Home / Fantasi / Aduh Tak Tahan, Prof! / Tamu Tak Diundang

Share

Tamu Tak Diundang

Author: Strawberry
last update Huling Na-update: 2025-10-01 14:37:15

Sebelum insiden di kamar mandi itu, Hanna baru saja menyelesaikan semua persyaratan akademisnya di kampus. Ia menutup hari dengan menyerahkan makalah ilmiah tentang pentingnya emosi dalam membangun keluarga—syarat terakhir kelulusannya sebagai Sarjana Psikologi Sosial.

Biasanya Hanna tinggal di asrama, namun kali ini ia memilih pergi ke apartemen pemberian ayah tirinya. Tempat itu menjadi pelariannya ketika ia ingin jauh dari hiruk pikuk kampus.

Dengan langkah letih, Hanna masuk ke dalam apartemen. Andai ia lebih teliti, ia mungkin akan sadar ada tanda-tanda bahwa seseorang telah lebih dulu berada di sana. Namun kelelahan membuatnya abai. Seperti kebiasaannya, ia melepas pakaian satu per satu, lalu mengambil handuk bersih dan melilitkannya di tubuh.

Namun, begitu membuka bilik kaca kamar mandi, ia mendapati sosok asing berdiri di dalam uap. Dan ketika pintu bergeser, kenyataan menamparnyaProfesor Liam.

Keterkejutannya membuatnya hampir terjatuh, tapi Liam menangkapnya. Saat tubuh mereka bersentuhan, logika Hanna buyar.

Tanpa ragu, bibir Liam menabrak bibirnya.

Ciuman itu bukan hanya pertemuan dua tubuh, melainkan benturan dua dunia. Bagi Liam, bibir itu adalah bibir yang kerap menantangnya—menolak keyakinannya bahwa Implan Alarm KB adalah jawaban krisis populasi. Hanna, dengan idealismenya, berulang kali menegaskan bahwa emosi dan ikatan keluarga adalah fondasi sejati.

Sekarang, dalam dekapan singkat itu, keduanya dipaksa menghadapi paradoks. Bagaimana mungkin musuh intelektual bisa terasa begitu dekat? Bagaimana mungkin perang ide bisa mendekatkan mereka lebih kuat daripada teori apa pun?

Ciuman itu menjadi simbol—antara dominasi jenius yang yakin kebenarannya, dan keberanian seorang sarjana muda biasa-biasa saja yang menolak tunduk pada profesor muda yang jenius.

Namun simbol itu tak berhenti di bibir. Nafas yang tercekat berubah menjadi desahan, genggaman tangan yang awalnya menahan kini justru menarik. Hanna seharusnya menolak, tapi tubuhnya memilih jawaban lain. Liam, yang selama ini hanya mengenal angka, teori, dan disiplin logika, terperangkap pada kelembutan yang justru menghancurkan benteng egonya.

Uap panas memenuhi kamar mandi, menutupi batas antara benar dan salah. Keduanya tak lagi bisa membedakan mana dorongan, mana kesadaran. Dalam hitungan detik, percakapan panjang tentang moral, sosial, dan kontrol diri runtuh di bawah desakan tubuh yang saling mencari.

Malam itu, bukan hanya argumen yang menyatu, melainkan juga tubuh mereka. Hubungan yang seharusnya tak mungkin, justru terjadi—liar, rapuh, namun tak terelakkan. 

“Jadi… ternyata anak yang Ayahku sebutkan itu kamu? Aku menyesal tidak mengetahuinya lebih awal,” gumam Profesor Liam.

“Diam!” sahut Hanna ketus. “Sekarang, apa kamu tahu akibat perbuatanmu ini? Konsekuensi apa yang harus aku tanggung… karena… karena alarm KB itu tidak aku aktifkan?”

Liam tersenyum miring, smirk khasnya muncul. “Bagaimana mungkin aku tidak tahu? Aku yang menciptakannya. Dan karena yang datang menjebakku adalah kamu, maka kamu yang harus menanggung akibatnya.”

Namun, begitu menyadari ucapannya sendiri, raut wajahnya berubah tipis. Alisnya sedikit terangkat, seolah baru menangkap sesuatu. “Tunggu… jadi kamu benar-benar tidak mengaktifkan alarm KB-mu?” suaranya menurun, ada nada kaget yang samar.

