Beranda / Romansa / Ah! Mantap, Sayang / 12. SATU RANJANG BERSAMA

Share

12. SATU RANJANG BERSAMA

Penulis: NONA_DELANIE
last update Tanggal publikasi: 2026-02-21 08:15:00
“Mama? Ada apa ini? Kenapa ada Hazel di sini dan ….” Hexa menghentikan ucapannya sejenak. Matanya menyipit, melirik pada sebuah tas besar yang nampak sedikit kusam dan sudah berumur di sisi kursi Hazel. “... tas jelek milik siapa itu? Kenapa dibawa ke sini?”

Begitu Hexa tiba di rumah dan menemui kedua orang tuanya—yang tengah duduk berhadapan dengan Hazel di ruang tamu—ia justru dikejutkan dengan sebuah pernyataan yang membuat otaknya seketika lumpuh.

Suasana di ruangan itu begitu tenang, k
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ah! Mantap, Sayang   98. TERLALU BERESIKO

    Pekerjaan Hexa sore ini sudah tuntas. Namun, ia tak langsung pulang untuk menemui sang istri lantaran Enrico meminta bertemu karena ada hal mendesak yang harus dibicarakan.Di sebuah ruang private, keduanya duduk bersisian pada sofa yang berbeda. Hexa sofa panjang sedangkan Enrico duduk di sofa tunggal. Sementara untuk mendinginkan suasana yang tegang, sebotol wine tersaji di hadapan mereka.“Anak buahmu sudah mencoba mendekati kastil itu?” selidik Hexa, matanya menatap tajam ke arah Enrico, menunggu jawaban pasti.Enrico mengangguk pelan. “Sudah, kau tenang saja. Tapi aku butuh waktu. Masuk ke sana bukan perkara mudah. Kastil kecil itu dijaga ketat layaknya benteng. Dijaga sangat ketat, dan siapa pun yang ingin masuk harus mendapatkan izin langsung dari pemiliknya.”“Siapa? Pria yang terlihat bersama wanita itu?” tanya Hexa lagi. “Yang kita intai itu?”“Ya,” jawab Enrico pendek. Ia memutar gelasnya, lalu menatap Hexa lurus. “Dan ... apa yang sebenarnya membuatmu begitu yakin kalau wa

  • Ah! Mantap, Sayang   97. PERINGATAN PROTEKTIF

    “Apa pemandangan pagi ini membuatmu terangsang, hm?”Hazel segera memalingkan wajahnya yang panas. Ia tidak sudi meladeni ucapan Hexa yang mulai melantur. Dengan langkah terburu-buru, ia hanya berujar, “Terserah kau saja! Menyingkirlah, aku mau mandi.”Hexa membiarkan istrinya melarikan diri ke kamar mandi. Saat menatap punggung Hazel yang menjauh, senyum simpulnya perlahan memudar, digantikan tatapan yang lebih serius. Di kepalanya, ia mulai menyusun rangkaian pertanyaan untuk menggali informasi tentang ibu mertuanya, tentu dengan cara yang sangat halus agar tidak melukai perasaan Hazel.Usai bersiap, Hexa dan Hazel turun untuk sarapan bersama Elon dan Gracia. Suasana di meja makan terasa jauh lebih hangat pagi itu. Di sela-sela denting sendok, Gracia membuka suara. “Hexa, mulai minggu depan, Hazel harus menghadiri kelas senam ibu hamil. Kau harus mengantarkannya, dan kalau bisa, kau ikut mendampingi di dalam,” saran Gracia dengan nada yang tak bisa dibantah.Hexa meletakkan pisau

  • Ah! Mantap, Sayang   96. DIAM DAN NIKMATI SAJA

    “Bagaimana kalau tato yang kau maksud itu sebenarnya luka permanen seperti keloid—yang mungkin dia dapatkan selama disekap di sini? Gambar yang diambil fotografermu itu belum bisa dipastikan apakah tato sungguhan atau bukan, kan?”Enrico tampak terdiam sejenak, mempertimbangkan argumen logis yang baru saja dilontarkan Hexa. Ia memandangi kembali foto di layar ponselnya, lalu beralih menatap kastil di kejauhan dengan kening berkerut.Hexa berargumen dengan nada dingin jaksanya yang khas. “Lebih baik, suruh anak buahmu mengawasi semuanya dulu dari jauh. Jangan gegabah. Kalau sudah benar-benar fix, baru kita ke sini lagi dengan persiapan matang. Nanti, akan kucoba menanyai Hazel mengenai ini. Kalau memang itu tato sungguhan, maka kita bisa cek lagi secara berkala.”“Baiklah.” Enrico menghela napas panjang, akhirnya menurunkan ponselnya. “Kita cek lagi ini dan itunya. Logikamu ada benarnya juga. Aku tidak mau kita menyerbu tempat ini hanya untuk menemukan orang yang salah.”“Bagus,” sahut

