Share

77 | Hari Kedua

Penulis: Strawberry
last update Tanggal publikasi: 2025-10-20 19:47:05

Pukul 02.13.

Suara klik itu masih menggantung di udara.

Liam menatap arah pintu kamar Hanna lama sekali. Lampu indikator di panel pintu berkedip merah — artinya sistem kunci masih aktif. Jadi suara itu… entah dari sistem, entah dari Hanna sendiri.

Ia bangkit dari kursi, berjalan pelan ke arah kamar. Langkahnya nyaris tak bersuara di lantai kayu.

Di layar, grafik detak jantung Hanna belum turun. Masih tinggi.

“Dia belum tidur,” gumamnya pelan.

Sampai di depan pintu, ia ragu beberapa detik. Lalu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   230 | Altar Suci (End)

    Hanna sampai di pelaminan. Lily menempatkan tangan Hanna di tangan Liam, lalu mencium pipi keduanya sebelum bergabung dengan lingkaran. Leo diangkat oleh Kaela untuk menyaksikan dari barisan depan.Jujur saja, sebenarnya moment ini sangat mendebarkan.Elian melangkah maju. Suaranya yang dalam dan tenang mengisi keheningan yang khidmat."Kita berkumpul hari ini bukan hanya untuk menyatukan dua insan, tetapi untuk merayakan sebuah pilihan. Pilihan untuk mencintai di tengah ketidakpastian, untuk membangun di atas puing-puing, dan untuk percaya pada ikatan yang lebih kuat dari semua rekayasa."Dia menoleh kepada Liam dan Hanna. "Liam, Hanna, kalian telah melalui api ujian dan datang ke sini, lebih kuat dan lebih jelas tentang apa yang penting. Apakah kalian datang dengan bebas dan dengan sepenuh hati untuk menyatukan hidup kalian?""Ya," jawab mereka berdua serentak, suara mereka mantap.Elian mengulurkan sebuah tali yang terbuat dari tiga helai serat berbeda: satu dari akar Pohon Kehidup

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   229 | Janji Suci

    Musim dingin pertama di Oasis datang dengan kelembutan. Salju turun jarang, hanya memberi lapisan tipis seperti gula halus di atap-atap kayu dan dedaunan Pohon Kehidupan yang tetap berkilauan dengan cahaya perak kehijauannya. Di dalam pondok, kehangatan dari perapian dan cinta membuat udara terasa nyaman.Suatu malam, setelah Leo tertidur dengan pipi merah merona, Hanna dan Liam duduk berhadapan di dekat api. Liam memegang tangan Hanna, jempolnya mengusap-usap cincin sederhana dari anyaman akar willow yang dia buat sendiri."Kita bicara tentang pernikahan sejak di Rensfold," kata Liam, suaranya rendah dan penuh arti. "Lalu semuanya kacau. Kita dikejar, ketakutan, melahirkan dalam pelarian... dan kemudian kita punya waktu bernapas di sini."Hanna tersenyum, matanya berbinar diterpa cahaya api. "Dan sekarang?""Dan sekarang," Liam menghela napas, tapi senyum kecil mengembang di bibirnya, "aku melihat data terbaru dari Valthera."Hanna mengerutkan kening. "Data?""GAIA sukses besar. Keta

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   228 | Sebuah Kilas Balik

    Kertas dari Julian O'Hara terbentang di atas meja kayu, diterangi cahaya matahari pagi yang hangat. Liam memandanginya bukan sebagai seorang ilmuwan yang menganalisis data, tetapi sebagai seorang anak laki-laki yang akhirnya mendapat pesan dari ayahnya. Sketsa lingkaran-lingkaran yang saling bertautan itu bukan sekadar diagram; itu adalah sebuah puisi visual, sebuah visi yang diwariskan.Elian, yang diundang untuk melihatnya, berdiri di samping Liam, jari-jarinya yang keriput menelusuri garis-garis tinta. "Ini… ini adalah jantung dari Pohon Kehidupan," gumamnya, takjub. "Tapi lebih dari itu. Ini adalah cetak biru untuk sebuah ekosistem yang sadar dan saling terhubung. Ayahmu melihat lebih jauh dari sekadar genetika tanaman. Dia melihat pola kesadaran itu sendiri."Hanna, sambil mendukung Leo yang sedang aktif bergerak di pangkuannya, bertanya, "Apa artinya bagi kita? Bagi Oasis?"Liam menghela napas, mengumpulkan pikirannya. "Artinya, kita tidak hanya bisa bertahan hidup di sini. Kita

