MasukMimpi itu tidak memiliki bentuk, hanya warna. Merah. Pekat dan berdenyut.
Aku tersentak bangun dengan napas tertahan di tenggorokan. Jantungku memukul-mukul rusuk, seolah ingin mendobrak keluar. Kamarku gelap gulita. Tirai jendela tertutup rapat, menghalangi sisa cahaya matahari sore atau mungkin pagi? Aku kehilangan orientasi waktu lagi.
Aku meraba nakas, mencari ponsel untuk melihat jam.
"Aduh!"
Sebuah rasa nyeri yang tajam menyengat tangan kananku saat aku menyenggol sudut meja. Bukan sekadar benturan biasa. Rasanya perih, panas, dan berdenyut sampai ke siku.
Aku mengerang, menyalakan lampu tidur dengan tangan kiri. Cahaya kuning temaram membanjiri ruangan, menyakitkan mata yang terbiasa dengan kegelapan.
Aku melihat tangan kananku.
Duniaku berhenti berputar.
Tidak ada kulit mulus yang tadi pagi kubanggakan. Tidak ada tangan penulis romance yang terawat manicure.
Buku-buku jari kananku bengkak, memar berwarna ungu kebiruan. Dan di tengah memar itu, kulitnya robek. Terkelupas kasar. Darah kering berwarna merah kecokelatan mengerak di sana, membentuk pulau-pulau kecil di punggung tanganku.
Darah.
Itu darah sungguhan. Baunya amis, menusuk hidungku yang sensitif.
"Apa..." suaraku tercekat.
Aku melompat turun dari kasur, panik. Aku memeriksa seprai putihku.
Ada noda di sana. Bercak-bercak merah kecil yang menyebar. Bukan tumpahan besar, tapi tetesan. Seperti... pola polkadot.
Polkadot merah yang abstrak.
Kalimat itu meledak di kepalaku.
Agnia tidak meringis, meski kulit di buku jari kanannya robek. Darah segar menetes, jatuh ke aspal yang kotor, membentuk pola polkadot merah yang abstrak.
"Tidak. Tidak mungkin," aku mundur hingga punggungku menabrak lemari pakaian.
Otak rasionalku bekerja lembur, mencoba mencari penjelasan yang masuk akal, seputus asa apapun itu.
"Aku... aku pasti berjalan sambil tidur," bisikku gemetar. "Ya, somnambulisme. Aku pasti bangun tanpa sadar, menabrak sesuatu, melukai tanganku, lalu tidur lagi."
Aku berlari ke kamar mandi. Aku menyalakan keran wastafel, membiarkan air dingin mengucur deras. Dengan kasar, aku menggosok tangan kananku di bawah air.
Perihnya luar biasa. Air yang mengalir ke lubang pembuangan berubah menjadi merah muda. Darah itu luntur, tapi lukanya nyata. Daging yang sobek itu nyata.
Aku menatap cermin di atas wastafel. Wajahku pucat pasi, mataku merah dan bengkak.
"Kau melukai dirimu sendiri saat tidur, Ivan," kataku pada pantulan di cermin. "Mungkin kau mimpi buruk. Mungkin kau memukul dinding saat bermimpi menjadi Agnia. Itu reaksi psikosomatis. Stres membuatmu melakukan hal gila."
Aku mencoba mempercayainya. Aku harus mempercayainya.
Setelah membalut tangan kananku dengan perban seadanya, aku keluar dari kamar mandi. Aku menyalakan semua lampu di apartemen. Aku butuh terang. Aku butuh memastikan tidak ada monster yang bersembunyi di sudut ruangan.
Aku memeriksa dinding kamar tidur. Tidak ada bekas pukulan. Aku memeriksa nakas. Tidak ada sudut tajam yang berdarah. Aku memeriksa seluruh apartemen. Tidak ada pecahan kaca. Tidak ada benda rusak.
Apartemenku bersih. Steril.
Jika aku memukul sesuatu di dalam rumah ini hingga tanganku hancur begini, seharusnya ada buktinya. Tapi tidak ada apa-apa.
Keringat dingin mengucur di punggungku.
Jika aku tidak memukul apapun di dalam apartemen... berarti aku memukul sesuatu di luar?
Tapi pintu apartemenku terkunci dari dalam. Rantai pengamannya masih terpasang. Kunci gembok masih menggantung di tempatnya. Tidak mungkin aku keluar, memecahkan kaca jendela di suatu tempat, lalu masuk lagi dan mengunci pintu dari dalam tanpa sadar.