Ia terkekeh pendek, tatapannya kini penuh heran. “Hanna, Hanna… kau selalu berapi-api mengkritik sistem ini, tapi ternyata kau sendiri ceroboh dalam menggunakannya.”

Wajah Hanna memerah, campuran antara malu dan marah. “Aku… aku lelah! Aku baru pulang dari kampus, pikiranku penuh, aku tidak sempat mengecek lagi. Itu bukan berarti aku tidak peduli!” suaranya meninggi, namun terdengar gemetar.

“Alasan yang menarik,” balas Liam tenang, suaranya nyaris seperti dosen yang sedang mengoreksi mahasiswa. “Tapi dalam sistem yang kau benci ini, satu kelalaian kecil bisa berarti konsekuensi besar. Kau sadar itu, bukan?”

Hanna terdiam. Ia ingin membantah, tapi kata-katanya seakan tertahan di tenggorokan. Ia membuang pandangan, seolah takut menatap mata Liam, karena di balik rasa muak itu ada juga ketakutan yang tak bisa ia jelaskan.

“Tidak bisa begitu! Kamu yang menjebakku. Kamu masuk ke ruang privasiku!”

“Dan kamu… sudah tahu ada orang di dalam kamar mandi, kenapa malah mendekat hanya dengan handuk tipis?”

Hanna terdiam. Pikirannya kacau, umpatan memenuhi kepalanya. Sebentar lagi ia harus bertemu calon suaminya, lelaki yang dijodohkan dengannya. Tapi kini, tubuhnya justru terikat oleh lelaki lain.

TING!

Suara notifikasi pesan masuk terdengar dari perangkat komunikasi mereka berdua.

“Undangan makan malam,” ucap keduanya hampir bersamaan.

“Makan malam ini… adalah pertemuanku dengan calon suamiku. Aku harap apa yang terjadi di sini menjadi rahasia kita,” putus Hanna tegas.

“Tentu, Nona Hanna… rahasia kita.” Liam sedikit membungkuk saat mengatakannya.

Namun efek implan itu segera terasa. Begitu aroma tubuh Liam kembali menyentuh indra penciumannya, tubuh Hanna bereaksi spontan—napasnya memburu, jantungnya melonjak, dan sensasi hangat menjalar cepat ke seluruh tubuh.

Itu bukan sekadar sugesti; setiap kali ia berada terlalu dekat dengan Liam, reaksinya selalu sama. Seolah ada magnet tak kasatmata yang memaksa aliran darahnya mengalir menuju titik-titik paling peka.

“Aku harus menjauh…” batinnya berulang kali berteriak. Namun tubuhnya tak tunduk pada logika. Jemarinya gemetar, kulitnya merinding setiap kali tatapan Liam terlalu dalam.

Hanna buru-buru mendorong Liam menjauh, seakan jarak fisik bisa mengembalikan kewarasannya. Tapi bahkan setelah ia melepaskan diri, denyut itu masih tersisa di nadinya—mengingatkannya betapa rapuh pertahanan logika di hadapan dorongan yang tak bisa ia kendalikan.

“Tolong menjauh, Profesor Liam! Kamu harus membantuku mengatasi hal ini!”

Liam menatapnya dengan tenang, senyum tipis tak hilang dari wajahnya. Selama 32 tahun hidup, baru kali ini ia benar-benar memperhatikan seorang perempuan seperti ini.

“Implan ini aku buat agar tubuh perempuan bergantung pada pasangan pertama yang membuahinya. Kamu tahu kenapa? Supaya para perempuan tetap setia pada pasangannya,” jelas Liam, seperti sedang memberi kuliah.

“Ini tidak adil! Bagaimana dengan kaum lelaki?”

Liam mengelus janggutnya pelan. “Aku pikir sejalan… itu yang kurasakan sekarang. Tapi jujur, aku belum tahu bagaimana jadinya jika terjadi pada lelaki yang sudah menemukan jodohnya.”

Hanna mendengus muak. Baginya, Liam hanya sibuk bicara teori, bukan memberi solusi.

