LOGINRisa duduk di kursi tunggu ruang laktasi dengan wajah sedikit menahan nyeri.
Blusnya basah di bagian dada, sementara Sara tertidur pulas di gendongan.
Damar berdiri di sampingnya, canggung. Tangannya disilangkan di depan dada, tak tahu harus melakukan apa.
Beberapa menit kemudian, seorang perawat memanggil nama Risa, lalu membawanya masuk ke ruangan pemeriksaan.
Ia menatap keluar jendela, mencoba menyembunyikan gugupnya. “Mas, nanti kalo Mas Bara pulang—”
“Dia bilang meeting luar negeri. Mungkin nggak balik cepat.”
Jawaban itu datar, tapi ada nada lain yang tak ia ucapkan.Risa hanya mengangguk. Ia tahu, tak ada gunanya bertanya lebih jauh.
Sesampainya di pintu, Damar membantu mengambil alih tas dan menggendong Sara tanpa banyak bicara. Risa menatap sekilas. Mengapa rasanya makin tak karuan?
“Bu Risa Prameswari?”
Risa berdiri, lalu menoleh ke Damar. “Mas, tunggu sini aja—”
Belum sempat ia melangkah, perawat menatap ke arah Damar. “Bapak ikut aja, ya. Dokternya mau jelasin juga soal pijatan payudara buat bantu keluarnya ASI.”
Risa membeku. “Eh, dia bukan—”
Tapi Damar sudah sempat mengangguk sopan. “Baik, Mbak.”
Risa ingin menolak, tapi langkah Damar sudah lebih dulu mengikutinya ke dalam ruangan.
Risa menunduk makin dalam, wajahnya merah.
“Silakan duduk. Ibu Risa, keluhannya nyeri di payudara, ya?”
Risa mengangguk pelan. “Iya, Dok. Kayaknya ASI-nya baru keluar sekarang, padahal anak saya udah kebiasaan susu formula.”
Dokter memeriksa sebentar, lalu menatap Risa dengan tatapan hangat.
“Ini hal baik, Bu. Kadang memang telat keluar, apalagi kalau ibu stres. Tapi sekarang sudah lancar. Nanti kalau nyeri, bisa dikompres hangat dan dipijat ringan dari arah luar ke dalam, begini…”Sambil berbicara, dokter memperagakan gerakannya pada boneka silikon di meja.
“Bengkaknya karena saluran susu sempat tersumbat. Saya tunjukin ya, Pak, cara mijatnya. Pelan aja, dari pangkal menuju areola, supaya nggak sakit.”
Damar mengangguk lagi, tapi sorot matanya tak berani menatap langsung ke dada Risa yang sebagian terbuka saat dokter memperagakan dengan bantuan boneka silikon.
Risa menahan napas, rasanya pipinya terbakar. Ia berusaha fokus pada penjelasan dokter, tapi degup jantungnya sendiri justru jadi lebih kencang daripada rasa nyeri yang baru saja dikeluhkannya.
“Bapak bisa bantu nanti di rumah,” lanjut dokter tanpa sadar menambah keheningan di ruangan. “Kalau dilakukan rutin, payudara nggak akan bengkak lagi. Mau saya tunjukin cara pijat yang benar?”
Risa buru-buru menatap dokter itu, panik. “Ah, nggak usah, Dok! Nanti saya aja, sendiri.”
“Nanti kalau di rumah nyeri lagi, bisa dibantu suaminya ya,” tambah sang dokter ringan sebelum mereka keluar dari ruangan konsultasi. “Tapi jangan dibiarkan, ya, Bu. Kalau nyeri terus, bisa demam.”
Begitu pintu tertutup, keheningan mendadak menggantung.
Damar menatapnya sebentar, lalu mengalihkan pandang. Mereka diam beberapa detik.
“Mas—”
“Ris—”
“Mas, duluan aja.” kata Risa menggigit bibirnya.
“Kamu duluan.”
Risa memberanikan diri bicara. “Mas, makasih udah nganter. Dan jadi direpotin gini.”
“Soal tadi—”
Damar menggeleng. “Kamu nggak ngerepotin.” Ia menunduk sebentar, lalu melanjutkan, “Kalo nyerinya kambuh, bilang aja. Aku bantuin.”
