로그인Sangking penasarannya mendengar jawaban Nila, para wanita yang memiliki perbedaan usia cukup jauh itu, melangkah semakin mendekati Nila.
Dari jarak satu jengkal tangan, Nila dapat merasakan hembusan napas orang-orang di depannya. Tubuh Nila yang kurus, menempel pada dinding dapur, dengan tatapan takut. Ia menekan napas sedikit memberi ruang di depan. "M-maaf, s-saya susah gerak nih," kata Nila dengan suara tertahan. Sisca menoleh, me"Waktu berjalan cepat banget ya, Mas. Nggak terasa anak-anak sekarang udah pada gede. Jadi ingat bagaimana perjuangan kita dulu," ujar Febby, membuka obrolan dengan suaminya di ruang makan.Malam ini mereka akan menyambut kepulangan Dylan dari Amerika. Bukan karena sudah lulus kuliah, Dylan hanya pulang selama beberapa minggu demi menghadiri acara ulang tahun adik semata wayangnya."Iya, waktu memang cepat berlalu, tapi nggak ada yang berubah dari kamu. Kamu tetap cantik dan selalu jadi istri yang pengertian," ucap Dirga, memeluk istrinya dari belakang, lalu mengecup leher Febby dengan lembut.Febby mendongak, menatap suaminya dengan senyum manja. "Ngomong-ngomong, anak-anak kan udah besar. Kamu ada niat menjodohkan mereka dengan anak temanmu, atau ... anak Ardian?"Dirga melepas pelukan, lalu menarik kursi dan duduk di hadapan meja makan."Aku nggak mau melakukan itu. Biarlah mereka menentukan pilihan sendiri. Aku nggak mau apa yang terjadi padaku di masa lalu, menimpa mereka j
Di Amerika, setelah menyelesaikan tugas kuliah yang menumpuk, Dylan memutuskan untuk memposting sebuah foto di akun media sosialnya yang memiliki banyak followers.Sebagai cowok dengan wajah tampan di atas rata-rata, tak heran jika mayoritas pengikutnya adalah kaum hawa yang selalu menanti postingan terbaru darinya.Pada unggahan kali ini, Dylan menyematkan caption singkat.~Seminggu lagi aku akan pulang ke Indonesia~Hanya dalam hitungan detik, notifikasi like dan komentar langsung membanjiri ponselnya.Namun, dari sekian banyak tanggapan yang masuk, hanya satu komentar yang berhasil menarik perhatian Dylan ... komentar dari Maura_anak Intan.Maura: [Jangan lupa oleh-oleh untukku, Kak!]Dylan terkekeh pelan dan membalas dengan cepat.Dylan: [Apapun akan aku belikan untuk Adik Kesayanganku. Tunggu aku pulang ya, Sayang. Jangan nakal di sana]Tak lama kemudian, sebuah komentar lain muncul. Kali ini dari Aurora. Bukannya membalas di kolom komentar seperti yang dilakukannya pada
"Kamu .... " Farah menatap Ray dengan tatapan tidak percaya. Ia tak menyangka sahabat masa SMA-nya dulu tega melaporkan Biru ke Polisi."Dia pantas masuk penjara, Farah! Dia yang melakukan semua ini. Luka-luka ini bukti kegilaannya. Laki-laki itu tempramental, kamu harus menjauhinya! Kamu lihat sendiri, aku babak belur dihajar habis-habisan, padahal aku sama sekali tidak melakukan apa pun padamu," tutur Ray meyakinkan, sambil memamerkan kembali luka-luka di tubuhnya.Luka di keningnya masih basah, darah segar tampak merembes dari balik perban. Sementara itu, tangan kanannya terlihat lebam dan cedera parah."Aku hampir mati karena dia. Untung saja banyak orang di pesta waktu itu yang memisahkan kami. Kalau tidak, ceritanya pasti sudah beda," lanjut Ray, memelas.Farah terdiam sambil menundukkan kepala. Ada sedikit rasa kecewa menyergap dadanya, kenapa Biru harus sebrutal itu? Namun, jauh di lubuk hatinya, ia yakin Biru pasti memiliki alasan."Andai saja kamu ingat kejadian malam
Di dalam kamar perawatan yang sunyi, Ray yang merasa telah berhasil menarik perhatian Farah mulai mencari kesempatan.Matanya tak henti mengamati sekeliling, memastikan pintu kamar perawatan di depannya tertutup rapat.Sementara itu, Farah fokus mengupas buah apel untuk Ray. Tidak ada sedikit pun rasa curiga terhadap pria di hadapannya.Setelah memastikan situasi benar-benar aman, senyum miring tersungging di bibir Ray. Dengan gerakan spontan, ia menyergap dan memegang pergelangan tangan Farah."Farah ....""Iya, Ray?" Farah mendongak, menatap pemuda itu lekat. "Kamu butuh sesuatu?"Ray menggeleng pelan. "Aku cuma butuh kamu." Ia mengambil pisau buah dari tangan Farah secara perlahan lalu meletakkannya di atas meja. "Aku mau bicara serius sama kamu. Boleh?"Farah mengangguk, ikut meletakkan apel yang belum selesai dikupasnya ke meja. "Bicara saja. Kamu mau ngomong apa?"Perlahan, Ray memajukan tubuh, memangkas jarak di antara mereka, lalu berbisik, "Maukah kamu jadi pacarku?"
Ray mengulum senyum saat melihat Farah mulai termakan ucapannya. Ia melirik Farah, menatap lekat gadis cantik yang kini diam membisu itu."Biru itu bukan laki-laki baik, Farah. Dia temperamental. Kamu harus berhati-hati padanya," lanjut Ray, memanasi.Farah mengangkat pandangannya, menatap wajah Ray yang babak belur.Bahkan, luka di pelipisnya yang diperban masih merembaskan darah segar."Lihat luka-luka ini. Semua ini ulah Biru. Tiba-tiba saja dia menyerangku. Padahal aku sama sekali tidak berniat jahat padamu malam itu. Aku hanya ingin membawamu menjauh dari keramaian karena kamu sedang mabuk berat," jelas Ray dengan ringisan yang dibuat seolah sangat menderita.Farah menghela napas panjang. Hatinya menolak untuk langsung percaya karena ia sangat mengenal pengawalnya itu. Namun, melihat kondisi Ray yang terluka parah, rasa ibanya tak bisa dibendung."Aku tahu Biru sudah lama jadi pengawal pribadimu, tapi dia itu ringan tangan. Aku khawatir suatu saat dia bisa melukaimu. Sepert
Sesampainya di pelataran rumah sakit, Biru segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Farah."Maaf, Non. Saya hanya bisa mengantar sampai di sini," ucap Biru datar, sambil menatap lekat Farah. "Setelah ini saya tidak bisa menemani ke dalam, karena saya ada janji penting untuk bertemu dengan seseorang."Kening Farah berkerut bingung. Tidak biasanya Biru menolak untuk mendampinginya, apalagi di tempat umum seperti ini. "Janji? Sama siapa? Tumben banget kamu ada urusan mendadak di jam kerja begini, Biru."Biru tampak kikuk. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kebingungan menyusun kebohongan. "Maaf, Non ... saya .... "Melihat kegugupan itu, Farah justru tersenyum. Ia mengira Biru mungkin memiliki urusan asmara. "Ya udah, nggak apa-apa kok. Pergi aja selesaikan urusan kamu. Tapi nanti jangan lupa jemput aku lagi di sini, ya," potong Farah cepat. Ia langsung berbalik dan melangkah menuju lobi gedung perawatan tempat Ray dirawat.Sementara itu, Biru masih bergeming di tempatny







