Home / Fantasi / Aduh Tak Tahan, Prof! / 56 | Aku Menginginkanmu!

Share

56 | Aku Menginginkanmu!

Author: Strawberry
last update Last Updated: 2025-10-13 20:02:03

Liam kembali ke kamarnya sebelum siapa pun sadar—terutama Julian dan para pelayan—bahwa ia semalaman berada di kamar Hanna.

Begitu pintu tertutup, ia menarik napas panjang dan langsung menyalakan alat uji neurologis portabel di mejanya.

Cahaya biru redup menyorot layar. Data mulai muncul satu per satu.

Detak jantung, pola gelombang otak, tingkat hormon, semua parameter perlahan membentuk kesimpulan yang membuatnya menatap lama.

Serum itu gagal menghapus semua memori—seperti yang sudah ia duga.

Liam menghembuskan napas lega, tapi di saat yang sama, dadanya terasa berat. Karena kegagalan itu membawa konsekuensi lain yang lebih dalam: serum tersebut justru memperkuat ikatan biologis antara dirinya dan Hanna.

Haruskah Liam senang? Atau bingung karena kemungkinan resiko Neural Overload semakin tinggi, vitamin ciptaannya tentu saja bisa mengurangi resiko tapi tetap saja resiko masih ada.

Ia menatap hasil pengukuran resonansi di layar.

Detak jantung Hanna kini berdetak hampir seirama denga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   220 | Twist Membingungkan

    Vance mengangguk pelan, mengakui. "Genesis adalah segalanya bagi Valthera. Dan anakmu... dia adalah lompatan evolusioner yang tidak terduga. Dewan tidak bisa mengabaikannya.""Jadi kau di sini untuk membawa kami kembali? Sendirian?" tantang Liam."Tidak," jawab Vance. Dia memandang ke arah kendaraan, seolah bisa menembus kaca gelap dan melihat Hanna. "Aku di sini untuk memberitahumu sesuatu. Sesuatu yang tidak tercatat dalam arsip resmi."Liam diam, waspada."Proyek Genesis memiliki banyak cabang, Liam. Salah satunya, yang dijalankan diam-diam oleh Alderic setelah dia mengambil alih, adalah 'Proyek Kaledoskop'. Mereka tidak hanya memilih gen terbaik. Mereka juga... menguji kompatibilitas. Mencocokkan profil genetik tertentu untuk menghasilkan kombinasi yang tidak hanya unggul, tetapi juga terkendali."Liam merasa tengkuknya dingin. "Apa maksudmu?""Hanna bukanlah wanita sembarangan yang kau temui, Liam. Dia adalah salah satu dari sedikit subjek dalam program itu. Profil genetiknya dip

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   219 | Kejutan dan Kebohongan

    Kendaraan melaju dengan cepat meninggalkan pinggiran Valthera, menuju wilayah pertanian terkontrol di luar perimeter kota. Di dalam kabin yang sunyi, hanya terdengar desir mesin dan napas berat mereka.Ada perasaan tidak nyaman dalam diri Hanna, bukan hanya karena kehamilannya tapi banyak hal lain yang menyusup dan memenuhi ruang pikirannya.Liam menatap lurus ke jalan yang gelap, namun pikirannya berkelana jauh ke masa lalu. Kenangan yang selama ini dia kubur bangkit dengan pahit."Dulu," ucap Liam tiba-tiba, suaranya berat memecah kesunyian, "Profesor Alderic, ayahmu Hanna, dan Profesor Julian O'Hara, ayahku, adalah sahabat sekaligus rival. Mereka adalah pionir Proyek Genesis."Hanna memalingkan wajahnya dari jendela, mendengarkan. Persahabatan antara Alderic dan Julian O’hara tetanus aja Hanna tahu."Genesis awalnya bukan tentang menciptakan manusia unggul. Itu adalah proyek medis raksasa untuk memberantas penyakit genetik dan kelaparan. Ayahku fokus pada rekayasa genetika tanaman

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   218 | Kekejaman Negara?

