juga karena menganggapmu menggoda saya.”

Mira menunduk, menyembunyikan getaran di hatinya. 

"Maaf, Ndoro. Saya ceroboh..." bisik Mira pelan. Tatapannya yang redup kini berubah tajam

Sudah seminggu Mira menginjakkan kaki di rumah besar ini. Awalnya, dia direkrut sebagai pengasuh untuk bayi yang sangat dinantikan majikannya itu.

Namun, takdir berkata lain bayi itu lahir tak bernyawa.

Kematian sang buah hati menghancurkan mental Ratna, membuatnya lumpuh oleh duka dan terus terkurung di kamar, memaksa Mira yang seharusnya merawat bayi, kini terjebak melayani Nyonya besar yang masalahnya...

Emosinya seringkali tidak stabil.

Bahkan ia tak segan meludahi Mira jika dirinya salah.

​"Ganti bajumu," perintah Brata, suaranya serak. "Jangan pakai kain seperti itu, pakai saja daster supaya lebih leluasa bergerak."

​"Saya tidak punya, Ndoro. Pakaian saya hanya ini," jawab Mira pelan, sengaja membiarkan dadanya turun-naik dengan ritme yang teratur. Ia beralasan bahwa dari kampung tak ada baju yang seperti itu.

​Brata mendengus, lalu masuk ke kamar utama. Tak lama, ia kembali membawa tumpukan baju milik istrinya. "Pakai ini. Setelah itu, urus istri saya."

​Mira menerima pakaian itu dengan senyum tipis. Ia segera mengganti kebaya basahnya dengan dress katun milik Ratna. 

Karena tubuh Mira lebih tinggi dan berisi, dress itu jatuh tepat di atas lututnya, dengan kerah rendah yang memperlihatkan leher jenjang dan belahan dada yang menantang. 

Setiap gerakannya memicu lekuk tubuh yang terbungkus ketat, membuat tubuhnya lebih provokatif daripada penampilan sebelumnya.

​Ketika Mira melangkah masuk ke kamar majikannya dengan ember air hangat yang masih mengepul, suasana di dalam ruangan langsung mencekam. 

Brata Yuda berdiri mematung di sudut kamar, jakunnya naik-turun memperhatikan bagaimana dress itu memeluk lekuk tubuh Mira dengan begitu liar.

​Ratna, yang terbaring lemah di ranjang, melotot tajam.

 Wajahnya memucat, amarahnya meluap melihat pelayan itu mengenakan pakaian kesayangannya di depan suaminya sendiri.

​"Kenapa dia memakai pakaianku, Mas?!" teriak Ratna parau. 

Dengan sisa tenaga, ia meraih vas bunga di meja samping tempat tidur dan melemparkannya ke arah Brata Yuda.

Praangg!!!

Vas itu menghantam lantai, hancur berkeping-keping. Mira tersentak, menjatuhkan embernya sedikit hingga air hangat membasahi kakinya. 

"Maaf nyonya. Maaf nyonya!” seru Mira dengan nada penuh keterkejutan dan ketakutan yang dibuat-buat, ia segera berjongkok dengan panik di dekat pecahan kaca.

​Brata Yuda mengabaikan pecahan kaca itu, ia justru melangkah maju dan meraih lengan Mira, menariknya berdiri dengan kasar. "Kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka? Ratna! Kenapa lagi?!"

​"Saya... saya tidak apa-apa, Ndoro," bisik Mira dengan suara bergetar dan tatapan menunduk yang tampak polos sekaligus rapuh.

​Lalu, dengan sisa tenaga dan suara yang bergetar hebat menahan tangis, Ratna kembali memekik.

​"Brengsek! Kamu selingkuh di depan mataku?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 17

    Menjelang siang, tiba waktunya Ratna meminum obat pereda nyeri dan vitamin pasca-persalinan.​Mira menyiapkan nampan berisi segelas air putih hangat dan beberapa butir pil. Sebelum melangkah keluar dari dapur, ia merogoh saku celemeknya.Di sana terdapat sebuah sapu tangan pria berwarna abu-abu gelap dengan inisial 'B.Y' di sudutnya. Itu sapu tangan milik Brata yang ia temukan jatuh di kolong meja kerja kemarin sore, saat ia bersembunyi dari amukan Ratna.​Dengan sangat sengaja, Mira menyelipkan sapu tangan itu ke dalam saku daster lusuhnya, membiarkan sedikit bagian kain berinisial itu menyembul keluar, cukup untuk ditangkap oleh mata yang jeli.​Saat Mira mendorong pintu kamar utama, suasana di dalam terasa sangat suram. Tirai tertutup rapat, dan Ratna duduk bersandar di ranjang dengan wajah ditekuk, memancarkan aura permusuhan yang kental.​"Permisi, Nyonya. Waktunya minum obat," ucap Mira lembut, melangkah masuk dengan kepala menunduk

