مشاركة

Bab 4

مؤلف: Millanova
last update تاريخ النشر: 2025-08-25 01:00:03

Mimpi itu tidak memiliki bentuk, hanya warna. Merah. Pekat dan berdenyut.

Aku tersentak bangun dengan napas tertahan di tenggorokan. Jantungku memukul-mukul rusuk, seolah ingin mendobrak keluar. Kamarku gelap gulita. Tirai jendela tertutup rapat, menghalangi sisa cahaya matahari sore atau mungkin pagi? Aku kehilangan orientasi waktu lagi.

Aku meraba nakas, mencari ponsel untuk melihat jam.

"Aduh!"

Sebuah rasa nyeri yang tajam menyengat tangan kananku saat aku menyenggol sudut meja. Bukan sekadar benturan biasa. Rasanya perih, panas, dan berdenyut sampai ke siku.

Aku mengerang, menyalakan lampu tidur dengan tangan kiri. Cahaya kuning temaram membanjiri ruangan, menyakitkan mata yang terbiasa dengan kegelapan.

Aku melihat tangan kananku.

Duniaku berhenti berputar.

Tidak ada kulit mulus yang tadi pagi kubanggakan. Tidak ada tangan penulis romance yang terawat manicure.

Buku-buku jari kananku bengkak, memar berwarna ungu kebiruan. Dan di tengah memar itu, kulitnya robek. Terkelupas kasar. Darah kering berwarna merah kecokelatan mengerak di sana, membentuk pulau-pulau kecil di punggung tanganku.

Darah.

Itu darah sungguhan. Baunya amis, menusuk hidungku yang sensitif.

"Apa..." suaraku tercekat.

Aku melompat turun dari kasur, panik. Aku memeriksa seprai putihku.

Ada noda di sana. Bercak-bercak merah kecil yang menyebar. Bukan tumpahan besar, tapi tetesan. Seperti... pola polkadot.

Polkadot merah yang abstrak.

Kalimat itu meledak di kepalaku.

Agnia tidak meringis, meski kulit di buku jari kanannya robek. Darah segar menetes, jatuh ke aspal yang kotor, membentuk pola polkadot merah yang abstrak.

"Tidak. Tidak mungkin," aku mundur hingga punggungku menabrak lemari pakaian.

Otak rasionalku bekerja lembur, mencoba mencari penjelasan yang masuk akal, seputus asa apapun itu.

"Aku... aku pasti berjalan sambil tidur," bisikku gemetar. "Ya, somnambulisme. Aku pasti bangun tanpa sadar, menabrak sesuatu, melukai tanganku, lalu tidur lagi."

Aku berlari ke kamar mandi. Aku menyalakan keran wastafel, membiarkan air dingin mengucur deras. Dengan kasar, aku menggosok tangan kananku di bawah air.

Perihnya luar biasa. Air yang mengalir ke lubang pembuangan berubah menjadi merah muda. Darah itu luntur, tapi lukanya nyata. Daging yang sobek itu nyata.

Aku menatap cermin di atas wastafel. Wajahku pucat pasi, mataku merah dan bengkak.

"Kau melukai dirimu sendiri saat tidur, Ivan," kataku pada pantulan di cermin. "Mungkin kau mimpi buruk. Mungkin kau memukul dinding saat bermimpi menjadi Agnia. Itu reaksi psikosomatis. Stres membuatmu melakukan hal gila."

Aku mencoba mempercayainya. Aku harus mempercayainya.

Setelah membalut tangan kananku dengan perban seadanya, aku keluar dari kamar mandi. Aku menyalakan semua lampu di apartemen. Aku butuh terang. Aku butuh memastikan tidak ada monster yang bersembunyi di sudut ruangan.

Aku memeriksa dinding kamar tidur. Tidak ada bekas pukulan. Aku memeriksa nakas. Tidak ada sudut tajam yang berdarah. Aku memeriksa seluruh apartemen. Tidak ada pecahan kaca. Tidak ada benda rusak.

