Accueil / Male Adult / Aduh, Pak Yono tak Tahan! / 1. Setoran di Jam Kritis

Partager

Aduh, Pak Yono tak Tahan!
Aduh, Pak Yono tak Tahan!
Auteur: Sintiia01

1. Setoran di Jam Kritis

Auteur: Sintiia01
last update Date de publication: 2026-06-23 01:12:07

"Masih buka, May? Atau aku kelebihan jam?"

Suara berat dan serak itu memecah keheningan ruang administrasi yang sepi. Yono, pria gagah nan tampan berusia 32 tahun itu kini berdiri di ambang pintu, sedang bersandar pada kusen kayu dengan satu tangan tenggelam di saku celana jinsnya yang memudar.

Kaus abu-abu yang membungkus tubuh tegapnya tampak sedikit basah oleh keringat di bagian dada dan punggung, mempertegas siluet bahunya yang lebar setelah belasan jam mengendalikan setir truk kontainer lintas provinsi. Aroma maskulin yang bercampur samar dengan bau jalanan dan sisa parfum maskulinnya langsung menguasai ruangan ber-AC dingin itu.

Maya lantas mendongak dari balik layar komputer. Jantungnya melewatkan satu ketukan, tetapi ia memaksakan sebuah senyuman tipis yang tampak santai. Ia lalu melirik jam dinding—pukul lima lewat lima belas sore. Semua staf lain sudah pulang sejak lima belas menit yang lalu.

"Khusus buat kamu, selalu buka, Mas. Sini masuk, mana surat jalannya?" ucap Maya dengan serak, lalu buru-buru berdeham untuk menyembunyikannya.

Yono kemudian melangkah masuk. Pria itu memang terkenal irit bicara di kalangan para sopir dan staf kantor, namun auranya yang tenang dan dingin justru selalu berhasil menyita perhatian.

Terutama bagi Maya. Belakangan ini, di tengah kesepian hubungan jarak jauh dengan tunangannya yang makin terasa hambar, bayangan Yono sering kali mampir tanpa permisi di kepalanya.

Yono kemudian mengeluarkan sebundel dokumen dari map plastik kusam dan mengulurkannya di atas meja kerja Maya. "Tolong dicek dulu. Biar aku bisa langsung bongkar muatan besok pagi."

Maya kemudian menerima berkas itu. Namun, alih-alih hanya mengambil kertasnya, jemari lentik Maya sengaja bergerak lambat, menggeser ujung jarinya dengan tekanan halus di sepanjang punggung tangan Yono yang urat-uratnya menonjol tegas. Kulit Yono terasa hangat, kontras dengan hawa dingin AC yang menusuk kulit.

Namun, Yono tidak menarik tangannya. Ia tetap bergeming sambil berdiri kokoh seperti batu karang. Pria itu hanya menurunkan pandangannya dan menatap tepat ke manik mata Maya dengan tatapan yang begitu dalam dan intens. Tatapan yang seolah bisa membaca setiap niat tersembunyi di balik senyum manis wanita di hadapannya.

Ditatap seperti itu, Maya mendadak salah tingkah. Pipinya terasa panas. Untuk mengalihkan kegugupannya, ia pun berpura-pura sibuk dengan membolak-balik lembaran surat jalan dengan gerakan yang sengaja diperlambat.

Ia lalu memeriksa nomor manifes satu per satu, mencocokkannya dengan komputer seolah-olah ada data yang sangat rumit.

"Agak lama ya, Mas. Sistemnya agak lambat sore ini," bohong Maya sambil melirik ke arah Yono yang kini menyilangkan dadanya sambil bersandar pada tepi meja kerjanya.

Jarak mereka kini terkikis, menyisakan aroma tubuh Yono yang makin pekat membakar indra penciuman Maya.

"Nggak apa-apa. Aku nggak buru-buru," sahut Yono pendek dengan suara rendahnya yang semakin membuat Maya salah tingkah.

Wanita centil itu hanya bisa menelan ludah. Ketegangan di antara mereka berdua terasa begitu tebal, seolah bisa dipotong dengan pisau. Bertekad tidak ingin kehilangan momen, Maya kemudian mengambil sebuah pulpen di dekat papan klipnya.

Dengan gerakan yang tampak ceroboh namun penuh perhitungan, ia lalu menyenggol pulpen itu hingga menggelinding melewati tepi meja dan jatuh tepat di dekat ujung sepatu bot kulit milik Yono.

"Eh, jatuh," gumam Maya pelan.