Liam sebenarnya adalah salah satu warga yang belum dipertemukan dengan jodohnya. Justru karena dialah pelopor program ini, ia diam-diam menyimpan keinginan untuk membangun hubungan berdasarkan emosi, bukan sekadar algoritma DNA.

“Aku tidak peduli! Pokoknya acara besok malam jangan sampai kamu kacaukan. Yang terjadi malam ini akan jadi rahasia kita. Tidak akan ada yang tahu… kecuali salah satu dari kita sendiri yang membocorkan.”

“Hm… terdengar cheesy sekali,” ucap Liam ringan, lalu tersenyum nakal. “Tapi malam ini aku tidur di mana?”

“Sofa!” bentak Hanna. Ia masuk ke kamarnya, lalu melemparkan selimut dan bantal ke wajah Liam.

BAM!

Pintu kamar tertutup keras, meninggalkan Liam dengan selimut di tangannya dan senyum samar di bibirnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   218 | Kekejaman Negara?

    "Bukan dia. Tapi kita bisa memanfaatkan koneksinya." Liam menoleh padanya. "Saat di rumah, dia mematikan listrik lokal. Di sini, dengan akses langsung ke inti server… kita bisa mengarahkan… dorongan neuralnya untuk melakukan sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang akan mengacaukan semua sistem pelacakan di Valthera, setidaknya untuk sementara.""Liam, itu terlalu berisiko! Kita tidak tahu batas kemampuannya!" protes Hanna."Kita juga tidak tahu batas ancaman terhadapnya, Hanna!" balas Liam. "Mereka tidak akan berhenti. Sekarang mereka tahu apa yang bisa dia lakukan, mereka akan mengerahkan segala sumber daya untuk mendapatkan kalian berdua. Ini satu-satunya cara untuk memastikan kita punya waktu bernapas."Sebelum Hanna bisa membantah, suara metalik menggema di koridor. Pintu baja tempat mereka masuk tiba-tiba terbuka dengan paksa. Di sana, berdiri Inspektur Mara dengan beberapa orang pasukan khusus, senjata mereka terhunus."Berhenti, O'Hara!" teriak Mara. "Langkah menjauh dari konsol

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   217 | Dalam Pelarian

    Terowongan layanan itu seperti urat nadi yang terlupakan di bawah tubuh Valthera yang berkilau. Dindingnya terbuat dari beton polos, dipenuhi kabel-kabel dan pipa-pipa yang berdesis lembut. Cahaya dari lampu kecil kendaraan mereka menerobos kegelapan, membuat bayangan-bayangan panjang menari-nari dengan liar.Liam mengemudi dengan penuh konsentrasi, nalurinya sebagai seorang yang mengenal tiap inci kota ini membimbingnya. Namun, ketegangan mengeras di pundaknya. Mereka belum aman. Jauh dari itu."Liam," bisik Hanna, suaranya parau. "Dia... dia tenang sekarang. Seperti tertidur.""Kelelahan," gumam Liam. Mengeluarkan energi seperti itu pasti menguras si kecil. Rasa khawatir yang baru menyergapnya—apa konsekuensi dari ledakan kekuatan seperti itu bagi janin yang masih berkembang? Tapi mereka tidak punya waktu untuk memikirkannya sekarang.Tiba-tiba, lampu kecil di dasbor kendaraan berkedip lalu padam. Mesin listrik yang nyaris tanpa suara itu merintih pelan, lalu kehilangan daya. Kendar

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   216 | Perlawanan Liam

    Ruang yang "disiapkan" ternyata adalah sebuah ruang operasi portabel yang lengkap, dipasang dengan cepat di ruang tamu utama. Peralatan berteknologi tinggi berdetak dan berkedip dengan cahaya dingin, mengubah ruang keluarga yang hangat menjadi sebuah laboratorium dingin. Meja pemeriksaan dengan lampu sorot terang menunggu di tengah.Hanna dipandu—lebih tepatnya, diarahkan—untuk berbaring. Perutnya yang membesar terasa berat dan rentan di bawah sorotan. Dr. Aris mendekat, mengenakan sarung tangan steril, sementara seorang asistennya menyiapkan mesin ultrasound yang lebih canggih dari biasanya dan sebuah alat panjang dengan ujung yang sangat tipis dan tajam."Tenang saja, Nona Hanna," ujar Dr. Aris, suaranya datar seperti sedang membaca manual. "Ini hanya prosedur standar amniocentesis. Kami akan mengambil sedikit sampel cairan ketuban untuk analisis. Sangat aman.""Aman untuk siapa?" serak Hanna, tangannya refleks melindungi perutnya."Untuk Anda dan janin, tentu saja," jawabnya, tapi

