Accueil / Male Adult / Aduh, Pak Yono tak Tahan! / 2. Pancingan yang Luar Biasa

Partager

2. Pancingan yang Luar Biasa

Auteur: Sintiia01
last update Date de publication: 2026-06-23 01:20:09

Jam sembilan malam di esoknya, hujan turun dengan derasnya. Di area parkir belakang pabrik, mesin truk kontainer Yono baru saja dimatikan.

Yono melangkah membelah pelataran semen yang basah, dengan separuh jaket jins tebalnya sudah kuyup saat ia mendorong pintu kaca ruang administrasi. Suasana kantor sudah mati total, menyisakan pendar cahaya dari satu sudut ruangan tempat Maya duduk di balik meja.

Kehadiran Yono yang tinggi besar dengan langkah tegap langsung memotong dominasi hawa dingin AC dan keheningan di sana.

Maya kemudian mendongakkan kepalanya dan matanya yang sedari tadi gelisah langsung berbinar. Dengan beberapa tumpukan kertas di mejanya, alasan klasik yang sengaja ia buat untuk bertahan di sana sendirian.

"Lama banget, Mas. Aku pikir kamu langsung balik ke pul," ujar Maya dengan suara yang sedikit tinggi karena tertelan hujan di luar sana.

"Petugas gudang tadi lambat bongkarnya. KTP-ku mana, May? Katanya mau dibalikin,” ucap Yono sambil mengusap sisa air hujan di rahangnya yang tegas, sampai membuat kaus abu-abunya makin menempel ketat di dada.

Alih-alih menjawab pertanyaan dari Yono, Maya justru berdiri dari kursinya, lalu melingkarkan kedua tangan di lengannya sendiri sambil sedikit menggigil. "Dingin banget malam ini. Mana hujannya nggak reda-reda dari sore. Aku agak takut sebenarnya sendirian di sini, suaranya serem."

Mendengar keluhan itu, Yono kemudian menatap wanita di hadapannya. Ia bisa melihat bagaimana Maya sengaja memperkecil jarak di antara mereka, berjalan mendekat dengan langkah yang diatur sedemikian rupa.

Pria itu kemudian menghela napas pendek. Sifat pelindungnya sebagai seorang pria dewasa terusik, meski ia tahu persis ada motif lain di balik sikap rapuh wanita itu.

Tanpa banyak bicara, Yono membuka kancing jaket jinsnya yang setengah basah di bagian luar, namun masih menyimpan kehangatan tubuhnya di bagian dalam. Ia lalu melangkah maju, dan memperkecil jarak hingga aroma maskulin yang menguar dari kulitnya yang hangat langsung mengaburkan wangi ruangan.

"Pake ini," kata Yono sambil menyampirkan jaket tebal itu ke atas bahu Maya yang mungil.

Saat kain tebal itu mendarat, jemari Yono yang kasar tidak sengaja bersentuhan dengan kulit leher Maya yang halus. Kontak singkat itu mengirimkan sengatan instan yang membuat keduanya membeku selama beberapa detik.

Maya langsung memanfaatkan momentum tersebut dan tidak mundur sedikit pun. Ia justru memundurkan tubuhnya selangkah, dan membiarkan punggungnya bersandar ringan pada dada bidang Yono yang keras seperti dinding batu.

Yono merasakan kehangatan tubuh Maya yang merapat sambil mencium aroma manis sampo wanita itu yang mengusik ketenangannya. Jantungnya berdegup lebih berat. Ia tidak memeluknya, namun ia juga tidak menjauh.

Yono hanya menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan perlahan, sebuah helaan napas berat, dalam, dan sarat akan kontrol diri yang justru terdengar sangat seksi dan intim di telinga Maya.

"Makasih, Mas. Hangat banget... baunya kamu banget," bisik Maya kemudian membalikkan tubuhnya yang kini menghadap langsung ke dada Yono, lalu menengadah untuk menatap sepasang mata gelap yang selalu tampak tenang itu.

"Hujannya awet. Kamu nggak dicariin tunanganmu?" tanya Yono dengan nada datar.

"Dia jauh, Mas. Dan dia nggak pernah ada di sini saat aku kedinginan kayak gini,” ucap Maya lalu mendengus kasar seolah membahas tunangannya adalah hal yang tidak ingin Maya lakukan untuk saat ini.

Yono akhirnya terdiam, membiarkan keheningan malam dan suara hujan yang monoton mengambil alih.

Ketegangan di antara mereka mulai merayap naik, makin tebal dan menyesakkan. Maya bisa melihat jakun Yono bergerak turun saat pria itu menelan ludah, sebuah tanda bahwa benteng pertahanannya tidak sekuat yang terlihat.

