LOGINMembuang napas panjang, Dirga melempar ponsel ke atas bantal lalu berbaring, menatap langit-langit kamar.
Ahhkkkk!Kedua tangan meremas rambut frustasi, kesal, kecewa, karena tak bisa memeluk wanitanya dan merasakan kebahagiaan berdua.Dia yang akan jadi ayah, tetapi Andi yang berantusias sampai tak henti membuat postingan di akun sosial media.Dunia memang tidak adil, tidak adil bagi hubungannya dengan Febby."Aku bahagia, tapi aku tidak bahagia!Di dalam kamar perawatan yang sunyi, Ray yang merasa telah berhasil menarik perhatian Farah mulai mencari kesempatan.Matanya tak henti mengamati sekeliling, memastikan pintu kamar perawatan di depannya tertutup rapat.Sementara itu, Farah fokus mengupas buah apel untuk Ray. Tidak ada sedikit pun rasa curiga terhadap pria di hadapannya.Setelah memastikan situasi benar-benar aman, senyum miring tersungging di bibir Ray. Dengan gerakan spontan, ia menyergap dan memegang pergelangan tangan Farah."Farah ....""Iya, Ray?" Farah mendongak, menatap pemuda itu lekat. "Kamu butuh sesuatu?"Ray menggeleng pelan. "Aku cuma butuh kamu." Ia mengambil pisau buah dari tangan Farah secara perlahan lalu meletakkannya di atas meja. "Aku mau bicara serius sama kamu. Boleh?"Farah mengangguk, ikut meletakkan apel yang belum selesai dikupasnya ke meja. "Bicara saja. Kamu mau ngomong apa?"Perlahan, Ray memajukan tubuh, memangkas jarak di antara mereka, lalu berbisik, "Maukah kamu jadi pacarku?"
Ray mengulum senyum saat melihat Farah mulai termakan ucapannya. Ia melirik Farah, menatap lekat gadis cantik yang kini diam membisu itu."Biru itu bukan laki-laki baik, Farah. Dia temperamental. Kamu harus berhati-hati padanya," lanjut Ray, memanasi.Farah mengangkat pandangannya, menatap wajah Ray yang babak belur.Bahkan, luka di pelipisnya yang diperban masih merembaskan darah segar."Lihat luka-luka ini. Semua ini ulah Biru. Tiba-tiba saja dia menyerangku. Padahal aku sama sekali tidak berniat jahat padamu malam itu. Aku hanya ingin membawamu menjauh dari keramaian karena kamu sedang mabuk berat," jelas Ray dengan ringisan yang dibuat seolah sangat menderita.Farah menghela napas panjang. Hatinya menolak untuk langsung percaya karena ia sangat mengenal pengawalnya itu. Namun, melihat kondisi Ray yang terluka parah, rasa ibanya tak bisa dibendung."Aku tahu Biru sudah lama jadi pengawal pribadimu, tapi dia itu ringan tangan. Aku khawatir suatu saat dia bisa melukaimu. Sepert
Sesampainya di pelataran rumah sakit, Biru segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Farah."Maaf, Non. Saya hanya bisa mengantar sampai di sini," ucap Biru datar, sambil menatap lekat Farah. "Setelah ini saya tidak bisa menemani ke dalam, karena saya ada janji penting untuk bertemu dengan seseorang."Kening Farah berkerut bingung. Tidak biasanya Biru menolak untuk mendampinginya, apalagi di tempat umum seperti ini. "Janji? Sama siapa? Tumben banget kamu ada urusan mendadak di jam kerja begini, Biru."Biru tampak kikuk. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kebingungan menyusun kebohongan. "Maaf, Non ... saya .... "Melihat kegugupan itu, Farah justru tersenyum. Ia mengira Biru mungkin memiliki urusan asmara. "Ya udah, nggak apa-apa kok. Pergi aja selesaikan urusan kamu. Tapi nanti jangan lupa jemput aku lagi di sini, ya," potong Farah cepat. Ia langsung berbalik dan melangkah menuju lobi gedung perawatan tempat Ray dirawat.Sementara itu, Biru masih bergeming di tempatny
"Biru, antar aku ke rumah sakit sekarang! Aku mau lihat keadaan Ray. Semalam dia dipukulin orang sampai masuk rumah sakit," seru Farah, berlari tergesa-gesa menghampiri Biru yang sedang berdiri di dekat mobil.Wajah Biru yang semula sudah tegang karena baru saja menerima sepucuk surat panggilan dari kepolisian, mendadak kian mengeras.Emosinya tersulut hebat begitu mendengar nama Ray kembali keluar dari bibir Farah.Ditambah lagi, gadis itu tampak begitu cemas memikirkan keadaan bajingan yang hampir saja melecehkannya semalam.Kenapa pria berengsek itu selalu mendapatkan perhatian lebih dari kamu, Farah? batin Biru bergejolak, menahan rasa sesak sekaligus cemburu yang mengiris hatinya."Ayo, Biru, tunggu apa lagi?" ajak Farah mendesak. Namun, sedetik kemudian tatapan matanya beralih pada amplop putih berlogo kepolisian yang ada di genggaman tangan Biru. "Eh, itu surat apa?"
Senin pagi di koridor utama kampus yang biasanya diisi oleh canda tawa santai, mendadak berubah menjadi riuh oleh kasak-kusuk ratusan mahasiswa.Pandangan semua orang tertuju pada layar ponsel masing-masing, lalu beralih menatap sinis ke satu arah.Di ujung koridor, Megan berjalan dengan gaya angkuh yang biasa, dikelilingi oleh circle setianya.Namun, langkah kaki Megan mendadak terhenti saat ia menyadari ada yang tidak biasa.Bisikan-bisikan miring dan tatapan mengejek dari orang-orang di sekitar mulai menusuk telinganya."Megan, coba lo buka grup angkatan sekarang. Cepetan!" bisik salah satu temannya, Sherly, dengan wajah yang mendadak berubah pucat pasi sambil menyodorkan ponsel.Megan mengerutkan kening, merebut ponsel itu dengan kasar. Begitu layar menyala dan sebuah video berdurasi beberapa menit terputar, bola mata Megan nyaris keluar dari kelopaknya. Jantungnya serasa berhenti berdetak seketika."WHAT!" teriak Megan histeris.Di dalam video yang kini menjadi viral dan dito
Sementara itu, jauh di sebuah apartemen mewah di kawasan New York, Amerika Serikat, Dylan langsung mematikan sambungan teleponnya.Jam dinding di kamarnya menunjukkan waktu dini hari, namun rasa kantuknya seketika sirna digantikan oleh desakan adrenalin.Dylan melangkah cepat menuju meja kerjanya yang dipenuhi oleh tiga monitor berukuran besar dengan spesifikasi dewa.Ia mendudukkan diri di kursi ergonomisnya, lalu menyalakan seluruh sistem komputer kustom miliknya.Jari-jemarinya yang panjang dan bergerak sangat lincah mulai menari di atas papan ketik mekanis, menciptakan melodi ketukan yang konstan dan cepat.Klik! Klik! Klik!Layar monitor yang tadinya gelap seketika berubah menampilkan ribuan baris kode biner hijau yang berjalan vertikal dengan kecepatan tinggi.Dylan menyipitkan mata, mengeluarkan seluruh keahlian terbaiknya sebag







