Home / Romansa / Ah! Mantap, Sayang / 50. PUSING & MUAL

Share

50. PUSING & MUAL

Author: NONA_DELANIE
last update publish date: 2026-03-03 22:12:23

Hexa kembali menyodorkan sendok penuh bubur ke depan bibir Hazel. Namun, baru saja ujung sendok itu menyentuh udara di depan wajahnya, Hazel mendadak membelalak.

“Hazel, kau—”

“Hoeeeek!”

Suara mual yang hebat memecah keheningan kamar. Hexa mematung di tepi ranjang dengan sendok yang masih menggantung di udara. Ekspresi kemenangannya seketika luntur, berganti dengan kepanikan yang terpancar jelas di matanya.

Ia meletakkan mangkuk itu dengan asal di atas nakas hingga isinya sedikit tumpah, lalu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ah! Mantap, Sayang   120. Pertumpahan Darah Yang Tidak Sia-sia

    “Aaaarggh!”Denzel menjerit keras. Saat ia berjalan cepat dengan perasaan lega, ia sama sekali tidak menyadari bahwa bahaya masih mengancamnya dari belakang. Salah satu dari penjambret itu rupanya telah bangkit berdiri lagi dan dengan gerakan kilat mengeluarkan sebilah pisau lipat dari balik jaket kulitnya.Alhasil, pria paruh baya itu mengerang kesakitan lantaran punggung kanannya tertebas dan terluka.Hazel yang memperhatikan seluruh kejadian tragis itu dari dalam mobil langsung membuka pintu dan turun. Ia berteriak histeris, “Tolong! Tolong!”Sambil berteriak meminta bantuan warga sekitar, di dalam hati Hazel berharap cemas agar tidak ada pihak kepolisian yang datang ke lokasi. Hazel berjalan cepat menghampiri ayahnya, tepat setelah memastikan kedua orang suruhan suaminya pergi tunggang langgang melarikan diri dari tempat kejadian.“Papa! Apa kau terluka?” tanya Hazel dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan mendalam.Sikap protektif dan khawatir yang ditunjukkannya itu terasa s

  • Ah! Mantap, Sayang   119. Perampok

    “Pria itu tidak sedang bekerja untuk Emma,” gumam Hexa perlahan, tatapannya mendadak menajam menatap Enrico. “Emma tidak menyewa Lance untuk menjaga ibu Hazel. Tapi mereka bersekutu karena memiliki kepentingan yang sama.”Hexa menyandarkan punggungnya ke sofa, menyilangkan kaki sembari melipat tangan di depan dada. “Emma ingin melenyapkan ibu Hazel dari hidup Denzel dan menyingkirkannya dari lingkaran River, sementara Lance ... menginginkan wanita itu secara pribadi. Emma yang memberi jalan dan memalsukan kematiannya, lalu menyerahkan fisik wanita itu pada Lance untuk dimiliki dan dikurung dalam realitas palsu.”Ia menatap layar laptop Enrico yang masih menampilkan grafik gelombang suara rekaman. “Itulah alasan kenapa data digitalnya bersih dan teman-teman Emma tidak mengenalnya. Lance mungkin bukan nama aslinya, atau dia adalah hantu dari masa lalu ibu Hazel sendiri yang memang menginginkan wanita itu sejak dulu,” lanjut Hexa, suaranya memberat.Ia memajukan tubuhnya, menumpukan kedu

  • Ah! Mantap, Sayang   118. TEKA TEKI RUMIT

    “Apa selama belasan tahun ini, ibu Hazel sengaja dicekoki obat-obatan tertentu secara konstan bukan untuk menyembuhkan, melainkan justru untuk mengikis, merusak, dan memanipulasi memorinya?”Enrico mengangguk, menduga sama seperti bosnya. “Mungkin iya. Tapi, kita belum tahu pasti. Aku sedang menyelidiki, siapa pemasok obat itu.”Hexa hanya mengangguk tanpa repot-repot menimpali. Ia tahu—terlalu tahu jika obat penekan saraf atau psikotropika dosis tertentu bisa dengan mudah membuat seseorang kebingungan, kehilangan orientasi waktu, bahkan melupakan jati diri mereka yang sebenarnya.Itulah alasan mengapa wanita itu tidak pernah mencoba melarikan diri atau mencari jalan pulang. Dia tidak tahu siapa dirinya, dan dia terus dibuat bergantung pada obat-obatan yang diklaim ‘menyembuhkannya’, padahal benda itulah yang menjadi penjara tak kasat mata bagi otaknya.Hexa melepas satu earphone-nya, menatap Enrico dengan pandangan yang mendadak sedingin es.“Kalau pria itu ditugaskan menjaga ibunya