Apartemenku bersih. Steril.

Jika aku memukul sesuatu di dalam rumah ini hingga tanganku hancur begini, seharusnya ada buktinya. Tapi tidak ada apa-apa.

Keringat dingin mengucur di punggungku.

Jika aku tidak memukul apapun di dalam apartemen... berarti aku memukul sesuatu di luar?

Tapi pintu apartemenku terkunci dari dalam. Rantai pengamannya masih terpasang. Kunci gembok masih menggantung di tempatnya. Tidak mungkin aku keluar, memecahkan kaca jendela di suatu tempat, lalu masuk lagi dan mengunci pintu dari dalam tanpa sadar.

Kecuali...

Kecuali Agnia yang melakukannya.

Aku menatap laptopku yang masih tertutup di ruang kerja. Benda itu tampak seperti kotak Pandora sekarang. Aku takut menyentuhnya. Aku takut membukanya.

Tapi rasa penasaran itu lebih kuat dari rasa takut.

Dengan tangan kiri yang gemetar, aku membuka laptop. Layar menyala. Dokumen itu masih terbuka.

Kata-kata terakhir yang kutulis masih di sana: PRANG!

Aku menatap kursor yang berkedip di akhir kalimat. Tiba-tiba, ada dorongan aneh. Luka di tangan kananku berdenyut, seolah merespons panggilan dari layar.

Rasa sakit itu bukan peringatan. Itu adalah... undangan.

Aku sadar, aku tidak bisa berhenti. Luka ini bukan alasan untuk berhenti menulis. Luka ini adalah bahan bakar.

Aku duduk. Tangan kananku yang diperban terasa kaku, tapi aku memaksanya bergerak.

"Baiklah," bisikku, mataku gelap menatap layar. "Jika kau ingin bermain kasar, Agnia, ayo kita bermain."

Aku mulai mengetik dengan satu tangan yang sehat dan satu tangan yang terluka. Bercak darah segar mulai merembes menembus perban putih itu saat aku menekan tombol keyboard, meninggalkan noda merah samar pada huruf 'K', 'L', dan 'Enter'.

Aku tidak peduli.

Aku menulis bab selanjutnya. Tentang bagaimana Agnia menikmati rasa sakit itu. Tentang bagaimana Agnia merasa hidup justru ketika dia berdarah.

Dan saat aku menulis, aku tidak lagi merasa perih. Aku merasa... utuh.

Millanova

Somnambulisme (atau Sleepwalking): Sebuah gangguan tidur parasomnia di mana penderita melakukan aktivitas fisik yang kompleks—seperti berjalan, makan, atau bahkan keluar rumah—dalam keadaan masih tertidur lelap (biasanya pada fase Deep Sleep). Penderita biasanya berinteraksi dengan lingkungan dengan mata terbuka namun tatapan kosong, dan umumnya tidak memiliki ingatan sama sekali (amnesia) tentang kejadian tersebut saat terbangun.

| إعجاب
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 34

    Tiga bulan berlalu.Taman di bagian belakang Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa bukanlah tempat yang dirancang untuk keindahan. Hanya hamparan rumput yang sedikit menghijau, dipagari besi tinggi berkarat, dan beberapa pohon trembesi yang rindang namun luput dari perawatan. Daun-daun kering berserakan di tanah, tak pernah tersapu.Di balik kaca jendela ruang rawat yang tebal, Sarah Wijaya berdiri mematung.Pandangannya tertuju pada seorang pria yang duduk di bangku kayu di bawah naungan trembesi.Tubuhnya kurus, nyaris tenggelam dalam seragam rumah sakit: kemeja lengan panjang putih yang telah kusam dan celana longgar yang jelas kebesaran. Rambutnya memanjang, kusut, dan kusam, tak peduli betapa rajinnya perawat merapikannya setiap pagi.Pria itu sedang berbicara.Sendirian.Tak ada siapa pun di bangku itu. Tak ada pasien lain, tak ada perawat yang mengawasi. Namun ia bicara dengan intens, tangan bergerak-gerak seolah sedang menyusun argumen, sesekali terkekeh, lalu menggeleng.Kemudian ia t