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   227 | Kunjungan

    Hembusan angin musim gugur membawa udara segar beraroma daun kering ke dalam rumah pondok. Hanna sedang duduk di lantai, mengawasi Leo yang asyik menjelajahi mainan-mainan kayu buatan tangan. Liam sibuk di meja kecilnya, mempelajari catatan tanaman dari para tetua Oasis. Suasana tenang itu tiba-tiba pecah saat Lily, yang biasanya lebih banyak diam, menarik napas dalam dan berkata dengan suara penuh keyakinan:“Aku ingin bertemu dengan Julian.”Hanna menoleh, pandangannya bertemu dengan mata ibunya yang berkilat. “Mama…,” bisiknya, tahu betul kompleksitas dan risiko permintaan itu.“Aku tahu, Sayang,” ujar Lily sebelum Hanna menyelesaikan kalimatnya. “Tapi dia masih suamiku. Secara hukum, secara hati. Dan setelah semua yang terjadi… setelah mengetahui tentang Leo… aku merasa dia berhak tahu. Bahwa ada secercah cahaya dari garis keturunan O’Hara yang terus bersinar.” Tangannya gemetar saat membetulkan kerudungnya. “Ini bukan hanya tentang Julian. Ini tentang memberikan penutup… atau mu

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   226 | Keberhasilan

    Waktu berlalu dengan lembut di Oasis. Musim panas beranjak menjadi musim gugur yang sejuk. Daun-daun di pohon-pohon sekeliling lembah berubah menjadi kanvas merah, emas, dan jingga yang memukau. Leo tumbuh dengan cepat, dari bayi merah yang selalu tertidur menjadi bayi montok yang penuh rasa ingin tahu. Matanya yang hijau keperakan kini lebih sering terbuka, mengamati dunia di sekitarnya dengan ketajaman yang membuat Liam dan Hanna terkagum-kagum. Dia jarang menangis, seolah sudah puas hanya dengan mengamati—wajah ibunya, cahaya yang menari di langit-langit, daun-daun yang bergoyang di luar jendela.Namun, meski kehidupan mereka di Oasis penuh dengan kedamaian domestik, bayangan Valthera tidak pernah sepenuhnya hilang. Liam secara berkala menggunakan perangkat enkripsinya untuk memantau situasi, dengan izin dari Elian dan tetua lainnya. Apa yang dia temukan adalah gambaran yang kompleks dan penuh paradoks.Proyek GAIA—sistem agraria yang dia bangun berdasarkan prinsip ayahnya—tela

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   225 | Gencatan Senjata

    Hari-hari pertama setelah kelahiran Leo berjalan dalam kabut kelelahan yang penuh kebahagiaan. Waktu kehilangan bentuknya, terfragmentasi menjadi interval menyusui, mengganti popok, dan tidur sebentar yang berharga. Dunia orang tua.Liam, yang terbiasa dengan presisi jadwal ilmiah, menemukan ritme baru yang kacau namun sempurna. Dia belajar membedakan tangisan lapar dari tangisan ketidaknyamanan, belajar membungkus bayi dengan selimut lembut, belajar berdiri dan bergoyang-goyang di tengah malam sementara Leo yang rewel akhirnya tertidur kembali di bahunya, napasnya hangat dan berdesis di lehernya.Hanna pulih dengan kekuatan yang mengejutkan dirinya sendiri. Tubuhnya yang telah melalui ujian hebat itu sekarang dengan sabar menyembuhkan dirinya sendiri. Air susunya deras, dan saat Leo menyusu dengan semangat, dia merasakan ikatan yang lebih dalam daripada apa pun yang pernah dia bayangkan—sebuah kesatuan biologis dan emosional yang melampaui semua rekayasa dan rencana.Komunitas Oasis

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   81 | Venom

    Ryan menarik napas dalam. "Tentang kemungkinan kebocoran data dalam sistem compatibility interface. Bukan hanya data kita, Hanna. Tampaknya ada lebih banyak pasangan yang mengalami hal sama dengan kita. Dan..." Ia melemparkan pandangan singkat padanya, matanya menyelidik. "Prof. Julian curiga ada o

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   80 | Kepulangan

    Satu minggu berlalu. Karena terus dibujuk oleh Lily, akhirnya Hanna menuruti juga dan memutuskan untuk kembali ke kediaman Prof. Julian. Lagi pula, apa yang perlu ia khawatirkan? Kalau sebelumnya ia memilih pindah karena kesal pada Liam, perasaan itu sudah tidak ada lagi.Ia dan Liam sepakat untuk t

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   78 | Hari Ketiga

    Pukul 06.42.Hari ketiga.Semua berjalan biasa-biasa saja. Liam mencatat setiap perubahan yang terjadi dalam interaksinya dengan Hanna. Kopi di meja Liam sudah dingin.Ia menatap layar, mata nyaris tak berkedip. Data menunjukkan hal yang tidak stabil, fluktuasi hormon Hanna melonjak, detak jantung

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   76 | Hari Pertama

    Hari pertama, Catatan Penelitian – Liam O’HaraTujuan: mengukur fluktuasi hormon dopamin dan oksitosin tanpa stimulus fisik eksternal.Hipotesis: level emosi akan stabil dalam 24 jam tanpa kontak langsung.Liam menyunggingkan senyumnya, dia tak berharap banyak dengan experiment yang dia lakukan kal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status