LOGIN"Tiga hari."
Kata-kata Sarah berdengung di kepalaku seperti lalat yang terperangkap dalam toples kaca.
Aku berdiri di tengah ruang tamu apartemenku, menatap kalender digital di dinding. Hari Kamis. Tanggalnya merah menyala, mengejekku. Ingatan terakhirku yang utuh adalah Senin malam. Selasa dan Rabu adalah lubang hitam. Kosong.
Apakah aku tidur selama itu? Apakah aku koma?
Atau... apakah aku hidup di dunia lain? Dunia Agnia?
"Omong kosong," gerutuku, melempar kunci mobil ke atas meja. Suara denting logamnya terdengar kasar.
Aku bukan orang gila. Aku Ivan Sandlers. Aku mengontrol narasi, narasi tidak mengontrolku. Kejadian di taman itu pria berjas, dompet jatuh pasti hanya kebetulan statistik yang sangat, sangat langka. Freak coincidence.
Tapi bagian kecil di otak reptilku berbisik: Buktikan.
Jika ini hanya kebetulan, maka tidak akan terjadi dua kali. Jika ini hanya halusinasi, maka aku bisa mematahkannya dengan logika.
Aku butuh tes. Sebuah uji coba terkontrol. Seperti eksperimen laboratorium.
Aku berjalan ke jendela besar yang menghadap ke jalan raya utama. Dari lantai lima belas, mobil-mobil terlihat seperti mainan Hot Wheels yang berbaris rapi. Di bawah sana, ada perempatan besar dengan lampu lalu lintas yang sibuk.
Aku butuh sesuatu yang spesifik. Sesuatu yang ganjil. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi secara kebetulan.
Mataku menyapu jalanan yang didominasi warna aspal abu-abu, mobil hitam, dan taksi biru. Membosankan. Aku butuh warna yang kontras.
Merah.
Aku kembali ke meja kerja. Laptopku masih menyala, setia menunggu tuannya. Aku tidak melanjutkan cerita pembunuhan atau perkelahian Agnia. Tidak, itu terlalu berisiko. Jika aku menulis Agnia membunuh orang dan itu terjadi, aku akan masuk penjara.
Aku akan menulis sesuatu yang tidak berbahaya. Sesuatu yang kekanak-kanakan.
Jemariku, yang masih terbalut perban kotor, mulai menari di atas papan ketik.
Sore itu langit Jakarta berwarna kelabu, mendung menggantung berat. Di perempatan jalan Jenderal Sudirman, tepat di bawah apartemen tempat Ivan tinggal (walau Agnia tidak tahu Ivan ada di sana), lalu lintas padat merayap.
Seorang badut jalanan yang kelelahan kehilangan pegangannya. Sebuah balon gas terlepas.
Balon itu berwarna merah darah. Bentuknya bulat sempurna. Ia terbang rendah, terbawa angin yang berputar di antara gedung-gedung tinggi, lalu tersangkut.
Bukan di pohon. Bukan di tiang listrik.
Balon merah itu tersangkut tepat di kap lampu lalu lintas sebelah kiri. Talinya terjerat di sana, membuat balon itu menari-nari mengejek para pengemudi yang terjebak macet.
Kejadian itu terjadi tepat saat jam digital di perempatan itu menunjukkan pukul 17.00.
Aku menekan titik dengan penekanan kuat.
Selesai.
Skenario yang sangat spesifik.
Objek: Balon merah.
Lokasi: Kap lampu lalu lintas kiri di perempatan bawah.
Waktu: Pukul 17.00 tepat.
Probabilitas hal ini terjadi secara acak adalah satu banding satu miliar. Jika nanti jam lima sore tidak ada balon merah, berarti aku waras. Berarti kejadian di taman dan luka di tanganku hanyalah produk dari stres dan somnambulisme.
Aku melirik jam dinding. Pukul 16.15.
Empat puluh lima menit lagi.
Aku menarik kursi berlengan ke dekat jendela. Aku duduk menghadap jalanan seperti penonton bioskop yang menunggu film diputar.
Jantungku berdetak tenang. Anehnya, aku merasa sangat yakin tidak akan terjadi apa-apa. Ini caraku membungkam suara-suara ragu di kepalaku. Ini caraku menertawakan Sarah dan kekhawatirannya yang berlebihan.
Tik. Tok.
Waktu merayap lambat.
Pukul 16.30. Langit mulai mendung. Awan gelap bergulung dari selatan. "Bagus," pikirku. "Setidaknya ramalan cuacanya benar." Tapi mendung di Jakarta adalah hal biasa. Bukan keajaiban.