Tiba-tiba, Maya mengulurkan tangan ke dinding di samping meja, menekan sakelar ganda. Lampu neon utama yang terang benderang di langit-langit langsung padam, menyisakan satu-satunya sumber cahaya dari lampu meja kecil kuning temaram yang membuat bayangan tubuh mereka memanjang di dinding. Suasana seketika berubah remang, intim, dan berbahaya.

"Lampu utamanya silau, Mas. Bikin pusing," kilat Maya beralasan, meski matanya sama sekali tidak menunjukkan rasa pusing.

Ia lalu melangkah satu kaki lebih maju, mengikis habis sisa ruang di antara mereka. Kedua tangan Maya yang kecil bergerak naik, mencengkeram kerah kaus Yono yang agak lembap. Ia meremas kain itu, menatap Yono dengan pandangan memohon yang begitu pekat.

"Jangan pulang dulu, Mas. Temenin aku di sini... seenggaknya sampai hujannya agak reda. Aku nggak mau sendiri," pintanya dengan suara yang bergetar lembut, seolah tengah menantang akal sehat Yono.

Yono kemudian menatap jemari Maya di kerahnya, lalu perlahan menaikkan pandangannya ke bibir wanita itu yang sedikit terbuka. Rahangnya mengeras.

Tangannya yang besar bergerak naik, perlahan menggenggam pergelangan tangan Maya yang ada di dadanya, berniat untuk melepaskannya demi akal sehat yang tersisa.

"May, ini di kantor. Dan kamu—"

Duaarrr!

Tepat sebelum kalimat Yono selesai, sebuah kilatan petir yang sangat terang menyambar di luar, diikuti suara dentuman menggelegar yang menggetarkan kaca jendela. Detik berikutnya, seluruh aliran listrik di ruangan itu mati total. Lampu meja yang temaram pun padam, menyelimuti mereka berdua dalam kegelapan yang pekat dan absolut.

“Aaaa! Gelaapp!”

Dalam kebutaan sesaat itu, Maya memekik pelan dan spontan mengeratkan cengkeramannya, menubrukkan seluruh tubuhnya ke dada Yono.

Yono dengan refleks menahan pinggang Maya agar tidak terjatuh, dan mengunci tubuh wanita itu dalam dekapan eratnya di tengah kegelapan yang sunyi. Napas mereka saling memburu, membelai wajah satu sama lain dalam jarak yang tak lagi berjarak.

Di tengah kegelapan yang pekat itu, suara rendah Yono terdengar begitu dekat di samping telinga Maya, berbisik penuh penekanan yang membuat bulu kuduk wanita itu meremang.

"Sekarang lampunya udah mati semua, May. Kamu yakin masih mau aku di sini?"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 120

    Sore hari sekitar pukul lima, garis pantai alternatif yang terisolasi di sudut selatan perumahan tampak sepi tanpa ada pengunjung lain.Angin laut berembus cukup kencang, membawa aroma garam yang segar menyapu pasir putih yang hangat.Yono melangkah santai menyusuri bibir pantai hanya mengenakan celana pendek santai tanpa atasan, memamerkan dada bidang berotot dan perut six-pack-nya yang berkilat disiram cahaya matahari terbenam.Di belakangnya, Citra, Sinta, Ratih, dan Sarah berjalan menyusul.Keempat wanita itu tampil sangat menggoda menggunakan pakaian pantai yang minim; Citra dan Sinta mengenakan bikini dua bagian yang menonjolkan gundukan buah dada serta pinggul tebal mereka, sementara Ratih dan Sarah mengenakan kain pantai tipis yang nyaris transparan.Perebutan perhatian seketika pecah di antara mereka saat berjalan mendekati karang besar yang tersembunyi dari pandangan luar."Mas Yono, jalan dekat aku aja sih! Tangan kamu biar aku pegang," celetuk Citra manja sembari menarik l

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 119

    Malam itu, suasana di ruang tengah rumah baru Yono terasa hangat namun diselimuti ketegangan yang pekat.Di atas sofa kulit yang luas, empat wanita tercantik dan paling memikat di lingkungan kehidupan Yono duduk berjejer rapat.Citra, Sinta, Ratih serta Sarah.Keempat wanita itu tampil amat menggoda, memamerkan kecantikan, keindahan, dan kepadatan bentuk tubuh mereka yang telah berulang kali ditundukkan oleh Yono.Yono berdiri tegap di hadapan mereka, melipat kedua tangan kekarnya di dada sembari menatap sepasang mata mereka satu per satu dengan pandangan bariton yang dingin dan sarat aura dominasi jantan.Yono menghela napas panjang, lalu memulai pembicaraan dengan nada suara tegas tanpa keraguan."Aku mengumpulkan kalian berempat di sini malam ini bukan untuk bikin janji manis," kata Yono membuka suara, suaranya yang berat bergema pekat di dalam ruangan."Aku mau jujur dan pertegas status kita dari sekarang. Aku tidak ada niat untuk menikahi kalian berempat. Tidak Citra, Sinta, Rati