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   215 | Janin Yang Menolak

    Rasa bersalah dan ketakutan membakar hati Hanna bagai cairan asam. Setiap sesi "latihan" dengan perangkat kecil Liam meninggalkan rasa hampa yang dalam. Dia berbaring di tempat tidur, tangan menempel di perutnya yang membesar, membisikkan permintaan maaf berulang kali pada bayi di dalam kandungan."Maafkan Mama, Sayang. Mama janji, ini untuk kita. Agar kita bebas."Tapi bisikan itu terasa kosong. Apakah ini benar-benar untuk si bayi? Atau untuk ketakutan dirinya sendiri yang tidak ingin kehilangan? Dia mulai meragukan setiap keputusan yang dibuat sejak tahu dirinya hamil. Keputusan impulsif yang awalnya terasa seperti pemberontakan, kini berubah menjadi jerat yang mengikat tiga nyawa—bahkan sebelum yang ketiga sempat melihat dunia.Liam merasakan pergolakan dalam diri Hanna. Dia melihatnya sering melamun, matanya kosong menatap kejauhan. Sentuhannya menjadi lebih berhati-hati, seolah takut Hanna akan pecah."Kita bisa berhenti," ujar Liam suatu malam, memegangi bahu Hanna yang menggig

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   214 | Utopia Impian

    Hanna duduk terdiam di bangku taman, buku terbengkalai di pangkuannya. Udara hangat artifisial tiba-tiba terasa menusuk. Denyut jantungnya, yang dipantau oleh gelang perak di pergelangan tangannya, pasti melonjak. Dia memaksa diri untuk menarik napas panjang dan perlahan, berusaha menenangkan diri.Itu hanya halusinasi, bisiknya pada dirinya sendiri. Stres. Kelelahan.Tapi rasanya begitu nyata. Diagram itu tajam, jelas. Titik-titik merah yang berkedip sesuai dengan posisi patroli keamanan yang biasa dia lihat dari jendela. Titik hijau itu… tepat di lokasi laboratorium Liam.Dia menutup matanya, mencoba memanggil kembali gambaran itu. Tidak ada. Hanya kegelapan di balik kelopak matanya. Namun, ada sisa-sisa sensasi aneh—seperti gema dari koneksi yang terputus, atau saluran yang baru saja dibuka."Sayang, mau minum teh?" suara Lily dari pintu belakang membuyarkan konsentrasinya.Hanna membuka mata, berusaha tersenyum. "Iya, Ma. Aku masuk."Dia berdiri, sedikit limbung. Perutnya bergerak

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   213 | Menuntut Kebebasan

    Keputusan Dewan Keamanan bergema melalui saluran-saluran resmi dengan kecepatan dan efisiensi khas Valthera. Dalam waktu dua jam setelah pertemuan Liam, perintah transfer resmi telah dikeluarkan.Namun, seperti segala hal di Valthera, tidak ada yang benar-benar sederhana.Pintu Unit 5-C terbuka, bukan oleh Liam, tetapi oleh Inspektur Mara, didampingi oleh dua petugas medis dan seorang teknisi keamanan.“Nona Hanna, Nyonya Lily,” sapa Mara dengan nada datar profesionalnya yang biasa. “Harap berkemas. Anda akan dipindahkan ke kediaman Profesor O’Hara di Perimeter North.”Hanna dan Lily saling memandang, campur aduk antara kelegaan dan kehati-hatian.“Liam?” tanya Hanna, berharap melihatnya.“Profesor O’Hara sedang mempersiapkan lokasi baru Anda dan akan menyambut di sana,” jawab Mara. Dia memberi isyarat, dan teknisi itu maju dengan perangkat genggam. “Sebelum kepergian, kami perlu memasang monitor lingkungan tambahan. Ini standar.”“Monitor apa?” tanya Lily dengan waspada.“Untuk memas

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status