Sebelum Yono bergerak, Maya sudah lebih dulu beranjak dari kursinya dan membungkuk di bawah meja untuk mengambil pulpen tersebut. Yono, dengan refleks seorang pria yang sopan, ikut membungkuk di saat yang bersamaan untuk membantu.

Di bawah kolong meja yang remang-remang dan sempit, gerakan mereka terhenti. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter. Maya bisa merasakan hembusan napas hangat Yono yang menerpa permukaan kulit wajahnya. Detak jantung Maya berdentum kencang, bertalu-talu di dalam dadanya hingga ia yakin Yono bisa mendengarnya.

Mata Yono yang gelap mengunci tatapan Maya, tidak ada keraguan di sana, hanya ada ketenangan yang mematikan sekaligus memikat. Di ruang sempit itu, keheningan terasa begitu intim. Jari Maya menyentuh pulpen, namun matanya tidak lepas dari bibir pria di hadapannya.

Maya memajukan wajahnya sedikit lagi, menantang jarak, lalu berbisik dengan nada suara yang sengaja ditahan, sarat akan provokasi.

"Ada kesalahan fatal di sistem administrasi, Mas... KTP kamu terpaksa harus aku tahan di sini sampai besok pagi."

Sudah terbiasa dengan modus wanita itu, Yono tampak tidak terkejut. Alih-alih panik atau marah, sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sarat akan arti, seolah ia tahu persis permainan apa yang sedang dimainkan oleh wanita di depannya ini.

Ia pun mengambil pulpen dari tangan Maya, lalu perlahan kembali berdiri tegak, dan diikuti oleh Maya yang buru-buru merapikan roknya dengan napas yang agak memburu.

Yono mengantongi kembali sisa berkasnya, berbalik memunggungi meja, lalu melangkah mantap menuju pintu keluar. Tepat di ambang pintu, ia menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.

Aroma tubuh dan ketegangan yang ditinggalkannya masih tertinggal jelas, yang membuat ruangan yang dingin itu mendadak terasa begitu panas bagi Maya.

"Tahan aja sepuasmu, May. Emang itu yang kamu mau biar bisa ketemu sama aku lagi, kan?”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 120

    Sore hari sekitar pukul lima, garis pantai alternatif yang terisolasi di sudut selatan perumahan tampak sepi tanpa ada pengunjung lain.Angin laut berembus cukup kencang, membawa aroma garam yang segar menyapu pasir putih yang hangat.Yono melangkah santai menyusuri bibir pantai hanya mengenakan celana pendek santai tanpa atasan, memamerkan dada bidang berotot dan perut six-pack-nya yang berkilat disiram cahaya matahari terbenam.Di belakangnya, Citra, Sinta, Ratih, dan Sarah berjalan menyusul.Keempat wanita itu tampil sangat menggoda menggunakan pakaian pantai yang minim; Citra dan Sinta mengenakan bikini dua bagian yang menonjolkan gundukan buah dada serta pinggul tebal mereka, sementara Ratih dan Sarah mengenakan kain pantai tipis yang nyaris transparan.Perebutan perhatian seketika pecah di antara mereka saat berjalan mendekati karang besar yang tersembunyi dari pandangan luar."Mas Yono, jalan dekat aku aja sih! Tangan kamu biar aku pegang," celetuk Citra manja sembari menarik l

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 119

    Malam itu, suasana di ruang tengah rumah baru Yono terasa hangat namun diselimuti ketegangan yang pekat.Di atas sofa kulit yang luas, empat wanita tercantik dan paling memikat di lingkungan kehidupan Yono duduk berjejer rapat.Citra, Sinta, Ratih serta Sarah.Keempat wanita itu tampil amat menggoda, memamerkan kecantikan, keindahan, dan kepadatan bentuk tubuh mereka yang telah berulang kali ditundukkan oleh Yono.Yono berdiri tegap di hadapan mereka, melipat kedua tangan kekarnya di dada sembari menatap sepasang mata mereka satu per satu dengan pandangan bariton yang dingin dan sarat aura dominasi jantan.Yono menghela napas panjang, lalu memulai pembicaraan dengan nada suara tegas tanpa keraguan."Aku mengumpulkan kalian berempat di sini malam ini bukan untuk bikin janji manis," kata Yono membuka suara, suaranya yang berat bergema pekat di dalam ruangan."Aku mau jujur dan pertegas status kita dari sekarang. Aku tidak ada niat untuk menikahi kalian berempat. Tidak Citra, Sinta, Rati