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 33

    esadaranku datang dan pergi, terombang-ambing seperti napas yang tersengal.Satu detik aku merasa terbaring di lantai kamar kost yang dingin. Detik berikutnya, tubuhku terangkat, dipindahkan ke permukaan yang keras dan sempit. Ada tangan-tangan yang menyentuhku: ada yang kasar, ada yang lembut, ada yang membalut luka, ada yang mengencangkan tali di pergelanganku.Suara-suara bergema di sekelilingku. Samar. Terpotong. Seperti siaran radio yang kehilangan frekuensi.Namun perlahan, suara-suara itu mulai menemukan bentuknya.Dan aku sadar: aku tidak bisa bergerak.Kubuka mata. Yang kulihat hanyalah langit-langit putih yang bergeser bukan, langit-langit itu tidak bergerak. Akulah yang bergerak. Aku terbaring di atas brankar, dan brankar itu terus didorong. Lampu-lampu lorong kost yang redup melintas di atas kepalaku, satu demi satu.Aku mencoba mengangkat tangan. Kaku.Pergelangan tanganku terikat pada rel brankar oleh sabuk kain tebal. Kaki juga. Dada juga. Bukan straightjacket, sekadar pr

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 32

    “Ivan. Bangun, Ivan!”Suara itu.Samar. Menggema dari kejauhan, seolah merambat melalui lorong panjang yang lembap dan gelap.“Ivan!”Aku mengerjap. Kelopak mataku terasa berat, seolah direkatkan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Cahaya terlalu tajam menyelinap melalui celahnya, menyengat pupilku hingga perih.Bukan cahaya bohlam kuning yang biasa menerangi kamarku.Ini putih. Terang. Nyaris menyakitkan.“Dia sadar! Dokter, dia sadar!”Suara itu lagi.Suara yang tak asing.Suara yang pernah kudengar ribuan kali: di ruang rapat, di kendaraan yang berkedap, di peluncuran buku, di telepon tengah malam saat ia menagih naskah yang tak kunjung selesai.Sarah.Kubuka mata.Wajah Sarah tepat di depanku. Hanya beberapa sentimeter. Matanya merah dan bengkak, sisa air mata masih membasahi pipi tirusnya. Rambutnya kusut, jauh dari sanggul rapi yang biasa ia kenakan. Ia tampak lelah. Sungguhan lelah. Layak orang yang tak tidur berhari-hari.“Ivan,” bisiknya. Tangannya menggenggam jariku. Hangat. Nya

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 31

    Satu minggu telah berlalu. Atau mungkin delapan hari. Atau sembilan. Aku sudah berhenti menghitung.Waktu di kost ini mengalir seperti air yang terjebak di parit lambat, tanpa arah, dan meninggalkan jejak anyir yang kian pekat seiring hari. Aku bangun, bekerja, makan, tidur, lalu bangun lagi. Tidak ada yang berubah.Kecuali hari ini.Aku menyadari ada yang tidak beres sejak pagi.Bukan dari suara. Bukan dari bau. Melainkan dari getaran di udara yang berbeda. Seperti hening yang mendahului gempa, atau napas yang tertahan sebelum pintu terbuka.Aku duduk di kamar, buku bekas yang usang terbuka di pangkuan, tetapi aku tidak menulis. Aku hanya duduk, menatap dinding, mendengarkan.Dan di luar sana, Ibu Kost mondar-mandir.Klek... klek... klek...Sandal jepitnya yang telah aus menimbulkan bunyi setiap kali tumitnya menyentuh lantai semen di lorong. Dari kamarku di ujung kiri, aku mendengarnya bolak-balik dari dapur ke pintu gerbang, dari pintu gerbang kembali ke dapur, berulang seperti band