Pukul 16.45. Lalu lintas mulai padat. Klakson bersahutan. Tidak ada badut. Tidak ada balon. Hanya lautan kendaraan yang frustrasi.
Pukul 16.55. Lima menit lagi.
Aku mulai merasa bodoh. Aku, seorang penulis bestseller, duduk di jendela menunggu balon imajiner. Betapa menyedihkannya hidupku.
"Lihat, Ivan," bisikku, senyum sinis mulai terbentuk di bibirku. "Tidak ada apa-apa. Kau hanya butuh liburan. Mungkin ke Bali. Lupakan Agnia."
Pukul 16.58. Lampu lalu lintas berubah merah. Mobil-mobil berhenti.
Pukul 16.59. Angin bertiup kencang, menggoyangkan dahan pohon di trotoar.
Detik-detik bergulir. Angka di jam digital perempatan jalan berkedip. 58... 59...
17.00.
Aku menahan napas. Mataku fokus pada lampu lalu lintas sebelah kiri.
Hening.
Tidak ada apa-apa.
Satu menit berlalu. 17.01.
Masih tidak ada apa-apa. Lampu berubah hijau. Mobil-mobil kembali bergerak. Tidak ada badut. Tidak ada balon merah yang terbang. Langit tetap kelabu, jalanan tetap suram.
Tawa itu meledak dari tenggorokanku. Tawa keras, histeris, dan melegakan.
"Hahahaha! Kau lihat itu?! Kau lihat?!" teriakku pada ruangan kosong. Aku menepuk kaca jendela. "Tidak ada balon! Semuanya bohong! Aku waras! Aku masih waras!"
Beban berat seolah diangkat dari bahuku. Teori Baader-Meinhof benar. Kejadian di taman itu kebetulan. Luka di tanganku kecelakaan tidur. Aku tidak punya kekuatan supranatural. Aku hanya penulis stres yang butuh tidur.
Aku berbalik, memunggungi jendela. Rasanya haus sekali. Euforia ini membuat tenggorokanku kering.
"Kopi," gumamku riang. "Aku butuh kopi, lalu aku akan menelepon Sarah dan meminta maaf."
Aku berjalan menuju dapur dengan langkah ringan. Aku bersiul kecil, lagu jazz yang biasa kudengar. Dunia kembali masuk akal. Hukum fisika berlaku lagi.
Aku menuang air ke dalam ketel. Saat aku menunggu air mendidih, aku melirik jam di microwave.
17.05.
Sudah lima menit berlalu dari tenggat waktu "ramalan" itu. Aman.
itu adalah teriakan terakhir, penuh dengan kebencian dan keputusasaan yang mutlak. "KAU dan PSIKIATERMU bisa pergi ke neraka!"Koneksi terputus. Bunyi beep yang monoton terdengar di telinga Sarah.Dia berdiri di sana, telepon masih menempel di telinganya, tubuhnya gemetar tak terkendali. Air mata mengucur deras. Rasa sakitnya begitu hebat, lebih dari sebelumnya. Bukan hanya karena penolakannya, tetapi karena kebenaran dalam kata-kata Ivan. Dalam upayanya untuk membantu, dia telah, di mata Ivan, mengkhianatinya. Dia telah menjadi musuh yang bersekutu dengan dunia yang ingin menghancurkan dunianya.Dia telah mencoba untuk menjangkau pria yang dicintainya, tetapi yang dia temui adalah benteng yang dijaga ketat oleh naga bernama Agnia. Dan hari ini, naga itu telah menyemburkan api, membakar habis jembatan terakhir yang menghubungkan mereka.Sementara di seberang kota, Ivan berdiri di tengah-tengah ruang kerjanya yang berantakan. Sebuah vas pecah berantakan di lantai, air dan bunga-bunga k
Dua minggu setelah konsultasi pertamanya dengan Dr. Maya, Sarah merasa dipersenjatai dengan sedikit lebih banyak pengetahuan dan strategi. Keputusasaan telah berubah menjadi sebuah tekad yang tenang. Dia telah menghadiri satu sesi lanjutan, dan Dr. Maya telah membantunya menyusun pendekatan yang diharapkan bisa menembus tembok pertahanan Ivan.Strateginya sederhana: lembut, tidak mengancam, dan berfokus pada keprihatinan, bukan tuduhan. Dr. Maya juga mengenalkannya pada seorang kolega, seorang psikiater bernama Dr. Arif, yang dikenal dengan pendekatannya yang hangat dan tidak menakutkan. Rencananya, Sarah akan mengajak Ivan untuk menemui seorang "teman" yang adalah seorang ahli yang bisa membantu orang-orang dengan "kebuntuan kreatif" dan "stres". Kata "psikiater" atau "gangguan jiwa" akan dihindari seperti api.Hari itu, dengan jantung berdebar kencang, Sarah menelepon Ivan. Dia tidak tahu apa yang akan dihadapinya. Apakah Ivan akan mengangkat teleponnya? Apakah dia masih marah?Tele