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 118

    Tidak puas hanya bermain oral di ruang tamu, Yono memboyong tubuh polos Ratih kembali ke area dapur kontrakan untuk mengeksekusi hasrat mereka secara penuh.Pria itu memapah pinggul tebal sang janda muda dengan santai, sementara Ratih berjalan limbung dengan napas terengah-engah, membiarkan tubuh padatnya terekspos telanjang bulat tanpa sehelai kain pun.Begitu sampai di dapur sederhana bernuansa semen, Yono memposisikan Ratih menungging melengkung di atas meja dapur kayu yang berdampingan langsung dengan kompor gas dan deretan bumbu dapur.Posisi ini membuat dada dan perut Ratih menempel rapat pada permukaan meja kayu, sementara bokong tebal dan padat milik janda muda itu terangkat tinggi ke udara.Celah kewanitaannya yang sudah sangat banjir oleh lelehan air gairah terpampang lebar dan basah kuyup di bawah remang lampu dapur.Yono berdiri tegap tepat di belakangnya.Tangan besarnya meraup dan meremas kuat kedua belah bokong padat Ratih, lalu mencengkeram pinggul tebalnya dengan ceng

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 117

    Adu ciuman panas di dekat meja makan bergerak makin liar menuju ruang tamu rumah kontrakan Ratih yang beralaskan karpet busa tipis.Hasrat terpendam Ratih yang sudah bertahun-tahun meniti status janda tanpa sentuhan pria sejati seketika meledak tak terkendali saat berhadapan langsung dengan aura maskulin Yono yang begitu pekat.Begitu sampai di tengah ruang tamu yang sepi, Ratih memutar badannya.Kedua tangan mulusnya dengan cepat menyingkap dan melucuti daster tipis merah batanya sendiri ke atas, melempar kain itu begitu saja ke sudut ruangan.Ratih kini tampil telanjang bulat tanpa sehelai kain pun di hadapan Yono.Ia memamerkan lekuk tubuh bahagianya yang padat berisi, sepasang buah dada kenyal berputing tegang, serta pinggul tebal yang ranum dan mulus di bawah pendar remang lampu ruang tamu."Lihat, Mas Yono... Tubuh Ratih masih padat kan? Masih kencang semua buat kamu," bisik Ratih binal dengan napas yang memburu parau.Yono mendudukkan tubuh kekarnya di atas kursi kayu ruang tam

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 116

    Senin malam sekitar pukul tujuh, suasana perumahan kontrakan terasa tenang dan sedikit lengang. Yono melangkah santai menyusuri gang kecil menuju rumah kontrakan sederhana milik Ratih.Pria itu tampil tegap mengenakan kaus polos ketat berwarna hitam yang mencetak jelas lekuk otot dada bidang dan tangannya yang berurat tebal.Yono mengetuk pintu kayu kontrakan beberapa kali. "Ratih, ini aku."Pintu kayu itu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Ratih yang berdiri menanti. Janda muda itu tampil amat anggun dan menggoda; ia mengenakan daster tipis tanpa lengan berwarna merah bata yang membentuk jelas lekuk tubuh padatnya.Ratih sengaja tak mengenakan bra di balik daster tipisnya, membuat gundukan buah dadanya tercetak menonjol setiap kali ia bernapas.Ratih seketika salah tingkah, matanya berbinar menatap postur tegap Yono. "Eh, Mas Yono. Masuk, Mas. Mau makan malam sekarang kan?"Yono menyunggingkan seringai miringnya yang penuh dominasi, melangkah masuk ke dalam rumah yang harum oleh

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 115

    Hari Minggu siang menjelang sore, udara di dalam apartemen terasa hangat dan sarat akan hawa gairah yang belum surut.Yono berdiri tegap di tengah ruang tamu, menatap Citra yang duduk bersimpuh di atas karpet tebal. Ini adalah hari terakhir libur akhir pekan sebelum mereka harus kembali menghadapi rutinitas pekerjaan di pabrik pada hari Senin.Yono berniat menghabiskan seluruh tenaga sang supervisor cantik, menguji batas ketahanan fisik Citra sampai benar-benar loyo dan tidak berdaya di bawah keperkasaannya."Cit, berdiri. Hari ini belum selesai," kata Yono dengan nada suara bariton yang dingin dan penuh dominasi mutlak.Citra mendongak dengan mata sayu, napasnya masih menyisa kepenuhan dari sesi sebelumnya. "Mas Yono... Badan aku sudah pegal-pegal semua dari semalam. Masih mau main lagi?""Jangan banyak komplain. Kamu kan sudah janji bakal penuhi semua keinginan aku," gertak Yono tegas."Iya, Mas Yono... Aku nurut," bisik Citra pasrah, mencoba merangkak mendekati Yono.Tanpa menunggu

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status