LOGINTepat pukul sembilan pagi, mobil sedan hitam mewah yang membawa mereka melaju menuju kediaman utama keluarga Haryo.
Ratna duduk di kursi belakang bersama Brata. Tangannya terus menggenggam lengan suaminya erat-erat, sementara senyum penuh kemenangan tak pernah pudar dari bibirnya setiap kali ia melirik ke arah kaca spion tengah– tempat di mana Mira duduk kaku di kursi penumpang depan, menatap kosong ke luar jendela.Brata sendiri dilanda kegelisahan luar biasa. R"J-jika itu memang keputusan Bapak... Ratna sebagai anak tidak berani membantah." Ratna menundukkan kepalanya, menyembunyikan seringai kemenangan yang nyaris merekah di sudut bibirnya.Sempurna.Tanpa perlu mengotori tangannya sendiri, ia berhasil menyingkirkan Mira di depan Brata.Anton tertawa lebar. Tanpa basa-basi lagi, ia berdiri dan melangkah mendekati Mira yang mematung di sudut ruangan."Ayo, manis. Mulai malam ini, majikanmu adalah aku," kekeh Anton.Tangan kasar pria itu langsung meraih pinggang Mira, menarik tubuh mungil gadis itu dengan kasar hingga menabrak dadanya. Jari-jari Anton dengan sengaja meraba lekuk pinggang Mira tanpa rasa sungkan.Tubuh Mira menegang. Dengan napas yang mulai memburu, ia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman itu."A-maaf, Tuan... tolong lepaskan saya..."Suara Mira bergetar, sementara kedua tangannya mendorong pelan dada Anton. Wajahnya m
Tepat pukul sembilan pagi, mobil sedan hitam mewah yang membawa mereka melaju menuju kediaman utama keluarga Haryo.Ratna duduk di kursi belakang bersama Brata. Tangannya terus menggenggam lengan suaminya erat-erat, sementara senyum penuh kemenangan tak pernah pudar dari bibirnya setiap kali ia melirik ke arah kaca spion tengah– tempat di mana Mira duduk kaku di kursi penumpang depan, menatap kosong ke luar jendela.Brata sendiri dilanda kegelisahan luar biasa. Rahangnya mengeras, dan sesekali ia mencuri pandang ke arah Mira melalui spion. Ada rasa bersalah, cemas, dan ketakutan bahwa mertuanya–Haryo dan Ningsih– akan memperlakukan Mira dengan kejam di rumah itu.Namun, Mira sengaja menghindari tatapan itu, memainkan peran sebagai bawahan yang tahu diri dan tunduk pada keadaan.Tak lama kemudian, mobil itu melintasi gerbang besi menjulang tinggi yang mengitari istana bergaya klasik milik keluarga Haryo. Begitu mobil berhenti
Pintu kamar pelayan mengeluarkan bunyi lirih saat ditutup rapat. Mira menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang dingin. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan detak jantungnya yang dari tadi terus berdegup kencang.Perlahan, tangannya merogoh saku seragamnya. Sehelai syal sutra merah tua ditariknya keluar. Ia menatap kain tersebut. Noda coklat kehitaman yang mengering di ujungnya menyisakan aroma logam yang samar– bau darah yang telah lama mati. Sentuhan pada permukaan sutra itu seketika membangkitkan kembali sensasi dingin lantai marmer bertahun-tahun silam, gema suara bentakan bernada tinggi di ruang tengah mewah, serta bayangan pintu gerbang besi yang membanting menutup di tengah lebatnya hujan.Jemari Mira meremas kain tersebut hingga buku-buku jarinya memutih. Alih-alih menangis, sepasang matanya justru menyala tajam, memancarkan kebencian murni yang selama ini ia kubur di balik air mata kepalsuan.Denga
Mira sekarang benar-benar menjalankan peran barunya sebagai asisten pribadi. Sesuai kesepakatan, ia tidak lagi mengerjakan tugas kasar seperti mengepel lantai atau mencuci piring. Seluruh waktunya dihabiskan di dalam kamar utama yang dingin, berdua saja dengan sang nyonya besar.Ratna memanfaatkan kekuasaan yang dimilikinya secara sewenang-wenang, namun menyiksa. Saat Mira menyisir rambut panjangnya, Ratna akan sengaja memundurkan kepalanya secara tiba-tiba hingga helaian rambutnya ditarik kuat oleh sisir."Aduh!" Ratna mendesis, lalu menoleh dengan senyum sinis. "Maaf, Mira. Aku tidak sengaja bergerak."Mira menelan rasa sakit di kulit kepalanya, hanya menunduk dan mengangguk patuh. "Tidak apa-apa, Nyonya. Saya yang kurang berhati-hati.".Siksaan kecil itu berlanjut terus-menerus. Saat Mira membawakan teh kamomil hangat, Ratna sengaja menyenggol ujung cangkir porselen itu hingga air panasnya tumpah mengenai punggung tangan Mira."Ya ampun, jariku masih lemas pasca operasi. Kamu sih
Ujung kain lap di tangan Mira bergerak pelan menyapu permukaan meja makan kayu jati. Di balik wajahnya yang tertunduk dan gerakannya yang lambat, isi kepalanya terus berputar berputar memikirkan langkah selanjutnya. Hari ini, ia mengambil langkah yang sangat berisiko. Ia sengaja mengenakan gaun katun cantik nan lembut pemberian Brata. Padahal, majikannya itu pernah mewanti-wantinya dengan sangat tegas saat memberikan tas kertas tersebut, "Pakai baju ini hanya saat kita sedang berdua." Namun, hari ini ia dengan sengaja melanggarnya. "Mira." Panggilan lembut yang terdengar dari arah lorong itu seketika menghentikan gerakan tangan Mira. Ia menoleh dan mendapati Ratna sudah duduk tenang di atas kursi rodanya. Di belakangnya, Brata berjalan mengekor dengan raut wajah biasa, namun seketika berubah saat melihat apa yang dikenakan Mira. "Gaun katun yang kamu pakai itu bagus sekali, Mira," puji Ratna dengan nada riang. Senyum lebar terukir di wajahnya yang pucat saat matanya m
Ancaman Ratna akhirnya terbukti. Bukan dengan amarah atau teriakan, melainkan dengan kehadirannya yang terus menempel pada Brata, seperti bayangan yang tak pernah bisa disingkirkan.Di mana ada Brata, di situ pasti ada Ratna. Jika Brata membaca laporan di ruang keluarga, Ratna meminta Bi Sumi mendorong kursi rodanya ke sana dengan alasan tak ingin jauh dari suaminya. Saat Brata makan, Ratna duduk di sebelahnya, menyajikan makanan dengan senyum manis bak istri yang paling berbakti.Ia menguasai seluruh waktu dan perhatian Brata tanpa celah, sama sekali tidak menyisakan ruang sedetikpun bagi suaminya untuk sekadar berpapasan, apalagi berduaan dengan Mira.Brata, yang merasa istrinya sudah "waras" dan kembali penurut, sama sekali tak punya alasan untuk menghindar.Siasat ini benar-benar mengunci pergerakan Mira. Selama berhari-hari, ia hanya bisa menggigit jari, menahan kekesalan karena mangsanya terus dijaga ketat oleh sang nyonya besar.Hingga malam ini, kesempatan emas itu akhirn







