LOGIN"Kamu sengaja ya, mau bikin aku gila?" bisik Bara, suaranya parau. Kini, kedua tangannya mencengkeram pinggul Vanessa, menahan pergerakan liar wanita itu agar ia bisa menatap wajahnya.Vanessa terkekeh manja, napasnya sedikit memburu. Ia mendongak, menatap Bara dengan mata yang sayu penuh gairah sambil merapikan rambut Bara yang sedikit berantakan."Bukannya ini yang kamu butuhin, Sayang?" sahut Vanessa pelan, suaranya terdengar sangat sensual. Ia sengaja mengangkat tubuhnya ke pangkuan Bara, memicu geraman rendah dari Bara. "Biar kamu lupa sama Risa, sama Mas Damar, sama semua masalah kamu di sana," bisiknya tepat di telinga Bara."Van ... shit," umpat Bara, tidak bisa lagi menahan sensitivitas yang membakar tubuhnya.Bara menarik tubuh Vanessa kuat, menghilangkan jarak di antara mereka. Tangannya bergerak ke belakang punggung Vanessa, perlahan menurunkan piyama satin miliknya."Buka baju kamu, Bara," bisik Vanessa menuntut, jemarinya mulai menarik paksa kancing kemeja Bara hingga du
Tut. Panggilan terputus."Mas? Mas?!" teriaknya keras. "Mas, tunggu dulu—" Bara menjauhkan ponselnya, menatap layar yang sudah menghitam. "Sialan.” Ia melemparkannya ke atas meja.Tangannya mengusap wajahnya kasar. Kepalanya berdenyut. Damar marah. Risa menangis. Besok ia harus menghadapi semuanya dalam satu waktu."Apa sih maunya?" gerutunya. Ia berjalan mondar-mandir tak tentu arah. "Semua salah gue. Semua harus gue," lanjutnya, memukul dadanya sendiri. "Sial!""Kalau kamu udah nggak sanggup jadi suami, bilang." Kalimat itu kembali terngiang di kepaanya."Gue nggak sanggup?" Bara tertawa sinis. "Nggak ada yang tahu apa yang gue hadapin selama ini." Ia memejamkan matanya kuat. Bayangan Risa yang terus menangis kembali menghantuinya. Disusul wajah Damar yang selalu berada di samping perempuan itu setiap kali ada masalah. "Tentu aja gue yang salah." Ia menggeleng keras. "Tentu aja."Tangannya kembali meraih ponsel miliknya. Ia sempat berpikir untuk menelepon Damar lagi. Menjelaskan sem
Damar menatap Risa dan Sara sekali lagi, kali ini tatapannya menyimpan banyak luka di dalamnya. Ia menghela napas panjang, tangannya berusaha membuka pintu kamar tanpa menimbulkan suara. Begitu pintu tertutup, ekspresinya berubah total—tajam, dan siap menghancurkan siapapun.Ia berjalan cepat ke teras, menjauhkan jangkauan Risa agar tak mendengar suaranya, tangannya menggenggam erat ponsel yang membuat emosinya memuncak. Dengan tangan yang bergetar , ia menekan nama itu.Bara. Adiknya. Suami Risa. Ayah Sara.Panggilan tersambung.Tuut… tuut… Tak ada jawaban.Damar menggertakkan giginya. “Jawab, Bar … jawab,” desisnya.Begitu tersambung, Damar tidak memberi kesempatan Bara untuk memulai pembicaraan.“BARA!” panggil Damar, suaranya rendah, seakan menyimpan banyak ancaman di dalamnya. “Kamu kenapa bisa setega itu?”Bara sempat terkejut di seberag sana, ia menjauhkan ponselnya, membaca ulang nama yang tertera di layar. “Mas? Maksud Mas apa—”“JANGAN pura-pura bego!” suara Damar meninggi,
