공유

Bab 5

작가: Millanova
last update 게시일: 2025-08-26 01:00:54

Suara mesin kopi itu terdengar seperti bor jalanan. Wussshhh. Grrrttt.

Aku memijat pelipisku. Kafe "Senja Kopi" ini biasanya tempat favoritku untuk menulis karena suasananya tenang. Tapi hari ini, entah kenapa, setiap denting sendok yang beradu dengan cangkir keramik terdengar sepuluh kali lebih keras. Orang-orang mengobrol dengan volume yang memekakkan telinga.

Dunia terasa terlalu tajam. Terlalu berisik.

Aku duduk di sudut paling gelap, mengenakan topi bisbol rendah untuk menutupi mata. Di depanku, secangkir americano yang sudah dingin tidak tersentuh. Tangan kananku yang terbalut perban kuletakkan di atas paha, tersembunyi di bawah meja. Aku tidak ingin ada pertanyaan.

"Demi Tuhan, Ivan."

Suara itu memecah lamunanku. Sarah berdiri di hadapanku. Dia tampak rapi, profesional, dan wangi sebuah kontradiksi total dengan diriku yang rasanya berbau seperti kertas tua dan keringat dingin.

Dia tidak duduk. Dia hanya berdiri, menatapku dengan mata membelalak. Tatapan yang sama seperti saat Leo, anjingku, menatapku. Tatapan menuduh.

"Duduklah, Sarah. Kau menghalangi cahaya," gumamku datar.

Sarah menarik kursi dengan kasar. "Aku meneleponmu lima belas kali, Ivan! Lima belas kali! Aku hampir menelepon polisi karena mengira kau mati di bak mandi!"

Aku mendengus. "Jangan dramatis. Aku sedang in the zone. Kau tahu aturannya. Saat aku sedang menulis, dunia luar tidak ada."

"Menulis?" Sarah mencondongkan tubuhnya, menatap wajahku lekat-lekat. "Ivan, kapan terakhir kali kau bercermin? Kau terlihat seperti..." Dia menahan napas, mencari kata yang sopan. "...seperti mayat yang baru digali."

Aku meraba wajahku dengan tangan kiri. Memang ada sedikit berewok kasar yang belum dicukur. Kulitku terasa berminyak. "Aku seniman, Sarah. Bukan model majalah sampul. Penampilan bukan prioritasku saat sedang melahirkan mahakarya."

Mata Sarah jatuh ke bawah meja. Dia melihat tangan kananku.

"Tanganmu... kenapa?" Nada suaranya berubah dari marah menjadi ngeri.

Aku menarik tanganku lebih dalam ke bawah meja. "Kecelakaan dapur. Gelas pecah saat aku mencuci piring. Bukan masalah besar."

Bohong. Itu bukan gelas dapur. Itu... yah, lupakan. Penjelasannya terlalu rumit untuk otak Sarah yang hanya peduli pada tenggat waktu.

"Oke," Sarah menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Dia mengeluarkan iPad-nya. "Mari kita bicara bisnis. Cinta di Musim Gugur. Penerbit sudah menyiapkan slot cetak bulan depan. Mana drafnya? Kau janji mengirimnya dua hari yang lalu."

Aku tertawa. Tawa itu keluar begitu saja, kering dan tanpa humor.

"Aku membuangnya."

Sarah membeku. "Apa?"

"Aku menghapusnya. Sampah. Semuanya sampah," kataku, mataku berbinar. Aku memajukan tubuhku, antusiasme tiba-tiba meledak dalam dadaku. "Dengar, Sarah. Aku sedang mengerjakan sesuatu yang baru. Sesuatu yang nyata. Judulnya belum pasti, tapi karakter utamanya, Agnia... Tuhan, dia luar biasa. Dia bukan gadis cengeng yang menunggu pangeran. Dia..."

"Ivan, hentikan," potong Sarah. Wajahnya tidak menunjukkan ketertarikan. Justru dia tampak ketakutan.

"Kenapa? Kau belum dengar plotnya! Ada adegan di mana dia..."