Ia mengangguk kecil.“Maaf... aku tadi nggak sempat jelasin kalau kamu bukan suami aku.”
Damar tersenyum tipis, kaku. “Nggak apa-apa. Lagian... aku juga nggak tahu harus jelasin gimana.”
Beberapa detik, mereka saling diam.
Belum. Belum saat ini.
Lalu Damar berdehem pelan. “Kalau perlu bantuan bilang aja, ya.”
Risa sontak menatapnya. Matanya membulat, lalu buru-buru berpaling ke arah lain. “Nggak usah, Mas. Aku... bisa sendiri.”
“Mas ...,” lirih Risa hampir tak terdengar, “aku ... pusing ...,” ujarnya, merasakan pandangannya buram.Damar langsung menegang. “Risa?”Kelopak mata Risa berkedut, tubuhnya condong ke depan, hampir jatuh dari sofa. Damar sigap meraih bahunya, menahan tubuh itu sebelum benar-benar ambruk.“Risa!” amar menguncang tubuh Risa beberapa kali, mencoba membuatnya tetap tersadar. “Hei. Jangan merem. Dengar aku.”Tangan Risa meraih udara kosong, gemetar, lalu jatuh lemas ke pangkuannya.“Mas ... aku ... nggak bisa napas ...,” bisiknya parau.Damar membeku sepersekian detik—cukup untuk menunjukkan rasa takutnya—lalu langsung mengangkat wajah Risa dengan kedua tangannya.“Risa, buka mata. Sekarang.”Risa mencobanya ... tapi pandangannya kabur. Badannya dingin. Kepalanya terasa ringan.“Mas ... gelap ...”Tubuhnya terkulai.Damar menahan napas meliat Risa yang semakin lemah.“RISA!”Risa membuka mulutnya sedikit, seperti ingin bicara—tapi tak ada suara yang keluar.Tubuhnya tiba-tiba jatuh penuh
Damar menepis tangan Risa dari pompa itu dengan cepat—keras—pompa itu jatuh ke lantai. Menimbulkan suara yang cukup keras. Damar bergegas menggeser tubuhnya, menghalangi Risa menggapai pumping itu.“RISA!” bentaknya.Risa tersentak, menatap nanar pumping miliknya yang kini teronggok di balik badan Damar. “Mas! Kenapa—”“Karena kamu nyakitin diri sendiri,” jawabnya datar. Sangat datar.Risa mendongak, berlinang air mata. “Aku cuma mau ngeluarin ASI! Tadi udah keluar! Harusnya bisa lebih banyak—”“Risa.”Bentakan Damar tajam. Mengiris. Dingin. “Kamu perahnya sembarangan. Ritmenya nggak bener. Kamu maksa perah ASI sampai merah,” ujar Damar melihat sekilas area dada Risa, melihat sebagai kakak ipar yang cemas, bukan pria bernafsu.Risa menggeleng keras, napasnya tersengal, dadanya naik turun tak karuan. “Awas! Aku harus isi botolnya! Kalau aku nggak perah, nanti ASI-nya makin sedikit—Mas nggak ngerti—”“Aku ngerti.”Damar jarang—sangat jarang—menaikkan suara.Wajahnya mengeras. Rahangnya
Damar mendongak perlahan—sangat perlahan—seolah Risa baru saja menamparnya dengan pertanyaan itu. Tatapannya kosong, sebelum akhirnya ia mengembalikan fokusnya pada Risa.“Jangan paksa aku buat jawab pertanyaan yang bahkan kamu sendiri tahu itu nggak benar,” ucapnya dingin.Nada suaranya rendah, serak, tapi tetap stabil. Tidak ada belaian. Tidak ada pelukan. Hanya ketegasan yang terus menusuk.Risa menggigit bibirnya, bahunya bergetar. “Tapi Mas nggak jawab ... berarti—”“Tuhan, Risa.”Damar mengusap wajahnya sendiri—frustasi—lalu menunduk, seperti menahan amarah yang sudah mencapai batas.“Kalau kamu ngomong kayak gitu terus,” ia menatap Risa tajam, “kamu bukan cuma nyakitin diri kamu sendiri. Kamu nyakitin Sara juga.”Risa terdiam. Napasnya tercekat.“Dia butuh kamu. Ibu kandungnya.”Damar mencondongkan tubuh sedikit, memnyadarkan Risa, tapi suaranya menekan dada Risa seperti beban.“Kamu masih bertahan di sini, masih berani buat nyoba, masih mau nyusuin dia walaupun sakitnya seteng