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 16

    Kokok ayam jantan dari kejauhan membelah kabut pagi. Di ruang makan, keheningan yang mencekam menyelimuti meja, hanya suara denting sendok yang beradu dengan porselen yang terdengar.​Ratna duduk di kursi rodanya, wajahnya tampak pucat pasi dengan perban tipis di dahinya, akibat benturan kemarin. Tatapannya kosong, namun setiap kali ia melirik ke arah Mira yang sedang menyajikan sarapan, matanya akan menyipit tajam seperti silet yang siap mengiris.​Brata sendiri lebih banyak diam. Pria itu menyembunyikan tangannya di bawah meja, jemarinya terus bergerak gelisah. Ia tampak seperti seseorang yang sedang menyimpan rahasia besar di balik topeng ketegasannya.​"Mas," suara Ratna memecah keheningan, terdengar serak dan dingin. "Aku ingin pelayan ini dipecat hari ini juga."​Tangan Mira yang sedang menuang air putih ke gelas Ratna sedikit bergetar. Ia sengaja menumpahkan beberapa tetes air ke taplak meja, lalu dengan wajah ketakutan, ia segera mengambil serbet untuk membersihkannya.​"Maaf,

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 15

    "Mira! Buka pintunya!" suara itu berat dan berwibawa.​Itu suara Brata.​Mira buru-buru mengambil kemeja yang tadi ia buang ke lantai dan memakainya asal-asalan, bahkan tanpa mengancingkannya dengan benar. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia melompat dari ranjang dan membuka kunci pintu.​Pintu terbuka. Brata berdiri di sana dengan wajah yang terlihat sangat kusut. Tatapan pria itu tajam, namun ada raut kecemasan yang mendalam di matanya. Pria itu langsung melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan sekali dorongan.​"Ndoro? Ada apa? Nyonya... bagaimana?" tanya Mira, berusaha memasang wajah bingung dan sedikit ketakutan.​Brata tidak menjawab. Pria itu menyapu pandangannya ke kamar yang sempit dan remang tersebut, lalu berhenti pada wajah Mira yang masih memerah dengan sisa-sisa gairah yang belum sepenuhnya sirna. Brata mendekat, memangkas jarak hingga mereka nyaris bersentuhan.​"Tadi itu... hampir saja," bisik Brata, suaranya parau dan sarat akan penyesalan yang

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 14

    ​"B–Bi Sumi..." sahut Mira gugup, refleks menundukkan kepala.​"Aku tanya, dari mana saja kamu, Nduk?!" desak Bi Sumi, melangkah mendekat dengan raut wajah mengeras. "Nyonya Ratna mengamuk keliling rumah mencarimu sampai jatuh pingsan! Dan kamu... tiba-tiba muncul dari arah lorong depan dengan baju yang kusut seperti ini. Habis dari mana kamu, hah?!"​Mira memaksakan bahunya bergetar, memanggil kembali air mata buatan yang selalu menjadi senjata utamanya.​"S-saya takut, Bi..." isak Mira, suaranya pecah dan bergetar hebat. "Waktu dengar Nyonya teriak-teriak memanggil nama saya... saya ketakutan. Saya ingat Nyonya mau menampar saya tadi pagi. Jadi... jadi saya lari ke gudang belakang, Bi. Saya sembunyi di balik tumpukan karung beras..."​Bi Sumi memicingkan mata, tak percaya begitu saja. "Gudang belakang? Lalu kenapa kamu muncul dari arah lorong ruang kerja Ndoro Brata?"​"S-saya baru berani keluar setelah keadaan sepi, Bi. Saya memutar lewat lorong depan karena pintu belakang dikunci

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 13

    "MIRA! KELUAR KAMU!" jeritan Ratna melengking, memantul di dinding ruangan.Amarah seolah mematikan seluruh saraf sakit di tubuhnya. Ratna bergerak liar di atas kursi rodanya, memutar kursi itu ke sana kemari untuk menyisir ruangan seperti orang kesetanan. Dengan napas memburu, ia menyibak tirai beludru tebal di dekat jendela secara kasar, menarik paksa pintu lemari arsip hingga engselnya berderit, lalu menendang tumpukan koran di sudut ruangan hingga berhamburan. ​"Keluar kamu, perempuan murahan! Aku tahu kamu sembunyi di ruangan ini! MIRA!!"​Di bawah meja, Mira menekan punggungnya sejauh mungkin ke sudut gelap kolong tersebut. Ia mematung, bahkan tidak berani berkedip. Keringat dingin menetes perlahan dari pelipisnya. ​"Ratna, cukup! Hentikan kegilaan ini!" Brata melangkah cepat, berusaha mencengkram lengan istrinya untuk menghentikan kursi roda itu.Wajah pria itu pias, campur aduk antara panik setengah mati dan amarah yang memuncak. "Kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehat

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 12

    "Kenapa pintunya dikunci, Mas?!" bentak Ratna lagi.Terdengar suara berdecit yang menyayat hati– suara putaran roda kursi yang beradu dengan lantai kayu lorong. Ratna, dengan napas tersengal dan peluh yang membanjiri pelipisnya, memaksakan kedua tangannya memutar roda kursi roda itu sekuat tenaga. Kakinya yang lunglai dan tidak berdaya hanya terbalut selimut tipis, tampak menyedihkan sekaligus mengerikan karena rasa curiga yang terus membakarnya sejak pagi.​Brata segera menempelkan telunjuk di bibirnya sendiri, matanya melotot memberi isyarat panik agar Mira sama sekali tidak mengeluarkan suara. Pria itu menahan napas, berharap istrinya kehabisan tenaga dan menyerah.​"Bi Sumi bilang kamu masuk ke sini dan belum keluar sama sekali!" seru Ratna dari balik pintu. Terdengar bunyi benturan kursi roda ke daun pintu kayu. "Aku tahu kamu ada di dalam, Mas! Buka pintunya!"​Hening mencekam. Brata menahan napasnya, tidak berani bergerak satu inci pun. Ia berharap istrinya kehabisan tenaga dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status