"Ivan!" bentak Sarah, membuat beberapa pengunjung menoleh. Dia merendahkan suaranya, berbisik tajam. "Aku tidak peduli dengan Agnia atau siapa pun itu. Aku peduli padamu. Kau bicara melantur. Matamu merah sekali. Dan baumu..." Sarah menutup hidungnya sekilas. "Kau bau amis. Seperti besi karatan."

Aku mengernyit. Aku mencium lengan bajuku. Hanya bau pewangi pakaian. "Kau berlebihan. Itu bau tinta. Atau mungkin kopi."

"Kau butuh tidur," kata Sarah tegas. Dia menutup iPad-nya. "Aku tidak akan membahas naskah hari ini. Pulanglah. Tidur. Mandi. Kita bicara lusa saat kau sudah waras."

"Aku waras!" sergahku, sedikit terlalu keras. "Aku justru baru merasa benar-benar sadar setelah bertahun-tahun menulis sampah manis itu untukmu! Kau hanya tidak suka karena aku berhenti menjadi sapi perahmu, kan?"

Sarah menatapku lama. Ada rasa sakit di matanya. Kekecewaan.

"Ivan," suaranya lembut, tapi menusuk. "Sekarang hari Kamis."

Aku terdiam. "Lalu?"

"Kita terakhir bertemu hari Senin pagi di peluncuran bukumu. Kau bilang kau baru mulai menulis kemarin malam? Itu artinya kau sudah menghilang selama tiga hari, Ivan. Tiga hari kau tidak keluar apartemen."

Otakku tersendat.

Tiga hari?

Tidak mungkin. Aku ingat dengan jelas. Aku pulang acara, menulis Bab 1. Besok paginya ke taman (Bab 2), lalu pulang dan tidur sebentar (Bab 3), lalu bangun dan tanganku terluka (Bab 4). Itu maksimal 24 jam.

Ke mana perginya dua hari yang lain?

"Kau salah lihat kalender," kataku defensif, meski perutku mulai mulas.

Sarah berdiri. Dia mengambil tasnya. Dia tidak marah lagi. Dia tampak sedih.

"Pulanglah, Ivan. Obatilah tanganmu. Dan tolong... jangan menulis dulu."

Sarah pergi meninggalkanku sendirian di meja pojok itu. Aku melihat punggungnya menjauh.

Aku mendengus kesal. Dia tidak mengerti. Tidak ada yang mengerti. Mereka pikir ini gila, padahal ini adalah pencerahan. Waktu yang hilang itu bukan masalah. Itu harga yang wajar untuk sebuah karya seni.

Aku meraba perban di tangan kananku. Lukanya berdenyut lagi.

"Dasar amatir," bisikku pada bayangan Sarah yang menghilang di pintu keluar. "Dia tidak tahu Agnia sedang menunggu."

Aku menghabiskan sisa kopiku dalam sekali teguk. Rasanya pahit, sepahit kenyataan yang mencoba Sarah sodorkan padaku. Tapi aku tidak butuh kenyataan Sarah.

Aku butuh laptopku.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 34

    Tiga bulan berlalu.Taman di bagian belakang Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa bukanlah tempat yang dirancang untuk keindahan. Hanya hamparan rumput yang sedikit menghijau, dipagari besi tinggi berkarat, dan beberapa pohon trembesi yang rindang namun luput dari perawatan. Daun-daun kering berserakan di tanah, tak pernah tersapu.Di balik kaca jendela ruang rawat yang tebal, Sarah Wijaya berdiri mematung.Pandangannya tertuju pada seorang pria yang duduk di bangku kayu di bawah naungan trembesi.Tubuhnya kurus, nyaris tenggelam dalam seragam rumah sakit: kemeja lengan panjang putih yang telah kusam dan celana longgar yang jelas kebesaran. Rambutnya memanjang, kusut, dan kusam, tak peduli betapa rajinnya perawat merapikannya setiap pagi.Pria itu sedang berbicara.Sendirian.Tak ada siapa pun di bangku itu. Tak ada pasien lain, tak ada perawat yang mengawasi. Namun ia bicara dengan intens, tangan bergerak-gerak seolah sedang menyusun argumen, sesekali terkekeh, lalu menggeleng.Kemudian ia t

