Mag-log in"Bos, Sisca udah meninggal dunia."
"Kau yakin?" "Yakin Bos. Orang tuanya semaput ngeliat anaknya meninggal." "Cek mayatnya!" "Tapi Bos." "Cek mayatnya. Aku curiga pada Dokter mata empat itu. Dia sudah terlalu jauh ikut campur ke dalam urusanku. Sekarang kalian cek mayatnya di kamar mayat. Pastiin dia udah beneran mati." "Baik Bos." "Satu lagi, awasDi rumah Nila, suara desah dan lenguh yang terdengar memenuhi ruang kamar. Sementara di apartemen, suara jantung Intan berdegup cepat seperti genderang.Di dalam apartemen yang sunyi itu, Intan berjalan mondar-mandir di ruang tengah dengan langkah yang tak tenang.Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua lewat tiga puluh menit dini hari. Kecemasannya terhadap Adrian sudah berada di titik puncak.Sebagai seorang istri dari seorang Detektif, ia tahu bahwa ketika ponsel Adrian mati di tengah malam tanpa ada kabar apa pun, itu bukanlah pertanda baik."Aku harus mencarinya," gumam Intan pada diri sendiri, jemarinya meremas ujung daster yang ia kenakan dengan kuat-kuat.Namun, tepat ketika ia hendak meraih kunci mobil di atas meja, langkahnya terhenti.Ia menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Di kamar itu ada anak perempuannya yang belum genap berusia d
"Siapa yang nelepon Sweety?" tanya Andi sambil menatap punggung istrinya dengan senyuman mesum."Intan Mas," jawab Nila.Ia meletakkan ponsel di atas meja rias dengan helaan napas panjang. Pikirannya masih sedikit tertinggal pada curhatan Intan yang terdengar sangat cemas.Namun, begitu ia membalikkan tubuh dan melangkah kembali ke arah tempat tidur, suasana di dalam kamar langsung terasa sangat berbeda.Ketegangan karena rasa khawatir seketika menguap, digantikan oleh ketegangan jenis lain yang jauh lebih mendebarkan.Di bawah temaram lampu tidur yang memancarkan cahaya kuning keemasan, Andi, sedang bersandar di tumpukan bantal.Pria itu sama sekali belum memejamkan mata. Sebaliknya, tatapannya begitu tajam dan fokus, langsung terkunci pada sosok Nila yang hanya mengenakan lingerie satin tipis berwarna merah marun.Andi menyunggingkan
TENG!Jam di dinding apartemen mewah itu menunjukkan pukul dua dini hari. Intan terbangun karena merasakan sisi ranjang di sebelahnya kosong dan dingin.Ia mengucek matanya, berharap melihat Adrian sedang membaca berkas kasus di bawah temaram lampu tidur, namun suaminya memang tidak ada di sana."Ke mana?" Intan menyibakkan selimut tebalnya. Dengan langkah perlahan, ia keluar dari kamar tidur."Mas kamu di mana?" panggil Intan lembut. Suaranya hanya memantul di dinding ruang tengah yang sepi dan gelap.Ia melangkah menuju ruang kerja Adrian. Biasanya, jika Adrian sedang tidak bisa tidur karena memikirkan kasus kriminal, sang Detektif akan mengurung diri di sana.Namun, saat Intan membuka pintu jati ruang kerja itu, ruangan tersebut kosong melompong. Hanya ada keheningan dan aroma kopi yang sudah mengering dari cangkir di atas meja.Per
Di dalam ruang rahasia apartemen, Adrian sedang memasukkan beberapa perlengkapan taktis ke dalam ransel hitam miliknya.Sebuah pisau komando, senter militer, pemantik gas kedap air, dan pistol semi-otomatis dengan peredam suara sudah tersusun rapi.Di telinganya, sebuah earpiece mini terpasang, menghubungkannya langsung dengan Darko yang berada di balik layar komputer ribuan kilometer dari sana."Adrian, dengarkan aku baik-baik." Suara Darko terdengar jernih melalui frekuensi radio terenkripsi. "Apa kau mendengar?""Ya, katakan saja.""Aku sudah selesai menyinkronkan data denah Dylan dengan peta satelit terbaru. Tapi situasinya jauh lebih rumit dari yang kita duga. Kau harus berhati-hati jika tidak ingin nyawamu hilang dalam missi ini. Paham?""Hmmmm," jawab Adrian datar."Aku serius Adrian. Jangan sampai istrimu yang cantik itu me
Malam itu, setelah anak-anak terlelap, atmosfer di kediaman Dirga. Dokter tampan itu sedang berdiri di balkon kamar yang gelap, sambil memegang ponsel satelitnya dengan erat.Di ujung panggilan, suara Adrian terdengar berat, diiringi sayup-sayup ketikan jari di atas papan tombol komputer."Apa Anda yakin dengan yang kamu lihat itu?" tanya Adrian."Aku yakin itu bukan kebetulan, Adrian," bisik Dirga, suaranya sarat dengan kecemasan yang tertahan."Hmm." Di ujung sana Adrian mendengarkan dengan seksama."Pria itu tidak melihat ke arah wahana, dia tidak melihat pengunjung lain. Matanya terkunci pada Dylan. Dan saat aku mencoba mendekatinya, dia menghilang lewat pintu darurat staf seolah sudah menguasai denah tempat itu," lanjut Dirga."Anda harus tenang dulu, Dok," jawab Adrian dari seberang telepon. "Bisa Anda deskripsikan ciri-cirinya lebih detail? Tinggi badan, cara berjalan, atau mungkin ada tanda khusus?""Tinggi, tegap, sekitar 180 senti. Dia memakai hoodie gelap dan kacamata hi
Minggu pagi, saat Febby mengatakan pada suaminya ingin menghabiskan weekend bersama keluarga, Dirga langsung mengiyakan.Dylan, yang biasanya tampak terlalu dewasa dengan pemikiran logisnya, terlihat sangat antusias saat Dirga mengumumkan bahwa mereka akan menghabiskan waktu di sebuah wahana permainan besar di pusat kota."Daddy serius? Aku boleh ke luar nih?" Mata Dylan berbinar, memancarkan binar murni seorang bocah seusianya."Hanya untuk hari ini, dan hanya karena Mommy yang memintanya," jawab Dirga sambil mengacak rambut Dylan. "Tapi ingat, tetap dalam jangkauan Daddy.""Horee! Okey Daddy!" seru Dylan dan Farah berbarengan.Setibanya di taman bermain, suasana ceria langsung menyambut mereka. Dylan dan Farah, berlarian menuju area roller coaster dan komidi putar.Sementara Febby dan Dirga berjalan santai di belakang, mengawasi kedua buah hati mereka de