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 30

    Aku terbangun dengan punggung yang kaku.Matahari sudah cukup tinggi mungkin jam sembilan, mungkin sepuluh. Kamarku tidak pernah menerima cahaya pagi; jendelanya menghadap ke barat, dan pagi hari, kamar ini gelap seperti gua. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terbiasa dengan itu.Kepalaku berat. Mulutku terasa pahit.Tanganku meraba lantai di samping kasur mencari apa, aku tidak tahu. Ponsel Nokia. Buku tulis bunga mawar. Koran. Lalu jariku menyentuh sesuatu yang berbeda: kertas lebih kasar, lebih tebal, dengan tekstur yang hanya bisa didapat dari buku yang sudah lama tidak dibuka.Aku mengangkatnya ke cahaya bohlam yang masih menyala redup.Sebuah buku. Bukan buku tulis buku betulan, dengan sampul yang sudah hampir lepas dan warna yang telah pudar menjadi cokelat kusam. Tulisan di sampulnya luntur, hanya tersisa serpihan huruf: ...ANG... ...AN...Lalu aku ingat. Kemarin sore, di TPS, ada tumpukan buku bekas yang dibuang seorang mahasiswa masih ada kartu tanda mahasiswanya t

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 29

    "Mas! Mas Ipan!"Suara itu memanggilku dari pinggir jalan, dekat perempatan lampu merah yang biasanya macet. Seorang pria tua duduk di bangku kayu panjang. Di depannya terhampar karung plastik biru berisi tumpukan koran dan majalah bekas. Rambutnya sudah putih semua, kumisnya tebal dan kusut, dan matanya menyipit di balik kacamata minus yang tebalnya seperti dasar botol.Mang Udin. Penjual koran bekas langganan para pemulung dan tukang loak.Aku sering membeli koran darinya. Bukan karena aku suka membaca berita. Tapi karena kadang aku butuh sesuatu untuk membungkus sampah organik yang terlalu basah. Atau kadang aku butuh sesuatu untuk diremas-remas saat tanganku gatal ingin menulis tetapi tidak punya kertas."Pagi, Mang," sapaku datar, mendekati lapak daruratnya."Iya, iya, sudah lama tidak kelihatan. Kemarin ke mana saja? Sepertinya kurusan, Le." Mang Udin tertawa kecil, memperlihatkan sisa-sisa giginya yang hitam oleh tembakau. "Mau koran? Yang ini bagus. Masih lumayan baru. Hanya se

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 6

    "Tiga hari."Kata-kata Sarah berdengung di kepalaku seperti lalat yang terperangkap dalam toples kaca.Aku berdiri di tengah ruang tamu apartemenku, menatap kalender digital di dinding. Hari Kamis. Tanggalnya merah menyala, mengejekku. Ingatan terakhirku yang utuh adalah Senin malam. Selasa dan Rabu

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 5

    Suara mesin kopi itu terdengar seperti bor jalanan. Wussshhh. Grrrttt.Aku memijat pelipisku. Kafe "Senja Kopi" ini biasanya tempat favoritku untuk menulis karena suasananya tenang. Tapi hari ini, entah kenapa, setiap denting sendok yang beradu dengan cangkir keramik terdengar sepuluh kali lebih ker

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 3

    Dompet itu masih tergeletak di sana. Hitam, bisu, dan menuduh.Aku mundur selangkah. Tumit sepatuku menggerus kerikil, bunyinya terdengar seperti ledakan di telingaku yang berdenging.Aku harus mengambilnya. Aku harus mengejar pria itu. Itu yang dilakukan orang waras.Tapi kakiku berputar ke arah se

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 2

    Waktu menjadi konsep yang cair.Aku tidak tahu sudah berapa lama aku duduk di sini. Satu jam? Lima jam? Jendela apartemenku yang tadinya gelap kini mulai membiru. Matahari pagi mencoba merayap masuk, tapi aku tidak peduli.Duniaku sekarang hanya selebar layar laptop 13 inci ini.Biasanya, menulis no

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status