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 33

    esadaranku datang dan pergi, terombang-ambing seperti napas yang tersengal.Satu detik aku merasa terbaring di lantai kamar kost yang dingin. Detik berikutnya, tubuhku terangkat, dipindahkan ke permukaan yang keras dan sempit. Ada tangan-tangan yang menyentuhku: ada yang kasar, ada yang lembut, ada yang membalut luka, ada yang mengencangkan tali di pergelanganku.Suara-suara bergema di sekelilingku. Samar. Terpotong. Seperti siaran radio yang kehilangan frekuensi.Namun perlahan, suara-suara itu mulai menemukan bentuknya.Dan aku sadar: aku tidak bisa bergerak.Kubuka mata. Yang kulihat hanyalah langit-langit putih yang bergeser bukan, langit-langit itu tidak bergerak. Akulah yang bergerak. Aku terbaring di atas brankar, dan brankar itu terus didorong. Lampu-lampu lorong kost yang redup melintas di atas kepalaku, satu demi satu.Aku mencoba mengangkat tangan. Kaku.Pergelangan tanganku terikat pada rel brankar oleh sabuk kain tebal. Kaki juga. Dada juga. Bukan straightjacket, sekadar pr

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 32

    “Ivan. Bangun, Ivan!”Suara itu.Samar. Menggema dari kejauhan, seolah merambat melalui lorong panjang yang lembap dan gelap.“Ivan!”Aku mengerjap. Kelopak mataku terasa berat, seolah direkatkan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Cahaya terlalu tajam menyelinap melalui celahnya, menyengat pupilku hingga perih.Bukan cahaya bohlam kuning yang biasa menerangi kamarku.Ini putih. Terang. Nyaris menyakitkan.“Dia sadar! Dokter, dia sadar!”Suara itu lagi.Suara yang tak asing.Suara yang pernah kudengar ribuan kali: di ruang rapat, di kendaraan yang berkedap, di peluncuran buku, di telepon tengah malam saat ia menagih naskah yang tak kunjung selesai.Sarah.Kubuka mata.Wajah Sarah tepat di depanku. Hanya beberapa sentimeter. Matanya merah dan bengkak, sisa air mata masih membasahi pipi tirusnya. Rambutnya kusut, jauh dari sanggul rapi yang biasa ia kenakan. Ia tampak lelah. Sungguhan lelah. Layak orang yang tak tidur berhari-hari.“Ivan,” bisiknya. Tangannya menggenggam jariku. Hangat. Nya

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 31

    Satu minggu telah berlalu. Atau mungkin delapan hari. Atau sembilan. Aku sudah berhenti menghitung.Waktu di kost ini mengalir seperti air yang terjebak di parit lambat, tanpa arah, dan meninggalkan jejak anyir yang kian pekat seiring hari. Aku bangun, bekerja, makan, tidur, lalu bangun lagi. Tidak ada yang berubah.Kecuali hari ini.Aku menyadari ada yang tidak beres sejak pagi.Bukan dari suara. Bukan dari bau. Melainkan dari getaran di udara yang berbeda. Seperti hening yang mendahului gempa, atau napas yang tertahan sebelum pintu terbuka.Aku duduk di kamar, buku bekas yang usang terbuka di pangkuan, tetapi aku tidak menulis. Aku hanya duduk, menatap dinding, mendengarkan.Dan di luar sana, Ibu Kost mondar-mandir.Klek... klek... klek...Sandal jepitnya yang telah aus menimbulkan bunyi setiap kali tumitnya menyentuh lantai semen di lorong. Dari kamarku di ujung kiri, aku mendengarnya bolak-balik dari dapur ke pintu gerbang, dari pintu gerbang kembali ke dapur, berulang seperti band