Kecuali...
Kecuali Agnia yang melakukannya.
Aku menatap laptopku yang masih tertutup di ruang kerja. Benda itu tampak seperti kotak Pandora sekarang. Aku takut menyentuhnya. Aku takut membukanya.
Tapi rasa penasaran itu lebih kuat dari rasa takut.
Dengan tangan kiri yang gemetar, aku membuka laptop. Layar menyala. Dokumen itu masih terbuka.
Kata-kata terakhir yang kutulis masih di sana: PRANG!
Aku menatap kursor yang berkedip di akhir kalimat. Tiba-tiba, ada dorongan aneh. Luka di tangan kananku berdenyut, seolah merespons panggilan dari layar.
Rasa sakit itu bukan peringatan. Itu adalah... undangan.
Aku sadar, aku tidak bisa berhenti. Luka ini bukan alasan untuk berhenti menulis. Luka ini adalah bahan bakar.
Aku duduk. Tangan kananku yang diperban terasa kaku, tapi aku memaksanya bergerak.
"Baiklah," bisikku, mataku gelap menatap layar. "Jika kau ingin bermain kasar, Agnia, ayo kita bermain."
Aku mulai mengetik dengan satu tangan yang sehat dan satu tangan yang terluka. Bercak darah segar mulai merembes menembus perban putih itu saat aku menekan tombol keyboard, meninggalkan noda merah samar pada huruf 'K', 'L', dan 'Enter'.
Aku tidak peduli.
Aku menulis bab selanjutnya. Tentang bagaimana Agnia menikmati rasa sakit itu. Tentang bagaimana Agnia merasa hidup justru ketika dia berdarah.
Dan saat aku menulis, aku tidak lagi merasa perih. Aku merasa... utuh.
Somnambulisme (atau Sleepwalking): Sebuah gangguan tidur parasomnia di mana penderita melakukan aktivitas fisik yang kompleks—seperti berjalan, makan, atau bahkan keluar rumah—dalam keadaan masih tertidur lelap (biasanya pada fase Deep Sleep). Penderita biasanya berinteraksi dengan lingkungan dengan mata terbuka namun tatapan kosong, dan umumnya tidak memiliki ingatan sama sekali (amnesia) tentang kejadian tersebut saat terbangun.
itu adalah teriakan terakhir, penuh dengan kebencian dan keputusasaan yang mutlak. "KAU dan PSIKIATERMU bisa pergi ke neraka!"Koneksi terputus. Bunyi beep yang monoton terdengar di telinga Sarah.Dia berdiri di sana, telepon masih menempel di telinganya, tubuhnya gemetar tak terkendali. Air mata mengucur deras. Rasa sakitnya begitu hebat, lebih dari sebelumnya. Bukan hanya karena penolakannya, tetapi karena kebenaran dalam kata-kata Ivan. Dalam upayanya untuk membantu, dia telah, di mata Ivan, mengkhianatinya. Dia telah menjadi musuh yang bersekutu dengan dunia yang ingin menghancurkan dunianya.Dia telah mencoba untuk menjangkau pria yang dicintainya, tetapi yang dia temui adalah benteng yang dijaga ketat oleh naga bernama Agnia. Dan hari ini, naga itu telah menyemburkan api, membakar habis jembatan terakhir yang menghubungkan mereka.Sementara di seberang kota, Ivan berdiri di tengah-tengah ruang kerjanya yang berantakan. Sebuah vas pecah berantakan di lantai, air dan bunga-bunga k
Dua minggu setelah konsultasi pertamanya dengan Dr. Maya, Sarah merasa dipersenjatai dengan sedikit lebih banyak pengetahuan dan strategi. Keputusasaan telah berubah menjadi sebuah tekad yang tenang. Dia telah menghadiri satu sesi lanjutan, dan Dr. Maya telah membantunya menyusun pendekatan yang diharapkan bisa menembus tembok pertahanan Ivan.Strateginya sederhana: lembut, tidak mengancam, dan berfokus pada keprihatinan, bukan tuduhan. Dr. Maya juga mengenalkannya pada seorang kolega, seorang psikiater bernama Dr. Arif, yang dikenal dengan pendekatannya yang hangat dan tidak menakutkan. Rencananya, Sarah akan mengajak Ivan untuk menemui seorang "teman" yang adalah seorang ahli yang bisa membantu orang-orang dengan "kebuntuan kreatif" dan "stres". Kata "psikiater" atau "gangguan jiwa" akan dihindari seperti api.Hari itu, dengan jantung berdebar kencang, Sarah menelepon Ivan. Dia tidak tahu apa yang akan dihadapinya. Apakah Ivan akan mengangkat teleponnya? Apakah dia masih marah?Tele