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 118

    Tidak puas hanya bermain oral di ruang tamu, Yono memboyong tubuh polos Ratih kembali ke area dapur kontrakan untuk mengeksekusi hasrat mereka secara penuh.Pria itu memapah pinggul tebal sang janda muda dengan santai, sementara Ratih berjalan limbung dengan napas terengah-engah, membiarkan tubuh padatnya terekspos telanjang bulat tanpa sehelai kain pun.Begitu sampai di dapur sederhana bernuansa semen, Yono memposisikan Ratih menungging melengkung di atas meja dapur kayu yang berdampingan langsung dengan kompor gas dan deretan bumbu dapur.Posisi ini membuat dada dan perut Ratih menempel rapat pada permukaan meja kayu, sementara bokong tebal dan padat milik janda muda itu terangkat tinggi ke udara.Celah kewanitaannya yang sudah sangat banjir oleh lelehan air gairah terpampang lebar dan basah kuyup di bawah remang lampu dapur.Yono berdiri tegap tepat di belakangnya.Tangan besarnya meraup dan meremas kuat kedua belah bokong padat Ratih, lalu mencengkeram pinggul tebalnya dengan ceng

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 117

    Adu ciuman panas di dekat meja makan bergerak makin liar menuju ruang tamu rumah kontrakan Ratih yang beralaskan karpet busa tipis.Hasrat terpendam Ratih yang sudah bertahun-tahun meniti status janda tanpa sentuhan pria sejati seketika meledak tak terkendali saat berhadapan langsung dengan aura maskulin Yono yang begitu pekat.Begitu sampai di tengah ruang tamu yang sepi, Ratih memutar badannya.Kedua tangan mulusnya dengan cepat menyingkap dan melucuti daster tipis merah batanya sendiri ke atas, melempar kain itu begitu saja ke sudut ruangan.Ratih kini tampil telanjang bulat tanpa sehelai kain pun di hadapan Yono.Ia memamerkan lekuk tubuh bahagianya yang padat berisi, sepasang buah dada kenyal berputing tegang, serta pinggul tebal yang ranum dan mulus di bawah pendar remang lampu ruang tamu."Lihat, Mas Yono... Tubuh Ratih masih padat kan? Masih kencang semua buat kamu," bisik Ratih binal dengan napas yang memburu parau.Yono mendudukkan tubuh kekarnya di atas kursi kayu ruang tam

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 116

    Senin malam sekitar pukul tujuh, suasana perumahan kontrakan terasa tenang dan sedikit lengang. Yono melangkah santai menyusuri gang kecil menuju rumah kontrakan sederhana milik Ratih.Pria itu tampil tegap mengenakan kaus polos ketat berwarna hitam yang mencetak jelas lekuk otot dada bidang dan tangannya yang berurat tebal.Yono mengetuk pintu kayu kontrakan beberapa kali. "Ratih, ini aku."Pintu kayu itu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Ratih yang berdiri menanti. Janda muda itu tampil amat anggun dan menggoda; ia mengenakan daster tipis tanpa lengan berwarna merah bata yang membentuk jelas lekuk tubuh padatnya.Ratih sengaja tak mengenakan bra di balik daster tipisnya, membuat gundukan buah dadanya tercetak menonjol setiap kali ia bernapas.Ratih seketika salah tingkah, matanya berbinar menatap postur tegap Yono. "Eh, Mas Yono. Masuk, Mas. Mau makan malam sekarang kan?"Yono menyunggingkan seringai miringnya yang penuh dominasi, melangkah masuk ke dalam rumah yang harum oleh

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 115

    Hari Minggu siang menjelang sore, udara di dalam apartemen terasa hangat dan sarat akan hawa gairah yang belum surut.Yono berdiri tegap di tengah ruang tamu, menatap Citra yang duduk bersimpuh di atas karpet tebal. Ini adalah hari terakhir libur akhir pekan sebelum mereka harus kembali menghadapi rutinitas pekerjaan di pabrik pada hari Senin.Yono berniat menghabiskan seluruh tenaga sang supervisor cantik, menguji batas ketahanan fisik Citra sampai benar-benar loyo dan tidak berdaya di bawah keperkasaannya."Cit, berdiri. Hari ini belum selesai," kata Yono dengan nada suara bariton yang dingin dan penuh dominasi mutlak.Citra mendongak dengan mata sayu, napasnya masih menyisa kepenuhan dari sesi sebelumnya. "Mas Yono... Badan aku sudah pegal-pegal semua dari semalam. Masih mau main lagi?""Jangan banyak komplain. Kamu kan sudah janji bakal penuhi semua keinginan aku," gertak Yono tegas."Iya, Mas Yono... Aku nurut," bisik Citra pasrah, mencoba merangkak mendekati Yono.Tanpa menunggu

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status