Se connecterBukti video mesum Andi dengan sekretarisnya sudah masuk ke pengadilan. Andi tidak dapat mengelak setelah Hakim melihat video tersebut.
Diam-diam ia menatap ke arah Dirga sambil mengepalkan tinjuan ke samping. Semuanya kacau, karena ulah sepupunya sendiri. Dirga bukan hanya merebut Febby darinya tapi juga menghancurkan hidupnya sampai ke akar. Andai waktu bisa diputar, ia tidak akan membawa Febby ke tempat praktek itu. Setelah Haki"Hahaha! Ayo Kak Dylan! Kejar aku dong!""Iya, masa kalah sih sama anak perempuan?""Hmm, awas ya kalian berdua!"Seminggu berlalu. Pada hari ini halaman rumah besar milik Dirga dipenuhi oleh suara tawa dan derap langkah kaki kecil.Setelah melewati masa-masa yang berat, suasana di kediaman Dirga kini terasa jauh lebih hangat.Dylan, kini tumbuh menjadi anak yang sangat baik dan penurut, benar-benar membuktikan dirinya sebagai sosok kakak yang bisa diandalkan.Ia tidak lagi sering melamun, melainkan aktif membantu Daddy dan Mommy-nya menjaga adik perempuannya, Farah.Bukan hanya kepada Farah, Dylan juga sangat perhatian pada Aurora, sahabat Farah yang sering main ke rumah.Karena Dylan adalah anak laki-laki yang paling besar, ia merasa punya tugas penting untuk menjadi kapten pelindung bagi anak-anak perempuan yang l
Tiga bulan berlalu dengan cepat setelah malam yang penuh ketegangan di Danau Hitam.Adrian benar-benar memegang janjinya untuk tidak lagi mengejar masa lalu Marco dan fokus sepenuhnya pada keluarga kecil mereka.Pagi ini, di salah satu kamar rawat persalinan rumah sakit swasta di Jakarta Selatan, suasana dipenuhi oleh kebahagiaan yang membuncah.Intan baru saja melahirkan anak laki-laki mereka melalui proses persalinan yang lancar dan sehat.Bayi mungil dengan berat 3,2 kilogram itu kini sedang tertidur lelap di dalam boks bayi di samping tempat tidur Intan.Wajahnya yang kemerahan tampak sangat mirip dengan Adrian saat memejamkan mata.Sekitar pukul sepuluh pagi, pintu kamar rawat diketuk perlahan. Adrian yang sedang duduk di samping tempat tidur Intan sambil menggenggam tangan istrinya segera bangkit untuk membuka pintu."Selamat ya,
Akhirnya sampai!Pintu unit apartemen itu terbuka dengan suara klik yang pelan. Adrian melangkah masuk dengan sisa-sisa lumpur yang sudah mengering di ujung celana taktisnya dan wajah yang terlihat sangat kuyu.Di ruang tengah, Mbak Lastri yang sedang merapikan mainan Maura langsung berdiri dan memberikan tatapan penuh kelegaan sekaligus teguran halus kepada majikannya."Mana Intan?" tanya Adrian."Bu Intan ada di kamar, Pak. Sedang istirahat," jawab Mbak Lastri pelan sebelum pamit untuk ke dapur.Adrian mengangguk lemah. Ia melepaskan jaketnya, mencuci tangan dan wajahnya sebersih mungkin di wastafel, lalu berjalan perlahan menuju kamar tidur utama.Begitu pintu kamar terbuka, pemandangan di hadapannya langsung menusuk ulu hatinya.Intan sedang berbaring miring di atas ranjang, memeluk guling erat-erat dengan mata sembab yang menatap k
"Argggghhhh! Nyaris saja!" teriak Adrian.Mobil off-road hitam itu melaju kencang, melibas jalanan setapak yang dipenuhi akar pohon dan batu-batu tajam.Darko mengambil alih kemudi karena napasnya sudah mulai teratur, sementara Adrian duduk di kursi penumpang sambil mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berdegup kencang setelah aksi kejar-kejaran dengan paramiliter Vultures.Saat mobil mulai memasuki jalan aspal yang menandai batas luar area Danau Hitam, Adrian merogoh saku jaket taktisnya.Ia mengeluarkan ponsel satelit yang sempat dinonaktifkan sistem enkripsinya oleh Darko agar tidak terlacak selama misi penyusupan.Begitu ponsel itu kembali terhubung dengan jaringan publik, rentetan notifikasi langsung masuk secara bertubi-tubi.Panggilan tak terjawab dari Intan sebanyak dua puluh kali.Pesan singkat dari Mbak Lastri.
"Kita pulang sekarang!" kata Adrian mulai cemas.Namun langkah Adrian dan Darko terhenti mendadak tepat di ujung lorong sebelum mereka sempat menginjakkan kaki ke dalam lumpur parit pembuangan.Dari balik rimbunnya semak belukar yang menutupi pintu keluar, terdengar suara gesekan ranting kering yang patah, disusul oleh suara derap langkah kaki sepatu bot militer yang berat.Krak!Srak!Adrian langsung menarik kerah jaket Darko, mengisyaratkannya untuk mundur ke balik bayangan pilar beton yang retak.Darko yang kelelahan menahan napasnya hingga dadanya terasa sesak."Dua orang. Jaraknya kurang dari sepuluh meter," bisik Adrian sangat pelan, tepat di dekat telinga Darko.Matanya menyipit, memantau dari celah dinding beton yang pecah.Melalui celah itu, terlihat dua orang anggota paramiliter Vult
Adrian menatap layar ponsel yang masih menampilkan wajah Dylan."Bagaimana Om?"Adrian menarik napas panjang sambil sesekali melihat ke arah Darko, yang sama-sama menunggu keputusan Adrian."Om .... "Bocah itu masih menunggu instruksi selanjutnya dengan mata yang memancarkan tekad kuat, siap melakukan apa saja untuk membantu.Namun, Adrian kembali menarik napas panjang dan menggelengkan kepala perlahan.Logika seorang Detektif akhirnya mengalahkan ambisinya."Tidak, Dylan," ucap Adrian dengan suara yang mendadak melunak namun penuh ketegasan.Darko menatap Adrian tanpa berkedip, memastikan apa yang dia dengar barusan."Gimana Om?" tanya Dylan."Tidak ... Om tidak akan membiarkanmu kemari. Tempat ini terlalu berbahaya untuk anak seusiamu. Kembalilah tidur, lupakan apa y