"Udah?" Damar memicingkan matanya, menatap Risa yang tengah merapikan tas milik Sara."Iya," jawab Risa singkat.Damar mengangguk, tangannya membuka pintu mobil dengan mudah dan meninggalkan Risa yang masih meredakan debaran di dadanya."Duh, gimana ya?" gelisah Risa, ragu. Ia menatap keluar, mendapati Damar yang tengah menunggunya di depan sana. "Sara, Nak ... kamu harus kerja sama sama Mama ya, Sayang," ujarnya menata Sara, menepuk gadis mungil itu penuh kasih syaang.Tok. Tok.Ketukan di jendela samping membuatnya terkejut, lebih terkejut lagi ketika mendapati Damar yang sudah membuka pintu mobil. "Aku bawain," ujarnya satai.Risa terpaku, matanya tak henti menatap Damar dengan perasaan sungkan. Sedetik kemudian, pandangan mereka bertemu, membuat keduanya sedikit canggung."Ayo," ujar Damar, memperingati."E-eh," jawabnya terkesiap. "I-iya, Mas," lanjutnya. Ia keluar mobil, dan berjala di sisi Damar yang kini melambatkan langkahnya."Dokter udah nunggu," lirih Damar membuat Risa mem
Damar langsung berhenti.Ia menoleh cepat, kaget mendengar kata itu keluar dari mulut Risa dalam kondisi seperti ini. Matanya membesar sejenak, wajahnya refleks memanas, jelas tidak siap dengan arah pembicaraan itu.g“Ris—” suaranya terdengar patah.Ia berkedip pelan, mencoba memproses, lalu buru-buru menggeleng sambil menegakkan duduknya.“Ris, itu ... nggak boleh,” ucapnya pelan tapi tegas.Risa menatapnya, bingung dan makin panik. “Nggak boleh?” tanyanya menahan malu.“Iya.” Damar menelan ludah, mencoba membuat suaranya lebih stabil. “ASI bengkak nggak boleh dihisap orang dewasa. Malah bisa bahaya buat kamu. Bisa tambah infeksi,” katanya tanpa jeda.Risa mengembuskan napas yang lelah. “Terus aku harus gimana ... Mas? Sakitnya tambah parah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.Melihat itu, ekspresi Damar langsung melunak. “Aku bantu pakai cara yang aman.”Risa mendongak, menatap Damar penuh tanya. “Mas yakin?”Damar menarik napas besar, menahan canggung dan panik dalam dirinya. “Aku c
“Eum, Mas—”Damar membalikkan badannya, memunggungi Risa. "Aku nggak lihat."“Ini masih panas, Mas.” kata Risa mengeram.Tangannya dicelupkan sebentar sebelum benar-benar mencelupkan handuk hingga basah.“Sebentar. Aku tambahin air dulu,” ujar Damar cepat. Membuat Risa meremas handuk dengan cepat.Risa tersenyum kecil. Sementara Damar berlari ke dapur, Risa membuka kancing piyamanya, mengompresnya perlahan. “Ssshhh ..,” rintihnya menahan nyeri. Satu menit. Dua menit. Rasanya tak kunjung reda, ia menyerah. Tangannya masih menempelkan handuk hangat di dada ketika suara langkah perlahan mendekat ke arahnya.Damar muncul sambil membawa mangkuk air hangat baru—nyaris penuh sampai bibirnya—seakan begitu terburu-buru sampai tidak sempat menjaga langkahnya.“Ris—” Ia langsung mendekat, membuat mangkuk hampir tumpah karena tangannya yang gemetar. Damar terdiam dua detik, matanya jelas panik melihat piyama Risa yang setengah terbuka. Lalu matanya memejam seraya melangkah ke arahnya.Handuk d