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 30

    Aku terbangun dengan punggung yang kaku.Matahari sudah cukup tinggi mungkin jam sembilan, mungkin sepuluh. Kamarku tidak pernah menerima cahaya pagi; jendelanya menghadap ke barat, dan pagi hari, kamar ini gelap seperti gua. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terbiasa dengan itu.Kepalaku berat. Mulutku terasa pahit.Tanganku meraba lantai di samping kasur mencari apa, aku tidak tahu. Ponsel Nokia. Buku tulis bunga mawar. Koran. Lalu jariku menyentuh sesuatu yang berbeda: kertas lebih kasar, lebih tebal, dengan tekstur yang hanya bisa didapat dari buku yang sudah lama tidak dibuka.Aku mengangkatnya ke cahaya bohlam yang masih menyala redup.Sebuah buku. Bukan buku tulis buku betulan, dengan sampul yang sudah hampir lepas dan warna yang telah pudar menjadi cokelat kusam. Tulisan di sampulnya luntur, hanya tersisa serpihan huruf: ...ANG... ...AN...Lalu aku ingat. Kemarin sore, di TPS, ada tumpukan buku bekas yang dibuang seorang mahasiswa masih ada kartu tanda mahasiswanya t

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 29

    "Mas! Mas Ipan!"Suara itu memanggilku dari pinggir jalan, dekat perempatan lampu merah yang biasanya macet. Seorang pria tua duduk di bangku kayu panjang. Di depannya terhampar karung plastik biru berisi tumpukan koran dan majalah bekas. Rambutnya sudah putih semua, kumisnya tebal dan kusut, dan matanya menyipit di balik kacamata minus yang tebalnya seperti dasar botol.Mang Udin. Penjual koran bekas langganan para pemulung dan tukang loak.Aku sering membeli koran darinya. Bukan karena aku suka membaca berita. Tapi karena kadang aku butuh sesuatu untuk membungkus sampah organik yang terlalu basah. Atau kadang aku butuh sesuatu untuk diremas-remas saat tanganku gatal ingin menulis tetapi tidak punya kertas."Pagi, Mang," sapaku datar, mendekati lapak daruratnya."Iya, iya, sudah lama tidak kelihatan. Kemarin ke mana saja? Sepertinya kurusan, Le." Mang Udin tertawa kecil, memperlihatkan sisa-sisa giginya yang hitam oleh tembakau. "Mau koran? Yang ini bagus. Masih lumayan baru. Hanya se

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 3

    Dompet itu masih tergeletak di sana. Hitam, bisu, dan menuduh.Aku mundur selangkah. Tumit sepatuku menggerus kerikil, bunyinya terdengar seperti ledakan di telingaku yang berdenging.Aku harus mengambilnya. Aku harus mengejar pria itu. Itu yang dilakukan orang waras.Tapi kakiku berputar ke arah se

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 2

    Waktu menjadi konsep yang cair.Aku tidak tahu sudah berapa lama aku duduk di sini. Satu jam? Lima jam? Jendela apartemenku yang tadinya gelap kini mulai membiru. Matahari pagi mencoba merayap masuk, tapi aku tidak peduli.Duniaku sekarang hanya selebar layar laptop 13 inci ini.Biasanya, menulis no

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 1

    Cahaya blitz kamera itu seperti silet. Menusuk retina, membelah isi kepalaku yang sudah berdenyut sejak dua jam lalu."Ivan! Lihat sini, Ivan!""Satu senyum lagi, Pak Penulis Cinta!"Aku memamerkan deretan gigiku. Senyum nomor empat: Senyum Rendah Hati yang Memikat. Ini adalah topeng favoritku. Tope

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 23

    Dua hari setelah panggilan telepon pertamaku (dan panggilan kedua, dan ketiga—hanya tiga detik setiap kali, cukup untuk mendengar napasnya, tidak cukup untuk membuatnya curiga), perilaku Nuri berubah.Biasanya, dia keluar kamar pukul 06.15 pagi dengan langkah ringan, rambut basah, menyapa Ibu Kost d

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status