Kepergian Sarah dari apartemen Ivan meninggalkan luka yang dalam dan getir. Hari-hari berlalu dengan lambat, setiap detik terasa seperti siksaan. Sarah kembali ke kehidupannya sendiri, ke apartemen kecilnya yang tiba-tiba terasa sangat luas dan sunyi. Barang-barang peninggalan Ivan—sebuah sweter yang tertinggal, buku yang pernah mereka baca bersama—menjadi pengingat yang menyakitkan akan hubungan yang telah hancur.Dia mencoba melanjutkan rutinitasnya: bekerja sebagai perencana event, bertemu teman-teman, bahkan keluar untuk mencoba bersosialisasi. Namun, wajah Ivan selalu hadir di pikirannya. Bukan wajahnya yang marah atau bingung saat pertengkaran terakhir, tetapi wajahnya yang lembut saat mereka berdua tertawa bersama, atau wajahnya yang serius ketika dia tenggelam dalam dunia menulis. Sarah menyadari sebuah kebenaran yang pahit: dia masih mencintai Ivan. Cintanya bukanlah cinta yang buta; dia melihat
Pintu yang tertutup itu bukan lagi sekadar pintu. Itu adalah sebuah pemutus, sebuah pemisahan yang final. Bunyinya yang menggema di apartemen yang tiba-tuta sunyi itu seperti gong yang menandai berakhirnya sebuah babak dalam hidup Ivan. Dia tetap terduduk di lantai ruang kerjanya, punggungnya bersandar pada kaki meja kayu, tubuhnya terasa hampa bagaikan kulit udang yang ditinggalkan isinya.Beberapa menit berlalu, atau mungkin sejam—Ivan kehilangan semua sense of time. Matanya kosong, menatap lurus ke arah buku catatan yang masih tergeletak di lantai, terbuka pada halaman yang mengutuknya. Wajah Sarah, yang digambarkan dengan sempurna namun diisi dengan jiwa orang lain, seakan menatapnya dengan tatapan hampa dari kertas itu. Sebuah pengingat akan pengkhianatannya yan
Sudah seminggu sejak pertengkaran terakhir mereka tentang kebiasaan menulis Ivan yang kembali intens. Suasana antara Ivan dan Sarah masih sedikit tegang, bagaikan udara sesaat sebelum badai. Sarah berusaha untuk memahami, benar-benar memahami, bahwa menulis adalah bagian tak terpisahkan dari diri Ivan. Namun, ketakutannya akan kembalinya "sang hantu" selalu hadir di benaknya, seperti bayangan yang mengikuti setiap langkah mereka.Hari itu, Ivan harus menghadiri pertemuan dengan editornya di pusat kota. Sarah, yang jadwal kerjanya lebih fleksibel, memutuskan untuk menyambangi apartemen Ivan setelah dia pulang kerja. Dia ingin mencoba mencairkan suasana. Mungkin dengan memasakan makan malam spesial, atau sekadar menunggu kedatangannya dengan senyum. Itulah cara Sarah menunju
Dua minggu kemudian, hubungan mereka masih terlihat manis di permukaan. Tapi Ivan mulai berubah. Dia menjadi lebih pendiam, lebih sering melamun. Saat bersama Sarah, dia kadang-kadang tidak sepenuhnya "hadir". Pikirannya berada di tempat lain, di dunia tulisannya.Sarah memperhatikannya. Perubahan itu halus, tetapi bagi seseorang yang seobservatif Sarah, itu terlihat."Ivan, apa kau baik-baik saja?" tanyanya suatu sore saat mereka berbelanja bahan makanan. "Kau terlihat... jauh akhir-akhir ini."Ivan tersentak dari pikirannya. "Hmm? Oh, tidak. Aku baik-baik saja. Hanya... ada ide untuk menulis sedikit."Sarah mengangkat alis. "Menulis? Itu bagus!" Tapi ada kekhawatiran di matanya. "Kau masih minum obat, kan?"Ivan merasa sedikit tersinggung, tapi dia berusaha menyembunyikannya. "Tentu saja. Kenapa?""Tidak ada. Hanya... aku senang kau bisa menulis lagi. Tapi jangan terlalu memaksakan diri, ya? Kesehatanmu yang utama."Peringatan Sarah itu wajar, tapi bagi Ivan, itu terasa seperti sebu







