Beranda / Rumah Tangga / Ah, Jangan Kakak Ipar / Bab 3 - Pesona Kakak Ipar

Share

Bab 3 - Pesona Kakak Ipar

Penulis: senjaaaaaa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-19 20:41:44

“Mau ke mana?”

Suara bariton itu menghentikan langkah Bara yang baru kembali dari luar.

“Ambil paspor, Mas. Ada meeting mendadak di luar negeri, sekalian opening cabang baru,” jawabnya datar, tanpa menatap Damar.

Damar bersandar di kursi, kedua tangan bersilang di dada, mengamati adiknya yang menenteng koper kecil dan tas selempang. Terlalu rapi untuk disebut “mendadak.”

“Kerjaan, ya?” gumam Damar pelan. “Atau… liburan sama pacar kamu itu?”

Tatapan Bara langsung berubah tajam. “Mas Damar ngomong apa, sih?”

“Aku tau, kamu masih main belakang sama perempuan itu.”

Nada Damar meninggi, menahan amarah yang sudah lama mengendap.

Bara menghela napas kasar. “Aku juga butuh waktu buat diri sendiri! Aku capek, Mas!”

“Waktu buat diri sendiri?” Damar mendekat, tatapannya tajam menusuk. “Kamu punya istri di rumah, punya anak kecil yang masih butuh kamu. Risa nggak pernah minta apa-apa, tapi bukan berarti kamu boleh kabur seenaknya!”

“Kamu gak tau anak kamu rewel dan istri kamu sakit? Pergi gitu aja? Yang benar kamu, Bar!”

“Mas nggak ngerti posisi aku!” Bara membalas dengan suara bergetar antara marah dan panik. “Aku nikah sama Risa karena tekanan keluarga. Bukan karena cinta! Dan Mas Damar tau itu!”

Damar membeku sesaat, lalu berjalan mendekat.

“Kamu pikir aku nggak ngerti? Aku lebih ngerti dari siapa pun di rumah ini.”

Bara menatapnya, wajahnya menegang. “Iya, tapi Mas bukan kakak kandungku! Mas nggak ngerti rasanya jadi aku!”

Kata-kata itu menampar Damar lebih keras daripada pukulan mana pun. Damar kecil adalah anak yang tak diharapkan oleh keluarganya, dan ia diangkat anak oleh orang tua Bara, beberapa tahun sebelum kelahiran Bara. Setelah tumbuh dewasa, ia diberi kewenangan untuk mengurus cabang perusahaan yang berada di Berlin, sementara Bara melanjutkan perusahaan pusat, setelah kematian ibunya.

Senyumnya terasa getir. “Bener. Aku cuma anak angkat. Tapi justru karena itu, aku belajar nggak kabur dari tanggung jawab cuma karena hidup nggak sesuai mauku.”

Bara terdiam. Napasnya berat.

“Kalau kamu kayak gini terus,” lanjut Damar, suaranya makin rendah, “bukan cuma Risa dan Sara yang kamu kehilangan, tapi juga dirimu sendiri.”

Bara memejamkan mata. “Justru karena Mas di sini, aku bisa tenang ninggalin mereka. Seenggaknya, Risa sama Sara aman.”

Damar menatapnya tajam, ekspresinya mengeras. “Kamu dengar ucapanmu barusan, Bar?” desisnya. “Kamu bangga ninggalin keluargamu cuma karena tau ada orang lain yang bakal jagain?”

“Nggak usah lebay, Mas,” Bara menatap sinis, senyum miringnya muncul lagi. “Aku cuma butuh waktu. Bentar aja.”

Damar mengusap wajahnya frustasi, rahangnya mengeras. “Kamu lama-lama pengecut mirip bapakmu.”

Bara mendadak diam.

Ada jeda panjang di antara mereka, hanya terdengar suara napas berat dan koper yang tergeser sedikit di lantai.

“Mas udah kelewatan.” Suara Bara akhirnya keluar, dingin.

Tapi Damar tak menjawab. Ia hanya menatap, dan kali ini, yang terlihat di matanya bukan lagi amarah—melainkan kecewa yang terlalu dalam untuk diucapkan.

Suara mesin mobil meraung dari luar. Ban berdecit pelan di jalanan berbatu halaman rumah, lalu makin menjauh.

Damar berdiri di depan pintu, memandangi punggung Bara yang kian kecil di kejauhan. Udara pagi terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin karena amarah yang belum sempat reda.

Langkah lembut dari arah dapur membuatnya menoleh.

“Mas— mas Bara ke mana?”

Suara Risa lirih, nyaris tenggelam oleh dengung kendaraan yang makin menjauh.