    "Bukan dia. Tapi kita bisa memanfaatkan koneksinya." Liam menoleh padanya. "Saat di rumah, dia mematikan listrik lokal. Di sini, dengan akses langsung ke inti server… kita bisa mengarahkan… dorongan neuralnya untuk melakukan sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang akan mengacaukan semua sistem pelacakan di Valthera, setidaknya untuk sementara.""Liam, itu terlalu berisiko! Kita tidak tahu batas kemampuannya!" protes Hanna."Kita juga tidak tahu batas ancaman terhadapnya, Hanna!" balas Liam. "Mereka tidak akan berhenti. Sekarang mereka tahu apa yang bisa dia lakukan, mereka akan mengerahkan segala sumber daya untuk mendapatkan kalian berdua. Ini satu-satunya cara untuk memastikan kita punya waktu bernapas."Sebelum Hanna bisa membantah, suara metalik menggema di koridor. Pintu baja tempat mereka masuk tiba-tiba terbuka dengan paksa. Di sana, berdiri Inspektur Mara dengan beberapa orang pasukan khusus, senjata mereka terhunus."Berhenti, O'Hara!" teriak Mara. "Langkah menjauh dari konsol

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   217 | Dalam Pelarian

    Terowongan layanan itu seperti urat nadi yang terlupakan di bawah tubuh Valthera yang berkilau. Dindingnya terbuat dari beton polos, dipenuhi kabel-kabel dan pipa-pipa yang berdesis lembut. Cahaya dari lampu kecil kendaraan mereka menerobos kegelapan, membuat bayangan-bayangan panjang menari-nari dengan liar.Liam mengemudi dengan penuh konsentrasi, nalurinya sebagai seorang yang mengenal tiap inci kota ini membimbingnya. Namun, ketegangan mengeras di pundaknya. Mereka belum aman. Jauh dari itu."Liam," bisik Hanna, suaranya parau. "Dia... dia tenang sekarang. Seperti tertidur.""Kelelahan," gumam Liam. Mengeluarkan energi seperti itu pasti menguras si kecil. Rasa khawatir yang baru menyergapnya—apa konsekuensi dari ledakan kekuatan seperti itu bagi janin yang masih berkembang? Tapi mereka tidak punya waktu untuk memikirkannya sekarang.Tiba-tiba, lampu kecil di dasbor kendaraan berkedip lalu padam. Mesin listrik yang nyaris tanpa suara itu merintih pelan, lalu kehilangan daya. Kendar

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   216 | Perlawanan Liam

    Ruang yang "disiapkan" ternyata adalah sebuah ruang operasi portabel yang lengkap, dipasang dengan cepat di ruang tamu utama. Peralatan berteknologi tinggi berdetak dan berkedip dengan cahaya dingin, mengubah ruang keluarga yang hangat menjadi sebuah laboratorium dingin. Meja pemeriksaan dengan lampu sorot terang menunggu di tengah.Hanna dipandu—lebih tepatnya, diarahkan—untuk berbaring. Perutnya yang membesar terasa berat dan rentan di bawah sorotan. Dr. Aris mendekat, mengenakan sarung tangan steril, sementara seorang asistennya menyiapkan mesin ultrasound yang lebih canggih dari biasanya dan sebuah alat panjang dengan ujung yang sangat tipis dan tajam."Tenang saja, Nona Hanna," ujar Dr. Aris, suaranya datar seperti sedang membaca manual. "Ini hanya prosedur standar amniocentesis. Kami akan mengambil sedikit sampel cairan ketuban untuk analisis. Sangat aman.""Aman untuk siapa?" serak Hanna, tangannya refleks melindungi perutnya."Untuk Anda dan janin, tentu saja," jawabnya, tapi

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   215 | Janin Yang Menolak

    Rasa bersalah dan ketakutan membakar hati Hanna bagai cairan asam. Setiap sesi "latihan" dengan perangkat kecil Liam meninggalkan rasa hampa yang dalam. Dia berbaring di tempat tidur, tangan menempel di perutnya yang membesar, membisikkan permintaan maaf berulang kali pada bayi di dalam kandungan."Maafkan Mama, Sayang. Mama janji, ini untuk kita. Agar kita bebas."Tapi bisikan itu terasa kosong. Apakah ini benar-benar untuk si bayi? Atau untuk ketakutan dirinya sendiri yang tidak ingin kehilangan? Dia mulai meragukan setiap keputusan yang dibuat sejak tahu dirinya hamil. Keputusan impulsif yang awalnya terasa seperti pemberontakan, kini berubah menjadi jerat yang mengikat tiga nyawa—bahkan sebelum yang ketiga sempat melihat dunia.Liam merasakan pergolakan dalam diri Hanna. Dia melihatnya sering melamun, matanya kosong menatap kejauhan. Sentuhannya menjadi lebih berhati-hati, seolah takut Hanna akan pecah."Kita bisa berhenti," ujar Liam suatu malam, memegangi bahu Hanna yang menggig

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status