مشاركة

Bab 6

مؤلف: Millanova
last update تاريخ النشر: 2025-08-27 01:00:41

"Tiga hari."

Kata-kata Sarah berdengung di kepalaku seperti lalat yang terperangkap dalam toples kaca.

Aku berdiri di tengah ruang tamu apartemenku, menatap kalender digital di dinding. Hari Kamis. Tanggalnya merah menyala, mengejekku. Ingatan terakhirku yang utuh adalah Senin malam. Selasa dan Rabu adalah lubang hitam. Kosong.

Apakah aku tidur selama itu? Apakah aku koma?

Atau... apakah aku hidup di dunia lain? Dunia Agnia?

"Omong kosong," gerutuku, melempar kunci mobil ke atas meja. Suara denting logamnya terdengar kasar.

Aku bukan orang gila. Aku Ivan Sandlers. Aku mengontrol narasi, narasi tidak mengontrolku. Kejadian di taman itu pria berjas, dompet jatuh pasti hanya kebetulan statistik yang sangat, sangat langka. Freak coincidence.

Tapi bagian kecil di otak reptilku berbisik: Buktikan.

Jika ini hanya kebetulan, maka tidak akan terjadi dua kali. Jika ini hanya halusinasi, maka aku bisa mematahkannya dengan logika.

Aku butuh tes. Sebuah uji coba terkontrol. Seperti eksperimen laboratorium.

Aku berjalan ke jendela besar yang menghadap ke jalan raya utama. Dari lantai lima belas, mobil-mobil terlihat seperti mainan Hot Wheels yang berbaris rapi. Di bawah sana, ada perempatan besar dengan lampu lalu lintas yang sibuk.

Aku butuh sesuatu yang spesifik. Sesuatu yang ganjil. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi secara kebetulan.

Mataku menyapu jalanan yang didominasi warna aspal abu-abu, mobil hitam, dan taksi biru. Membosankan. Aku butuh warna yang kontras.

Merah.

Aku kembali ke meja kerja. Laptopku masih menyala, setia menunggu tuannya. Aku tidak melanjutkan cerita pembunuhan atau perkelahian Agnia. Tidak, itu terlalu berisiko. Jika aku menulis Agnia membunuh orang dan itu terjadi, aku akan masuk penjara.

Aku akan menulis sesuatu yang tidak berbahaya. Sesuatu yang kekanak-kanakan.

Jemariku, yang masih terbalut perban kotor, mulai menari di atas papan ketik.

Sore itu langit Jakarta berwarna kelabu, mendung menggantung berat. Di perempatan jalan Jenderal Sudirman, tepat di bawah apartemen tempat Ivan tinggal (walau Agnia tidak tahu Ivan ada di sana), lalu lintas padat merayap.

Seorang badut jalanan yang kelelahan kehilangan pegangannya. Sebuah balon gas terlepas.

Balon itu berwarna merah darah. Bentuknya bulat sempurna. Ia terbang rendah, terbawa angin yang berputar di antara gedung-gedung tinggi, lalu tersangkut.

Bukan di pohon. Bukan di tiang listrik.

Balon merah itu tersangkut tepat di kap lampu lalu lintas sebelah kiri. Talinya terjerat di sana, membuat balon itu menari-nari mengejek para pengemudi yang terjebak macet.

Kejadian itu terjadi tepat saat jam digital di perempatan itu menunjukkan pukul 17.00.

Aku menekan titik dengan penekanan kuat.

Selesai.

Skenario yang sangat spesifik.

Objek: Balon merah.

Lokasi: Kap lampu lalu lintas kiri di perempatan bawah.

Waktu: Pukul 17.00 tepat.

Probabilitas hal ini terjadi secara acak adalah satu banding satu miliar. Jika nanti jam lima sore tidak ada balon merah, berarti aku waras. Berarti kejadian di taman dan luka di tanganku hanyalah produk dari stres dan somnambulisme.

Aku melirik jam dinding. Pukul 16.15.

Empat puluh lima menit lagi.