  • Ah! Mantap, Sayang   117. KECURIGAAN YANG SALING TEHUBUNG

    “Menemukan benang merah?” Hazel menggigit bibir bawahnya. Ia agak sangsi melakukan hal itu mengingat hubungannya dengan sang ayah tidak pernah cukup dekat. Terlebih lagi, jika ia tiba-tiba datang mendekat dan sang ayah menaruh curiga lalu bertanya ada apa, situasinya pasti akan menjadi sangat rumit. Rencana mereka bisa gagal total sebelum dimulai. Melihat Hazel terdiam cukup lama dengan guratan ragu di wajahnya, Hexa melangkah mendekat. Ia menangkup kedua bahu istrinya, mencoba memberikan keyakinan seraya memaparkan analisisnya. “Ada hal yang janggal dari sikap papamu selama puluhan tahun ini. Bagaimana bisa dia begitu mudah percaya bahwa ibumu telah tewas di jurang tanpa adanya jasad yang jelas?” papar Hexa dipenuhi logika. Jemarinya yang kokoh menggenggam telapak tangan sang istri lebih erat, seolah sedang menyalurkan keyakinan dan kekuatan melalui gestur singkat itu. “Kita harus tahu apakah dia sekadar korban manipulasi Emma, atau justru dia tahu sesuatu yang selama ini disemb

  • Ah! Mantap, Sayang   116. TEMUKAN BENANG MERAH

    “Jika Denzel tidak pernah berniat mencari atau mempertanyakan kematian istrinya yang janggal ... apakah itu artinya dia terlibat dalam tragedi pembunuhan itu itu?”Mata Hexa menatap kosong ke arah dinding. Spekulasi itu terasa mengerikan. Apakah Denzel sengaja membiarkan istrinya dikurung oleh Emma? Ataukah pria itu adalah bagian dari rencana besar untuk melenyapkan sosok ibu Hazel dari silsilah keluarga demi kepentingan tertentu?Hexa mengeratkan pelukannya pada Hazel. Ia tidak berani menyuarakan kecurigaannya sekarang. Hazel sudah cukup hancur mengetahui ibunya disekap; mengetahui bahwa ayahnya sendiri mungkin adalah dalangnya bisa membuat kewarasan istrinya benar-benar hilang.Ia harus menyelidikinya sendiri. Sebelum mereka melancarkan operasi penyelamatan, ia harus memastikan siapa lawan dan siapa kawan, termasuk pria yang selama ini dipanggil Hazel sebagai Ayah.Setelah tangisnya sedikit mereda, Hazel tiba-tiba melepaskan diri dari dekapan Hexa dengan gerakan menyentak. Napasnya

  • Ah! Mantap, Sayang   115. TERASA JANGGAL

    “Bukalah!”“Apa ini?” Hazel menatap beberapa amplop dengan logo rumah sakit yang disodorkan Hexa ke atas bantal di pangkuannya. Fokusnya yang semula tertuju pada buku referensi tesis seketika buyar.“Aku sudah menyuruh anak buah Enrico mengambil hasil tes DNA dari beberapa rumah sakit. Semua hasilnya masih tersegel. Lihatlah sendiri,” jelas Hexa dengan suara rendah, mencoba memberikan ruang bagi istrinya untuk memproses keadaan.Hazel menatap Hexa cukup lama—terlalu lama hingga membuat suaminya itu kembali bertanya.“Apa yang membuatmu tidak langsung membukanya?”“Aku hanya takut hasilnya tidak sesuai ekspektasi,” bisik Hazel seraya menunduk.Ia menyingkirkan amplop-amplop itu dari pangkuannya dengan gerakan pelan, seolah benda-benda itu bisa meledak kapan saja. Tatapannya kini melayang jauh ke arah pemandangan di luar jendela kamar.Langit di luar tampak mendung, seirama dengan keresahan yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. “Selama ini aku hidup dengan keyakinan bahwa Mama sudah

  • Ah! Mantap, Sayang   4. BERSIAPLAH JADI AYAH

    “Kurasa... skandal kita semalam sudah menyebar, Pak Jaksa terhormat,” ucap Hazel santai. Hexa menahan napas, hanya sepersekian detik sebelum ia menyeru kencang, terbata-bata penuh keterkejutan, “What? Kau gila? Kau menyebarkan … video kita yang …” Hazel mengangguk tipis seolah mengonfirmasi ucap

  • Ah! Mantap, Sayang   3. ASUMSI YANG MEMBAKAR

    “I–itu darah perawan atau ... hanya pewarna makanan?” Ada amarah, tapi ada juga secercah rasa memiliki yang egois. Asumsi liar yang membakar mulai berkecamuk di benak Hexa. Hexa mulai bertanya-tanya. Benarkah ia pria pertama untuk Hazel malam tadi? Atau … Hazel justru sudah tidak perawan dan nod

  • Ah! Mantap, Sayang   2. ONE NIGHT STAND

    “Sialan! Jadi, kau menjebakku, Hazel?!” Sebuah bantal berukuran besar melayang kasar, menghantam kepala Hazel sebelum jatuh tak berdaya ke atas pangkuannya. Hazel tidak bergeming. Ia tetap duduk bersandar dengan tenang, seolah kemarahan pria di sampingnya hanyalah angin lalu. Pria itu—Hexa Cas

  • Ah! Mantap, Sayang   5. DISIDANG KELUARGA

    Pukul delapan pagi, lobi River Regional Hospital terasa lebih gerah dari biasanya. Hazel melangkah menuju selasar rumah sakit dengan dagu terangkat dan ekspresi yang sulit dibaca. Di sepanjang koridor, rungunya menangkap bisik-bisik dari para perawat yang menyebut nama Hexa. Jelas pembicaraan itu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status