“Mas ...,” lirih Risa hampir tak terdengar, “aku ... pusing ...,” ujarnya, merasakan pandangannya buram.Damar langsung menegang. “Risa?”Kelopak mata Risa berkedut, tubuhnya condong ke depan, hampir jatuh dari sofa. Damar sigap meraih bahunya, menahan tubuh itu sebelum benar-benar ambruk.“Risa!” amar menguncang tubuh Risa beberapa kali, mencoba membuatnya tetap tersadar. “Hei. Jangan merem. Dengar aku.”Tangan Risa meraih udara kosong, gemetar, lalu jatuh lemas ke pangkuannya.“Mas ... aku ... nggak bisa napas ...,” bisiknya parau.Damar membeku sepersekian detik—cukup untuk menunjukkan rasa takutnya—lalu langsung mengangkat wajah Risa dengan kedua tangannya.“Risa, buka mata. Sekarang.”Risa mencobanya ... tapi pandangannya kabur. Badannya dingin. Kepalanya terasa ringan.“Mas ... gelap ...”Tubuhnya terkulai.Damar menahan napas meliat Risa yang semakin lemah.“RISA!”Risa membuka mulutnya sedikit, seperti ingin bicara—tapi tak ada suara yang keluar.Tubuhnya tiba-tiba jatuh penuh
Damar menepis tangan Risa dari pompa itu dengan cepat—keras—pompa itu jatuh ke lantai. Menimbulkan suara yang cukup keras. Damar bergegas menggeser tubuhnya, menghalangi Risa menggapai pumping itu.“RISA!” bentaknya.Risa tersentak, menatap nanar pumping miliknya yang kini teronggok di balik badan Damar. “Mas! Kenapa—”“Karena kamu nyakitin diri sendiri,” jawabnya datar. Sangat datar.Risa mendongak, berlinang air mata. “Aku cuma mau ngeluarin ASI! Tadi udah keluar! Harusnya bisa lebih banyak—”“Risa.”Bentakan Damar tajam. Mengiris. Dingin. “Kamu perahnya sembarangan. Ritmenya nggak bener. Kamu maksa perah ASI sampai merah,” ujar Damar melihat sekilas area dada Risa, melihat sebagai kakak ipar yang cemas, bukan pria bernafsu.Risa menggeleng keras, napasnya tersengal, dadanya naik turun tak karuan. “Awas! Aku harus isi botolnya! Kalau aku nggak perah, nanti ASI-nya makin sedikit—Mas nggak ngerti—”“Aku ngerti.”Damar jarang—sangat jarang—menaikkan suara.Wajahnya mengeras. Rahangnya
Damar mendongak perlahan—sangat perlahan—seolah Risa baru saja menamparnya dengan pertanyaan itu. Tatapannya kosong, sebelum akhirnya ia mengembalikan fokusnya pada Risa.“Jangan paksa aku buat jawab pertanyaan yang bahkan kamu sendiri tahu itu nggak benar,” ucapnya dingin.Nada suaranya rendah, serak, tapi tetap stabil. Tidak ada belaian. Tidak ada pelukan. Hanya ketegasan yang terus menusuk.Risa menggigit bibirnya, bahunya bergetar. “Tapi Mas nggak jawab ... berarti—”“Tuhan, Risa.”Damar mengusap wajahnya sendiri—frustasi—lalu menunduk, seperti menahan amarah yang sudah mencapai batas.“Kalau kamu ngomong kayak gitu terus,” ia menatap Risa tajam, “kamu bukan cuma nyakitin diri kamu sendiri. Kamu nyakitin Sara juga.”Risa terdiam. Napasnya tercekat.“Dia butuh kamu. Ibu kandungnya.”Damar mencondongkan tubuh sedikit, memnyadarkan Risa, tapi suaranya menekan dada Risa seperti beban.“Kamu masih bertahan di sini, masih berani buat nyoba, masih mau nyusuin dia walaupun sakitnya seteng