Aku menarik kursi berlengan ke dekat jendela. Aku duduk menghadap jalanan seperti penonton bioskop yang menunggu film diputar.

Jantungku berdetak tenang. Anehnya, aku merasa sangat yakin tidak akan terjadi apa-apa. Ini caraku membungkam suara-suara ragu di kepalaku. Ini caraku menertawakan Sarah dan kekhawatirannya yang berlebihan.

Tik. Tok.

Waktu merayap lambat.

Pukul 16.30. Langit mulai mendung. Awan gelap bergulung dari selatan. "Bagus," pikirku. "Setidaknya ramalan cuacanya benar." Tapi mendung di Jakarta adalah hal biasa. Bukan keajaiban.

Pukul 16.45. Lalu lintas mulai padat. Klakson bersahutan. Tidak ada badut. Tidak ada balon. Hanya lautan kendaraan yang frustrasi.

Pukul 16.55. Lima menit lagi.

Aku mulai merasa bodoh. Aku, seorang penulis bestseller, duduk di jendela menunggu balon imajiner. Betapa menyedihkannya hidupku.

"Lihat, Ivan," bisikku, senyum sinis mulai terbentuk di bibirku. "Tidak ada apa-apa. Kau hanya butuh liburan. Mungkin ke Bali. Lupakan Agnia."

Pukul 16.58. Lampu lalu lintas berubah merah. Mobil-mobil berhenti.

Pukul 16.59. Angin bertiup kencang, menggoyangkan dahan pohon di trotoar.

Detik-detik bergulir. Angka di jam digital perempatan jalan berkedip. 58... 59...

17.00.

Aku menahan napas. Mataku fokus pada lampu lalu lintas sebelah kiri.

Hening.

Tidak ada apa-apa.

Satu menit berlalu. 17.01.

Masih tidak ada apa-apa. Lampu berubah hijau. Mobil-mobil kembali bergerak. Tidak ada badut. Tidak ada balon merah yang terbang. Langit tetap kelabu, jalanan tetap suram.

Tawa itu meledak dari tenggorokanku. Tawa keras, histeris, dan melegakan.

"Hahahaha! Kau lihat itu?! Kau lihat?!" teriakku pada ruangan kosong. Aku menepuk kaca jendela. "Tidak ada balon! Semuanya bohong! Aku waras! Aku masih waras!"

Beban berat seolah diangkat dari bahuku. Teori Baader-Meinhof benar. Kejadian di taman itu kebetulan. Luka di tanganku kecelakaan tidur. Aku tidak punya kekuatan supranatural. Aku hanya penulis stres yang butuh tidur.

Aku berbalik, memunggungi jendela. Rasanya haus sekali. Euforia ini membuat tenggorokanku kering.

"Kopi," gumamku riang. "Aku butuh kopi, lalu aku akan menelepon Sarah dan meminta maaf."

Aku berjalan menuju dapur dengan langkah ringan. Aku bersiul kecil, lagu jazz yang biasa kudengar. Dunia kembali masuk akal. Hukum fisika berlaku lagi.

Aku menuang air ke dalam ketel. Saat aku menunggu air mendidih, aku melirik jam di microwave.

17.05.

Sudah lima menit berlalu dari tenggat waktu "ramalan" itu. Aman.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 34

    Tiga bulan berlalu.Taman di bagian belakang Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa bukanlah tempat yang dirancang untuk keindahan. Hanya hamparan rumput yang sedikit menghijau, dipagari besi tinggi berkarat, dan beberapa pohon trembesi yang rindang namun luput dari perawatan. Daun-daun kering berserakan di tanah, tak pernah tersapu.Di balik kaca jendela ruang rawat yang tebal, Sarah Wijaya berdiri mematung.Pandangannya tertuju pada seorang pria yang duduk di bangku kayu di bawah naungan trembesi.Tubuhnya kurus, nyaris tenggelam dalam seragam rumah sakit: kemeja lengan panjang putih yang telah kusam dan celana longgar yang jelas kebesaran. Rambutnya memanjang, kusut, dan kusam, tak peduli betapa rajinnya perawat merapikannya setiap pagi.Pria itu sedang berbicara.Sendirian.Tak ada siapa pun di bangku itu. Tak ada pasien lain, tak ada perawat yang mengawasi. Namun ia bicara dengan intens, tangan bergerak-gerak seolah sedang menyusun argumen, sesekali terkekeh, lalu menggeleng.Kemudian ia t