Damar menatapnya lama, sebelum akhirnya menjawab pelan, “Dia gak izin ke kamu?”

Risa menggeleng kecil.

“Luar negeri, katanya. Urusan investor.”

Tak ada penjelasan lebih, tak ada alasan.

Risa menghela nafas, hanya itu. Tak bertanya lebih jauh, seolah sudah terlalu lelah untuk berharap atau marah. Matanya redup, wajahnya pucat, dan di pelukannya, Sara mulai merengek pelan.

Damar menghela napas, menahan sesuatu di dadanya yang terasa ganjil. “Kamu udah kompres?” tanyanya, berusaha netral.

Risa menggeleng. “Aku... Mas, bisa anter aku ke rumah sakit?”

Damar menegakkan tubuhnya, alisnya berkerut. “Kenapa? Makin sakit?”

“Cuma... nyeri,” jawabnya pendek, menunduk, matanya menghindar. “Payudaraku bengkak. ASI-nya keluar banyak, aku takut infeksi.”

Hening sejenak.

Damar memandangi wajah lelah perempuan itu, lalu mengangguk pelan. “Tunggu bentar, aku ambil kunci.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ah, Jangan Kakak Ipar   Bab 13 - Postingan Bara

    “Mas ...,” lirih Risa hampir tak terdengar, “aku ... pusing ...,” ujarnya, merasakan pandangannya buram.Damar langsung menegang. “Risa?”Kelopak mata Risa berkedut, tubuhnya condong ke depan, hampir jatuh dari sofa. Damar sigap meraih bahunya, menahan tubuh itu sebelum benar-benar ambruk.“Risa!” amar menguncang tubuh Risa beberapa kali, mencoba membuatnya tetap tersadar. “Hei. Jangan merem. Dengar aku.”Tangan Risa meraih udara kosong, gemetar, lalu jatuh lemas ke pangkuannya.“Mas ... aku ... nggak bisa napas ...,” bisiknya parau.Damar membeku sepersekian detik—cukup untuk menunjukkan rasa takutnya—lalu langsung mengangkat wajah Risa dengan kedua tangannya.“Risa, buka mata. Sekarang.”Risa mencobanya ... tapi pandangannya kabur. Badannya dingin. Kepalanya terasa ringan.“Mas ... gelap ...”Tubuhnya terkulai.Damar menahan napas meliat Risa yang semakin lemah.“RISA!”Risa membuka mulutnya sedikit, seperti ingin bicara—tapi tak ada suara yang keluar.Tubuhnya tiba-tiba jatuh penuh

  • Ah, Jangan Kakak Ipar   Bab 12 - Risa, Lihat Aku!

    Damar menepis tangan Risa dari pompa itu dengan cepat—keras—pompa itu jatuh ke lantai. Menimbulkan suara yang cukup keras. Damar bergegas menggeser tubuhnya, menghalangi Risa menggapai pumping itu.“RISA!” bentaknya.Risa tersentak, menatap nanar pumping miliknya yang kini teronggok di balik badan Damar. “Mas! Kenapa—”“Karena kamu nyakitin diri sendiri,” jawabnya datar. Sangat datar.Risa mendongak, berlinang air mata. “Aku cuma mau ngeluarin ASI! Tadi udah keluar! Harusnya bisa lebih banyak—”“Risa.”Bentakan Damar tajam. Mengiris. Dingin. “Kamu perahnya sembarangan. Ritmenya nggak bener. Kamu maksa perah ASI sampai merah,” ujar Damar melihat sekilas area dada Risa, melihat sebagai kakak ipar yang cemas, bukan pria bernafsu.Risa menggeleng keras, napasnya tersengal, dadanya naik turun tak karuan. “Awas! Aku harus isi botolnya! Kalau aku nggak perah, nanti ASI-nya makin sedikit—Mas nggak ngerti—”“Aku ngerti.”Damar jarang—sangat jarang—menaikkan suara.Wajahnya mengeras. Rahangnya

  • Ah, Jangan Kakak Ipar   Bab 11 - Brak!