Kepergian Sarah dari apartemen Ivan meninggalkan luka yang dalam dan getir. Hari-hari berlalu dengan lambat, setiap detik terasa seperti siksaan. Sarah kembali ke kehidupannya sendiri, ke apartemen kecilnya yang tiba-tiba terasa sangat luas dan sunyi. Barang-barang peninggalan Ivan—sebuah sweter yang tertinggal, buku yang pernah mereka baca bersama—menjadi pengingat yang menyakitkan akan hubungan yang telah hancur.Dia mencoba melanjutkan rutinitasnya: bekerja sebagai perencana event, bertemu teman-teman, bahkan keluar untuk mencoba bersosialisasi. Namun, wajah Ivan selalu hadir di pikirannya. Bukan wajahnya yang marah atau bingung saat pertengkaran terakhir, tetapi wajahnya yang lembut saat mereka berdua tertawa bersama, atau wajahnya yang serius ketika dia tenggelam dalam dunia menulis. Sarah menyadari sebuah kebenaran yang pahit: dia masih mencintai Ivan. Cintanya bukanlah cinta yang buta; dia melihat
Pintu yang tertutup itu bukan lagi sekadar pintu. Itu adalah sebuah pemutus, sebuah pemisahan yang final. Bunyinya yang menggema di apartemen yang tiba-tuta sunyi itu seperti gong yang menandai berakhirnya sebuah babak dalam hidup Ivan. Dia tetap terduduk di lantai ruang kerjanya, punggungnya bersandar pada kaki meja kayu, tubuhnya terasa hampa bagaikan kulit udang yang ditinggalkan isinya.Beberapa menit berlalu, atau mungkin sejam—Ivan kehilangan semua sense of time. Matanya kosong, menatap lurus ke arah buku catatan yang masih tergeletak di lantai, terbuka pada halaman yang mengutuknya. Wajah Sarah, yang digambarkan dengan sempurna namun diisi dengan jiwa orang lain, seakan menatapnya dengan tatapan hampa dari kertas itu. Sebuah pengingat akan pengkhianatannya yan
Sudah seminggu sejak pertengkaran terakhir mereka tentang kebiasaan menulis Ivan yang kembali intens. Suasana antara Ivan dan Sarah masih sedikit tegang, bagaikan udara sesaat sebelum badai. Sarah berusaha untuk memahami, benar-benar memahami, bahwa menulis adalah bagian tak terpisahkan dari diri Ivan. Namun, ketakutannya akan kembalinya "sang hantu" selalu hadir di benaknya, seperti bayangan yang mengikuti setiap langkah mereka.Hari itu, Ivan harus menghadiri pertemuan dengan editornya di pusat kota. Sarah, yang jadwal kerjanya lebih fleksibel, memutuskan untuk menyambangi apartemen Ivan setelah dia pulang kerja. Dia ingin mencoba mencairkan suasana. Mungkin dengan memasakan makan malam spesial, atau sekadar menunggu kedatangannya dengan senyum. Itulah cara Sarah menunju
Dua minggu kemudian, hubungan mereka masih terlihat manis di permukaan. Tapi Ivan mulai berubah. Dia menjadi lebih pendiam, lebih sering melamun. Saat bersama Sarah, dia kadang-kadang tidak sepenuhnya "hadir". Pikirannya berada di tempat lain, di dunia tulisannya.Sarah memperhatikannya. Perubahan itu halus, tetapi bagi seseorang yang seobservatif Sarah, itu terlihat."Ivan, apa kau baik-baik saja?" tanyanya suatu sore saat mereka berbelanja bahan makanan. "Kau terlihat... jauh akhir-akhir ini."Ivan tersentak dari pikirannya. "Hmm? Oh, tidak. Aku baik-baik saja. Hanya... ada ide untuk menulis sedikit."Sarah mengangkat alis. "Menulis? Itu bagus!" Tapi ada kekhawatiran di matanya. "Kau masih minum obat, kan?"Ivan merasa sedikit tersinggung, tapi dia berusaha menyembunyikannya. "Tentu saja. Kenapa?""Tidak ada. Hanya... aku senang kau bisa menulis lagi. Tapi jangan terlalu memaksakan diri, ya? Kesehatanmu yang utama."Peringatan Sarah itu wajar, tapi bagi Ivan, itu terasa seperti sebu