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 33

    esadaranku datang dan pergi, terombang-ambing seperti napas yang tersengal.Satu detik aku merasa terbaring di lantai kamar kost yang dingin. Detik berikutnya, tubuhku terangkat, dipindahkan ke permukaan yang keras dan sempit. Ada tangan-tangan yang menyentuhku: ada yang kasar, ada yang lembut, ada yang membalut luka, ada yang mengencangkan tali di pergelanganku.Suara-suara bergema di sekelilingku. Samar. Terpotong. Seperti siaran radio yang kehilangan frekuensi.Namun perlahan, suara-suara itu mulai menemukan bentuknya.Dan aku sadar: aku tidak bisa bergerak.Kubuka mata. Yang kulihat hanyalah langit-langit putih yang bergeser bukan, langit-langit itu tidak bergerak. Akulah yang bergerak. Aku terbaring di atas brankar, dan brankar itu terus didorong. Lampu-lampu lorong kost yang redup melintas di atas kepalaku, satu demi satu.Aku mencoba mengangkat tangan. Kaku.Pergelangan tanganku terikat pada rel brankar oleh sabuk kain tebal. Kaki juga. Dada juga. Bukan straightjacket, sekadar pr

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 32

    “Ivan. Bangun, Ivan!”Suara itu.Samar. Menggema dari kejauhan, seolah merambat melalui lorong panjang yang lembap dan gelap.“Ivan!”Aku mengerjap. Kelopak mataku terasa berat, seolah direkatkan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Cahaya terlalu tajam menyelinap melalui celahnya, menyengat pupilku hingga perih.Bukan cahaya bohlam kuning yang biasa menerangi kamarku.Ini putih. Terang. Nyaris menyakitkan.“Dia sadar! Dokter, dia sadar!”Suara itu lagi.Suara yang tak asing.Suara yang pernah kudengar ribuan kali: di ruang rapat, di kendaraan yang berkedap, di peluncuran buku, di telepon tengah malam saat ia menagih naskah yang tak kunjung selesai.Sarah.Kubuka mata.Wajah Sarah tepat di depanku. Hanya beberapa sentimeter. Matanya merah dan bengkak, sisa air mata masih membasahi pipi tirusnya. Rambutnya kusut, jauh dari sanggul rapi yang biasa ia kenakan. Ia tampak lelah. Sungguhan lelah. Layak orang yang tak tidur berhari-hari.“Ivan,” bisiknya. Tangannya menggenggam jariku. Hangat. Nya

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 31

    Satu minggu telah berlalu. Atau mungkin delapan hari. Atau sembilan. Aku sudah berhenti menghitung.Waktu di kost ini mengalir seperti air yang terjebak di parit lambat, tanpa arah, dan meninggalkan jejak anyir yang kian pekat seiring hari. Aku bangun, bekerja, makan, tidur, lalu bangun lagi. Tidak ada yang berubah.Kecuali hari ini.Aku menyadari ada yang tidak beres sejak pagi.Bukan dari suara. Bukan dari bau. Melainkan dari getaran di udara yang berbeda. Seperti hening yang mendahului gempa, atau napas yang tertahan sebelum pintu terbuka.Aku duduk di kamar, buku bekas yang usang terbuka di pangkuan, tetapi aku tidak menulis. Aku hanya duduk, menatap dinding, mendengarkan.Dan di luar sana, Ibu Kost mondar-mandir.Klek... klek... klek...Sandal jepitnya yang telah aus menimbulkan bunyi setiap kali tumitnya menyentuh lantai semen di lorong. Dari kamarku di ujung kiri, aku mendengarnya bolak-balik dari dapur ke pintu gerbang, dari pintu gerbang kembali ke dapur, berulang seperti band

