LOGINBeberapa saat sebelumnya, di kamar rawat Renita.Dhava yang sudah selesai mengeringkan kemejanya walau masih lembap, memasang wajah datar. Ia memeriksa ponselnya, tidak ada pesan masuk dari Diana.‘Aman,’ pikirnya, sambil membayangkan Diana pasti sibuk menikmati tempe goreng di mobil. Mulutnya celemotan dan kepedasan makan cabai rawit.Hanya saja, ia menunggu anak-anaknya kembali. Tak lama kemudian, mereka datang sambil bersorak.Davka berlari mendekati ranjang Renita."Mama, ini enak! Tadi aku cobain, lho," seru Davka sambil menyodorkan salad yang dibelikan Maharani.Kebahagiaan dua bocah kecil itu mengalihkan atensi Dhava dari kemejanya yang basah. Kapan lagi ia bisa melihat putranya tersenyum merekah, dan pandangannya bergerak pada sang istri.Renita menerima kotak mika dari tangan mungil Davka, dan dengan enggan mengelus pipi si sulung. Wanita itu pura-pura makan sedikit demi sedikit, sambil sembunyikan seringai kemenangan di balik gigitan aneka sayuran hijau. Ekor matanya pun mel
Telepon genggam Diana bergetar dalam tas tangannya yang ia taruh di pangkuannya. Mungkin itu Dhava, pikirnya. Dengan satu tangan lainnya memegang tempe goreng yang sudah digigit, ia merogoh ke dalam tas. Mulutnya masih mengunyah santai, dan jemarinya menggulir layar dengan cepat.Kolom chat terbuka, dan… detik itu juga pandangannya mengembun, tangannya gemetaran, tempe gorengnya terjatuh ke karpet mobil. Sedangkan ponselnya digenggam erat seiring dengan air mata yang menetes.Setiap kata pada pesan itu begitu menusuknya.“Pelampiasan nafsu?” gumanya, Diana terkekeh getir, menertawakan pilihannya sendiri.Apalagi foto itu sudah jelas menunjukkan bagaimana sikap Dhava sebagai suami sah dari wanita lain, Renita, mantan temannya sendiri. Ternyata inilah rasanya kalah dan mengalah dari temannya sendiri. Andai ia tahu sejak awal bahwa samua akan menjadi sulit, mungkin … dahulu, ia akan mengejar Dhava, mati-matian. Biarlah dianggap gadis murahan yang penting sepupu tampannya itu jadi miliknya
“Diam, Di.” Dhava membekap mulut Diana. Namun, kala pria itu akan menarik kejantanannya, Diana malah melingkarkan tangan di punggung Dhava. Wanita itu menggeleng.“Nanggung, Mas,” bisiknya sangat kecil. Ia bahkan menempelkan dada mereka yang berkeringat di balik serat kain. “Cepat, Mas!” pinta Diana, terlalu sakit jika diakhiri dalam keadaan puncak seperti ini.Helaan napas hangat Dhava menerpa pipi lembap Diana. Perlahan dan pasti, Dhava kembali memompa pinggulnya. Membawa mereka meraih puncak kepuasan, sesuai janjinya pada Diana agar wanita itu tahu apa itu hak wanita saat bercinta.Diana merasakan hangat yang mengalir deras di bawah perutnya seiring dengan pelepasan hebat, sensasi yang memabukkan dan menghilangkan seluruh penatnya. Napas mereka terengah, beradu di dalam ruangan yang sunyi dan gelap ini."Kita harus cepat," bisik Dhava, ia turun dari atas tubuh Diana.Mereka buru-buru membenahi pakaian masing-masing. Dengan menggunakan senter ponsel, mereka merapikan pakaian sebelum
“Tidak bisa!” tegas Dhava, suaranya itu memenuhi ruangan.Sontak Maharani dan maminya Renita menoleh. Menatap Dhava dengan sorot yang penuh tanda tanya. “Kamu tidak bisa bertemu anak-anak dalam keadaan seperti ini!”Dalam hati Renita tertawa. Suaminya ini sungguh lucu, bukankah ia dituntut menjadi ibu yang baik, inilah saatnya, menggunakan momen.Renita menggosok hidungnya, lalu mengatupkan tangan. Pandangannya penuh permohonan pada Dhava. “Dhava … aku kangen mereka. Aku serius, aku mau sembuh. Aku … capek. Aku—”Maminya gegas bangkit dan memeluk Renita penuh kasih sayang. Ruang rawat ini mendadak berubah menjadi panggung sandiwara yang menjanjikan karena peran mumpuni dari para pemainnya.Maharani buru-buru menghampiri Dhava yang berdiri tegak di depan pintu kamar mandi. Wanita itu berjinjit untuk berbisik pada putranya.“Bawa aja, Nak. Mama paham perasaan Renita. Ibu mana yang bisa lama-lama jauh sama anaknya. Dia udah berubah, Dhava, seperti yang kamu inginkan.”Dhava mendengkus, t
Mata agak sipit Diana membelalak, kedua tangannya yang ramping dan mulus itu bersiap melayangkan pukulan pada Rayan. Namun, pria itu mengantisipasinya lebih dulu, menangkup kedua tangan Diana, mencengkeramnya kuat.Rayan mendesis tepat sesaat bibirnya menjauh, “Diana sayangku. Kamu istriku, jangan nolak ciumanku, paham?”“Kurang ajar kamu, Mas!” pekik Diana lantas mendorong tangan Rayan.Pria itu hanya tersenyum sinis, rona wajahnya yang bercambang halus itu dipenuhi kepongahan. Menerima dorongan kuat di bahunya, Rayan naik pitam, membalasnya dengan menyudutkan Diana pada sandaran kursi.“Tubuhmu itu milikku. Kamu teriak minta tolong pun, nggak ada yang peduli. Kita ini suami istri!!!” tegasnya. Kemudian Rayan turun dari mobil dengan hentak langkah dipandangi setiap orang yang menyaksikan cumbuannya tadi di mobil.Ia merapikan dasinya, dan tersenyum pada mereka semua. Bisik-bisik mulai terdengar menyanjung, membuatnya makin terbang ke angkasa.“Memang beda kalau bisa nikahin adiknya B
Sampai dengan sore hari Renita hanya menghabiskan waktu dengan memainkan ponselnya. Namun, saat ada panggilan masu dari rumah, ia tidak menerima. Terlalu malas menanggapi, paling-paling itu hanyalah Davka yang merengek atau para nanny atau Maharani—ibu mertuanya yang berlagak perhatian.Tepat pukul tujuh malam, maminya bangkit dari sofa. “Mami pulang, sebentar lagi Dhava ke sini. Ingat, jangan buat masalah. Mami tidak bisa mentolerirnya lagi.”Renita mendengkus dan melambaikan tangan lalu bergelung dengan selimut.Setelah maminya benar-benar pergi, ia mengambil ponselnya lagi. Menekan kontak seseorang yang sudah lama ia hindari, seseorang yang ia abaikan selama bertahun-tahun. Namun kali ini ia membutuhkannya, demi menyelamatkan diri, memenangkan persaingannya, bukan karena cinta semata atau materi, tetapi sebuah gengsi yang tidak tertandingin oleh apa pun.“Renita? Ada apa?” Suara maskulin itu terdengar kecil di antara dentum musik yang terasa akrab di telinga.“Gue butuh lu. Tapi bu