  • Ah! Mantap, Sayang   95. MENGINTIP DARI BALIK SEMAK BELUKAR

    “Hexa! Syukurlah kau cepat datang!”Sesuai janjinya, Hexa menemui Enrico tepat setelah urusan kantornya selesai. Ia sudah berpamitan pada Hazel bahwa ada urusan mendesak yang tidak bisa ditunda, agar istrinya itu tidak menunggunya pulang untuk makan malam.Hampir tengah malam, Hexa tiba di lokasi yang ditentukan dengan napas sedikit memburu. Ia menghampiri Enrico yang sudah siaga di posisi. “Kau membawaku ke ujung dunia, menyeberang ke pulau terpencil sampai aku harus berganti helikopter dan boat kecil, lalu sekarang mengajakku mengintip dari balik semak belukar tebing ini? Apa kau pikir kita sedang simulasi perang?”Enrico mendesis, wajahnya tampak dramatis di bawah temaram cahaya bulan. “Bisa tidak mulut pedasmu itu diam sebentar! Aku menemukan sesuatu yang akan membuatmu tercengang!” Ia berbisik dengan nada tertahan, matanya terus mengawasi ke depan seolah takut kehilangan momentum.”“Memangnya apa yang kau temukan sampai harus sejauh ini?” tan

  • Ah! Mantap, Sayang   94. AH! ... SUSU INI MILIKKU

    Hexa menyahut cepat sembari mengunci laci mejanya, “Kabar penting apa?” “Aku tidak bisa bicara sekarang. Segera temui aku begitu kau pulang nanti,” jawab Enrico pendek, suaranya terdengar mendesak. “Baiklah. Aku masih punya satu persidangan lagi sore ini. Nanti kuhubungi,” balas Hexa sebelum memutus sambungan telepon. Ia segera melangkah keluar kantor menuju parkiran, lalu memacu mobilnya pulang. Sesampainya di rumah, Hexa disambut pemandangan Hazel yang sedang duduk bersantai di ruang tamu, sibuk dengan benang dan jarum rajut di tangannya. “Hai,” sapa Hexa lembut. Hazel mendongak, matanya membulat terkejut. “Hai, Hexa? Kau pulang lagi?” Ia meletakkan rajutannya, berdiri untuk menyambut pelukan suaminya. Setelah menerima kecupan di dahi dan usapan lembut di perutnya, Hazel bertanya heran, “Apa sidangnya sudah selesai?” “Belum,” Hexa menggeleng kecil sembari membim

  • Ah! Mantap, Sayang   93. TIDAK PERLU MERASA TERANCAM

    “Audit?” Denzel tercengang. Ia menegakkan punggungnya dengan raut wajah tegang. “Audit apa lagi? Apa kau curiga perusahaanku bermasalah?”Hexa tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Denzel dengan tatapan tajam yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi saksi di ruang sidang. Ketegangan di antara mereka mendadak terasa begitu nyata.“Bukan curiga, Pa. Ini prosedur standar,” jawab Hexa tenang, namun suaranya sarat akan penekanan. “Sebagai pemegang hak waris yang baru, Hazel perlu tahu kondisi finansial perusahaannya secara transparan. Jika selama audit saya menemukan ada aliran dana yang tidak wajar atau aset yang ‘terselip’, maka ceritanya akan berbeda.”Denzel terdiam, tenggorokannya mendadak terasa kering. Kata ‘audit’ yang keluar dari mulut seorang Jaksa Penuntut Umum bukanlah gertakan sambal. Ia tahu betul kapasitas Hexa dalam mengendus kejanggalan dokumen.“Tapi itu akan memakan waktu dan bisa mengganggu kinerja operasional,” dalih Denzel dengan suara tergagap, mencoba mencari

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status