    Damar mendongak perlahan—sangat perlahan—seolah Risa baru saja menamparnya dengan pertanyaan itu. Tatapannya kosong, sebelum akhirnya ia mengembalikan fokusnya pada Risa.“Jangan paksa aku buat jawab pertanyaan yang bahkan kamu sendiri tahu itu nggak benar,” ucapnya dingin.Nada suaranya rendah, serak, tapi tetap stabil. Tidak ada belaian. Tidak ada pelukan. Hanya ketegasan yang terus menusuk.Risa menggigit bibirnya, bahunya bergetar. “Tapi Mas nggak jawab ... berarti—”“Tuhan, Risa.”Damar mengusap wajahnya sendiri—frustasi—lalu menunduk, seperti menahan amarah yang sudah mencapai batas.“Kalau kamu ngomong kayak gitu terus,” ia menatap Risa tajam, “kamu bukan cuma nyakitin diri kamu sendiri. Kamu nyakitin Sara juga.”Risa terdiam. Napasnya tercekat.“Dia butuh kamu. Ibu kandungnya.”Damar mencondongkan tubuh sedikit, memnyadarkan Risa, tapi suaranya menekan dada Risa seperti beban.“Kamu masih bertahan di sini, masih berani buat nyoba, masih mau nyusuin dia walaupun sakitnya seteng

  • Ah, Jangan Kakak Ipar   Bab 10 - Bukan Ibu yang Baik

    "Udah?" Damar memicingkan matanya, menatap Risa yang tengah merapikan tas milik Sara."Iya," jawab Risa singkat.Damar mengangguk, tangannya membuka pintu mobil dengan mudah dan meninggalkan Risa yang masih meredakan debaran di dadanya."Duh, gimana ya?" gelisah Risa, ragu. Ia menatap keluar, mendapati Damar yang tengah menunggunya di depan sana. "Sara, Nak ... kamu harus kerja sama sama Mama ya, Sayang," ujarnya menata Sara, menepuk gadis mungil itu penuh kasih syaang.Tok. Tok.Ketukan di jendela samping membuatnya terkejut, lebih terkejut lagi ketika mendapati Damar yang sudah membuka pintu mobil. "Aku bawain," ujarnya satai.Risa terpaku, matanya tak henti menatap Damar dengan perasaan sungkan. Sedetik kemudian, pandangan mereka bertemu, membuat keduanya sedikit canggung."Ayo," ujar Damar, memperingati."E-eh," jawabnya terkesiap. "I-iya, Mas," lanjutnya. Ia keluar mobil, dan berjala di sisi Damar yang kini melambatkan langkahnya."Dokter udah nunggu," lirih Damar membuat Risa mem

  • Ah, Jangan Kakak Ipar   Bab 9 - Aku Nggak Tahan

    Damar langsung berhenti.Ia menoleh cepat, kaget mendengar kata itu keluar dari mulut Risa dalam kondisi seperti ini. Matanya membesar sejenak, wajahnya refleks memanas, jelas tidak siap dengan arah pembicaraan itu.g“Ris—” suaranya terdengar patah.Ia berkedip pelan, mencoba memproses, lalu buru-buru menggeleng sambil menegakkan duduknya.“Ris, itu ... nggak boleh,” ucapnya pelan tapi tegas.Risa menatapnya, bingung dan makin panik. “Nggak boleh?” tanyanya menahan malu.“Iya.” Damar menelan ludah, mencoba membuat suaranya lebih stabil. “ASI bengkak nggak boleh dihisap orang dewasa. Malah bisa bahaya buat kamu. Bisa tambah infeksi,” katanya tanpa jeda.Risa mengembuskan napas yang lelah. “Terus aku harus gimana ... Mas? Sakitnya tambah parah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.Melihat itu, ekspresi Damar langsung melunak. “Aku bantu pakai cara yang aman.”Risa mendongak, menatap Damar penuh tanya. “Mas yakin?”Damar menarik napas besar, menahan canggung dan panik dalam dirinya. “Aku c

  • Ah, Jangan Kakak Ipar   Bab 8 - Bantu Hisap, Bisa?

    “Eum, Mas—”Damar membalikkan badannya, memunggungi Risa. "Aku nggak lihat."“Ini masih panas, Mas.” kata Risa mengeram.Tangannya dicelupkan sebentar sebelum benar-benar mencelupkan handuk hingga basah.“Sebentar. Aku tambahin air dulu,” ujar Damar cepat. Membuat Risa meremas handuk dengan cepat.Risa tersenyum kecil. Sementara Damar berlari ke dapur, Risa membuka kancing piyamanya, mengompresnya perlahan. “Ssshhh ..,” rintihnya menahan nyeri. Satu menit. Dua menit. Rasanya tak kunjung reda, ia menyerah. Tangannya masih menempelkan handuk hangat di dada ketika suara langkah perlahan mendekat ke arahnya.Damar muncul sambil membawa mangkuk air hangat baru—nyaris penuh sampai bibirnya—seakan begitu terburu-buru sampai tidak sempat menjaga langkahnya.“Ris—” Ia langsung mendekat, membuat mangkuk hampir tumpah karena tangannya yang gemetar. Damar terdiam dua detik, matanya jelas panik melihat piyama Risa yang setengah terbuka. Lalu matanya memejam seraya melangkah ke arahnya.Handuk d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status