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 30

    Aku terbangun dengan punggung yang kaku.Matahari sudah cukup tinggi mungkin jam sembilan, mungkin sepuluh. Kamarku tidak pernah menerima cahaya pagi; jendelanya menghadap ke barat, dan pagi hari, kamar ini gelap seperti gua. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terbiasa dengan itu.Kepalaku berat. Mulutku terasa pahit.Tanganku meraba lantai di samping kasur mencari apa, aku tidak tahu. Ponsel Nokia. Buku tulis bunga mawar. Koran. Lalu jariku menyentuh sesuatu yang berbeda: kertas lebih kasar, lebih tebal, dengan tekstur yang hanya bisa didapat dari buku yang sudah lama tidak dibuka.Aku mengangkatnya ke cahaya bohlam yang masih menyala redup.Sebuah buku. Bukan buku tulis buku betulan, dengan sampul yang sudah hampir lepas dan warna yang telah pudar menjadi cokelat kusam. Tulisan di sampulnya luntur, hanya tersisa serpihan huruf: ...ANG... ...AN...Lalu aku ingat. Kemarin sore, di TPS, ada tumpukan buku bekas yang dibuang seorang mahasiswa masih ada kartu tanda mahasiswanya t

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 29

    "Mas! Mas Ipan!"Suara itu memanggilku dari pinggir jalan, dekat perempatan lampu merah yang biasanya macet. Seorang pria tua duduk di bangku kayu panjang. Di depannya terhampar karung plastik biru berisi tumpukan koran dan majalah bekas. Rambutnya sudah putih semua, kumisnya tebal dan kusut, dan matanya menyipit di balik kacamata minus yang tebalnya seperti dasar botol.Mang Udin. Penjual koran bekas langganan para pemulung dan tukang loak.Aku sering membeli koran darinya. Bukan karena aku suka membaca berita. Tapi karena kadang aku butuh sesuatu untuk membungkus sampah organik yang terlalu basah. Atau kadang aku butuh sesuatu untuk diremas-remas saat tanganku gatal ingin menulis tetapi tidak punya kertas."Pagi, Mang," sapaku datar, mendekati lapak daruratnya."Iya, iya, sudah lama tidak kelihatan. Kemarin ke mana saja? Sepertinya kurusan, Le." Mang Udin tertawa kecil, memperlihatkan sisa-sisa giginya yang hitam oleh tembakau. "Mau koran? Yang ini bagus. Masih lumayan baru. Hanya se

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 23

    Dua hari setelah panggilan telepon pertamaku (dan panggilan kedua, dan ketiga—hanya tiga detik setiap kali, cukup untuk mendengar napasnya, tidak cukup untuk membuatnya curiga), perilaku Nuri berubah.Biasanya, dia keluar kamar pukul 06.15 pagi dengan langkah ringan, rambut basah, menyapa Ibu Kost d

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 22

    Mungkin caraku memegang kantong sampah. Mungkin caraku berjalan. Atau mungkin cara aku mengucapkan "sama-sama" dengan intonasi yang terlalu... halus.Aku harus lebih hati-hati.Pukul lima pagi, gerobakku sudah penuh sampai ke atas. Tumpukan kardus, plastik, dan sisa makanan menjulang seperti gunung

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 21

    Tiga minggu.Tiga minggu sejak aku merobek poster orang hilang dari tiang telepon. Tiga minggu sejak aku mematahkan hidung preman mabuk dengan sekop besi. Tiga minggu sejak aku memutuskan bahwa Ivan Sandlers sudah mati, dan yang hidup hanyalah Ipan: tukang sampah bau busuk tanpa masa lalu.Tiga ming

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 7

    Keesokan Harinya.Dunia terlihat lebih cerah saat kau tidak lagi berpikir dirimu gila.Aku bangun pukul sepuluh pagi dengan tubuh segar. Luka di tanganku masih perih, tapi dokter di klinik tadi pagi bilang itu hanya luka gores yang terinfeksi ringan. "Mungkin terkena benda tajam saat tidur," katanya

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status